WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Minggu, 14 September 2014

MANUNGGALING KAWULA GUSTI:


(MKG) MANUNGGALING KAWULA GUSTI. ADALAH AJARAN TERTINGGI  DIJAMAN PARA WALI. YANG DI SYI’ARKAN OLEH SYEKH SITI JENAR  HINGGA TERPOPULER DAN TERFAVORIT SAMPAI DI JAMAN MODEREN SEKARANG KINI. INTI PELAJARANYA HANYA 3 HURUF SAJA. YAITU A-I-U. Apa itu A-I-U?

Mari kita simak spintas pengertiannya di bawah ini. Tapi perlu di ingat ya, bahwa postingan ini saya sajikan bukan untuk dipuji apalagi dihina namun hanya untuk bisa diketahui oleh Saudara-saudari terkasih saya, kususnya anak-anak didik saya tercinta, juga para hobi pembaca yang budiman.

Dalam kitab suci manapun telah disebutkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Demikian pula dalam kitab suci Al Qur'an. Kematian merupakan suatu hal yang wajib bagi makhluk hidup yang ada di dunia ini. Setiap insan pun akan mengalami kematian. Kematian yang disini adalah kematian jasad (secara raga).

Namun pada hakekatnya, setiap makhluk hidup tidak akan pernah mengalami kematian. Bahkan Syekh Siti Jenar telah mengajarkan hakekat dari zikir A-I-U. Apa arti dari A-I-U?  A-I-U memiliki arti "AKU IKI URIP" (Aku Ini Hidup).

Meskipun hanya tiga huruf A-I-U, namun memiliki arti yang cukup dalam. Pasalnya, pada setiap makhluk yang telah mati, maka ia hanya kehilangan Hidupnya saja, karena Hidupnya kembali kepada Yang Maha Hidup. Setelah itu, orang tersebut akan melakukan perjalanan panjang untuk menuju ke GUSTI ALLAH tanpa hidup. Rintangan dan halangan untuk menghadap GUSTI ALLAH sangatlah banyak dan tidak mudah, sebelum mencapai hariba’an GUSTI ALLAH atau yang di dalam Islam disebut 'Inna lillahi Wa Innailaihi Rojiun' (dari ALLAH kita berasal dan akan kembali ke ALLAH).

Dalam perjalanan tersebut tidak ada lagi materi, jadi tidak mungkin kita mendapatkan kemudahan dengan menyogok seperti yang kita lakukan di dunia. Semuanya serba murni dari hasil perbuatan kita selama kita di dunia. Setelah raganya lepas dari hidupnya, maka sang raga jadi santapan bumi dan makanan cacing tanah sesuai amal perbuatanya selama di dunia, rohnya akan mengalami pengembara’an panjang, mungkin di neraka, mungkin juga di sorga, atau mungkin lagi di bawah jembatan, rumah kosong, pohon besar, bahkan mungkin menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang awam dan anak kecil yang kebetulan memergoki, atau di jadikan permainan acara uji nyali seperti di tv dll hingga akhirnya tiba akhir jaman untuk menghadap GUSTI ALLAH.

Nah, A-I-U adalah simbol bahwa manusia meskipun mati karena sakit atau dibunuh atau kecelaka’an atau bunuh diri, maka hanyalah kehilangan Hidupnya semata. Orang Jawa pasti sering mendengar kalimat "Urip Iku Ibarat Wong Mampir Ngombe". Nah, dalam kalimat itu kita disuruh untuk memahami dan belajar bahwa sebelumnya kita pernah hidup, dan ketika kita hidup di dunia maka kita hakekatnya adalah beristirahat sebentar.

Oleh karena itu, Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa hakekatnya orang hidup di dunia itu sebenarnya adalah mati. Setelah mati, maka hakekatnya kita melanjutkan perjalanan yang disebut oleh Syekh Siti Jenar bahwa manusia akan mengalami hidup yang sejati setelah proses kematiannya.
He he he . . . Uedan Tenan. NGERI BUKAN JIKA DI BAYANGKAN...?  MAKANYA JANGAN DI BAYANGKAN. KALAU CUMA DI BAYANGKAN  YA AMAT  SANGAT  MENGERIKAN...  JADI... Mulai sekarang.  Galilah Rasa yang meliputi seluruh Tubuhmu, karena di dalam tubuhmu, ada Firman Tuhan yang menjamin dunia akheratmu dan Hidup matimu. Tanpa harus melewati dan mengalami sandiwara seperti  yang tersebut diatas. KUNCINYA ADA DI HAKEKAT HIDUP... He he he . . . Edan Tenan.
Muga Bermanfa’at ya lurr,,, untuk tambah-tambah wawasan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu.
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Jakarta Jumat tgl 12 Sept 2014
http://wongedanbagu.blogspot.com

http://putraramasejati.wordpress.com

Membedakan Pingin (Perasa’an )dan Kersaning GUSTI (Rasa)

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Jakarta Jumat tgl 12 Sept 2014

Setiap manusia sarat dengan keinginan. Keinginan tersebut senantiasa ada setiap waktu. Kalau kita lihat hati kita, maka setiap saat keinginan kita terhadap ini dan itu akan terus bertambah. Manusia memang ditakdirkan menjadi makhluk yang tidak akan pernah merasa puas.

Itulah yang disebut dengan keinginan (Perasa’an). Dalam bahasa jawanya keinginan itu disebut kepingin atau biasa disingkat pingin. Pingin ini, pingin itu dan pingin banyak lagi yang lainnya. Setiap manusia pasti memiliki kepinginan.

Sementara itu, kersaning GUSTI (Rasa). Merupakan hak prerogatif dari GUSTI ALLAH. Kita tidak bisa melakukan hal yang lebih maksimal jika sudah menjadi kersaning GUSTI yang dicapai hanya segitu.

Pertanyaan yang kini muncul adalah, apakah perbedaan pingin (Perasa’an) dan kersaning GUSTI (Rasa)?  Perbeda’annya, pingin (Perasa’an) atau kepinginan itu dari setiap manusia senantiasa berada di bawah pengaruh hawa nafsu.

Sedangkan kersaning GUSTI (Rasa). Itu yang sudah dilakukan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Lebih jelasnya....(Rasa) Kersaning GUSTI lebih cenderung pada kepasrahan manusia setelah melakukan ikhtiar.

Namun banyak manusia yang salah mengartikan bahwa mereka tidak melakukan ikhtiar apapun, dan mengakui/menyebut hal itu sebagai kersaning GUSTI... ... He he he . . . Edan Tenan.
Muga Bermanfa’at ya lurr,,, untuk tambah-tambah wawasan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu.
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Jakarta Jumat tgl 12 Sept 2014
http://wongedanbagu.blogspot.com

http://putraramasejati.wordpress.com

YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI:

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Jakarta Jumat tgl 12 Sept 2014

Saya sering Berkata YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI. Entah itu di postingan atau di dalam photo sampul dan profil fcbook saya. Apa Arti dan maksud dari kalimat itu..?
Dalam belajar Laku Spiritual hakekat hidup, terdapat satu tembang Jawa yang singkat namun sangat bermakna. Laku Spiritual Hakekat Hidup adalah ilmu untuk mempelajari kesempurna’an hidup dan kehidupan.

 "Yen siro wis nglakoni Kasampurnaning Urip, Siro mesti ngerti kasampurnaning pati"
Artinya;
Kalau kamu sudah mengerti kesempurnaan hidup, maka kamu mesti memahami kesempurnaan mati.

Apa itu kesempurna’an hidup?
Manusia dikatakan mempunyai kesempurna’an hidup jika ia berada sangat hidup dengan GUSTI ALLAH. Oleh karena itu, Laku spiritual hakekat hidup memiliki makna ilmu yang mempelajari cara untuk mendekat pada GUSTI ALLAH.

Dalam belajar ilmu spiritual laku hakekat hidup, terdapat satu tembang Jawa yang berbunyi:

“Tak uwisi gunem iki
Niatku mung aweh wikan
Kebatinan akeh lire
Lan gawat ka liwat-liwat
Mulo dipun prayitno
Ojo keliru pamilihmu
Lamun mardi kebatinan”

Artinya;
Saya akhiri pembicaraan ini
saya hanya ingin memberi tahu
kabatinan banyak macamnya
dan artinya sangat gawat
maka itu berhati-hatilah
Jangan kamu salah pilih
kalau belajar kebatinan.

Dari tembang tersebut dapat diketahui bahwa untuk belajar ilmu Laku Spiritual Hakekat Hidup yang merupakan ilmu Hidup Dan Kehiduapn sangatlah gawat. Ini bukan berarti menakut-nakuti orang yang hendak belajar Hidup. Semata-mata tembang tersebut adalah mengingatkan bagi orang yang hendak belajar ilmu Hidup dan Kehidupan.

Tembang tersebut juga bisa bermakna:

Yen Siro wedhi, ojo sepisan-sepisan wani
Yen Siro Wani, ojo sepisan-sepisan wedhi
(YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI)

Artinya;
Kalau kamu takut, jangan sekali-sekali berani
Kalau kamu berani, jangan sekali-sekali takut

Artinya, saat hendak berniat untuk belajar, berniyat, kita diingatkan akan pilihan, apakah kita berani atau tidak. Kalau berani, jangan sekali-kali timbul rasa takut. Kalau takut, janganlah memaksakan diri untuk berani. Hal itu juga berarti bahwa dalam bertindak hendaknya kita tidak ragu-ragu... He he he . . . Edan Tenan.
Muga Bermanfa’at ya lurr,,, untuk tambah-tambah wawasan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu.
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Jakarta Jumat tgl 12 Sept 2014
http://wongedanbagu.blogspot.com

http://putraramasejati.wordpress.com

Kamis, 04 September 2014

BAGI SAYA... DOSA ADALAH JALAN SUTERA MENUJU KEKASIH:

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Jakarta Rabu tgl 03 Sept 2014

Dosa sebingkah kata yang begitu menakutkan. Saking besarnya rasa takut, tanpa disadari kita tak jarang terjebak pada dosa itu sendiri. Kita membenci dosa, namun kita kerap terjaring dalam perbuatan dosa. Makin takut pada dosa, dan fokus pada ketakutan itu, membuat orang makin terjungkal. Seumpama orang yang berada di puncak ketinggian gunung, sembari melihat jurang yang curam. Jika fokus perhatiannya pada jurang yang curam tersebut, maka perhatiannya terdorong pada jurang, dan bisa jadi tanpa disadari akan terjatuh ke kawah tersebut. Semua orang mendamba hidup tanpa dosa, tapi kendati demikian manusia harusnya mengarahkan fokus pada penggapaian kebajikan. Sehingga setiap saat, hanya menghimpun kebajikan yang turut menerangi jiwa.

Kini, perlu kiranya kita memahami secara utuh, apa hakikat dosa. Bagaimana agar dosa tidak sekadar menyetorkan derita, tetapi bisa menjadi jalan menggapai kebahagiaan hakiki, bahkan bersua kekasih. Mungkinkah orang bisa menemukan kebahagiaan lewat dosa?

Sepertinya sih dosa hanya produktif mengirimkan derita ke ranah batin, dan dimaklumi akan selalu menyeret pelakunya ke ruang kegelapan, kekacauan, dan kerusakan. Sebagaimana dimaklumi, dosa sama dengan kegelapan, dan di setiap pojok kegelapan kita tidak akan bisa melihat kebenaran. Lain halnya, ketika manusia dipenuhi pahala, niscaya bakal berkilauan, sehingga akan selalu bersentuhan dengan kebajikan. Apakah benar dosa membuat orang terseret dalam kegelapan?,  dan pahala membikin orang mudah menjaring cahaya? Apakah benar orang yang mengumpulkan pundi-pundi pahala menggapai kebahagiaan?, dan orang yang berdosa selalu tersorong suasana derita yang tak pernah memudar?... He he he . . . Edan Tenan

Bagi saya pribadi,,, dosa dan pahala adalah sebuah akibat perbuatan. Sementara kita berusaha menggali sebabnya sebab, dan akibatnya akibat. Ketika kita berusaha menjejaki medan dualitas, niscaya kita tak pernah menggapai kedewasaan ruhani. Kedewasaan ruhani bukan diukur seberapa besar pahala yang direngkuh, tetapi seberapa agung sikapnya di setiap momen peristiwa dan kejadian yang hadir. Dari sudut kearifan, keagungan seseorang tidak diukur kaya dan miskin secara materi, tetapi diukur dari keagungan dan kemuliaan dalam bersikap. Memang, yang membuat orang namanya terus menjulang adalah sikap-sikap agung yang ditampilkan dikala bertegursapa dengan peristiwa dan kejadian.

Jika ada dosa pasti juga ada pahala, dan benarkah pahala menjadi hal mutlak orang bahagia?, dan dosa selalu meringkus manusia dalam penjara derita? Sungguh,,, kebahagiaan itu bergantung sikap kita dari setiap perbuatan yang mengalir. Kita sadari, sesungguhnya perbuatan buruk itu bukan kehendak hati nurani kita, tetapi terilhami hawa nafsu. Pada hakikatnya hati nurani selalu mendorong kita pada kebajikan, dan hawa nafsu cenderung merongrong dan menyeret manusia pada keburukan. Apa padam nafsu ketika berdosa?, dan mulai menggelegar kembali hawa nafsu saat menumpuk pahala?. Kadang, ketika manusia telah berbuat kebajikan meletup perasaan puas, sembari membanggakan diri. Seolah perbuatan baik yang ditampilkan murni datang dari kekuatan dirinya. Sikap egoisme yang melambung tinggi lantaran perbuatan bajik yang dilakukan telah meruntuhkan seluruh kebajikan yang telah dijalani. Merasa bajik akan melunturkan, bahkan menghapuskan kebajikan itu sendiri. Tapi orang yang merasa berdosa, akan menghapus dosa itu sendiri. Karena dosa dihapus dengan rasa bersalah dan menyesal... Coba Renungkan... He he he . . . Edan Tenan

Setelah diatas... Diakui atau tidak diakui, Kini,,, diantara Anda-Anda sekalian pasti  bakal ada yang akan bertanya, bagaimana dosa membuat orang dekat dengan kekasih. Bukankah dosa sendiri suatu yang dibenci oleh Kekasih? Dosa suatu yang berlawanan arus dengan harapan kekasih, tetapi sesungguhnya lebih dari sekadar itu, Allah melihat apa sikap yang dicetuskan setelah berbuat dosa itu. Andai dosa dilakukan dengan sikap penuh kebanggaan disertai rasa tak bersalah, niscaya makin menambahkan dosa kembali. Namun, ketika dosa disertai perasaan menyesal, sehingga bertobat, sungkem, KUNCI dan merintihkan tangisan istighfar pada Allah akan dosa yang dilakukan, niscaya dosa menjadi batu lompatan orang menggapai kedekatan dan dicintai Allah SWT. Sebagaimana cuplikan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan membersihkan diri.”

He he he . . . Edan Tenan;
Apa kaitannya dosa, tobat, dan cinta?
Bila kita melihat secara gamblang, seolah tak ada kaitan. Namun, ketika kita berusaha merenungi secara mendalam, maka akan ditemukan kaitan yang amat dialektis antara ketiganya. Ingatlah, saudaraku cinta diperoleh karena tobat, tobat muncul lantaran merasa ada dosa. Dosa sendiri hanyalah tesa, tobat antitesa, dan cinta adalah sintesa. Karena itu, tak ada alasan bagi orang beriman pupus harapan akan rahmat Allah. Karena sesungguhnya kalau mau dikuak secara mendalam, sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Bahkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia juga disertai rahmat Allah di dalamnya. Bagi orang yang menyadari ini, maka dibalik segala sesuatu tidak pernah berpisah dan terlepas dari rahmat Allah. Bahkan ketika kita tengah menjalani keburukan, disana meresap rahmat Allah. Karena itu, tak ada alasan bagi seorang hamba berpikir buruk pada Allah. Pantas saja, pupus harapan itu hanya disandangkan pada orang kafir, yang terhijab dalam pengenalan pada Allah SWT. Betapa banyak orang yang nyungsep dalam perbuatan dosa, kemudian bangkit untuk menghadap pada cahaya pengampunan. Merintih, menangis, dan bertobat, kemudian dari kegelapan yang pekat dia dipendari cahaya yang membuatnya makin dekat pada Allah SWT... He he he . . . Edan Tenan. Coba Renungkan itu

Ketika orang disusupi rasa berdosa, maka akan terus berusaha menghapus dosa, dengan tobat, terbetik rasa sesal yang mendalam, disertai amal kebaikan-kebaikan lain, sembari terpancar rasa optimis bahwa Allah akan mengampuni segenap dosa-dosanya, setelah meyakini sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al-Afuwwu), bahkan Yang Maha Penghapus Dosa (Al-Ghaffar). Melihat diri yang berlumur dosa, maka akan terbersit perasaan rendah diri dan hina, dan ketika memandangi kasih sayang Allah, maka hidup menjadi optimis atas anugerah pengampunanNya yang tak terbatas. Merasa gelap penting, tetapi jangan terpaku oleh kegelapan, karena kita tak menemukan cahaya apapun. Kita boleh merasa gelap, tapi disertai rasa optimis bahwa cahaya pun bakal hadir. Begitu juga ketika kita berbuat dosa, janganlah merasa terpaku, dan terjebak untuk terus memikirkan segenap dosa, tanpa memandang horizon pengampunan Allah Yang Maha Luas.

Ketika orang terjebak dalam dosa, dan merasa bahwa dia tak berkuasa sedikit pun untuk mengendalikan dan menguasai diri, hanya karena kehendak Allah semata perbuatan baik terlahir, niscaya dia akan ditolong Allah untuk makin dekat dengan kebajikan yang diharapkan, yang berarti dekat dengan Allah itu sendiri. Dan dia telah digerakkan Allah bisa mendaurulang keburukan sebagai kebajikan. Keburukan dosa-dosa telah menjadi sarana makin dekat pada Allah SWT. Karena orang-orang yang bertobat senantiasa dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
” Sesungguhnya orang yang bertobat adalah kekasih Allah, dan orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”

Sekarang saatnya kita mencintai Allah dengan jalan bertobat terus-menerus, dengan merasakan tumpukan dosa, dan disertai rasa optimis bahwa Allah akan menganugerahi pengampunan sebagai tanda sifat kasih sayang dan pengampunanNya yang tak terbatas... He he he . . . Edan Tenan.
Muga Bermanfa’at.
Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

CINTA, SEBUAH KESADARAN TERTINGGI:

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Jakarta Rabu tgl 03 Sept 2014

Cinta sebuah tema yang tak pernah terkikis oleh perubahan zaman. Walau kita tengah memasuki sebuah zaman yang serba penuh egoisme, dan mengedepankan kepentingan diri sendiri, tetapi cinta masih tetap menjadi trend yang menghiasi balantika kehidupan ini. Ingatlah, cinta pada hakikatnya bukankah teriakan hawa nafsu, tetapi teriakan yang dihantarkan oleh fitrah manusia yang suci murni. Hanya saja, kadang karena tema cinta didefinisikan oleh pikiran dan digoreskan dengan tinta hawa nafsu, jadinya cinta itu hanya sebagai alat untuk pemenuhan diri semata. Bayangkan, ada sepasang sejoli yang silau dalam permainan cinta. Atas nama cinta, dia harus melepaskan seluruh keindahan yang harusnya dipersembahkan di malam pertama setelah pernikahan.

Betapa banyak anak muda atas nama cinta, menikah karena ditimpa aksiden yang amat dimurkai Allah. Hakikatnya cinta itu suci, menjadi kotor karena perilaku cinta orang-orang yang tidak mengenali cinta dengan bijaksana. Hingga betapa banyak orang yang mendistorsi makna cinta dengan perilaku-perilaku hawa nafsu yang sama sekali tidak menyusupkan kebahagiaan. Manakala cinta didorong oleh kesadaran rendah hawa nafsu, pada hakikatnya tindakan itu tidak dihiasi oleh cinta, bahkan tindakan itu bakal menghancurkan cinta. Bagaimana kita bisa menemukan cinta sebagai kesadaran tertinggi? He he he . . . Edan Tenan

Hidup ini adalah sadar. Kesadaran primer manusia adalah sadar pada dirinya sendiri. Mengenali dirinya sendiri. Ketika kita bisa mengenali diri sendiri dengan baik, maka kita berhasil memantik potensi cinta yang terpendam dalam hati kita. Kalau kita melulu berusaha mengasah kesadaran kita dengan tafakkur yang makin mendalam, maka saat itu api cinta akan menyala dengan sendirinya. Hanya cinta yang dihasilkan dari tafakur yang bisa melahirkan cinta hakki. Sementara cinta yang didorong oleh hawa nafsu hanya melulu menyempitkan jiwa. Cinta yang dilahirkan melalui rahim tafakkur ini niscaya mengalirkan kesakinahan yang kontinu ke dalam hati. Mengapa cinta bisa diperoleh dengan tafakkur? Kalau kita terus menggali sisi kebaikan dari apa yang dianugerahkan Allah pada kita, niscaya api cinta ini akan berkobar begitu dahsyat.

Renungkanlah beberapa piranti organ yang melekat di tubuh kita, dari tangan, kaki, mata, telinga, mulut, berikut kenikmatan yang melekat di beberapa piranti tersebut. Ketika kita menghitungnya, sungguh anugerah Allah itu tidak bisa dihitung. Keberadaan tangan sendiri adalah nikmat, dan bermanfaatnya tangan ke jalan yang diridhai Allah pun kenikmatan yang lebih besar. Mata sendiri sebuah kenikmatan, dan melihat keindahan yang diridhai Allah juga adalah kenikmatan yang lebih besar. Saat tafakkur itu terus mencahayai hati kita, niscaya kita tidak pernah henti-hatinya mengungkapkan rasa syukur pada Allah SWT. Dan syukur itu sendiri adalah pengejawantahan dari rasa cinta.

Manakala cinta telah menghiasi batin kita, maka kita sudah tak pernah mengukur keadaan dengan tongkat logika lagi. Ketika cinta telah menguasai hati kita, maka logika sudah tidak ampuh lagi untuk memahami kehidupan. Logika telah didominasi oleh rasa. Dan rasa sendiri sudah tidak bisa dilogikakan. Bagaimana mungkin Anda bisa merasionalisasikan keadaan bahagia Anda. Saya yakin, walau Anda bisa menuliskan dengan kata-kata yang begitu sempurna, Anda tidak bisa melukiskan dengan utuh tentang kondisi kebahagiaan yang menghiasi batin Anda. Pun orang lain, tidak bisa memahami kebahagiaan dengan logikanya, hanya kalau diajak merasakan. Tetapi rasa sendiri bersifat amat personal, tak bisa dijalani bersama-sama. Baru orang bisa merasakan kebahagiaan bersama-sama, jika Allah telah menyatukan mereka dalam satu frekuensi. Walau demikian, dia tidak bisa melukiskan perasaan itu pada temannya dengan tepat.

Pun rasa cinta tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, hingga dengan kecerdasan apapun orang tidak bisa menyuguhkan kelezatan cinta pada orang lain. Karena rasa cinta itu tidak bisa hanya dibayangkan. Harus dialami. Cinta telah melampaui pengetahuan dan kesadaran, bahkan berada di puncak kesadaran itu sendiri. Cinta bukan ide, tetapi pengalaman yang terserap dalam hati kita. Agar Anda bisa merasakan cinta itu, maka perlu terus Anda memahami dan menyelami kronik-kronik anugerah Allah yang terhampar luas di negari dunia ini. Makin mengkristal daya tafakkur kita, niscaya kita bakal menemukan kedahsyatan cinta bersemedi dalam hati kita. Dan yakinilah, ketika hati kita telah berbalutkan cinta, maka kita telah mencapai kesadaran tertinggi. Kesadaran sebagai manusia sempurna. Sempurna karena fitrah Anda telah merasakan percintaan agung dengan Allah SWT. Muga Bermanfa’at.
Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com