WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Senin, 14 Juli 2014

"7 PENGERTIAN TENTANG LAKU HAKIKAT HIDUP"


(1) LAKU HAKIKAT HIDUP ADALAH PEDOMAN
YANG...
Merupakan Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
Dalam mencapai kesempurna’an yang Sesungguhnya:
Oleh: Wong Edan Bagu

Sedulur; 10 PEDOMAN dibawah inilah, yang saya terapkan di dalam LAKU Spiritual HAKIKAT HIDUP, yang saya jalani selama ini. Dengan ini, semuanya nampak jelas dan pasti, tidak ada yang semu atau sia-sia. Sehingganya, tak ada sedikitpun ragu dan bimbang, yang ada hanya, yakin, percaya, merdeka, serta tetep idep Made mantep, dan imanpun bisa tumbuh tanpa paksa’an, serta menuntun kita dengan bukti-bukti nyata pada setiap Laku/Proses Kesempurna’an yang Sesungguhnya/Sebenarnya, yang kita jalani. INGAT..!!! “Yang Sesungguhnya/Sebenarnya”. Bukan pada yang Sejatinya. Karena Sejati itu adalah Hasilnya. Bukan Proses/Laku. Jadi, tidak perlu kita kejar dan kita cari. Jika raga kita sudah siap, maka sejati akan datang dengan sendirinya, jika jiwa kita sudah mapan, maka sejati akan bersemayan dengan sendirinya, jika iman kita sudah utuh tanpa cacat, maka tidak ada satupun yang mustahil bersama Kuasa Maha Suci Hidup. Dibawah inilah 10 PEDOMAN LAKU HAKIKAT HIDUP yang saya maksudkan. Semoga bisa dan dapat menambah ilmu pengetahuan para Sedulur semuanya. Terutama anak-anak angkat didik saya;

1. Makhluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi "setan" atau "malaikat". Bahkan bisa memilih untuk menuju “Neraka dan Surga atau TUHAN”.
2. Kebebasan bukan terletak pada kekuatan yang dimiliki melainkan bagaimana manusia itu menggunakan kekuatan itu dengan tepat.
3. Saudara-saudariku yang menyalakan lilin dan membakar dupa serta menghitung butiran-butiran  atau jari jemari..!!!. hendaknya dengan tulus hati menghayati arti Welas asih dan kasih sayang Serta makna Hidupmu.
4. Kehidupan duniawi tidak luput dari Lahir, Tua, Sakit, Mati dan Duka. untuk menghindarkan dari segala tipuan dan siksaan duniawi, maka sebelum kita harus mematuhi, menghormati dan mengamalkan ajaran-ajaran Tuhan Yang Maha Esa. Kuatkan dulu iman kita, jangan tergoda segala Versi ulah manusia yang bersifat negatif. Berbuat baiklah tanpa menampilkan diri kita.
5. Bila kita melekat dan terikat pada pendirian kita, maka kita tidak memiliki pandangan yang terang.
6. Bila kemelekatan dan keterikatan timbul, maka kita tidak memiliki pandangan yang benar.
7. Bila kita melekat dan terikat pada kehidupan ini, maka kita bukanlah seorang yang melatih diri dalam pengembangan bathin untuk Hidup.
8. Menaklukkan ribuan orang belum bisa disebut sebagai pemenang, tapi mampu mengalahkan diri sendiri itulah yang disebut penakluk gemilang.
9. Baik sepatutnya dibalas baik, jahat jangan dibalas jahat. Bukan tiada pembalasan, hanya belum saatnya Hukum Karma berlaku abadi.
10. Kesempurnaan manusia yang sejati bukan pada apa yang dimilikinya, melainkan bagaimana dirinya sebagai manusia Hidup.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu Saudara-Saudariku Semuanya. Sukses Selalu ya.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan



(2) LAKU HAKIKAT HIDUP ADALAH AKU SEJATI
YANG...
Merupakan Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
Dalam mencapai kesempurna’an yang Sesungguhnya:
Oleh: Wong Edan Bagu

Apa yang tersampaikan ini kepadamu sekalian tentang KUNCI, bukanlah hal yang baru;
sudah berulang kali tersampaikan di masa lalu. Dari masa ke masa, di setiap masa. Sesungguhnya kita semua telah berulang kali mendengarnya, dan AKU mengingat setiap Penyampaian, sedang Kau tidak, itu saja bedanya.

Setiap kali keseimbangan alam terkacaukan, dan ketakseimbangan mengancam keselarasan alam,
maka “AKU” menjelma dari masa ke masa, untuk mengembalikan keseimbangan alam. “AKU” ini bersemayam pula di dalam dirimu, bahkan di dalam diri setiap makhluk hidup, segala sesuatu yang bergerak maupun yang tak bergerak. Menemukan “Sang AKU” ini merupakan pencapaian tingkat tertinggi Spiritual... INGAT itu ya Ngger.... He he he . . . Edan Tenan.

Dengan menemukan jati diri, “Sang Aku Sejati” segala apa yang kau butuhkan akan kau
peroleh dengan sangat mudah. Maka, berkaryalah dan Keberadaan akan membantumu.
Sesuai dengan sifat dasar masing-masing, Manusia dibagi dalam 4 golongan utama.
Walau pembagian seperti itu. Tidak pernah mempengaruhi Sang Jiwa Agung.

Para Pemikir bekerja dengan berbagai pikiran mereka.
Para Satria membela negara dan bangsa.
Para Pengusaha melayani masyarakat dengan berbagai cara.
Para Pekerja melaksanakan setiap tugas dengan baik.
Berada dalam kelompok manapun, bekerjalah selalu sesuai kesadaranmu.
ANA APA-APA KUNCI. LANGKA APA-APA KUNCI.

Jangan memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Terima semuanya dengan penuh ketenangan.
Bila kau bekerja sesuai dengan kodratmu, tidak untuk memenuhi keinginan serta harapan tertentu,
maka walau berkarya sesungguhnya kau melakukan persembahan. Dan, kau terbebaskan dari hukum sebab akibat.


INGAT ya... Tuhan yang kau sembah, juga adalah Persembahan itu sendiri. Dalam diri seorang penyembahpun, Ia bersemayam. Maka... Berkaryalah dengan kesadaran ini. KUNCI KENA KANGGO APA BAE. dan senantiasa merasakan kehadiran-Nya. Banyak sekali cara persembahan – persembahan.

Ada yang menghaturkan sesajen dalam berbagai bentuk. Ada pula yang menghaturkan kesadaran hewani pada “Sang AKU” – sejati yang bersemayam di dalam diri. Bila kau mempersembahkan kenikmatan dunia pada pancaindera, maka kau menjadi penyembah pancaindera. Bila kau mengendalikan pancaindera, maka kau menyembah Kesadaran Murni di dalam diri.

Ada yang mempersembahkan harta, ada yang bertapa, Ada yang berkorban, ada yang menjauhkan diri dari dunia, Ada yang sibuk mempelajari kitab suci, ada yang berpuasa. Apapun yang kau lakukan, lakukanlah dengan kesadaran...!!! WATON ORA TUMINDAK LUPUT.

Saudara – Saudariku semuanya... mari kita Melangkah bersama berikut ini:
Lakoni kehidupanmu seolah kau sedang melakukan persembahan. Berkarya dengan penuh kesadaran, itulah Pengabdian. Cara-cara lain hanya bersifat luaran.Terlebih dahulu, raihlah kesadaran diri. Bila kau tidak mengetahui caranya, Belajarlah dari mereka yang telah sadar. Untuk itu hendaknya kau berendah hati. Orang yang sadar tidak pernah bingung. Pandangannya meluas, penglihatannya menjernih, ia yakin dengan apa yang dilakukannya, Sehingga meraih kedamaian yang tak terhingga nilainya. YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu Saudara-Saudariku Semuanya. Sukses Selalu ya.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan


(3) LAKU HAKIKAT HIDUP ADALAH KESADARAN
YANG...
Merupakan Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
Dalam mencapai kesempurna’an yang Sesungguhnya:
Oleh: Wong Edan Bagu

Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri, merupakan tujuan hidup, maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia? Sungguh tambah membingungkan.... He he he . . . Edan Tenan.

Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri, memang merupakan tujuan tertinggi. Namun, kau harus berkarya laku untuk mencapainya. Dan, berlaku sesuai dengan kodratmu. Bila kau seorang Pemikir, kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja. Bila kau seorang Pekerja, kau harus menggapainya lewat Karya Nyata, dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu. Dan, kau seorang Pekerja, kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata. Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menghindari perkerjaan. Seorang Pemikir bahkan seorang yang duduk bermeditasi pun sesungguhnya bekerja. Pengendalian Pikiran – itulah pekerjaannya. Bila pikiran masih melayang ke segala arah, apa gunanya duduk diam dan menipu diri?

Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali. Bekerjalah tanpa pamrih..! Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup. Tak seorang pun luput darinya, kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah. Alam Semesta tercipta “dalam” semangat Persembahan. Dan, “lewat” Persembahan pula segala kebutuhan manusia terpenuhi.

Bila kau menjaga kelestarian lingkungan, lingkungan pun pasti menjaga kelestarianmu.
Raihlah kebahagiaan tak terhingga dengan saling “menyembah” – membantu dan melindungi.
Bila kau hanya berkarya demi kepentingan pribadi, tak pernah berbagi dan tak peduli terhadap alam yang senantiasa memberi; maka seseungguhnya kau seorang maling.

Berkaryalah dengan semangat “menyembah”. Persembahkan hasil pekerjaanmu pada Yang Maha
Kuasa. Dan, nikmati segala apa yang kau peroleh dari-Nya sebagai Tanda Kasih-Nya! Walau hanya secuil dan setetes, wajib kau Akui dan kau syukuri.  Apa yang kau makan, menentukan kesehatan dirimu. Dan, makanan berasal dari alam sekitarmu. Bila kau menjaga kelestarian alam, kesehatanmu pun akan terjaga – inilah yang dimaksud Kesadaran Hidup... Maka,,, INGATlah... He he he . . . Edan Tenan.
He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu Saudara-Saudariku Semuanya. Sukses Selalu ya.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan



(4) LAKU HAKIKAT HIDUP ADALAH PEKERJA’AN
YANG...
Merupakan Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
Dalam mencapai kesempurna’an yang Sesungguhnya:
Oleh: Wong Edan Bagu

Waspadai setiap tindakanmu. Bertindaklah dengan penuh kesadaran. Inilah Persembahan, yang dapat mengantarmu pada Kepuasan Diri. Bila kau puas dengan diri sendiri, dan tidak lagi mencari kepuasaan dari sesuatu di luar diri, maka kau akan berkarya tanpa pamrih. Sesungguhnya seorang Pekerja tanpa Pamrih sudah tak terbelenggu oleh dunia. Jiwanya bebas, namun ia tetap bekerja, supaya orang laind apat mencontohinya. Sesungguhnya tak ada sesuatu yang harus “Ku”-lakukan.
Namun, “Aku” tetap bekerja demi Keselarasan Alam.

Bila “Aku” berhenti bekerja, banyak yang akan mencontohi tindakan-“Ku”, dan “Aku” akan menjadi sebab bagi kacaunya tatanan masyarakat. Ketahuilah bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak- Nya. Tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan, kau akan didorong untuk menunaikan kewajibanmu. Maka, janganlah berkeras kepala – bekerjalah!

Terpicu oleh hal-hal di luar, panca-indera pun bekerja sesuai dengan kodrat mereka. Janganlah kau terlibat dalam permainan itu. Jadilah saksi, kau bukan panca-indera. Berkat pengendalian diri bila inderamu tak terpicu lagi oleh hal-hal luaran, hendaknya kau tidak membingungkan mereka yang belum dapat melakukan hal itu. Biarlah mereka menghindari pemicu di luar untuk mengendalikan diri.

Berkayalah demi “Aku” dengan kesadaranmu terpusatkan pada-”Ku”, bebas dari harapan dan ketamakan - itulah Persembahan, Pengabdian. Para bijak berkarya sesuai dengan sifat mereka, kodrat serta kemampuan mereka. Demikian mereka terbebaskan dari perasa’an gelisah, dan mencapai kesempurnaan hidup. Berkaryalah sesuai dengan kemampuan serta kewajibanmu. Janganlah engkau sekadar ikut-ikutan memilih suatu Pekerja’an/Laku yang tidak sesuai dengan sifat dasarmu, dan tidak sesuai dengan kemampuanmu.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu Saudara-Saudariku Semuanya. Sukses Selalu ya.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan



(5) LAKU HAKIKAT HIDUP ADALAH Sang AKU
YANG...
Merupakan Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
Dalam mencapai kesempurna’an yang Sesungguhnya:
Oleh: Wong Edan Bagu

Memahami semua itu, namun kadang tetap saja terpicu untuk melakukan sesuatu yang tidak tepat. Mudah terpengaruh bahkan ikut-ikutan. Bagaimana mengatasi hal itu?

Ketahuilah terlebih dahulu penyebabnya - yaitu “keinginan”, “ketamakan” dan sifat dasar manusia yang membuatnya bekerja (Melakukan). Manusia tak dapat berhenti bekerja. Bila ia tidak bekerja tanpa pamrih, Ia akan bekerja untuk memenuhi keinginannya. Ketamakan melenyapkan kesadaran manusia, akhirnya ia binasa terbakar oleh api nafsunya sendiri KUNCInya keberhasilan manusia terletak pada pengecualian diri. Bila terkendali oleh pancaindera kau pasti binasa.

Ketahuilah bahwa panca indera mengendalikan raga, namun pikiran menguasai pancaindera.
Di atas pikiran adalah intelek, kemampuanmu untuk membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat – itulah Kesadaran. Bertindakalah sesuai dengan kesadaranmu. Dengan pengendalian diri dan bekerja sesuai dengan kesadaran, segala keinginan dan ketamakan dapat kau lampaui. Kemudian setiap pekerjaan menjadi persembahan pada “Sang AKU” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk.

Kau tidak berperang untuk memperebutkan kekuasaan; kau berperang demi keadilan, untuk menegakkan Kebajikan pribadimu sendiri, bukan orang lain. Karenanya, Janganlah kau melemah di saat yang menentukan ini. Bangkitlah demi bangsa, negeri, dan Ibu Pertiwimu.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu Saudara-Saudariku Semuanya. Sukses Selalu ya.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan



(6) LAKU HAKIKAT HIDUP ADALAH HATI NURANI RASA
YANG...
Merupakan Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
Dalam mencapai kesempurna’an yang Sesungguhnya:
Oleh: Wong Edan Bagu

Untuk itu, kita harus memerangi Diri sendri, Keluarga sendiri, Sahabat sendiri, Teman sendiri, Tetangga sendiri, bahkan yang amat sangat kita cintai? Bingung... Ragu... Bimbang,,, tunjukkan jalan kepadaku.

Kau berbicara seperti seorang bijak, namun menangisi sesuatu yang tak patut kau tangisi. Seorang bijak sadar bahwa kelahiran dan kematian, dua-duanya tak langgeng. Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap insan, sungguhnya tak pernah lahir dan tak pernah mati. Badan yang mengalami kelahiran dan Kematian ibarat baju yang dapat kau tanggalkan sewaktu-waktu dan menggantinya dengan yang baru.

Perubahan adalah Hukum Alam – jadi, tak patut kau tangisi. Suka dan duka hanyalah perasaan sesaat, disebabkan oleh panca-inderamu sendiri ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri. Lampauilah perasaan yang tak langgeng itu. Janganlah kau terbelenggu olehnya. Temukan Kebenaran Mutlak di balik segala pengalaman perasaanmu. Kebenaran Abadi, Langgeng dan Tak Termusnahkan. Segala yang lain diluar-Nya sesungguhnya tak ada – jadi, tak perlu kau risaukan.

Temukan Kebenaran Abadi Itu, Dia Yang Tak Terbunuh dan Tak Membunuh. Dia Yang Tak Pernah Lahir dan Tak pernah Mati. Dia Yang Melampaui Segala dan Selalu Ada. Kau akan menyatu dengan-Nya, bila kau menemukan-Nya. Karena, sesungguhnya Ialah yang bersemayam di dalam dirimu, diriku, diri setiap insan. Maka, saat itu pula kau akan terbebaskan dari suka, duka, gelisah dan bersalah. Kebenaran Abadi Yang Meliputi Alam Semesta, tak terbunuh oleh senjata seampuh apapun jua. Tak terbakar oleh api, tak terlarutkan oleh air, dan tidak menjadi kering karena angin. Sementara itu, wujud-wujud yang terlihat olehmu muncul dan lenyap secara bergantian. “Keberadaan” muncul dari “Ketiadaan” dan lenyap kembali dalam “Ketiadaan”. Jiwa tak berubah dan tak pernah mati; hanyalah badan yang terus-menerus mengalami kelahiran dan kematian. Lalu... Apa yang harus kau tangisi?

Sesungguhnya kau tak perlu memikirkan kemenangan dan kekalahan. Lakukan tugasmu dengan baik.
Berkaryalah demi kewajibanmu. Janganlah membiarkan pikiranmu bercabang, bulatkan tekadmu, dan dengan keteguhan hati, tentukan sendiri jalan apa yang terbaik bagi dirimu. Berkaryalah demi tugas dan kewajiban, bukan demi surga, apa lagi kenikmatan dunia. Janganlah kau merisaukan hasil akhirnya, tak perlu memikirkan kemenangan maupun kegagalan. Dengan jiwa seimbang, dan tak terikat pada pengalaman suka maupun duka, berkaryalah dengan penuh semangat iman...!!!

Bebaskan pikiranmu dari pengaruh luar; dari pendapat orang tentang dirimu, dan apa yang kau lakukan. Ikuti suara Hatimu Nurani Rasamu, bukan perasa’anmu.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu Saudara-Saudariku Semuanya. Sukses Selalu ya.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan



(7) LAKU HAKIKAT HIDUP ADALAH SUARA HATI
YANG...
Merupakan Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
Dalam mencapai kesempurna’an yang Sesungguhnya:
Oleh: Wong Edan Bagu

Bagaimana mendengarkan suara Hati Nurani Rasa?
Bebas dari segala macam keinginan dan pengaruh pikiran, kau akan mendengarkan dengan jelas
suara hati nurani rasamu – itulah Pencerahan!

Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi oleh pengalaman duka, dan tidak pula mengejar pengalaman suka.
Perasa’an cemas dan amarah pun terlampaui seketika. Ia yang tercerahkan tidak menjadi girang
karena memperoleh sesuatu, tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya. Dirinya selalu puas, dalam segala keadaan. Pengendalian Diri yang sempurna membuatnya tidak terpengaruh oleh pemicu-pemicu di luar. Ia senantiasa sadar akan Jati-Dirinya.

Keterlibatan panca-indera dengan pemicu-pemicu di luar menimbulkan kerinduan, kemudian muncul keinginan. Dan, bila keinginan tak terpenuhi, timbul perasa’an kecewa, amarah. Manusia tak mampu lagi membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat. Seorang bijak yang tercerahkan, terkendali panca-inderanya, maka ia dapat hidup di tengah keramaian dunia, dan tak terpicu oleh hal-hal diluar diri. Demikian dengan keseimbangan diri, ia menggapai kesadaran yang lebih tinggi. Jiwanya damai, dan ia pun memperoleh Hasil Kebahagia’an Kekal Sejati.

Pengendalian Diri menjernihkan pandangan manusia, ia menggapai kesempunaan hidup.
Saat ajal tiba, tak ada lagi kekhawatiran baginya, ia menyatu kembali dengan Hyang Maha Suci Hidup. Yang Maha Kuasa diatas segala yang kuasa. Bukan ke Surga, Neraka, atau Pepohonan, Gunung, Jembatan atau Rumah kosong dll.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu Saudara-Saudariku Semuanya. Sukses Selalu ya.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

Kamis, 10 Juli 2014

LAKU PENCAPAIAN DALAM PROSES PENCARIAN JATI DIRI:

( SEDULUR 4 – 5 PANCER/ GURU SEJATI – HIDUP – TUHAN )
Oleh: Wong Edan Bagu
Pengembara Tanah Pasundan
Brebes. Jumat legi tgl 11-07-2014

Apapun yang ada di dunia, baik di dunia ga’ib maupun di dunia nyata, tidak ada satupun yang lepas dari tatanan/penata’an, hal ini bisa kita lihat buktinya, dari indahnya langit dan semua pirantinya, indahnya bumi beserta ube rampenya, indahnya samudra dengan semua katulistiwanya, mahkluk-mahkluk yang dengan kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Sebab Tuhan selalu menciptakan apapun itu, dengan aturan dan penata’an serta susunan yang amat sangat rapih. karena itu, jika kita bisa memandangnya dengan iman yang tepat. Maka akan terlihat indah dan tidak ada satupun yang sia-sia... Sejak awal jaman hingga sekarang ini.

Pendidikan moral mengajarkan hal yang sama;
Jika kita mau menghadap sang Raja atau Persiden, akan tersebut bijak dan menjadi lebih mudah serta santun kalau kita menggunakan tata krama dan etikanya yang ada berlaku. Misalnya, kita menghadap bawahan-bawahanya dulu yang kemudian dengan aturannya, sampai di hadapan Persiden atau Raja secara terhormat.

Untuk bisa meraih Sarjana atau master, moralpun mengajarkan siapa saja tanpa terkecuali untuk sekolah dulu mulai dari TK nol kecil hingga perguruan tinggi, yang akhirnya menerima titelnya dengan syah/resmi.

Pendidikan akhlakpun menghajarkan hal yang serupa;
Jika kita hendak berdoa kepada Tuhan, alangkah baiknya bermujahaddah, dengan cara tahlil, berwasilah/Tawasul. Misalnya, berdoa dulu untuk orang tua dan para ahli waris leluhurnya, pada para wali/syekh, lalu pada para nabi/rasul hingga pada para malaikat dan sampailah kehadirat Tuhan dengan ketepatan iman.

Agama dan Spiritualpun mengajarkan sama;
Berdasarkan Riwayat hadist dan Firman Tuhan yang tersurat di dalam al-kitab dan tersirat  alam semesta, yang kurang lebihnya berarti seperti ini; Jika engkau ingin mengenalku, maka kenalilah dirimu terlebih dulu. Karena sesungguhnya, AKU berada dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher/nadimu.  

Karena itu... Para ahli merancang dan menciptakan cara tersebut dengan sedemikian rupanya. Ada yang menggunakan media wujud manusia, yang kemudian di pelajarinya, mulai dari bulu, kulit, darah, daging, tulang hingga ke sungsum. Ada yang menggunakan media panca indera, mulai dari mata, telinga, mulut, hidung, pikiran hingga ke hati/bathin. Kemudian di praktekannya dengan cara, berdoa, berwiridz, berpuasa bahkan bertapa dan hasilnya di wariskan pada penerus-penerusnya. Hingga dari jaman ke jaman seterusnya, melalui berbagai prosesnya. Tercipta dan tersusunlah cara yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpel, hingga setiap diri yang berminat dan berniyat, bisa melakukannya, namun tetap tidak lepas dari lingkar aturan yang sudah tertata dan tersusun rapi sebelumnya, oleh sang penciptanya.

Cara yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpel yang ke satu:
DARI PARA SYEKH; Yaitu dengan cara menggunakan doa wasilah secara khusu’ dan istiqomah, kepada empat malaikat yang di yakini oleh spiritual agama, sebagai malaikat utusan Allah yang 24 jam full, mendampingi manusia hidup dengan tugasnya masing-masing. Yaitu; Malaikat Jibril, Malaikat  Ijro’il, Malaikat Mika’il dan Malaikat Isro’fil. Dengan doa didalam wasilah khusus yang di arahkan kepada ke empat malaikat tersebut, secara khusu’ dan istiqomah, jika mampu menghadapi prosesnya, si pelaku akan dapat dan bisa bertemu, dengan ke empat malaikat tersebut, yang kemudian di sampaikannya kepada rasulnya, dan rosulnya akan menghadapkan si  pelaku kepada Allahnya. Hingga akhirnya si pelaku  teranggap sebagai manusia pilihan, karena telah mengetahui siapa dirinya, siapa rasulnya dan siapa Tuhannya. Dan dengan bekal tiga pengetahuan tersebut, yang sudah berhasil di capainya, si pelaku akan bisa dan selalu bisa dalam segala halnya.

Cara yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpel yang ke dua:
DARI PARA LELUHUR; Yaitu dengan cara menggunakan olah rasa, secara rutin dan terus menerus, mempelajari saudara empat yang diyakini oleh spiritual jawa , adahal senjata dan piranti/bekal dari Hyang Maha Suci, untuk setiap diri-diri manusia hidup, dengan masing-masing fungsi dimensinya. Yaitu; Saudara  Mutma’inah, Saudara Alu’amah, Saudara Amarah dan Saudara Supiyah. Dengan olah rasa, menggali semua rasa yang terdapat di sekujur tubuhnya, yang berinti/bersumber pada ke empat saudara pribadi tersebut. Jika mampu menghadapi prosesnya, si pelaku akan dapat dan bisa bertemu, dengan ke empat saudara/sedulur pribadinya tersebut, yang kemudian di sampaikan kepada hidup (Guru sejatinya) dan guru sejatinya akan menghadapkan si pelaku kepada Hyang Maha Suci Hidupnya. Hingga akhirnya si pelaku  tersebut  sebagai manusia utama, karena telah mengetahui siapa dirinya, siapa guru sejatinya dan siapa Gustinya. Dan dengan bekal tiga pengetahuan tersebut, yang sudah berhasil di capainya, si pelaku akan bisa dan selalu bisa dalam segala halnya.

Dan saya sudah pernah menjalani semua proses laku yang tersebut diatas. Di dalam prosesnya...  jangankan tingkatan yang berat, tinggkat yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpelpun, terlalu amat banyak, termasuk saya, yang tidak mampu alias gagal, bahkan gagal total. Karena jika kita sudah masuk ke pelajaran tersebut, ada tiga anak tangga yang harus di lalui, tangga Pertama: HARTA. Tangga Kedua: TAHTA. Tangga Ketiga adalah WANITA.  Hanya ada beberapa orang pilihan saja, yang mampu melalui ketiga anak tangga tersebut. Silahkan saudara-saudari renungkan sendiri, tentang apakan semua manusia hidup mampu, jika sudah di hadapkan tiga hal tersebut. HARTA. TAHTA. WANITA.  Nanti akan tau sendiri, seberapa hebatnya, tiga anak tangga tersebut.

Dulu saya sempat kalap hingga beberapa waktu akibat dari ke gagalan itu, hingga pada akhirnya. Dengan usaha dan upaya saya sendiri yang memang suka tantangan tanpa menyerah. Saya menemukan yang sesungguhnya tidak berisiko gagal dan kalap seperti yang sudah dialami orang-orang termasuk saya pada sa’at itu... He he he . . . Edan Tenan.

Saudara-saudari saya, ingin tau caranya dan ingin bisa memahami dan mengerti apa itu sedulur papat kalima pancer? Yang tersebut; Mutma’inah, Alu’amah, Amarah dan Supiyah serta Guru sejati dan ingin bisa menemuinya? Biyar kenal dan bisa bercengkrama dengan mereka...!!!

Caranya tidak sulit dan tidak ribet, tidak berisiko gagal atau kalap, tak perlu puasa atau bertapa atau bermusyafir ria keliling jagat berziarah ke maqom dan keramat-keramat leluhur. Praktekan Cara dari saya di bawah ini:

LAKU PENCAPAIAN DALAM PROSES PENCARIAN JATI DIRI:

Langkah awal;
Sediakan Tempat atau Ruangan kusus, yang sekiranya tidak ada gangguan apapun, sehingganya, dikala kita duduk nantinya, kita bisa Nyaman Aman dan Rileks, tidak terganggu atau mengganggu siapapun dan apapun. Dan sediakan pula, Sebotol parfum/minyak wangi tanpa alkohol yang paling kita sukai.

Langkah kedua;
Pilih waktu tepat jam 18.05 menit. Entah itu petang atau pagi, silahkan dipilih mana yang pas. Setelah semuanya telah siap, duduklah bersilah, dilantai bisa, di kursi bisa di atas alas bantal atau tikar atau apa saja boleh, yang penting kita bisa nyaman dan enak dalam duduk... Setelah duduk,,, lalu tarik napas panjang dan dalam, lalu bacalah…..

“GUSTI... kula nyuwun tambahing pangestu lan pangayoman uga kasembadan, sekalian pasang keparenga marak sowan ing ngarsanipu sedulur papat …….”

Lalu,,, keluarkan napas panjang dan dalam sambil Konsentrasi ke niyat kita dalam hati, yaitu ingin menemui sedulur papat yang tersebut diatas……… Lalu, bacalah…….

“GUSTI... kula nyuwun tambahing pangestu lan pangayoman uga kasembadan, Keparenga kula caos bekti, lepat kekiranganipun nyuwun pangapura.”

Lalu,,, gunakan parfum/minyak wangi kesuka’an kita itu, untuk mewangi’i kedua daun telinga kita, tengkuk leher bagian belakang kita (Bahasa jawanya; Jithok/punuk) dan telapak kaki kita, terakhir kedua telapak tangan... Sambil membaca.

”GUSTI... kula nyuwun tambahing pangestu lan pangayoman uga kasembadan, hagni suci sucekna kamulyan ingsun, mulyakna kasucen ingsun, urupna uriping kawicaksanan ingsun.”

Lalu,,, letakan wadah minyaknya dan ciumlah aroma wangi kesuka’an kita yang terdapat di kedua tepak tangan dengan suka ria dan bahagia sambil….membaca….

“Jatimas tumana sidam sekaring bawana langgeng prapenku sela petak lengaku lenga mulya guyuhna kamulyan ingsun, tak jaluk rilamu sira sun sebar, gandamu mumbul ngawiyat ing ngarsaning GUSTI INGKANG MAHA SUCI tumurun dumateng…sejatining ingsun….”

Langkah ketiga;
Lalu duduklah dengan rileks dan santai. Bebaskan dan netralkan semua panca indera. Lalu, pertemukanlah kedua telapak tangan kanan dan kiri dan Letak antara jari2 tangan kanan dan kiri dengan sejajar dan bertepatan….lalu letakan telapak tangan yang telah di pertemukan tadi. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan KUNCI. Ibu jari. Berada tepat di bawah lubang hidung. Jari telunjuk. Berada tepat di antara kening kedua alis……siku/sikut tangan…lurus sejajar dengan pundak kanan dan kiri…….posisi tubuh. Harus lurus tegak.. lalu dalam hati, bacalah Kunci 7.x


KUNCI,
 “Gusti Ingkang Maha Suci. kula nyuwun pangapura dumateng Gusti Ingkang Maha Suci. Sirolah Datolah Sipatolah. Kula Sejatining Satria/Wanita (Satria untuk lelaki dan wanita untuk perempuan). nyuwun wicaksana nyuwun panguwasa. kangge tumindake Satria/wanita Sejati. Kula nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.”….7X.

Lalu turunkan tangan tepat ke tengan dada. Kondisi telapak tangan jangan sampai berubah. Letakan. Ruas ibu jarinya tepat di tengah lekukan dada….di antara payudara. Posisi tubuh masih tetap tegak. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan PAWELING. Lalu bacalah Paweling 3.x


PAWELING,
“Siji-siji Loro-loro Telu-telonana.
Siji sekti loro dadi telu pandita.
Siji wahayu loro grat’trahino telu rejeki .” 3.x

Lalu heningkan cipta untuk beberapa sa’at lamanya. Minimal 15 menit…..

Lalu tariklah tangan kiri ke samping pinggang sebelah kiri……dengan ibu jari menyentuh ujung tulang rusuk paling bawah. Dan jari telunjuk menempel tepat dipuser perut.. posisi tubuh masih tetap tegak dan telapak tangan kanan, masih dalam posisi semula, yaitu di tengan dada. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan Mijil. Lalu bacalah mijil 1x.


MIJIL,
“………..(Asma Sejati) Jeneng sira mijila, panjenengan ingsun kagungan karsa. Arsa sipatemon kelawan sedulurku tuwa kang ana ing bang wetan. kang aran mutma’inah, sedulurku tuwa kang ana ing bang kidul kang aran aluamah, sedulurku tuwa kang ana ing bang kulon kang aran amarah, sedulurku tuwa kang ana ing bang lor. kang aran nafsu supiyah, reksanen murih kelaksanan kang dadi sediyane kanti teguh rahayu slamet”...1x

Lalu dalam posisi ini, mulailah bersamadi/bermeditasi……….dengan cara. Menenangkan angan/pikiran dan batin. fokus pada satu titik, yaitu menemui sedulur/saudara empat sembari Konsentrasi  di keluar dan masuknya nafas.

Dalam beberapa sa’at kemudian, tubuh kita akan bergetar, mengalaminya, jangan goyah, jangan ragu dan jangan takut, terus rasakan getaran yang mulai menyelimuti sekujur tubuh tersebut, tak lama kemudian akan timbul rasa capek di bagian tubuh tertentu, jika capek itu muncul, misalnya munculnya di pinggang, maka segeralah memindahkan getaran itu, ke titik adanya capek tersebut, lalu satukan dan rasakan getaran yang sedang menyatu dengan capek itu, dengan kesadaran yang terkonsentrasi. INGAT...!!! jangan sampai lengah, jangan terlena atau terpengaruh oleh capek tersebut, karena di proses ini, akan muncul sebuah wejangan/pelajaran, tentang dari mana datangnya capek itu, kenapa capek dan kemana perginya capek itu, Jika kita lengah/terlena, maka tidak akan tau darimana datangnya capek dan mengapa capek serta tidak mengerti kemana perginya capek tersebut. Begitupun jika yang datang rasa selain capek, misalnya merinding, dingin atau panas dll, maka dengan hati-hati lalu kita mengalihkan getaran ke rasa yang ada hingga menyatu, lalu rasakan dengan sadar apa yang akan terjadi. Jika kita tidak tau dan mengerti karena kelengahan, maka kita harus mengulanginya dari awal lagi. Jika berhasil, teruskan samadinya dengan terus...

Merasakan apa yang teralami di sa’at kita bermeditasi tersebut. Karena kemungkinan besar, semua rasa yang pernah kita rasakan, akan hadir, bergantung seberapa taunya kita tentang rasa yang pernah kita rasakan, Jika datang  rasa enak, maka terima dan rasakanlah enak itu. Namun jangan senang karena dapat enak. Terus rasakan dengan iman, hingga enak itu menuntun kita pada tujuan awal kita, yaitu menemui sedulur papat. Jika datang rasa yang tidak enak, maka terima dan rasakanlah tidak enak itu, namun jangan brontak karena dapat tidak enak. Terus rasakan dengan iman, hingga tidak enak itu menuntun kita pada tujuan awal kita, yaitu menemui sedulur papat. Tetap konsen dalam meditasi. Jangan sampai terlena dan melamun, usahakan selalu ingat niyat awalnya dengan amat sangat sadar.

Inti dari meditasi/samadinya adalah; kita harus mengingat semua proses meditasinya dengan sabar dan sadar, sejak awal hingga akhirnya selesai. Contoh. Missal kita mengalami capek sa’at meditasi tadi. Maka kita harus tau dan hapal. Bagaimana proses datangnya capek tersebut. Datangnya bagaimana, prosesnya bagaimana dan perginya bagaimana. Hal ini harus di perjuangkan dengan tekad keimanan kita. Jangan menyerah apapun yang terjadi, karena disinilah letak penentuannya, jika kita bisa mampu, maka kita akan masuk ke dimensi lain,  yaitu dimensi alam kasukman, tanda dan ciri-ciri alam kasukman adalah, suwung/senyap, hampa atau kosong, tanpa ada apapun di sekitar kita, jika kita sudah berada di dimensi ini, Takut, ragu, was, merasa sendiri dan menebak-nebak akan muncul. Jangan tergoyahkan dengan kemunculannya, minimal 21 menit kita mampu bertahan tanpa goyah sedikitpun, tetep idep madep mantep, maka menit-menit berikutnya, satu persatu sedulur papat kita, akan muncul memperkenal masing-masing dirinya kepada kita, sehingga kita tidak merasa sendiri lagi, karena telah di dampingi sedulur-sedulur kita.

Setelah setelah merasa cukup. Lalu turunkan kedua tangan ke masing-masing posisi yang dalam sikon masih bersilah secara perlahan-lahan, tangan kanan ke lekukan kaki kanan (dengkul) tangan kiri ke lekukan kaki kiri (dengkul)… Netralkan kondisi badan dari semua ketegangan raga, bebaskan napas, pikiran/angan dan batin… lalu bukalah mata secara perlahan pula, lalu bebaskan posisi badan secara perlahan pula. Lalu bacalah Palungguh 3.x

“....(Asma Sejati) Lungguha ingkang prayuga. Ragane arsa tentrem. Sun sangoni basuki. Kalis ing sambikala. Oleha rejeki lumantar saking sangkan parang. Kanti teguh rahayu selamet.”

Bacalah berulang-ulang kali, singga rasanya klimax/plong.
Dengan cara; menempelkan telapak tangan kanan ke dada kiri, tepat di bagian yang terdapat ada detak jatungnya. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan PALUNGGUH.


Langkah ke empat :
Lakukan dan Jalankan serta Praktekan Cara diatas dengan iman kesadaran rutin kita, selama jumlah weton hari dan pasaran kelahiran kita. Misal kita lahir hari Rabu Pon, Rabu naptunya 7 dan Pon naptunya 7, jika di jumlah menjadi: 7 +7 = 14. Berati dalam hitungan jumlah 14 hari itulah kita akan berhasil... mengenal ke empat sedulur/saudara pribadi kita, hari ke 15nya, kita akan di pertemuka dengan guru sejati (Hidup) kita... SELESAI.

PERINGATAN:
CARA INI HANYA BERLAKU BAGI YANG SUDAH MEMAHAMI TATA CARA BERSAMADI/MEDITASI. TIDAK BERLAKU BAGI PEMULA, KECUALI DENGAN BIMBINGAN SECARA LANGSUNG;

Silahkan saudara-saudariku membuktikannya sendiri. Biyar mengalami sendiri dan tau sendiri hasilnya, bukan lagi dari katanya saya.
SEMOGA BERMANFA’AT DAN BERKAH. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET. HORMAT SAYA;
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan

Senin, 07 Juli 2014

KISAH NYATA:

Perjalanan Spiritual Wong Edan Bagu.
Dalam Mencari Jatidiri.

AJA PISAN-PISAN NGAKU WONG URIP. YEN ORA BISA NGRASAKAKE URIP. SEBAB; YEN ORA BISA NGRASAKAKE URIPE. KUWI DUDU WONG URIP. ANANGIN MAYIT URIP.

Jangan sekali-kali mengaku manusia hidup. Jika tidak bisa merasakan hidup. Karena; jika tidak bisa merasakan hidupnya. Itu bukan manusia hidup. Tetapi mayat hidup.


Kalimat ini, berkaitan erat dengan firman Tuhan yang mengartinya seperti ini: Jika engkau ingin mengenalku. Maka kenalilah dirimu terlebih dulu. Karena. sesungguhnya, aku berada amat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadimu.


Sabda pandita Ratu dan Firman Tuhan ini, banyak di gunakan sebagai Pameling/Peringatan di hampir tiap-tiap perguruan atau padepokan spiritual jawa. KUSUSNYA AJARAN-AJARAN YANG MENDALAMI ATAU MEMPELAJARI KEMANUNGGALAN ATAU PENYATUAN DIRI DENGAN SANG PENCIPTA SEGALANYA. Tujuannya, agar setiap cantrik/murid. Mengerti, betapa pentingnya hidup itu, untuk di ketahui, betapa utamanya hidup itu untuk segera di pahami.

Karena, siapapun dia, jika sudah bisa mengenal hidupnya, mengetahui dan memahami hidupnya, maka dia akan memiliki hidupnya, sesuai yang dikehendaki Tuhan dan bisa bercengkrama dengan hidupnya. Al-Hasil; selain bisa waskita, weruh sejeroning winarah dan sakti mandraguna tanpa payah, dia akan bisa mengenal dan mengetahui Tuhannya secara nyata-nyata dan nyata benar.

Karena itu... Mulai dari jaman nabi, spiritual yang menjurus ke hal tersebut, di rancang dan di cipta sedemikian rupa rapinya. Oleh para ahli, namun sedikit yang berhasil, hanya orang-orang pilihan saja. Lalu berlanjut ke sejarah jaman para wali, hingga kisahnya menggemparkan... pro dan kontra terjadi antara wali dan wali hingga menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk beberapa wali itu sendiri. Kemudian berlanjut ke para ahli tapa dan semedi/meditasi, namun tetap hanya orang-orang pilihan saja yang bisa mencapai tingkatan tersebut.

Dulu... sewaktu saya masih Edan dalam hal mencari ilmu kesaktian, ilmu jaya kawijayan. Mendengar adegan tersebut, dari Para sepuh dan membaca dari beberapa kitab spiritual. Darah langsung mendidih... karena hanya punya semua yang terkandung di badan ini, serta teka yang membara, tidak punya modal lainya. Sayapun menyiksa diri, dengan cara berjalan kaki berbekal apa adanya, keliling tanah jawa dwipa. Mencari sang guru yang mumpuni dalam hal tersebut, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dari satu guru berganti guru yang lainnya, dari mulai yang ahli agama sampai yang ahli kejawen, hingga terhitung tahun terlampaui, tapi tidak satupun yang bisa membuat saya dapat berhasil mencapai keinginan tersebut. Namun saya mendapatkan banyak pengalaman dari para guru-guru terhormat saya itu. Yang akhirnya membawa saya tersesat ke sebuah goa sembrani, yang terletak di gunung malih rupa, disebuah pedukuhan terpencil, yaitu dukuh cimone kecamatan patuguran kabupaten tegal jateng.

Berawal tersesat di goa sembrani gunung malih rupa inilah, saya menemukan caranya, untuk mencapai apa yang termaksud diatas. Kala itu, saya sudah kehabisan semuanya, kecuali pakaian yang saya kenakan di badan. karena tidak punya apa-apa yang bisa saya berikan buat Jurkun, sayapun memaski lokasi pertapa’an dengan cara mengendap-endap alias sembunyi-sembunyi (diam-diam) berusaha agar tidak ada yang mengetahuinya, setelah hari sudah gelap, saya mulai bergerak  menelusuri jalan setapak menuju pesanggrahan keramat kaki gunung malih rupa. Setibanya di sana, saya melihat ada Jurkun yang sedang membimbing ritual dari beberapa tamu pentingnya entah dari mana,  di di subuah pendopo mewah tap kuno dan tidak berdinding. yang di dirikan oleh Persiden Bung Karno pada jamannya. Sedangkan saya, bersembunyi dbalik semak yang sangat dekat disamping pendopo tersebut. Setelah usai ritual... sang Jurkun lalu memberi pengetahuan para tamunya tersebut. Dan saya sangat medengarnya.

Kata Jurkun:
Ini adalah Pesanggrahan suci Sang hyang Ismaya. Bangunan ini pendirinya adalah Persiden Bung Karno, Saat beliau bertapa mencari wahyu keselamat bagi tanah air kita ini. yang kemudian di jaga dan dirawat oleh orang pilihannya sebagai Jurkun, dan saya adalah Jurkun yang  ke 9, keturunan  Jurkun-jurkun yang terdahulu. ingat... selama tirakat disini, jangan sekali-kali meludah di tanah sekitar pesanggrahan, apa lagi buang air kecil/besar, kalau mau meludah harus di wadahi, begitupun jika mau buang air kecil/besar, terus nanti di buang jauh dari area pesanggrahan. Tidak boleh tidur atau makan dan minum, tirakat yang di boelhkan disini hanyalah pati geni, tirakat-tirakat lainya yang masih menggunakan buka sahur, tidak di bolehkan. Lalu sambil mengarahkan senternya ke arah puncak gunung.

Jurkun berkata lagi: Itu adalah puncak gunung kamat malih rupa, di puncak gunung itulah, Dewa. Sang hyang ismaya turun ke bumi lalu merubah wujud menjadi Semar. Di puncak itu, ada sebuah goa, namanya goa sembrani... tempat eyang semar bersemedi. Ingat ya, apapun yang terjadi, jangan sekali-kali nekad naik ke puncak gunung itu, sangat berbahaya... belum ada sejarah yang menceritakan, ada orang yang naik gunung itu, bisa kembali dengan selamat, semuanya hilang tanpa jejak, jika suatu saat ada yang memanggil atau mengajak untuk menaiki gunung itu, jangan pernah mau, itu goda untukmu, yang harus kamu tolak... jika sampai ada yang nekad naik kesana, apapun alasannya, saya sebagai Jurkun, tidak bertanggung  jawab, dan saya hanya akan menjenguk setiap jam 1 siang dan jam 9 malam. Selain waktu itu, masing-masing harus bisa menjaga dirinya sendiri-sendiri. Di bawah sana, ada sungai kecil, diatasnya ada air terjun, namanya air terjun Nagapesona, tapi jangan coba mandi atau meminum atau apa saja di air terjun sungai itu, kecuali jika tirakatmu batal. Kamu boleh ke air terjun itu untuk minum air. Jika tidak batal, jangan sekali-kali menyentuh airnya, karena jika sampai menyentuh airnya, berati tirakatmu batal.

Setelah menjelaskan lalu Jurkun itu berpamit pulang, dan setelah Jurkun pulang, dan beberapa orang itu sedang fokus berdoa sesuai hajatnya masing-masing, perlahan-lahan saya bergerak naik ke puncak gunung kramat malih rupa yang tadi di ceritakan sangat amat bahaya oleh jurkun. Setelah 2  jam kurang lebihnya, saya sapai di puncaknya. Waktu itu sedang ada kabut tebal, sehingga pandangan saya sangat terganggu, untuk menghindari hal yang tidak di inginkan, saya naik ke pohon istirahat menunggu waktu pagi, dan semalam suntuk diatas pohon, saya dapat menyaksikan ke anehan ke anehan yang terjadi dibawah yang tidak layak untuk di ceritakan disini, setelah pagi, lalu saya turun dan mencari goa sembrani yang di maksud jurkun itu. Dan di goa itulah saya mengadu nasib dan nyali demi cita-cita spiritual. Setelah 6 hari menahan diri dari apapun,,, saat itu saya dalam kadaan lemah segalanya, entah darimana asalnya, saya kurang jelas, munculah suara yang memenuhi ruangan goa, Suara itu berkumandang hingga ber ulang-ulang kali hingga saya hapal, setlah saya hapal. Suara itu lenyap, dan mendadak tenaga saya pulih seperti makan minum cukup dalam keseharian.

Suara itu seperti ini bunyinya:
He he he . . . Edan Tenan. Lamun jeneng sira tumuju weruh lan waskita marang sejatine Urip sira lan  Sejatining Pengeranira. Nora perlu ndawa waktu lan nyiksa raga, cukup dudahen rasa kang anglimputi sakujur badanira, ing kono ana dawuhe Pengeran kang bakal nggendong ngempit ngindit jiwa raga, pati urip lan dunya akherira.

Arti kurang lebihnya seperti ini:
He he he . . . Edan Tenan. Kalau kamu ingin tau sebenarnya hidup dan sebenarnya Tuhanmu, tidak perlu buang waktu dan menyiksa badan. cukup galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, disitu ada Firman Than yang akan menjamin jiwa raga, hidup mati dan dunia kakheratmu.

Para Sedulur... Dengan inilah saya laku spiritual mencari Hakikat dari segala hal, terutama tentang Hidup dan Tuhan, tanpa puasa, pagi geni,tirakat dan tanpa bertapa serta tanpa penyiksa’an-penyiksa’an lainya. Cukup pilih waktu yang tepat, lalu duduk bersilah, Sembah Sungkem menghadap  bathin. Lalu baca KUNCI 7x. Paweling 3x. Terus mijil lalu bersamadi mengheningkan cipta, menggali semua Rasa yang tersimpan di seluruh tubuh... dan selama saya menjalankan cara ini, tidak ada satupun yang luput dari pencarian saya, apa lagi gagal. Jika sudah selesai, lalu Palungguh hingga klimaxnya dapat... Nah,,, Para sedulur... Yuk... kita belajar bareng dan bersama ya lurr, semuanya akan menjadi terasa ringan tanpa beban dan menyenangkan, Sembayang. Sholat. Berdoa. Wirid dan ibadah-ibadah apapun yang kita jalankan, akan terasa luar biasa membahagiakan... tidak ada satupun yang kita ibadahkan terasa berat, jenuh dan membosankan apa lagi menyapekan. Semuanya membahagiakan jika dengan cara yang tersebut diatas... Monggo... Silahkan di renungkan ya Lurr,,, lalu buktikan sendiri... Biyar tau sendiri, bukan katanya saya. Teori dan prakteknya dari saya. Tapi Buktinya nanti dari Sedulur sendiri. Bukan katanya saya lagi.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr
Ttd: Wong Edan Bagu
Pengembara Tanah Pasundan


Sabtu, 05 Juli 2014

SERAT WULANGREH:

Tentang ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA:
Di Kutip dari Serat Wulangreh, karya Sri Sunan Pakubuana IV.
Di olah oleh: Wong Edan Bagu

Adigang, Adigung dan Adiguna. Manusia hendaknya tidak mengandalkan dan menyombongkan kelebihan yang dia miliki. (Adigang: Kekuatan; Adigung: Kekuasaan; Adiguna: Kepandaian). Kata-kata ini dapat dibaca pada Serat Wulangreh karya Sri Sunan Pakubuwana IV, pada Pupuh gambuh bait ke 4-10. Pada bait ke 4 di bawah, disebutkan bahwa Sifat Adigang diwakili oleh "Kijang", Adigung oleh Gajah (esthi) dan Adiguna oleh ular.

KIJANG GAJAH DAN ULAR ;
Apa yang diandalkan oleh kijang, gajah dan ular sehingga ketiganya diangkat sebagai contoh sifat adigang adigung dan adiguna dapat dilihat pada bait ke 4 dan 5:

Bait ke 4.
Ana pocapanipun. Adiguna adigang adigung. Pan adigang kidang. Adigung pan esthi. Adiguna ula iku. Telu pisan pisan mati sampyoh.

Bait ke 5.
Si kidang umbagipun. Angandele kebat lumpatipun. Pan  esthi ngadelake geng ainggil. Ula ngandelaken iku. Mendine kalamun nyakot. 

Terjemahannya  bait ke 4. Sebagai berikut:
Adalah sebuah kisah; Adiguna adigang adigung; Kijang adalah adigang dan gajah adalah adigung; Adiguna adalah ular; Ketiganya mati bersama (sampyuh)

Terjemahannya  bait ke 5. Sebagai berikut:
Adalah watak si kijang yang  sombong dengan kecepatannya melompat. Sedangkan gajah mengandalkan tubuhnya yang tinggi besar. Kemudian  ular dengan bisanya yang mematikan kalau ia menggigit.

ADIGANG ADIGUNG DAN ADIGUNA;
Pengertian sifat "Adigang Adigung Adiguna" dapat dibaca pada bait ke 6- 8 Sebagai berikut:

Bait ke 6.
Iku upamanipun. Aja ngandelake sira iku. Suteng nata iya sapa ingkang wani. Iku ambeke wong digung. Ing wusana dadi asor.

Bait ke 7.
Adiguna punika. Ngandeleken kapinteranipun. Samubarang kabisan dipun dheweki. Sapa pinter kaya ingsung. Tugung prana nora enjoh.

Bait ke 8.
Ambek adigang iku. Ngandelaken kapinteranipun. Para tantang candhala anyenyampahi. Satemah dadi geguyon.

Terjemahannya  bait ke 6. Sebagai berikut:
Jangan mengandalkan bahwa kamu itu anak raja, ya siapa yang akan berani. Itu adalah sifat adigung yang akhirnya justru merendahkan martabat.
Bait ke 6 diatas amat menarik, karena Sri Susuhunan Pakubuwana IV sebagai seorang raja kersa memberikan contoh "anak raja" untuk mewakili sifat adigung.

Terjemahannya  bait ke 7. Sebagai berikut:
Siapa pandai seperti saya (sapa pinter kaya ingsun, demikian sesumbarnya); Ternyata akhirnya tidak mampu (nora injoh)
Bait ke 7 menjelaskan sifat "adiguna" yang membangga-banggakan kepandaiannya. Terjemahannya  sebagai berikut: Adiguna itu; Mengandalkan kepandaian; Semua kepandaian hanya miliknya sendiri (dipun dheweki);

Terjemahannya  bait ke 8. Sebagai berikut:
Sifat adigang itu; mengandalkan kekuatannya (kasuranipun); Semua ditantang dan dicela (Para tantang candhala anyanayampahi) Ternyata tidak becus; Akhirnya jadi bahan tertawaan.
Bait ke 8  menjelaskan sifat adigang yang pongah dengan kekuatannya. Ternyata kemudian tidak mampu dan gagal, akhirnya hanya jadi bahan olok-olok semua orang.


AKHIRNYA NGUNDUH WOHING PANGGAWE;
Bait ke 9 dan 10 berisi pesan supaya wong urip itu tidak berperilaku yang tiga hal itu tapi hendaknya rereh ririh ngati-ati dan waspada. Pada akhirnya, kijang, gajah dan ular mati karena lengah dan akibat ulah sendiri.

Bait ke 9.
Ing Wong urp puniku, aja nganggo ambek kang tetelu. Anganggoa rereh ririh ngati-ati. Den kawangwang barang laku den waskita solahing wong.

Bait ke 10.
Dene katelu iku. Si kidang suka ing patinipun. Pan si esthi alena patinireki. Si ula ing patinipun. Ngandelke upase mandos. 

Terjemahannya  bait ke 9. Sebagai berikut:
Orang hidup itu; jangan memakai ketiga watak tersebut; Gunakan sikap sabar (rereh), kehalusan (ririh)  dan hati-hati; perhatikanlah (den kawangwang) tingkah laku kita;  Waspadalah dengan perilaku manusia;

Terjemahannya  bait ke 10. Sebagai berikut:
Mengenai ketiga hal tersebut; Si kijang mati karena terlalu bersenang-senang (suka ing patinipun); Si gajah karena lengah (alena patinireki); Sedang ajal ular; Karena mengandalkan bisanya yang manjur (ngandelken upase mandos)

KESIMPULANNYA:
Orang jangan sombong dengan mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kepandaiannya. Akhirnya hanya akan “ngunduh wohing panggawe”. Hal ini dapat dilihat pada bait ke 11 yang terjemahannya kurang lebih Seperti ini:

Ketiganya tidak pantas; Kalau ditiru malah jadi salah; Tanda-tandanya orang muda kurang bisa menjaga rahasia (wong anom kurang wewadi); Senang kalau banyak orang memuji-muji (bungah akeh wong anggunggung); akhirnya terjerumus (kajalomprong).

Orang yang punya watak "adigang adigung dan adiguna ini adalah orang yang nerak (tidak mengindahkan ajaran "Basa Basuki" seperti yang disebutkan dalam Serat Wulangreh, pupuh Pangkur bait ke 8 dan 9.

Dua hal yang harus diperhatikan disini: Pertama, orang harus bisa menjaga rahasia (dapat di baca dalam buku Anggenthong umos) dan jangan suka dipuji-puji (dapat dibaca di buku Serat Wulangreh: Jangan menjadi orang gunggungan dalam buku Serat Wulangreh: KARENA,,, Orang nggunggung tentu ada maunya) Adapun cara mengatasi orang yang “Adigang Adigung dan Adiguna” ini dapat dilihat di "Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” 

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu
Pengembara Tanah Pasundan

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI:

Di Olah oleh: Wong Edan Bagu
Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah ungkapan bahasa Jawa yang paling saya sukai. Maknanya kurang lebih: Keberanian, kedigdayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan dengan panembah. Segala sifat angkara, lebur dengan kesabaran dan kelembutan. Kata-kata bijak ini bisa kita baca dimana-mana, bahkan ditempel dimana saja, mungkin juga yang menulis atau menempel tidak terlalu paham artinya.

"Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah bagian dari salah satu bait "Pupuh Kinanthi" dalam "Serat Witaradya" buah karya R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan R Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya.

PEMAHAMAN MAKNA TEMBANG;
Selengkapnya "Pupuh Kinanthi" tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Jagra angkara winangun;
(2) Sudira marjayeng westhi;
(3) Puwara kasub kawasa;
(4) Sastraning jro Wedha muni*);
(5) Sura dira jayaningrat;
(6) Lebur dening pangastuti*)

Ada yang menulis (4) “Wasita jro wedha muni”
Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

(1) Jagra: Bangun (dalam pengertian “melek”); Angkara: Angkara; Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);
(2) Sudira: Amat berani; Marjayeng: Jaya ing, menang dalam ... ; Westhi: Marabahaya;
(3) Puwara: Akhirnya; Kasub: terkenal, kondang; Kawasa: Kuasa; 
(4) Sastra: Tulisan, surat-surat, buku-buku; Jro: Jero, Di dalam; Wedha: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu; Muni: berbicara; 
(5) Sura: Berani; Dira: Berani, kokoh; Jaya: menang; Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di; Rat: Jagad
(6) Lebur: Hancur; Dening: Oleh; Pangastuti: pamuji, pangalem, pangabekti, panembah.

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:Baris ke 1 sd 3 menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara. Sedangkan baris ke 4 sd 6 menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.Di bawah adalah kisah pendukung “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang dapat dibaca pada Serat Witaradya, tentang kesetiaan seorang istri yangt dapat mencegah niat buruk laki-laki dengan “pangastuti”

KISAH NYAI PAMEKAS;
Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang.

Dengan tutur kata lembut dan "ulat sumeh" Nyai Pamekas berupaya menyadarkan R Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di"sirep" (dibuat tidur dengan ilmu sirep)

Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti R Citrasoma, tentu saja me"nyirep" orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan R Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan R Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

R Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

YUDISTIRA DAN CANDRABIRAWA;
Menjelang akhir perang Bharayuda, Yudistira dipasang untuk melawan Prabu Salya yang sakti mandraguna dan memiliki aji-aji Candrabirawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bima dan Harjuna sudah kewalahan. Dipukul gada atau dipanah, tidak mati malah bertambah banyak. Akhirnya Candrabirawa berhadapan dengan Yudistira, raja yang dikenal berdarah putih, tidak pernah marah apalagi perang. Raksasa raksasa Candrabirawa tidak dilawan.Bahkan didiamkan saja. Raksasa-raksasa Candrabirawa pun kembali ke tuannya

KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD;
Orang lemah lembut sering dianggap lemah. Ini masalahnya. Sehingga lebih banyak orang yang berupaya menunjukkan kekuasaan dengan pamer kekuatan yang bermanifestasi sebagai tindak angkara. Ia lupa bahwa sikap memberikan “pangastuti” mampu melebur tingkah yang “sura dira jaya ning rat”  Masih dalam Serat Witaradya, pupuh Kinanti R Ng Ranggawarsita menjelaskan seperti apa manusia yang sudah mampu mengendalikan menata hawa nafsunya sebagai berikut:

(1) Ring janma di kang winangun;
(2) Kumenyar wimbaning rawi;
(3) Prabangkara dumipeng rat;
(4) Menang kang sarwa dumadi;
(5) Ambek santa paramarta;
(6) Puwara anyakrawati

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:
(1) Ring (Maring: Kepada); Janma: Manusia; Di (Adi: baik); Kang: Yang; Winangun: Ditata;
(2) Kumenyar: Bercahaya; Wimba:Seperti; Rawi: matahari
(3) Prabangkara: Matahari; Dumipeng: Sampai ke; Rat: Jagad
(4) Menang: Mengalahkan; Kang: Yang; sarwa: serba; Dumadi: Semua makhluk
(5) Ambek: Sifat; Santa: sabar; Paramarta: Adil bijaksana
(6): Puwara: Akhirnya; Anyakrawati: Memerintah

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:Pada  orang utama yang sudah mampu menata hawa nafsunya (tidak bersifat angkara murka); Bercahaya seperti sinar matahari; Sinarnya menerangi jagad; menguasa seluruh isi jagad; wataknya sabar, adil dan bijaksana; Akhirnya bisa menguasai jagad (maksudnya pemerintahan).

Pangastuti (panembah) disini dapat diartikan dengan penerapan laku-linggih dan solah muna-muni (perilaku dan ucapan) dalam penerapan Basa Basuki.Itulah "Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti", yang mampu mengalahkan sifat yang mengarah ke “Adigang Adigung Adiguna”. Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad ke 21 ini.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan