"HIDUP"
Hidup itu nafas...
Nafas itu hembusan...
Hembusan itu kehidupan...
Kehidupan itu tantangan
Juga perjuangan …
Ambisi dan luapan asa berjuta rasa
Hidup itu emosi, juga kesabaran
Kebodohan juga kebajikan
Penantian dan kesia sia an
Kesuksesan dan kehancuran
Hidup itu penuh luapan.
Luapan hari dengan kesibukan
Ledakan ide ,gagasan, dan semangat juang
Bisa juga manjakan pikiranku dengan gelimangan
Atau hanya penatkan diri berpeluh
Dan sekedar membuang waktu demi masa
Hidup bagiku mencari dan mencari
Pasti dan tak pasti, atau..
Aku tak perduli
Melihat dan tiada berpaling,berujung pandang
Atau pergi, sirna, hilang tak kembali lepas
Suka dan duka bisa kusembuyikan
Luka dan derita bisa kusisihkan
Jika senang, itu kurasakan
Juga kebahagiaan itu kuterima karena karunia
Atau karena ikatan kuat dan genggaman erat, mencengkram
Kadang hariku berlalu tiada terhenti
Walau hanya sekejap untuk berdiam diri
Berpacu dalam waktu
Dan berkejar dalam detak
Tertatih,atau terseret, dunia tak perduli
Jika puncak berdiri tegak
Tentu jurang menanti curam, dalam dan terjal
Bertahta kah
Atau hancur berkeping debu...
Hidup katanya hanya untuk menunggu mati
Dan mati hanya karena kehidupan
Pasti dan tidak bisa ditawar lagi
Silahkan bercermin diri
Untuk apa hidupmu kali ini
Jadi berarti berkilau permata
Atau jadi sampah, bau dan membusuk
Hidup itu sekali lagi hanya nyawa
Dan nyawa sekali lagi untuk hidup
Jika kembali dikatakan sia sia
Jadikan itu berarti
Karena hidup hanya sekali.
Hidup bagiku, sungguh berarti.
Itu sebab. apapun yang AKU lakukan.
Selalu saya kaitkan Dengan Hidup.
Karena hanya Hiduplah yang bisa conex pada Maha Suci Hidup.
ttd: Wong Edan BaGu
"HIDUP"
*hidup itu berarti*
PCI Brebes 10-02-2014
"Saudara-Saudariku Terkasih dan Tercinta. Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. karena di dalam tubuhmu" 'Ada firman tuhan. yang dapat menjamin dunia akherat dan hidup matimu. untuk itu... Ketahuilah' Ttd: Wong Edan Bagu
Minggu, 09 Februari 2014
MATI...?!?
MATI...?!?
Kematian, dan mati. Adalah suatu hal yang paling manusia takuti.Tak ada seorangpun yang mau mati. Sebagian orang tak mau mati sia sia. Tapi dibagian lain, ada yang mati untuk memperoleh kehidupan sejati.
Bijaklah dalam mengartikan kematian.
Walaupun tak pernah kita sukai, tapi harus kita jalani, dan akhirnya kita hadapi.Kematian adalah suatu peristiwa berhentinya kehidupan. Mati adalah akhir dari kehidupan. Tapi karena mati-lah kita akan memperoleh kehidupan yang sejati.
Ketika kita hidup dan kita ‘mematikan ‘ kehidupan kita,sebenarnya kita membekali kematian itu untuk memperoleh kehidupan. Karena kematian demi kehidupan yang lebih baik, adalah suatu perbuatan bijaksana setelah kita tahu akan ada kehidupan yang lebih berharga setelah kematian.
Kematian dalam dunia dan kematian dalam diri manusia.
Kali ini saya persembahkan khususnya buat Anak2 didik saya dan sahabat2 saya dan kusushon untuk yang menginspirasi saya dalam membuat laku spiritual. Agar kiranya MATI itu tidak hanya mati dengan tanda titik. Tapi mati itu hanya hal kecil untuk mendapatkan sebuah hal yang terbesar dari kehidupan. berikut ekspresi dari saya tentang MATI:
MATI
Diam dan tak bergerak
Berhenti dan tak bernafas
Kehidupan pergi, menjauh, lari,……
Mati.
Ketika organ lelah beroperasi
dan kemudian terhenti
Darah tak mengalir, membeku
Tertinggal tubuh terbujur kaku
Yang juga membiru
Ketika helaan tak terdengar
Mata menutup rapat terpejam
Mati.
Mati,
Tak bisa terjadi tanpa
Hidup.
Dan kehidupan pasti berujung pada
Mati.
Selayang mata memandang
Sebatas nalar menghayal
Tak pasti namun terjadi
Tanpa kompromi dan juga janji
Ketika datang tak bisa dihindari
Ketika pergi, tak hanya suka dan puji.
Itulah
Mati.
Ketika mati dikatakan mati
Dan mati adalah tidak hidup,
Bagaimana mati yang tidak pernah mati?
Atau hidup setelah hidup?
Angkasa boleh ditaklukannya
Planet boleh didudukinya
Bahkan bencana bisa ditanggulanginya
Tapi tidak dengan MATI.
Mati dan mati
Mati jasmani, itu yang selalu terjadi
Dengan sebesar biji sesawi,
Mati hanya jembatan penuh arti
Boleh kaubunuh diri ini
Boleh kau lukai badan ini
Sehingga aku mati
Tapi tidak dengan jiwa dalam balutan raga
Tidak dengan tangan bersimbah darah
Atau dengan nanah borok dan luka
Atau hanya dengan alat bikinan manusia
Mati yang tak mati.
Bagiku hidup adalah menunggu mati
Dan bagiku mati hanya karena aku hidup
Hidup dalam kematian,dan mati dalam kehidupan
Jika akhlak-ku serendah tanah yang diinjak orang
Dan hidupku tak lebih baik dari seorang penjahat,
Apa artinya hidup yang sebenarnya mati?
Dan apa gunanya mati itu datang karena sebenarnya tlah lama mati?
Untuk apa kematian diatas kematian?
Untuk apa kematian bukan dalam kehidupan?
Ketika aku berkata mati
Pada tubuh hina, fana ini
Aku hidup
Dan ketika aku berkata hidup pada tubuh nista ini
Aku sebenarnya telah mati.
Memisahkah kehidupan dari kematian
Mendapatkan kehidupan dengan ,menjauhkan kematian
Mendapatkan kematian dari menjalani kehidupan
Perlukah jika kau merasa hidup, padahal kau mati
Tapi kau mematikan kehidupan yang sebenarnya kau lebih hidup dari yang hidup?
Seseorang menyukai dan mendambakan kehidupan surgawi,
Tapi tak mau mati
Mendambakan untuk menuju surga
Tapi takut mati
Perlukah hidup lebih dari mati yang membawa hidup?
Bergunakah kematian bagi kehidupan setelah hidup?
Aku berlari dalam kehidupan
Hanya mengejar kematian
Dan kematian lari daripada ku, ketika aku mencoba hidup
Tatkala mati itu lebih berharga daripada hidup,
Perlukah hidup itu?
Tentu saja tidak seperlu mati.
Tatkala hidup itu jauh lebih berharga daripada mati,
Tak perlukah mati itu?
Dari mati menjadi hidup
Dari hidup menjadi mati
Apakah anganmu melebihi kehendakmu?
Ataukah asamu melebihi kodratmu?
‘Dalam mati’ beroleh hidup
Atau dalam hidup seperti orang mati?
Dalam hati ku bertanya
Jika seseorang berkata,
Kau mati padahal Kau Hidup
Apa yang terjadi?
Jika Yang Kuasa berkata:
Aku mati agar mereka tetap hidup
Berartikah kehidupan itu melebihi kematian
Sampai seseorang rela menyerahkan nyawanya dan mati,
Hanya karena ingin kita hidup dan tak mati?
Dan bila diantara orang mati Ia hidup
Dan diantara yang hidup Ia menjadi mati
karena kehidupan kita, perlukah hidup itu melebihi mati?
Ketika Dia berkata :
Kamu sudah mati karena dosa dosa yang telah kamu perbuat,
Kamu sudah mati karena pelanggaran pelanggaran yang erap kali kamu lakukan
Perlukah kita mati lagi jika dikatanNya kita telah mati?
Yang bijak yang mengerti,
Dan yang bebal yang memungkiri
Kalau saja semua mati karena hidup, buat apa lagi kembali mati?
Jika mati yang dimatikan kematian - mati,
Berolehkah hidupmu daripadanya?
Seorang pujangga berkata :
Sekali berarti, kemudian mati
Tak bagi Dia yang ‘tak pernah mati’
Sekali berarti kan selalu hidup walau sudah mati.
Indahkah kehidupan setelah mati?
Indahkan kematian karena jembatan menuju hidup?
Berhasilkah kamu mematikan hidupmu yang hidup,
Agar kau beroleh kehidupan tanpa kematian?
Atau lebih baik kau hidup, tanpa memikirkan mati yang membawa hidup?
MATI.
Tidak selalu mati, dengan tanda titik.
MATI.
Hanya untaian huruf dalam kata, dunia.
MATI.
Oleh karena mematikan kehidupan yang membawa mati
MATI.
Dalam dunia terbawah tempat ratap dan kertak gigi
MATI.
Bagiku untuk hidup kembali.
Sebuah renungan akan kematian
Puisi mati yang hidup
Dan puisi yang hidup tapi tak mati
.......dari seorang smile
Yang mengharap mati untuk beroleh hidup sejati
Walau berusaha untuk tak takut mati
Dalam menyongsong hari yang pasti terjadi.
Berilah kekuatan agar mati
Tak menjadi momok berarti
ttd: Wong Edan BaGu
PCI. Minggu 09-02-2014
Kematian, dan mati. Adalah suatu hal yang paling manusia takuti.Tak ada seorangpun yang mau mati. Sebagian orang tak mau mati sia sia. Tapi dibagian lain, ada yang mati untuk memperoleh kehidupan sejati.
Bijaklah dalam mengartikan kematian.
Walaupun tak pernah kita sukai, tapi harus kita jalani, dan akhirnya kita hadapi.Kematian adalah suatu peristiwa berhentinya kehidupan. Mati adalah akhir dari kehidupan. Tapi karena mati-lah kita akan memperoleh kehidupan yang sejati.
Ketika kita hidup dan kita ‘mematikan ‘ kehidupan kita,sebenarnya kita membekali kematian itu untuk memperoleh kehidupan. Karena kematian demi kehidupan yang lebih baik, adalah suatu perbuatan bijaksana setelah kita tahu akan ada kehidupan yang lebih berharga setelah kematian.
Kematian dalam dunia dan kematian dalam diri manusia.
Kali ini saya persembahkan khususnya buat Anak2 didik saya dan sahabat2 saya dan kusushon untuk yang menginspirasi saya dalam membuat laku spiritual. Agar kiranya MATI itu tidak hanya mati dengan tanda titik. Tapi mati itu hanya hal kecil untuk mendapatkan sebuah hal yang terbesar dari kehidupan. berikut ekspresi dari saya tentang MATI:
MATI
Diam dan tak bergerak
Berhenti dan tak bernafas
Kehidupan pergi, menjauh, lari,……
Mati.
Ketika organ lelah beroperasi
dan kemudian terhenti
Darah tak mengalir, membeku
Tertinggal tubuh terbujur kaku
Yang juga membiru
Ketika helaan tak terdengar
Mata menutup rapat terpejam
Mati.
Mati,
Tak bisa terjadi tanpa
Hidup.
Dan kehidupan pasti berujung pada
Mati.
Selayang mata memandang
Sebatas nalar menghayal
Tak pasti namun terjadi
Tanpa kompromi dan juga janji
Ketika datang tak bisa dihindari
Ketika pergi, tak hanya suka dan puji.
Itulah
Mati.
Ketika mati dikatakan mati
Dan mati adalah tidak hidup,
Bagaimana mati yang tidak pernah mati?
Atau hidup setelah hidup?
Angkasa boleh ditaklukannya
Planet boleh didudukinya
Bahkan bencana bisa ditanggulanginya
Tapi tidak dengan MATI.
Mati dan mati
Mati jasmani, itu yang selalu terjadi
Dengan sebesar biji sesawi,
Mati hanya jembatan penuh arti
Boleh kaubunuh diri ini
Boleh kau lukai badan ini
Sehingga aku mati
Tapi tidak dengan jiwa dalam balutan raga
Tidak dengan tangan bersimbah darah
Atau dengan nanah borok dan luka
Atau hanya dengan alat bikinan manusia
Mati yang tak mati.
Bagiku hidup adalah menunggu mati
Dan bagiku mati hanya karena aku hidup
Hidup dalam kematian,dan mati dalam kehidupan
Jika akhlak-ku serendah tanah yang diinjak orang
Dan hidupku tak lebih baik dari seorang penjahat,
Apa artinya hidup yang sebenarnya mati?
Dan apa gunanya mati itu datang karena sebenarnya tlah lama mati?
Untuk apa kematian diatas kematian?
Untuk apa kematian bukan dalam kehidupan?
Ketika aku berkata mati
Pada tubuh hina, fana ini
Aku hidup
Dan ketika aku berkata hidup pada tubuh nista ini
Aku sebenarnya telah mati.
Memisahkah kehidupan dari kematian
Mendapatkan kehidupan dengan ,menjauhkan kematian
Mendapatkan kematian dari menjalani kehidupan
Perlukah jika kau merasa hidup, padahal kau mati
Tapi kau mematikan kehidupan yang sebenarnya kau lebih hidup dari yang hidup?
Seseorang menyukai dan mendambakan kehidupan surgawi,
Tapi tak mau mati
Mendambakan untuk menuju surga
Tapi takut mati
Perlukah hidup lebih dari mati yang membawa hidup?
Bergunakah kematian bagi kehidupan setelah hidup?
Aku berlari dalam kehidupan
Hanya mengejar kematian
Dan kematian lari daripada ku, ketika aku mencoba hidup
Tatkala mati itu lebih berharga daripada hidup,
Perlukah hidup itu?
Tentu saja tidak seperlu mati.
Tatkala hidup itu jauh lebih berharga daripada mati,
Tak perlukah mati itu?
Dari mati menjadi hidup
Dari hidup menjadi mati
Apakah anganmu melebihi kehendakmu?
Ataukah asamu melebihi kodratmu?
‘Dalam mati’ beroleh hidup
Atau dalam hidup seperti orang mati?
Dalam hati ku bertanya
Jika seseorang berkata,
Kau mati padahal Kau Hidup
Apa yang terjadi?
Jika Yang Kuasa berkata:
Aku mati agar mereka tetap hidup
Berartikah kehidupan itu melebihi kematian
Sampai seseorang rela menyerahkan nyawanya dan mati,
Hanya karena ingin kita hidup dan tak mati?
Dan bila diantara orang mati Ia hidup
Dan diantara yang hidup Ia menjadi mati
karena kehidupan kita, perlukah hidup itu melebihi mati?
Ketika Dia berkata :
Kamu sudah mati karena dosa dosa yang telah kamu perbuat,
Kamu sudah mati karena pelanggaran pelanggaran yang erap kali kamu lakukan
Perlukah kita mati lagi jika dikatanNya kita telah mati?
Yang bijak yang mengerti,
Dan yang bebal yang memungkiri
Kalau saja semua mati karena hidup, buat apa lagi kembali mati?
Jika mati yang dimatikan kematian - mati,
Berolehkah hidupmu daripadanya?
Seorang pujangga berkata :
Sekali berarti, kemudian mati
Tak bagi Dia yang ‘tak pernah mati’
Sekali berarti kan selalu hidup walau sudah mati.
Indahkah kehidupan setelah mati?
Indahkan kematian karena jembatan menuju hidup?
Berhasilkah kamu mematikan hidupmu yang hidup,
Agar kau beroleh kehidupan tanpa kematian?
Atau lebih baik kau hidup, tanpa memikirkan mati yang membawa hidup?
MATI.
Tidak selalu mati, dengan tanda titik.
MATI.
Hanya untaian huruf dalam kata, dunia.
MATI.
Oleh karena mematikan kehidupan yang membawa mati
MATI.
Dalam dunia terbawah tempat ratap dan kertak gigi
MATI.
Bagiku untuk hidup kembali.
Sebuah renungan akan kematian
Puisi mati yang hidup
Dan puisi yang hidup tapi tak mati
.......dari seorang smile
Yang mengharap mati untuk beroleh hidup sejati
Walau berusaha untuk tak takut mati
Dalam menyongsong hari yang pasti terjadi.
Berilah kekuatan agar mati
Tak menjadi momok berarti
ttd: Wong Edan BaGu
PCI. Minggu 09-02-2014
(T)UHAN: ( Bagian 1 – Bagiku )
(T)UHAN:
( Bagian 1 – Bagiku )
(T)uhan adalah Maharaja
Yang disembah oleh semua raja dunia
Bagiku (T)uhan adalah sutradara
Dan kita adalah aktor dan aktris-Nya
Ketika Arsitek merasa seperti (T)uhan
Dan merasa ciptaannya paling sempurna
Aku hanya tersenyum,
Karena (T)uhan adalah arsitek yang sebenarnya
Yang tak pernah gagal
Dalam membuat semua :
Rancangan
Gambar
Dan hasil ciptaan
Sesuai Rencana-Nya
Dan bagiku juga (T)uhan adalah
Makamah terAgung
Yang membawahi semua hakim, jaksa dan pengacara
Jika presiden adalah pemimpin tinggi suatu negara
(T)uhan memimpin semua presiden dunia
Untuk menyembahNya
Baik : Kristen, Katholik, Islam, Budha, Hindu, dan lainnya
Semuanya dengan berbagai cara menomorsatukan-Nya
Dan kenapa (T)uhan mencipta begitu banyak suku, ras, dan agama?
Karena CINTA yang dapat mempersatukannya
Dan jika seseorang merasa besar dan mulia
Bagaimana (T)uhan sendiri merasa siapa diriNya?
Jika seseorang taat kepada (T)uhan dan agamanya
Apakah (T)uhan tak melihat semua ketaqwaannya?
Bagiku (T)uhan itu unik
Sutradara terhebat
Hakim teragung
Arsitek terhandal
Maharaja serta Maha presiden tentunya
Jika seorang Raja begitu dimuliakan
Dan seorang Presiden begitu dihormat
Perlakuan apalagi yang harus kita perbuat?
Kepada-Nya?
(T)uhan itu Kreator sejati
Yang Mahasempurna
(T)uhan itu ya (T)uhan, dengan huruf T
(T)uhan itu ya Allah, dengan huruf A
(T)uhan itu ya Alloh , dengan huruf A
(T)uhan itu ya Elohim, dengan Huruf E
(T)uhan itu ya Yehowa, dengan huruf Y
(T)uhan itu ya Yahweh, dengan huruf Y
(T)uhan itu ya adonai, dengan huruf A
Atau yang lain menyebutnya (T)uhan, dengan bahasanya
Atau menyebut (T)uhan dengan pengertiannya
Jika Dia adalah (T)uhan,
Biarkan Dia dengan keberadaan-Nya
Dan jika kita adalah manusia
Biarkan kita menjadi layaknya seorang manusia
(T)uhan itu, Ya (T)uhan
(T)uhan...
Itu tetap (T)uhan
by: Wong Edan Bagu
PCI. Minggu 09-02-2014
( Bagian 1 – Bagiku )
(T)uhan adalah Maharaja
Yang disembah oleh semua raja dunia
Bagiku (T)uhan adalah sutradara
Dan kita adalah aktor dan aktris-Nya
Ketika Arsitek merasa seperti (T)uhan
Dan merasa ciptaannya paling sempurna
Aku hanya tersenyum,
Karena (T)uhan adalah arsitek yang sebenarnya
Yang tak pernah gagal
Dalam membuat semua :
Rancangan
Gambar
Dan hasil ciptaan
Sesuai Rencana-Nya
Dan bagiku juga (T)uhan adalah
Makamah terAgung
Yang membawahi semua hakim, jaksa dan pengacara
Jika presiden adalah pemimpin tinggi suatu negara
(T)uhan memimpin semua presiden dunia
Untuk menyembahNya
Baik : Kristen, Katholik, Islam, Budha, Hindu, dan lainnya
Semuanya dengan berbagai cara menomorsatukan-Nya
Dan kenapa (T)uhan mencipta begitu banyak suku, ras, dan agama?
Karena CINTA yang dapat mempersatukannya
Dan jika seseorang merasa besar dan mulia
Bagaimana (T)uhan sendiri merasa siapa diriNya?
Jika seseorang taat kepada (T)uhan dan agamanya
Apakah (T)uhan tak melihat semua ketaqwaannya?
Bagiku (T)uhan itu unik
Sutradara terhebat
Hakim teragung
Arsitek terhandal
Maharaja serta Maha presiden tentunya
Jika seorang Raja begitu dimuliakan
Dan seorang Presiden begitu dihormat
Perlakuan apalagi yang harus kita perbuat?
Kepada-Nya?
(T)uhan itu Kreator sejati
Yang Mahasempurna
(T)uhan itu ya (T)uhan, dengan huruf T
(T)uhan itu ya Allah, dengan huruf A
(T)uhan itu ya Alloh , dengan huruf A
(T)uhan itu ya Elohim, dengan Huruf E
(T)uhan itu ya Yehowa, dengan huruf Y
(T)uhan itu ya Yahweh, dengan huruf Y
(T)uhan itu ya adonai, dengan huruf A
Atau yang lain menyebutnya (T)uhan, dengan bahasanya
Atau menyebut (T)uhan dengan pengertiannya
Jika Dia adalah (T)uhan,
Biarkan Dia dengan keberadaan-Nya
Dan jika kita adalah manusia
Biarkan kita menjadi layaknya seorang manusia
(T)uhan itu, Ya (T)uhan
(T)uhan...
Itu tetap (T)uhan
by: Wong Edan Bagu
PCI. Minggu 09-02-2014
(T)UHAN: ( Bagian 2 – dalam perbedaan )
(T)UHAN:
( Bagian 2 – dalam perbedaan )
Kenapa (T)uhan menciptakan manusia yang berbeda..
Jika Dia ingin disembah dengan satu cara…
Kenapa (T)uhan kemudian diam dalam perbedaan
Jika sebenarnya ingin persatuan
Manakah yang lebih (T)uhan pilih, umat disini, atau umat disana
Akankah (T)uhan tak adil…
Dengan membiarkan yang satu dan memperhatikan yang lain
Dengan menyayang yang satu dan tak acuh terhadap yang lain
Bukankah (T)uhan itu Maha Adil dan bijaksana?
Keanekaragaman membawa warna
Atau membawa bencana , juga petaka
Jika yang satu berkata (T)uhan Maha Besar,
Dan yang lain berkata Allahu Akbar,
Serta yang diseberang berkata God is Mighty
Siapakah yang akan didengar oleh-Nya?
Dan bila cinta dua anak manusia
Berkata dalam (T)uhan yang berbeda
Berdoa dalam (T)uhan yang tak sama
Haruskah terpisah, dan cinta tak usah lagi ada?
Jika (T)uhan disebut sempurna,
Kenapa Dia menciptakan ketidaksempurnaan dalam dunia
Jika (T)uhan itu ESA
Kenapa Dia menciptakan kejamakan dalam semesta
Dan ketika kreasinya berjumpa
Serta bercengkrama dalam warna warni dunia
Haruskah kembali terpisah
Hanya karena pengucapan (T)uhan yang berbeda
Jika hidup manusia di-skenario-kan oleh-Nya
Dan semua jalan telah ditentukan dari mulanya
Untuk apa gentar melaluinya
Jikalau memang semua itu akan indah pada waktunya
(T)uhan...
Itu tetap (T)uhan
by: Wong Edan BaGu
PCI. Minggu 09-02-2014
( Bagian 2 – dalam perbedaan )
Kenapa (T)uhan menciptakan manusia yang berbeda..
Jika Dia ingin disembah dengan satu cara…
Kenapa (T)uhan kemudian diam dalam perbedaan
Jika sebenarnya ingin persatuan
Manakah yang lebih (T)uhan pilih, umat disini, atau umat disana
Akankah (T)uhan tak adil…
Dengan membiarkan yang satu dan memperhatikan yang lain
Dengan menyayang yang satu dan tak acuh terhadap yang lain
Bukankah (T)uhan itu Maha Adil dan bijaksana?
Keanekaragaman membawa warna
Atau membawa bencana , juga petaka
Jika yang satu berkata (T)uhan Maha Besar,
Dan yang lain berkata Allahu Akbar,
Serta yang diseberang berkata God is Mighty
Siapakah yang akan didengar oleh-Nya?
Dan bila cinta dua anak manusia
Berkata dalam (T)uhan yang berbeda
Berdoa dalam (T)uhan yang tak sama
Haruskah terpisah, dan cinta tak usah lagi ada?
Jika (T)uhan disebut sempurna,
Kenapa Dia menciptakan ketidaksempurnaan dalam dunia
Jika (T)uhan itu ESA
Kenapa Dia menciptakan kejamakan dalam semesta
Dan ketika kreasinya berjumpa
Serta bercengkrama dalam warna warni dunia
Haruskah kembali terpisah
Hanya karena pengucapan (T)uhan yang berbeda
Jika hidup manusia di-skenario-kan oleh-Nya
Dan semua jalan telah ditentukan dari mulanya
Untuk apa gentar melaluinya
Jikalau memang semua itu akan indah pada waktunya
(T)uhan...
Itu tetap (T)uhan
by: Wong Edan BaGu
PCI. Minggu 09-02-2014
(T) UHAN: ( Bagian 3 - masih dalam perbedaan )
(T) UHAN:
( Bagian 3 - masih dalam perbedaan )
Tak cukupkah kulukiskan Engkau
Dalam imajinasi dan khayalanku
Sama sekali tidak pernah habis
Dalam pengertian dan pikiran
Juga dalam pembahasan yang tak berujung
Terbayangkah jika guruh bergemuruh memekik bumi
Atau ketika gelombang pasang ....
Tinggi menjulang menghantam karam,
Menyapu daratan
Serta angin berputar memilin memporakporandakan
Jika itu sudah dikatakan luarbiasa,
Bagaimana penciptanya?
(T)uhan , titik.
Ketika orang bangun dipagi buta,bersujud padaMu
Ketika orang mengangkat dupa,menyembahMu
Ketika orang berlutut, dan berdoa padaMu
Apakah semuanya tak masuk hitunganMu
Atau …
Kau pilih dan lalu Kau pilah
Sebaris demi selapis
Padahal dikatakan Kasih-Mu melebihi segalanya...?
Apakah kemudian semua kepatuhan
Dan juga semua ketaatan
Berlalu begitu saja...(tanya)
Jika (T)uhan adalah direktur,
Bukankah yang harus dinilai adalah pekerjaannya
Dan bukan semata mata statusnya belaka?
Jika (T)uhan adalah Guru,
Bukankah harus mencerdaskan muridNya
Dan ingin semua berarti serta berguna oleh pekerjaan tangan-Nya?
Jika (T)uhan adalah kepala
Bukankah tak ingin tercerai berai bagian tubuh-Nya?
Seandainya aku boleh memilih
Aku memilih untuk tidak dilahirkan
Dan sama sekali tidak pernah melihat dunia serta semua keindahannya
Jika hanya untuk melihat begitu banyak perbedaan
Dalam suatu kesatuan
Jika dikatakan Engkau adalah jalan dan kebenaran dan hidup
Bukankah mereka yang menyebutmu dalam (T)uhan yang berbeda
Dalam hidup yang yang beraneka
Seharusnya tak akan pernah sia sia
Jika (T)uhan tak membeda bedakan manusia
Kenapa banyak perbedaan dalam jagat raya
Dan ketika (T)uhan diimajinasikan sebagai taman bunga
Bukankah dengan
keaneka ragaman, bermacam harum serta mewangi
bisa menjadi semakin asri?
Lepas bebas dalam sebuah dunia yang katanya
Tumpah ruah
Tumpang tindih
Berbagi kelas dan berbeda kasta
(T)uhan dalam perbedaan
Atau (T)uhan dalam kesatuan
Jika kepercayaan yang tertua kemudian disebut sia sia
bukankah Tuhan pertama kali diperkenalkannya?
Menurutku (T)uhan punya ribuan nama
Dalam setiap ucapan dari bermilyar manusia
Bukankah tetap harus disembah dan mutlak pada akhirnya?
Sekali lagi
Ketiga kalinya
Kukatakan
(T)uhan itu tetap (T)uhan
by: Wong Edan BaGu
PCI. Minggu 09-02-2014
( Bagian 3 - masih dalam perbedaan )
Tak cukupkah kulukiskan Engkau
Dalam imajinasi dan khayalanku
Sama sekali tidak pernah habis
Dalam pengertian dan pikiran
Juga dalam pembahasan yang tak berujung
Terbayangkah jika guruh bergemuruh memekik bumi
Atau ketika gelombang pasang ....
Tinggi menjulang menghantam karam,
Menyapu daratan
Serta angin berputar memilin memporakporandakan
Jika itu sudah dikatakan luarbiasa,
Bagaimana penciptanya?
(T)uhan , titik.
Ketika orang bangun dipagi buta,bersujud padaMu
Ketika orang mengangkat dupa,menyembahMu
Ketika orang berlutut, dan berdoa padaMu
Apakah semuanya tak masuk hitunganMu
Atau …
Kau pilih dan lalu Kau pilah
Sebaris demi selapis
Padahal dikatakan Kasih-Mu melebihi segalanya...?
Apakah kemudian semua kepatuhan
Dan juga semua ketaatan
Berlalu begitu saja...(tanya)
Jika (T)uhan adalah direktur,
Bukankah yang harus dinilai adalah pekerjaannya
Dan bukan semata mata statusnya belaka?
Jika (T)uhan adalah Guru,
Bukankah harus mencerdaskan muridNya
Dan ingin semua berarti serta berguna oleh pekerjaan tangan-Nya?
Jika (T)uhan adalah kepala
Bukankah tak ingin tercerai berai bagian tubuh-Nya?
Seandainya aku boleh memilih
Aku memilih untuk tidak dilahirkan
Dan sama sekali tidak pernah melihat dunia serta semua keindahannya
Jika hanya untuk melihat begitu banyak perbedaan
Dalam suatu kesatuan
Jika dikatakan Engkau adalah jalan dan kebenaran dan hidup
Bukankah mereka yang menyebutmu dalam (T)uhan yang berbeda
Dalam hidup yang yang beraneka
Seharusnya tak akan pernah sia sia
Jika (T)uhan tak membeda bedakan manusia
Kenapa banyak perbedaan dalam jagat raya
Dan ketika (T)uhan diimajinasikan sebagai taman bunga
Bukankah dengan
keaneka ragaman, bermacam harum serta mewangi
bisa menjadi semakin asri?
Lepas bebas dalam sebuah dunia yang katanya
Tumpah ruah
Tumpang tindih
Berbagi kelas dan berbeda kasta
(T)uhan dalam perbedaan
Atau (T)uhan dalam kesatuan
Jika kepercayaan yang tertua kemudian disebut sia sia
bukankah Tuhan pertama kali diperkenalkannya?
Menurutku (T)uhan punya ribuan nama
Dalam setiap ucapan dari bermilyar manusia
Bukankah tetap harus disembah dan mutlak pada akhirnya?
Sekali lagi
Ketiga kalinya
Kukatakan
(T)uhan itu tetap (T)uhan
by: Wong Edan BaGu
PCI. Minggu 09-02-2014
Langganan:
Postingan (Atom)