WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Selasa, 12 Agustus 2014

RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM BERSERAH DIRI:

Sebuah Renungan tentang ke-PASRAH-an
Oleh: Wong Edan Bagu
(PRTP)
Kudus Jumat Wage;08-08-2014

Ya…Allah Ya…Robbii, sungguh PengetahuanMU mendahului pengetahuan saya bahkan pengetahuanMU meliputi tiap-tiap  sesuatu. Lalu bagaimana mungkin saya bisa lepas dari pandangan Engkau ya Rabb...  Setiap detik dalam Gerak dan Diam, semuanya berada dalam Genggaman Engkau, bahkan darah yang mengalir pada diri saya inipun atas Qudrat Iradat Engkau. Begitu pula jantung berdetak, nafas naik dan turun, setiap sel-sel di diri ini ada yang mati, Engkau hidupkan lagi atas Kehendak Engkau, dan ada pula sel-sel yang mati Engkau biarkan dalam keadaan mati, itupun atas Kehendak Engkau. Lalu pantaskah bagi saya mencari Tuhan selain Engkau..??? Pantaskah bagi saya untuk mencari Pelindung selain Engkau…??? sedangkan Qudrat Iradat Engkau berlaku atas diri saya, Pandangan dan perhatian Engkau atas diri saya itu, semua didasari Cinta KasihMU kepada saya.

Yaa…. Muqollibal Quluub (wahai yang membolak balikkan Hati), Balikkan lah Hati saya hanya semata-mata tertuju hanya Kepada Engkau semata. Balikkan Hati saya agar mengerti akan karunia Nikmat Cinta kasihMU kepada saya, hanya kepadaMU lah saya bergantung dan memohon karena Engkaulah sebaik-baik yang mengurus diri saya dan sebaik-baik yang mengetahui yang terbaik akan diri saya.
Yaa… Malikul Mulk, Raja yang merajai seru Sekalian Alam Amat Maha Pengasih dan Penyayang, Engkau lah RAJA yang MAHA AGUNG dan MAHA BESAR, RAJA yang menguasai akan diri saya yang hina ini… maka Kuasailah diri saya ini dengan Ridho-Mu Yaa….Maknuun, dengan KelembutanMU ya…. Mahzuun.
Keluarkan saya dari Kegelapan Hati, dari Kekosongan Iman dan Tauhid, dari butanya Kesadaran tentang Ma’rifatMu ya…Allah. Leburkan EGO saya dengan KelembutanMU ya…Rohmaan, agar saya  melangkah dalam hidup ini, berdasarkan KehendakMU semata. Sungguh KehendakMU adalah yang terbaik dan sangat terbaik dan paling terbaik. Maka tidak ada kehendak lain yang terbaik selain KehendakMU wahai…yang menanamkan CINTA di hati-hati  para PencintaMU.

(GUSTI INGKANG MAHA SUCI. KULA NYUWUN PANGAPURA DUMATENG GUSTI INGKANG MAHA SUCI. SIROLAH DATOLAH SIPATOLAH. KULA SEJATINE SATRIYA. NYUWUN WICAKSANA NYUWUN PANGUASA. KANGGE TUMINDAKE SATRIYA SEJATI. KULA NYUWUN KANGGE HANYIRNA’AKE TUMINDAK INGKANG LUPUT) He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
Kudus Jumat Wage;08-08-2014
http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

Ber TUHAN kan Bayangan...?

He he he . . . Uedan Tenan... Gak lucu Rek:
Oleh: Wong Edan Bagu
(PRTP)
Kudus Kamis Pon; 07-08-2014

Setiap Muslim meyakini bahwa Allah sebagai Tuhannya yang tidak ada Tuhan selain Allah, akan tetapi banyak pula yang mengakui Tuhannya adalah Allah sedangkan pada kenyataannya tidak mengenal akan Allah. Sehingga di dalam amal ibadahnya menuju kepada Allah tetapi sebenarnya tidak menuju kepada Allah. Seperti contoh ……, jika kita mau menyadarinya! Perihal…, Sholat saja’ itupun masih banyak yang bingung dan tidak sedikit yang masih di dalam sangka-sangka tentang Allah. Menuju kepada Allah tetapi hatinya ngambang di dalam menghadap kepada Allah, walaupun dalam ucapannya telah dikatakannya : Ya Allah…. Sesungguhnya, Aku hadapkan wajahku ke hadapan wajah Engkau! Tetapi mana buktinya…., Dusta semua perkataan itu jika belum mengenal Akan Allah. Jika demikian, berarti banyak yang mendustai Allah dalam Amal Ibadah….???  Ya….. Renungkanlah…!!!!.

Ada yang hanya menyangka-nyangka bahwa Allah itu sangat dekat sekali tetapi ia sendiri belum lah mengetahuinya….., apakah ini….. bukan yang di katakana ber TUHAN kan Bayangan???

Ada pula yang mendapatkan suatu penggambaran tentang Allah itu bersemayam di atas Arsy’, tetapi ia sendiri belumlah mengetahuinya, apakah Arsy’ itu dan dimana Arsy’ itu, bukankah Allah tidak bertempat??….., apakah ini …. Bukan yang di katakan ber TUHAN kan bayangan???

Yang lebih Dahsyat lagi mengatakan bahwa Allah berada di dalam diri orang-orang tertentu..!!! inipun jika mereka menyadarinya maka sesungguhnya ia pun telah ber TUHAN kan bayangan.

Bukankah Allah telah menegaskan dengan Firmannya yang sangat Nyata sekali, Bahwa :
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS, Al-Baqarah:115).

“Semuanya itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana lagikah yang kamu dustakan?”. (QS, Ar-Rahman:26-28)

Salahkah mereka yang beribadah untuk menuju kepada Tuhannya tetapi tidak mengetahui dan tidak mengenal kepada Allah? Tidak!!!, mereka tidak salah!!!. Akan tetapi sangat-sangat bodohlah mereka, kenapa mereka tidak menuntut Ilmu untuk bisa mengetahui dan mengenal akan Allah. Karena kebodohannya itulah….. mereka selalu menurutkan Hawa Nafusnya dan selalu membenarkan Prasangkanya yang ia sendiri belum mengetahui kebenaran sesungguhnya di balik apa-apa yang ia prasangkakan itu. Dan karena itulah yang menyebabkan Dosa bagi dirinya.

Sehingga pada kebenaranya, Allah sekali-kali tidak ingin menyiksa Hambanya karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, akan tetapi karena diri mereka sendirilah yang tidak mengerti dan tidak mengetahui karena tidak mencari tahu maka mereka menjadi Tersiksa. Tersiksa oleh tekanan-tekanan Batin, tersiksa oleh prasangka-prasangka, tersiksa oleh bayangan lamunan, tersiksa oleh perasaan di dirinya. Yang itu semua menunjukkan bahwa mereka itu telah jauh dari pada Tuhannya karena mengenal Allah hanya sebatas bayangan yang menurutnya itu sudah benar adanya.

Jika ingin mengetahui bahwa dirinya telah dekat dengan Allah yang sebenarnya, maka diantara tanda-tandanya adalah :

1. Ia tidak bangga apabila menerima pujian-pujian.
2. Ia tidak takut dan berkecil hati jika di caci dan di cela.
3. Hatinya selalu dalam ketenangan beserta Allah walau apapun duka cita dan persoalan datang pada dirinya.
4. Akhlaknya akan berubah menjadi akhlak yang terpuji.
5. Hatinya akan diliputi oleh Cinta Kasih Allah dan teraplikasi Cinta kasih itu kepada siapa saja.
6. Tidak berprasangka buruk atas tiap-tiap sesuatu, karena ia Melihat Allah di balik sesuatu itu.
7. Jika berprasangka buruk, maka sama halnya ia berprasangka buruk kepada Allah.
8. Senantiasa berprasangka baik terhadap sesuatu, karena dibalik itu Allah menyampaikan Ilmu yang tersirat bagi yang memikirkannya.

Semoga Allah memudahkan bagi kita semuanya untuk lebih mengenal akan diri-Nya, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Esa dengan sendirinya dan Laisa Kamitslihi Syai’un (Tidak bisa dipermisalkan dan disamakan dengan sesuatu apapun). Aamiin….. Ya… Robbal ‘Aalimiin...He he he  . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://wongedanbagu.blogspot.com


TATKALA SEGALA RAHASIA TERUNGKAP:

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Kudus Kamis Pon; 07-08-2014

Perhatian dan Peringatan :
Tulisan ini diperuntukkan hanya bagi mereka-mereka yang telah tenggelam di lautan Samudra Ilmu Ma’rifat, baik melalui jalan Tariqat maupun melalui jalan Hakikat untuk memberikan pencerahan yang mengantarkan kepada sebenar-benarnya Allah Swt.
Sesungguhnya Ma’rifat itu dari segi Rububiyah bukanlah akhir dari perjalanan melainkan masih awal perjalanan.
Nb : Dipersilahkan untuk memberikan Komentar, Saran, kritik maupun pertanyaan, agar berguna bagi kita semuanya.
WEB===============--?

“Semuanya akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. (QS,Ar Rahmaan : 26-28)

Ketika hati mulai bercahaya; ketika jiwa mulai merasakan; ketika akal silau dengan pancaran Nur Nya ; saat itu lidah terasa kelu untuk bersuara, Rasa dan perasaan lenyap entah kemana, raga hampir-hampir tak berdaya bahkan jiwa gaib di dalam kegaiban Tuhannya.  Samudra Ahadiyah Allah Ta’ala telah menghanyutkan dirinya menghempaskan batinnya pada karang-karang kerinduan dan membawanya kepada sebuah pulau keikhlasan tertinggi. Mereka-mereka yang telah sampai pada keikhlasan tertinggi itu telah melepaskan segala sesuatunya, apa saja baik dirinya zahir batin maupun yang diluar dirinya. Pandangan Syuhudnya hanya lah Allah Swt, di dalam pandangan yang tiada jarak dan tiada antara.

Telah dilewatinya Pos-pos jiwa mulai dari Pos Ruhani sanpai kepada Pos Ruh Idhofi. Disini baginya sesuatu yang berpasangan telah lenyap dari pengetahuan di dirinya. Tiada lagi kata serba dua apalagi banyak pada pandangan batinnya. Mursyid yang menyampaikan dirinya kepada Tuhannya pun sudah tidak terpandang lagi. Baginya mursyid dan murid itu satu! Yang dikatakan Mursyid, itulah Murid ; dan yang dikatakan Murid, itulah Mursyid. Batinnya satu dengan Mursyidnya, sehingga dia juga yang disebut Mursyid dan dia jugalah yang disebut Murid. Jika Mursyid dan Murid sudah satu dalam pandangan Batinnya, dimanakah Mursyid? Dan dimanakah Murid?

Tentu..!!! Jika sudah Satu meliputi maka tidak ada lagi Mursyid dan tidak ada lagi Murid, yang ada hanyalah Penguasa yang menguasai Mursyid dan Murid, Dialah Allahu Robbul ‘Alamin.
Itulah maqom keikhlasan tertinggi dimana pada maqom itu ia tidak terikat oleh sesuatu lagi, tidak membangga-banggakan akan sesuatu lagi dan tidak menonjolkan akan sesuatu lagi.
Kemerdekaan dan kemandirian bersama Tuhannya telah mengisi kekosongan jiwanya, sehingga kemana saja ia pergi, dimana saja ia berada tidak ada yang ada hanya Allah Swt meliputi disetiap gerak dan diamnya. Pada Maqom Keikhlasan tertinggi itu Allah telah mendudukan ia pada posisi “DARKATUL QUDRAT”, karena ia telah berhasil melewati tahapan ke “AKU” an didirinya.

DARKATUL QUDRAT adalah ibarat Halaman Istana Kerajaan Allah Ta’ala.
Jika ke “AKU “an dirinya saja sudah lenyap/Fana dari pandangan, bukankah segala yang di luar dari dirinya juga akan lenyap/Fana? Apabila mereka yang mengaku telah benar-benar sampai kepada Tuhannya, tentu sudah seharusnya ia tidak bersandar lagi kepada sesuatu. Jika masih bersandar akan sesuatu sedangkan ia menyatakan telah sampai kepada Maqom Robbani, maka sesungguhnya ia belumlah sampai dengan sebenar-benarnya sampai. Pada saat itu ia masih sampai sebatas Ilmu dan rasa tetapi belum lagi sampai kepada yang punya Ilmu dan rasa.

Sayyidina Ali bin Abi Tholib r.a Karamallahu Wajhah berkata :
“Tidak Syah Sholat seseorang melainkan dengan Mengenal akan Allah”

Di dalam perjalanan Ma’rifatullah/Mengenal akan Allah maka di mulai dengan Mengenal akan Diri sendiri (Diri yang sebenar-benarnya Diri). Sebab diri yang dikatakan sebenar-benarnya diri itu, yang memiliki hubungan langsung dengan Tuhannya. Tentu bagi mereka yang sudah paham tentang Ma’rifat telah mengetahui yang mana sih…., diri yang harus di kenal itu. Akan tetapi dari mereka-mereka yang telah kenal akan diri, banyak yang tidak menyadari bahwasannya apa yang telah dilaluinya/diketahuinya itu masih sebatas Kulit dalam pandangan Arifbillah.

Kenapa demikian..? karena diri yang banyak diketahui oleh sebagian penuntut Ma’rifatullah itu masih terbatas kepada diri yang ada pada dirinya sendiri. Dan ada juga yang terbatas pada pandangannya sendiri kepada orang yang diistimewakan dan diagungkannya. Sedangkan Ma’rifat yang sebenarnya dan sesempurna-sesempurnanya adalah Ma’rifat yang Universal, tidak ada batasanya dan tidak terbatasi oleh diri sendiri saja maupun orang tertentu saja.

Setiap orang yang berada di dalam lingkaran Ma’rifat merujuk kepada Sumber Pengetahuan Allah/Sumber Hakikatullah yang di sebut dengan “Nur Muhammad”, sebagaimana dalil yang telah dipahami oleh mereka-mereka yang ber paham Ma’rifat bahwa “Nur Muhammad” itu awal-awal dari segala sesuatu. Dengan Nur itu maka terciptalah Seluruh sekalian Alam beserta isinya.

Rosulullah Saw bersabda :
“Bahwasannya Allah Swt telah menjadikan akan Ruh-ku daripada Zat-Nya sedangkan sekalian Alam beserta isinya terbit dari pada Nur-ku (Nur Muhammad)”.

“Sesungguhnya Aku adalah Bapak sekalian Ruh sedangkan Adam adalah Bapak dari sekalian batang tubuh (Jasad)”.

Dari dalil tersebut telah menguraikan bahwa Hakikat Nur Muhammad itu tidak hanya ada pada satu diri saja melainkan ada pada setiap yang maujud. Sehingga tak terbatas bagi Nur Muhamad itu, melainkan meliputi sekalian Alam termasuk pada diri sendiri. Jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada pada dirinya sendiri maka belum lah dikatakan mengenal akan Allah yang meliputi sekalian Alam. Begitu juga jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada hanya pada orang-orang tertentu yang diistimewakannnya dan diagungkannya dari diri Ustadz-ustadznya, Guru-gurunya, Syaikhnya ataupun Mursyidnya maka sesungguhnya ia masih terhijab oleh sesuatu yang dipandangnya.

Rumus dari pada Ma’rifatulah yang sebenarnya dan Universal itu adalah :
“Syuhudul Wahdah Fil Katsroh, Syuhudul Katsroh Fil Wahdah”.
(Memandang yang Satu (Nur) ada pada yang banyak, memandang yang banyak ada pada yang Satu).

Saya katakan bahwa seseorang yang mengenal Allah sebatas pandanganya kepada dirinya sendiri atau orang tertentu yang diistimewakan dan diagungkannya maka mereka itu mengenal akan Allah masih sebatas Kulit saja dari pemahaman Marifatullah yang sesungguhnya. Jika demikian!, bagaimana mungkin ia akan sampai kepada keikhlasan tertinggi dan bagaimana mungkin ia mengatakan telah bertemu dengan Allah sedangan di halaman Istana Allah saja (DARKATUL QUDRAT) ia belum memasukinya, karena masih terdinding/terhijab pandangannya dari sesuatu selain Allah Swt (HAQQUL HAQIQI).

Jika anda benar-benar ingin menjumpai Allah dan bertemu dengan Allah (LIQO’) maka lepaskanlah pandangan hatimu dari sesuatu apapun. Jangan berhenti pada pandangan JAMALULLAH/ KEINDAHAN ALLAH maka niscaya engkau akan mabuk dan takjub di dalamnya. Pandanganmu akan Hakikat Nur yang ada hanya pada dirimu saja atau yang ada hanya pada orang yang engkau kagumi dan istemawakan saja membuktikan bahwa tanpa engkau sadari engkau telah tenggelam dan mabuk di dalam sifat JAMALULLAH/KEINDAHAN ALLAH.

Ketahuilah! Bahwa untuk sampai kepada Allah Swt dengan melalui EMPAT tahapan, yaitu :
1.       JALALULLAH (Kebesaran dan Keagungan Allah)
2.       JAMALULLAH (Keindahan Allah)
3.       QOHARULLAH (Kekerasan/Kepastian Allah)
4.       KAMALULLAH (Kesempurna’an Allah)
(PANCA GA’IB)
1.       KUNCI (KUASANYA HIDUP)
2.       PAWELING (NYATANYA HIDUP)
3.       ASMA’ (BUKTINYA HIDUP)
4.       MIJIL (RASANYA HIDUP)

Untuk bisa menaiki tahapan-tahapan tersebut agar sampai kepada KAMALULLAH (KESEMPURNAAN ALLAH), maka wajib baginya Satu Pandangan yaitu Allah Swt tanpa melalui perantara selain Nur Muhammad (HIDUP). Sedangkan Nur Muhammad (HIDUP) itu meliputi setiap yang Maujud termasuk pada diri sendiri. Sehingga yang dikatakan sebenar-benarnya Guru/Mursyid Murobbi adalah Nur Muhammad Rosulullah Saw (HIDUP) sebagai pemegang Kunci Pintu Surga/MIFTAHUL JANNAH.
Siapapun mereka itu, jika Satu yang di pandang yaitu Allah Swt, melalui Hakikat Nur Muhammad (HIDUPyang meliputi sekalian Alam maka tidak ada sebutan yang pantas baginya selain “ARIFBILLAH”.

Jika masih ada pandangan yang terbatas atau dibatasi tentang Hakikat Nur Muhammad (HIDUP) itu pada beberapa diri saja maka belumlah pantas baginya menyandang sebutan “ARIFBILLAH” melainkan mereka itu masih di sebut dengan orang yang berada pada “TARIKAT/Perjalanan” “Proses”menuju kepada Allah.

Mursyid Murobbi tidak hanya ada pada satu diri
Melainkan Meliputi setiap “Kaun Maujudi”
Siapa yang sanggup mematikan Diri
Itulah Langkah Awal menuju Diri Sejati
Jangan tertipu dengan apa yang dipandang
Karena semuanya hanyalah bayang-bayang
Tidak terpisah Al-Haq dengan selayang pandang
Tujulah kepada satu yang ada di dalam pandang
Belumlah dikatakan sebenar-benarnya mengenal.

Sebelum engkau mengerti JALAL, JAMAL, QOHAR DAN KAMAL
Empat sifat yang maujud dan Nyata pada Nur-Nya
Alif itu menunjukkan akan Zat-Nya
Lam Awal adalah ketetapan Sifat-Nya
Lam Akhir kenyataan Asma’Nya
Sedangkan Ha adalah bukti dari Af’al-Nya
Kesempurnaan Allah dalam keserba meliputannya.

Pada Muhammad Rosulullah segala rahasianya
Sebagai inti dasar dari sekalian alam
Menjadi saksi kemaujudannya
Alif adalah jati diri Muhammad
Kaf itu adalah Ilmu Muhammad
Ba’ adalah Kelakuan Muhammad
Ro’ itu kehendak pada diri Muhammad.

Dari situlah Maha Agung Allah Ta’ala
Dalam keserba meliputan sekalian Alam
Allah dan Muhammad satu Rahasia
Menjadi Kalimah ALLAH dan AKBAR
Karena itulah Rosulullah bersabda
“Agungkanlah dan besarkanlah Kalimah Allah : Allahu Akbar…. Allahu Akbar…… Allahu Akbar Walillahil hamd”... ”... He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

INTI HAKIKAT: ASAL KEJADIAN DIRI pada FITRAH SUCI;

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Kudus Kamis Pon; 07-08-2014


Allahu Akbar….Allahu Akbar….Allahu Akbar wa Lillaahil Hamd’
Setiap Insan siapapun dirinya apapun Statusnya dan apapun Agamanya, Alirannya, Golongannya, Madzhabnya telah terpahami dan Terhayati akan “KESADARAN ZATULLAH” dalam Pandangan-NYA sejak dirinya masih berada di Alam AZALI, dan di NYATA-kan HAL itu pada saat IKRAR “Alastu bi Robbikum….???, Qoluu Ba Laa…Syahidna..!!” (Apakah engkau membenarkan bahwa “AKU” lah Penguasa serta yg Mengatur setiap Urusan yg berlaku dalam “HAYAT/URIP/HIDUP…???, Ya…..BENAR…!!! Kami sebagai Saksi yg menyaksikan..!!!”.

Namun……. Setelah dirinya tertarik dengan Gravitasi Alam Dunia Fana’ ini, Energy Gaya Gravitasi Alam Dunia Fana’ ini menggetarkan kesadaran dirinya akan “KESADARAN ZATULLAH” itu sehingga membuat dirinya tak sadar lagi akan INTI HAKIKAT ASAL KEJADIAN DIRI. Lalu……. Tetapi….. Walaupun kediriannya/Egonya/Hawa Nafsunya telah menjadi Hijab/dinding yg menutupi Cahaya Haq’ itu namun…….. Ada yg tidak bisa di tutupi oleh kedirian/ego/hawa nafsu itu yaitu “FITRAH/SUCI”nya… Sebagai penghubung antara dirinya dengan Tuhannya. dan “FITRAH/SUCI” itu adalah “KEKUATAN yg SANGAT LEMBUT LAGI HALUS” yg meliputi si “HAYAT/URIP/HIDUP”, saya menyebutnya dengan Istilah….”SIR-RASA”.

Tanpa tersadari oleh Manusianya itu sendiri sesungguhnya “FITRAH/SUCI” nya selalu “memangil-manggil″ dirinya untuk kembali kepada ASAL dirinya masuk melalui pintu “KESADARAN ZATULLAH”, namun……. 9 Hawa yg masuk pada dirinya melalui 9 GOA yg terbuka lebar telah membuat dirinya tak menghiraukan “Kata-kata  FITRAH/SUCI pada HAYAT/URIP/HIDUP”nya. 9  Hawa itu adalah :

1. Takabbur
2. Sombong
3. Tamak
4. Serakah
5. Iri
6. Dengki
7. Hasut
8. Benci
9. Dendam

Karenanya ada istilah : “BABAHAN HAWA SONGO” yg bertujuan menutup 9 GOA pada dirinya agar ke 9 Hawa itu lenyap dan tergantikan secara otomatis(TAJALLI) dengan 9 KESADARAN SEJATI yaitu :

1. Laa Qodirun Illallah (Tiada yg MAHA Kuasa selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
2. Laa Muridun Illallah (Tiada yg MAHA Berkehendak selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
3. Laa ‘Alimun Illallah (Tiada yg MAHA Mengetahui selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
4. Laa Hayyun Illallah (Tiada yg MAHA Hidup selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
5. Laa Sami’un Illallah (Tiada yg MAHA Mendengar selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
6. Laa Bashirun Illallah (Tiada yg MAHA Melihat selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
7. Laa Mutakallimun Illallah (Tiada yg MAHA Berkata2 selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
8. Laa Fa’ilun Illallah (Tiada yg MAHA Berlaku dalam Gerak dan DIAM selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
9. Laa Maujudun Illallah (Tiada yg MAHA ADA di Awal tiada berpermulaan sekaligus di Akhir tiada berkesudahan dan tiada yg MAHA ADA pada Zahir dan Bathin selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

Maka…. Demi Waktu/Masa dalam 24 jam sehari semalam dari buka mata sampai tutup mata kembali, sungguh Manusia itu dalam kerugian yg Nyata karena….. Seiring dengan waktu Dunia “KESADARAN ZATULLAH” itu semakin terhijab/terdinding oleh kediriannya/Egonya/Hawa Nafsunya melalui 9 GOA pada dirinya yg terbuka lebar. Kecuali………

Mereka-mereka  yg masuk dalam ke- AMAN-an (IMAN) dikarenakan… Ia telah menutup 9 GOA pada dirinya agar ke 9 Hawa lenyap dan tergantikan secara otomatis(TAJALLI) dengan 9 KESADARAN SEJATI, dan kemudian setelah itu “FITRAH/SUCI”nya dalam “KESADARAN ZATULLAH” membawa dirinya untuk berbuat kebaikan yg menjadi Rahmat serta saling berbagi/mengisi dalam kebenaran untuk memberikan pandangan tetang “KESADARAN ZATULLAH” meliputi dan juga saling berbagi/mengisi dalam kesabaran kepada siapa saja tanpa pandang bulu, karena ia telah memandang dalam Penyaksiannya akan “GURUmu adalah GURUku dan GURUku adalah GURUmu”   ( kita sama-sama Belajar kepada GURU yg SATU yg tidak makan juga tidak minum, Tidak Tidur tidak pula mengantuk).

WEB:
Dunia ini dan segala isinya bersifat fana, artinya akan musnah atau hancur pada saatnya nanti. Sehebat apapun manusia untuk mempertahankan dirinya dengan menjaga kesehatan agar ia bisa hidup lama di dunia ini, pasti maut juga akan datang menjemputnya. Begitu pula halnya sebesar apapun dirinya untuk menjaga tubuhnya agar tetap awet muda, baik dengan kosmetik, operasi plastik dll, tentu dia tidak bisa menghindar dari bertambahnya umur. Semakin lama ia hidup di dunia atau semakin bertambah umurnya di dunia pada hakikatnya semakin dekat ia kepada kematian. Akan tetapi banyak yang tidak sadar, dengan seiringnya waktu dan umurnya pun semakin bertambah malah membuat ia lupa bahwa kematian sedang menghampirinya tanpa ia ketahui. Karena itu tanda orang yang lalai dari kematian adalah semakin bertambah umurnya semakin ia tidak merenungi akan dirinya bahwa suatu saat entah besok atau lusa, minggu depan atau bulan depan ia akan mati. Seiring dengan itu di hari kelahirannya atau yang biasa di sebut dengan ulang tahun dengan bangganya ia bawa dirinya poya–poya, hura–hura, bersuka ria dengan gembiranya. Ada yang melaksanakannya dirumah, di hotel–hotel, di gedung, restoran, kafe, bahkan ada yang merayakannya ke tempat–tempat hiburan malam seperti diskotik, karaoke & pub dsb.

Akan tetapi lain halnya mereka yang mengerti akan hakikat Hidup dan kehidupan, bahwa tidak lah ia hidup di dunia ini melainkan hanya sementara semakin bertambah umurnya semakin dekat ia akan kematian maka mereka tidak akan membanggakan dirinya dengan perayaan–perayaan yang melampaui batas. Justru ia bawa dirinya kepada hal–hal yang mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Kalau pun juga ia mengadakan suatu perayaan hanyalah sebatas rasa syukur ia kepada Tuhannya dengan dianugrahkan Nya rahmat dan nikmat atas dirinya.

Hidup di dunia tidak lain seperti seorang pengembara yang pergi ke suatu tujuan lalu berhenti sebentar di bawah pohon untuk beristirahat. Atau mampi ngomne/minum.Tentu ia tidak selamanya berhenti, pasti ia akan meneruskan perjalanannya untuk mencapai tujuan yang di inginkannya.
Begitulah halnya hidup di dunia, hanya sebatas tempat peristirahatan ruh untuk memulihkan daya ingatnya kepada Tuhannya. Dan ia jaga dirinya di dalam peristirahatan itu agar ia tidak tertidur atau terlena, karena kalau sampai ia tertidur maka ia akan hanyut di dalam bayangan–bayangan (mimpi) yang semakin membuatnya terlupa kepada tujuan nya yang sebenarnya. Bayangan–bayangan (mimpi) itu adalah segala keadaan yang ada di dalam kehidupan dunia ini, yang dinyatakan Allah dalam firman Nya sebagai permainan dan senda gurau.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, Al – Hadiid : 20)

Di ayat yang lain Allah pun menegaskan :
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS, Al – ‘Ankabuut : 64)

Karena itu sudah sepantasnyalah kita bangun kan diri kita dari kelalaian yang mungkin selama ini kita terlena di dalam kehidupan dunia sehingga membuat kita lupa kepada tujuan hidup yang sebenarnya yaitu Allah SWT. Orang yang hatinya hidup atau terbuka adalah mereka yang apabila di ingatkan tentang kebenaran, mereka mau mendengarkan dan mau merenungkannya serta bangun dari kelalaiannya selama ini... Jadi,,,

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada. Muga Manfa’at ya...
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

IMAN, ISLAM, IHSAN...?

Daftar Isi:
1. Pengertian Iman
2. Pengertian Islam
3. Pengertian Ihsan
Oleh: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
Kudus. Minggu tgl 03/08/2014

Banyak orang yang fasekh dan  hapal tentang kata IMAN, mangaku ISLAM dan merasa dirinya IHSAN, bahkan saking hapalnya, sehingganya dengan amat sangat gampang dan mudahnya dikatakan. Aku Beriman kepada Allah Swt. Aku Beriman kepada malaikatullah. Aku Beriman kepada kitab-kitabullah. Aku Beriman kepada para Rasulullah. Aku Beriman kepada hari akhiratullah. Aku Beriman kepada (taqdir) ketentuan Allah. Aku orang ISLAM. Aku seorang IHSAN.

Namun apa itu IMAN, ISLAM, IHSAN ..?! belum tentu semua orang tau dan mengerti, apa itu IMAN, ISLAM, IHSAN. Jika seseorang tau dan paham serta mengerti apa dan bagaimana itu IMAN, ISLAM, IHSAN. Sudah pasti seseorang itu tidak akan asal dan tidak akan usul, karena di dalam IMAN, ISLAM, IHSAN , semuanya dan segalanya ada TUHAN dan karena TUHAN.

Kajian tentang Iman, Islam dan Ihsan merupakan pokok (rukun) agama. Ketiga hal ini merupakan hal yang prinsip dalam ajaran agama Islam, Ketiga aspek tersebut harus ada dalam setiap pribadi ummat, karena ketiga-tiganya saling berkaitan, untuk mencapai muslim yang sejati. Di dalam Al-quran sendiri, Kata amana dengan berbagai bentuk kata turunannya dijelaskan Allah dalam 861 ayat. Sedangkan kata aslama dengan berbagai bentuk kata turunannya dijelaskan Allah dalam 138 ayat. Sedangkan kata hasana dengan berbagai bentuk kata turunannya dijelaskan Allah dalam 189 ayat.[1] Oleh karena begitu banyak ayat-ayat yang membicarakan tentang ketiga aspek tersebut, menunjukkan hal tersebut begitu urgen  dan harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan.

“Diriwayatkan dari umar bin khatab, “Suatu hari, disaat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yang mengenakan pakaian serba putih, rambutnya hitam pekat, tidak berjejak, dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya, samppai dia duduk di depan Nabi Saw. dan menyandarkan kedua lututnya pada lutut Nabi Saw, seraya meletakkan kedua telapak tangannya diatas paha beliau. Kemudian ia berkata, Wahai Muhammad, ajarilah aku tentang islam.

Nabi bersabda, islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul-Nya, engkau mendirikan solat, mengeluarkan zakat, berpuasa ramadhan, dan menunaikan ziarah haji ke baitullah jika engkau mampu menempuh perjalanannya. Namun semua itu harus engkau lalukan dengan iman, jika tidak, engkau tidak tersebut beribadah.

“Segera saja laki-laki itu berkata, “Engkau benar wahai Muhammad.” . . . . . . . . . . . . . Dia kembali berkata, Wahai Muhammad kabarilah aku tentang iman.

Muhammad bersabda, iman adalah hendaknya engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitb-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman pula kepada ketentuan (qadar) baik ataupun buruk  adalah berasal  atas kehendaknya, namun engkau akan mengalami proses sulit di sini, karena adanya iman bersama bukti, sementara manusia tidak mungkin bisa percaya hanya dengan katanya saja, maka, engkau harus berihsan.

 ”Engkau benar Muhammad , Kemudian ia berkata lagi “jelaskan padaku tentang ihsan.

Rasulullah bersabda” Hendaknya engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya tanpa harus membayangkan dan berandai-andai, bila engkau masih sulit, tidak melihat-Nya, maka Alla-lah yang akan melihat engkau. Asalkan engkau sudah melakukannya. Allah akan menumbuhkan iman itu dari dirimu.

Nah . . . dalam kesempatan kali ini, saya. Wong Edan Bagu, akan mengungkap tentang iman bersama sekalian, saudara-saudariku Terkasih yang senantiasa di muliakan Allah

1.       Pengertian dan Penjelasan  IMAN:
Secara bahasa, iman berarti membenarkan (tashdiq)
Sementara menurut istilah ialah...
“membenarkan dengan hati”
“mengucapkan dengan lisan”
“mengamalkan dengan perbuatannya”

Sedang menurut istilah yang sesungguhnya ialah kepercaya’an  yang meresap kedalam hati sanubari, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur dengan syak dan ragu, karena sudah menyaksikan buktinya, serta memberi pengaruh terhadap pandangan hidup dan kehidupan, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Kata iman dalam Al-quran digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Ar- Raghib al-Ashfahani (ahli kamus Al-quran) Mengatakan, iman di dalam Al-quran terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas dibibir saja, sehingganya, dapat bisa dengan mudahnya untuk mengaku atau mengatakan aku... saya... beriman, walau tanpa melihat dengan mata kepala sendiri.

Padahal... tanpa bisa di pungkiri, yang namanya manusia, tidak akan bisa dengan mudah percaya, jika matanya tidak melihat sendiri, bagaimana kita bisa percaya begitu saja, kalau yang namanya buah alpukat itu hijau, jika kita tidak pernah tau wujudnya buah alpukat itu seperti apa,,, bagaimana kita bisa dengan gampangnya percaya, kalau kota bogor itu, tersebut kota hujan dan berudara sejuk kalau kita tidak pernah datang ke bogor dan tau kota bogor itu seperti apa. Bagaimana kita bisa percaya kalau gula itu rasanya manis dan empedu itu pahit rasanya, jika kita tidak pernah melihat dan memakan gula dan empedu tersebut.

Mengatakan, iman di dalam Al-quran terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas dibibir saja, karena terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatannya saja, sedang hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan di amalkan dalam perbuatan sehari-hari.

Lalu apa dan bagaimana IMAN itu sebenarnya...?
Hehe...:-)
Iman... Adalah Wahyu, yang di sebut wahyu itu, adalah pemberian Tuhan yang tidak bisa di minta dan di tolak, dan yang namanya pemberian Tuhan. Tentu melalui pembuktian-pembuktian yang nyata, bukan katanya bayang membayangkan atau berandai kata. Sebenarnya... di  setiap diri manusia hidup, sudah di tanami iman oleh hyang maha hidup sejak awal di ciptakan, dan melalui proses pembuktian-pembutian yang dialaminya sendiri, bukan katanya, Tuhan menumbuhkan iman tersebut. Hingga pantas dan layak, pantas dan layak untuk Neraka atau Surga,,, atau Sempurna.

2.       Pengertian dan Penjelasan ISLAM:
            kata islam merupakan pernyataan kata nama yang berasal dari bahasa arab aslama, yaitu bermaksud “untuk menerima, menyerah, atau tunduk” Dengan demikian islam berarti penerimaan dari diri kita dan penundukan kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari Al-qur,an. Dalam beberapa ayat, kualitas islam sebagai kepercayaan ditegaskan: “ Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama islam)” . Ayat lain menghubungkan islam dan din (lazimnya diterjemahkan sebagai “Agama”) .” Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu,  dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam jadi agama bagimu”.

Secara etimologis kata islam diturunkan dari akar kata yang sama dengan kata salam yang berarti. “Damai”. Kata muslim (sebutan bagi pemeluk agama islam) juga berhubungan dengan kata islam, kata tersebut berarti ”Orang yang berserah diri kepada Allah”.

Islam memberikan banyak amalan keagamaan bagi para penganut dan umumnya di galakan untuk memegang lima rukun islam, yaitu lima pilar yang menyatukan muslim sebagai sebuah komunitas. Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan Rasul-Nya,  Muhammad bin Abullah Saw, ia merupakan satu-satunya agama yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya. Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah, tidak ada kesulitan dan kesusahan didalamnya, Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukunnya. Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, parosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya kasih sayang.ia merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada seluruh hal yang bermanfaat, serta melarang dari segala hal yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka sendiri didunia.

Jika masih neko-neko, masih suka gunjing sana-sini, fitnah sana-sini, teror sana-sini, ngebom sana-sini, benci sana-sini, cemoh sana-sini, ngeclup kelamin sana-sini, bingung, ragu, curiga, pusing, tidak tau, tidak paham namun shok tau shok paham, sombong, iri, dengki dan apapun sebutan tercelanya... berati itu bukan  penganut islam, tapi pengkhianat islam.

3.       Pengertan dan Penjelasa IHSAN:
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan darin-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah swt. Rasulullah Saw. Pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya karena, islam di bangun atas tiga landasan utama, yaitu iman, islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Saw.dalam haditsnya yang sahih .

Hadits ini menceritakan saat Rasulullah Saw. Menjawab pertanyaan malikat jibril – yang menyamar sebagai seorang manusia – mengenai islam, iman, dan ihsan. Setelah jibril pergi, Rasulullah Saw. Bersabda kepada sahabatnya, “ inilah jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal diatas sebagai agama, dan bahkan Allah Swt. Memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-qur’an.

.” Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. “ (Qs Al-baqarah:195)
“ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan . . . .”(Qs. An-nahl : 90 )

Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah Swt. Berfirman dalam Al-qur’an mengenai hal ini.

” Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri . . .”(Al-isra’:7)
“Dan berbuat baiklah (kpd orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu . . “(Qs AL-Qashash: 77).

Ibnu katsir mengomentari ayat diatas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh mahluk Allah Swt. Landasan syar’I ihsan

Pertama Al- qur’anul karim
Dalam Al-qur’an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat yang sesungguhnya, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-qur’an. Makanya saya selalu menggerutu dan sambil meneteskan air mata jika ada saudara-saudari saya yang mengaku telah iman islam ihsan tapi sipat dan sikapnya kebuangetan,,, heeeemmmmm gatel....
 Berikut ini adalah beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.
“ Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al- baqarah: 195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.” (Qs.An-nahl:90)
“. . . . .serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. . . .”(Qs. Al-baqarah:83)
“Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, yaitu ibu bapakmu, gurumu, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu. . . . “ (Qs. An-nisa’: 36)

Kedua, As-sunnah
Rasulullah Saw. Pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab,ini merupakan puncak harapan, perjuangan seorang hamba. Bahkan, diantara hadits-hadits mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah Saw. menerangkan mengenai ihsan –Ketika ia menjawab pertanyaan malaikat jibril tentang ihsan, dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh jibril, dengan mengatakan ,” Engkua menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim).

            kita berkewajiban ihsan dalam islam iman, yaitu dengan menjalankan semua jenis ibadah, tentu saja hal ini tidak akan mungkin mudah dapat ditunaikan oleh seorang hamba manusia, kecuali jika saat pelaksnaan ibadah-ibadah tersebut ia penuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya) Dan tidak ada satupun pelajaran yang mengajarkan Tentang kekuatan Rasa kecuali KUNCI. Hanya dengan KUNCI.  kesadaran penuh, yaitu SADAR bahwa Allah selalu memantaunya hingga ia merasakan bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh Allah... INGAT..!!! Merasakan, bukan Merasa, karena Merasakan dan Merasa itu sangat berbeda, kalau Merakan itu Rasa, sedangkan Merasa itu adalah Perasa’an. Dan lagi, Rasa dan Perasa’an itu tidak sama, kalau Rasa itu Hidup, kalau Perasa’an itu roh, dan lagi, Hidup dan roh itu sangat amat tidak sama, kalau Hidup asalnya dari Maha Suci Hidup yaitu Allah, kalau roh berasal dari empat anasir. Karenanya....

Minimal seorang manusia yang IMAN. ISLAM. IHSAN,  harus merasakan sendiri, bukan katanya. Bahwa Allah selalu memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. inilah maksud dari perkataan Rasulullah Saw. yang berbunyi.

“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan kamu melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya melihatmu.” (Ingat ya. SEAKAN. Bukan seaka-akan) Seakan dan Seakan-akan itu berbeda, kalau Seakan itu bukan bayangan atau membayangkan, sedangkan Seakan-akan itu, sudah jelas membayang-bayangkan.

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas.INTISARInya,  yaitu senantiasa sadar jika ingin mewujudkan ihsan dalam setiap ibadahnya. Agar iman islamnya SEMPURNA menjadi Busana HIUDUP untuk menghadap TUHAN (Kanggo Sebo Mengko Sore)

SEMOGA BERMANFA’AT DAN BERKAH... He he he . . . Edan Tenan... Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com