WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Kamis, 07 Agustus 2014

SHALAT DAIM:

Memahami Shalat Daim;
Oleh: Wong Edan Bagu

APA ITU SHALAT DAIM??
Sebelum kita mempelajari Shalat Daim, ada baiknya kita memahami dulu, apa sebenarnya arti dari kata Shalat itu. Arti daripada shalat adalah mengingat-ingat GUSTI ALLAH (Dzikrullah) di waktu duduk, berdiri dan melakukan aktivitas dalam kehidupan ini. Sedangkan kata Daim itu memiliki arti terus-menerus ataupun tak pernah putus.

Jadi, jika kedua kata itu digabungkan maka Shalat Daim itu berarti mengingat-ingat GUSTI ALLAH tanpa pernah putus. Atau Dzikrullah secara terus menerus. Salah satu contoh dari Shalat Daim dapat kita tauladani dari sejarah saat Sunan Bonang menggembleng Raden Mas Syahid sebelum bergelar Sunan Kalijaga.

Saat itu Sunan Bonang sudah mengajarkan apa yang dinamakan Shalat Daim pada Raden Mas Syahid. Bagaimana Shalat Daim itu?
Pertama kali Sunan Bonang menyuruh Raden Mas Syahid untuk duduk, diam dan berusaha untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri.

Menurut ajaran dari Sunan Bonang, Shalat Daim itu hanya duduk, diam, hening, pasrah pada kehendak GUSTI ALLAH. Raden Mas Syahid tidak disuruh untuk dzikir ataupun melakukan ritual apapun. Apa rahasia dibalik duduk diam tersebut?
Cobalah Anda duduk dan berdiam diri. Maka hawa nafsu Anda akan berbicara sendiri. Ia akan melaporkan hal-hal yang bersifat duniawi pada diri Anda. Hal itu semata-mata terjadi karena hawa nafsu kita mengajak kita untuk terus terikat dengan segala hal yang berbau dunia.

Awalnya, orang diam pikirannya kemana-mana. Namun setelah sekian waktu diam di tempat, akal dan keinginannya akhirnya melemas dan benar-benar tidak memiliki daya untuk berpikir, energi keinginan duniawinya lepas dan lenyap. Dalam kondisi demikian, manusia akan berada dalam kondisi nol atau suwung total. Karena ego dan hawa nafsu sudah terkalahkan.

Demikian juga dengan kondisi Raden Mas Syahid ketika bertapa di pinggir kali. Ia hanya pasrah dan tidak melakukan ritual apapun. Hanya diam dan hening. Hingga akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan GURU SEJATINYA.

“BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA, KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH, LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH….”

Lewat Suluk Wujil, Sunan Bonang sudah menjelaskan perihal Shalat Daim yaitu ;
UTAMANING SARIRA PUNIKI,
ANGRAWUHANA JATINING SALAT,
SEMBAH LAWAN PUJINE,
JATINING SALAT IKU,
DUDU NGISA TUWIN MAGERIB,
SEMBAH ARANEKA,
WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT,
PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAT DAIM, INGARAN TATA KRAMA.

(Keutamaan diri ini adalah mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).

Shalat sejati tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan sholat lima waktu. Shalat sejati adalah SHALAT DAIM, yaitu bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA ALLAH. Hu saat menarik nafas dan Allah saat mengeluarkan nafas.

Lebih lanjut Sunan Bonang juga menjelaskan tentang cara melakukan Shalat Daim lewat Suluk Wujil, yaitu;

PANGABEKTINE INGKANG UTAMI,
NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA,
PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU,
SASOLAHE RAGANIREKI,
TAN SIMPANG DADI SEMBAH,
TEKENG WULUNIPUN,
TINJA TURAS DADI SEMBAH,
IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN.

(Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir).

Orang yang telah mengenal Tuhannya akan mampu sholat terus menerus dalam keadaan berdiri, duduk, bahkan tidur nyenyak. Intinya adalah segala perbuatannya adalah sholat. Inilah yang disebut “sholat daim”. Aladzina hum ‘ala sholaatihim daa’imuun. Yaitu mereka yang terus menerus melakukan sholat (Q.S Al-Ma’aarij : 70:23)

Mereka yang mampu sholat daim adalah mereka yang tidak akan berkeluh kesah dalam hidupnya dan senantiasa mendapat kebaikan sebagaimana disampaikan Q.S 70 : 19-22. Nah, sholat daim ini modelnya seperti apa?
Ah.. tentu saja tidak bisa dibeberkan disini karena sholat daim adalah “oleh-oleh” dari hasil pencarian spiritual manusia. Tidak bisa diceritakan ke semua orang kecuali mereka yang telah memiliki kematangan spiritual.

Sholat daim adalah sholatnya orang ‘arif yang telah mengenal Allah. Ini adalah sholatnya para Nabi, Rasul, dan orang-orang ‘arif. Ilmu ini memang tidak banyak diketahui orang awam. Lantas bagaimana dengan sholat lima waktu?
Nah sholat lima waktu sebenarnya adalah jumlah minimal saja yang harus dikerjakan manusia untuk mengingat Allah. Pada hakekatnya kita malah harus terus menerus untuk mengingat Allah sebagaimana firman-Nya :

Dan ingatlah kepada Allah diwaktu petang dan pagi (Q.S Ar-Ruum (30) : 17)
Dan sebutlah nama Tuhanmu pada pagi dan petang. (Q.S Al-Insaan (76) : 25)

Ayat diatas bukan berarti mengingat Allah hanya dua kali saja yaitu waktu pagi dan petang sebab makna ayat diatas justru sehari-semalam! Yakni pagi dimulai dari jam 12 AM-12 PM, sampai dengan petang jam 12 PM-12 AM, begitu seterusnya. Nah, karena tidak semua orang sanggup untuk mengingat Allah dalam sehari-semalam maka sholat lima waktu itu adalah merupakan event khusus untuk mengingat-Nya. Jika orang awam tidak ada perintah sholat lima waktu maka tentu saja Allah akan mudah terlupakan. Kalau Allah terlupakan maka bumi ini bisa rusak oleh berbagai kejahatan yang dilakukan manusia. Orang awam perlu dilatih disiplin melalui sholat lima waktu ini untuk mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, kontrol diri akan lebih kuat.

Namun demikian, janganlah merasa cukup puas hanya dengan sholat lima waktu. Tingkatkanlah agar kita mampu melakukan sholat daim. Mari kita simak kembali ungkapan Sunan Bonang yang tertulis dalam Suluk Wujil :

Utaming sarira puniki
Angawruhana jatining salat
Sembah lawan pujine
Jatining salat iku
Dudu ngisa tuwin magerib
Sembahyang araneka
Wenange puniku
Lamun aranana salat
Pan minangka kekembaning salat daim
Ingaran tata karma

Artinya : “Unggulnya diri itu mengetahui hakekat sholat, sembah dan pujian. Sholat yang sebenarnya bukan mengerjakan isya atau magrib. Itu namanya sembahyang, apabila disebut sholat maka itu hanya hiasan dari sholat daim. Hanyalah tata krama”

Dari ajaran Sunan Bonang diatas, maka kita bisa memahami bahwa sholat lima waktu adalah sholat hiasan dari sholat daim. Sholat lima waktu ganjarannya adalah masuk surga dan terhindar neraka. Tentu yang mendapat surga pun adalah mereka yang mampu menegakan sholat yaitu dengan sholat tersebut, ia mampu mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar.

Sayangnya, saat ini banyak orang yang hanya meributkan sholat fisiknya saja dan melupakan hakekat sholat itu sendiri. Seringkali jika terdapat perbedaan pada gerakan ataupun bacaan sholat, mereka saling ribut mengatakan sholatnya paling benar dengan menyebut sejumlah Hadist yang diyakininya benar.


PAWELING;
PIYANDEL lan PAMAIBEN punika angalang-ngalangi pangertos tumrap dhateng ingkang nyata,
PIYANDEL lan PANGGAYUH punika akibating raos kuwatos; dene KUWATOS punika ngerem BABLASING PIKIRAN, lajeng trimah ngajeng-ajeng lan ngganta-ngganta.
(ANA APA-APA KUNCI. LANGKA APA-APA KUNCI. KUWI HAKIKAT SEJATINING SHALAT DAIM)
( Wong Edan Bagu. Kudus minggu tgl 27/07/2014)

Untuk bisa merasakan makna Hu...Allah, syariat harus baik dan tertib, dan dijalankan sesuai dengan apa yang tertuang dalam wahyu Illahi..melalui rasul-rasulNYA...

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh selamat Selalu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan


7. Sifat Kang Murbeng Dumadi; 4. Piwulang dasar penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya; 5. Piwulang inti penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya;

Oleh: Wong Edan Bagu
 
Gusti Kang Murbeng Dumadi Masyarkat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama masuk ke tanah Jawa dan sampai ke tradisi saat ini yang dikenal dengan Kejawen yang merupakan “Tatanan Paugeraning Urip” atauTatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur. Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatuyang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari-hari dan aturan positip agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab. Tiga hal yang mendasari Masyarakat Jawa mengenai Konsep Ketuhanan yaitu :

1. Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.

2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Teposeliro” artinya bila kita merasa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.


3. Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain “Ojo Seneng Mekso” seperti apa bila kita memiliki suatu pakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain. Mengenai Sang Murbeng Dumadi, Kaki Semar mengatakan “Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan, jaman,bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi” atau dengan katalain “ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali. oelh semua agama dan kepercayaan. Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain.


Yang membedakanya hanya cara menyembaah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman Kaki Semar memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada Khaliknya yaitu Manusia harus mengehathui Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi.

Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi;
1. Tuhan Itu Satu , Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi”

2. Tuhan itu bisa mewujud apa saja , tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan.”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.

3. Tuhan Itu ada dimana-mana.”Dadi Ojo Salah Panopo, Mulo nang ngendi papan ugaono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga “Nang awakmugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa danraga. Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.”Ananging ojo sepisan pisan awakmu ngaku-aku Gusti”maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku DIA.

4. Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi.dari masal dahulu, sekarang, esok dan sampaiseterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.

5. Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhanitu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satupun kata hilaf dan lalai.

6. Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang. maksudnya Tuhan itu mahaadil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.

7. Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya, Dengan menyadari hal tersebut manusia di harapkan :

Empat Piwulang dasar penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya;
1. “Manungso urip ngunduh wohe pakertine dhewe dhewe” maksudnya manusia akan menerima apa yang dia tanam, bila baik yang di tanam, maka yang baiklah akan diaterima.

2. Manusia hidup pada saat ini adalah hasil / proses dari hidup sebelumnya.atau”manungso urip tumimbal soko biyen,nek percoyo marang tumimbal”ada petuah yang mengatakan “ Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihatlah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang”

3. “Manungso urip nggowo apese dhewe dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri,dengki,tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan mengntungkan kita.

4. Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal iso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi:” maka Manusia hiduplah“sak madyo” dan tak perlu “nggege mongso”.ada petuha mengatakan “ Hiduplah dengan usaha, tapi janganlah dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan diri kita juga”Maka dalam hal ini Kaki semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan”Eling lan Percoyo,Sumarah lan seumeleh lan mituhu”kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lima Piwulang inti penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya;
1. Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bhawa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan makaAllah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

2. Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya .

3. Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin.I. Tatanan Paugeraning Urip.Petuah Kaki semar menenai Tatanan Paugeraning Urip bagi manusia dalam mengisi Kehidupanya di alam fana ini :

4. Eling Lan Bekti marang Gusti Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yangsadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa.dimanaAllah yang Esa telah membrikan kesepantan bagi manusia untuk hidup dan berkarya dialam yang Indah ini.

5. “Percoyo lan Bekti Marang Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing-masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan.
( Wong Edan Bagu. Kudus Rabu tgl 30/07/2014)

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh selamat Selalu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

Setiap Diri Manusia adalah Tuhan bagi Dirinya Sendiri:

Oleh: Wong Edan Bagu

Syehk Lemah Bang namaku, Rasulullah ya aku sendiri, Muhammad ya aku sendiri, Asma Allah itu sesungguhya diriku, ya akulah yang menjadi Allah ta’ala.

Setiap diri manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri, sekilas kata itu mirip Firaun yang mengatakan ” Aku tidak percaya Tuhan Musa, Aku lebih percaya pada Tuhan saya sendiri “. Nah, adakah kesalahan harfiah dalam statement saya dan Firaun tersebut ?

Tentu, statement itu bukanlah kajian secara harfiah/ kulit belaka, statement itu lebih mengacu kepada kajian diri. Kajian diri adalah kita selalu mengkaji/ membaca ke diri kita sendiri sebelum menengok ke luar. Masalah ketuhanan adalah masalah ‘personal’ masalah yang very very personality.

Sekarang kita balik bertanya kepada diri kita, “Apakah Allah SWT nya Nabi Muhammad sama dengan Allah SWT nya kita ? kalau mengacu kepada kajian harfiah, maka akan tampak sama, letak kesamaannya di nama Allah SWT itu sendiri. Tetapi kalau kita kaji ke dalam diri, akan tampak beda bagai jarak bumi dan langit. Allah nya Muhammad itu NYATA, berkata-kata, membimbing, melindungi secara langsung tanpa batas sehelai benang sekalipun, Nah, bagaimana dengan kita, apakah Allah SWT itu berkata-kata/ membimbing secara langsung ?

Sehingga secara tak sadar tapi sadar kita menyembah Allah yang bisu/tuli, apakah tidak sama dengan kita menyembah patung ?
Apakah kita harus pasrah begitu saja menerima doktrin/ dogma bahwa hanya Rasul yang bisa menerima bimbingan secara langsung ?
Apakah kita harus menyerahkan nasib jiwa kita setelah mati nanti kepada dalil/ dogma/ doktrin yang cenderung melemahkan/ merendahkan kemampuan diri kita ?
Apakah kita harus menelan mentah-mentah ajaran-ajaran agama yang keras dan cenderung membungkam akal sehat kita ?
Apakah kita dengan sikap pasrah. menyerah, berkeyakinan terhadap suatu ajaran agama, maka jiwa kita akan yakin 100 % terselamatkan ?

Dengan kata lain manusia sekarang kebanyakan BERJUDI dengan iman, amal dan ilmu nya yang diyakininya sendiri. Berjudi dengan menggantungkan keyakinan kepada orang lain... Wow... He he he . . . Edan Tenan.

Setiap diri manusia itu punya modal dasar sama yaitu yang disebut akal dan hati nurani, bila akal atau otak tidak dimerdekakan maka hatinuraninya akan ‘ mati’. Otak itu ibarat mesin katrol untuk mengerek hati nurani supaya hidup, setelah hidup maka sang hati nurani akan menghidupkan diri kita yang selama ini mati. Hati nurani yang hidup menghidupkan itu adalah cikal bakal Dzat Tuhan untuk tumbuh menguatkan diri kita. Hati nurani akan berevolusi tergantung motor penggerak nya yaitu otak, semakin berpikir cerdas maka hati nuraninya semakin kuat dan berkualitas. Hati nurani dalam kondisi puncak sering disebut sebagai Tuhan, Allah dll. Jadi Tuhan itu tak lain adalah DIRI KITA YANG TINGGI yang sering disimbolkan/ disebut dengan AKU. Sehingga tidak salah ada orang yang mengatakan, spiritual yang modern dan canggih itu adalah memakai  OTAK. Yang di praktekan dengan Rasa, bukan perasa’an.

Kembali ke judul ” Setiap diri manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri ” maka adalah suatu pendakian spiritual ke dalam dirinya sendiri sampai dirinya ada dalam kesadaran penuh yang tinggi, sampai secara real dan nyata dirinya adalah RASULULAH (Rasa Nya Allah) atau gambaran Allah atau perwujudan Allah. Allah itu adalah AKU, diri pribadi ku yang tinggi. Kalau sudah ke maqam/ tingkatan ini maka tak akan ada lagi penolakan terhadap perbedaan, tak kan ada lagi pengkotak-kotakan iman yang diberi label agama, tak kan ada lagi perjudian ilmu, iman dan amal setelah kematian, tak ada lagi kegelisahan/ ketakutan terhadap permasalahan duniawi, tak kan ada lagi simbol-simbol agama yang akan menjeratnya, tak kan ada lagi fatwa-fatwa luar yang mampu menembus dirinya, yang ada dirinya adalah KEBEBASAN. Bebas, lepas dan merdeka menyelami kehidupan di dunia ini karena keyakinan yang sudah terbangun kokoh dalam dirinya, dengan kata lain dirinya sudah hidup manunggal dengan Tuhan. Kalau sudah manunggal/ bersatu apakah mungkin harus menengok ke luar dirinya lagi ?
( Wong Edan Bagu. Kudus Rabu tgl 30/07/2014)

Tuhan adalah Pribadi ku, Pribadi yang nyata
Nyata dalam tubuh ku
Bebaskan otak dan hati mu !
Agar diri mu mempunyai Pribadi yang Kuat
sebagai bekal untuk berjalan di rel Kebenaran Hidup.
Sesuai FirmanTuhanmu Dan Sabda Rasulmu

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu. Semoga Bermanfa’at.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

Tiga yang Mewujud Namun Tunggal keberadaannya:

Oleh: Wong Edan Bagu

Tiga prinsip yang menjadi pondasi kehidupan bernama kreatifitas, kebijaksanaan dan ketenangan selalu menjelma dalam setiap wujud keabadian sebagai tiga penjelmaan dari tubuh ketunggalan
Kreatifitas adalah pencipta adanya kehidupan menjelma sebagai brahma dalam tiap peradaban meninggalkan ciptaan tanpa ingin dikenang perwujudan muncul sebagai maitreya yang dinanti tak pernah ditemukan
kebijaksanaan adalah pengajar di tiap lapis kehidupan menjelma sebagai wisnu dalam tiap permainan kehadirannya selalu dikenali para hati yang dekat Tuhan muncul sebagai prema yang esok terlahir setelah kematian
ketenangan adalah pelebur segala yang merusak kehidupan menjelma sebagai siwa dalam tiap pergantian jaman
kehadirannya selalu terlahir untuk melawan kebatilan muncul sebagai ekhantamukti panglima masa peralihan
manusia sama seperti tiga prinsip dalam kemanunggalan memiliki kreatifitas untuk menciptakan suatu peradaban kreatifitas yang lahir dari pondasi murni kebijaksanaan kebijaksanaan yang lahir dari dalamnya dasar ketenangan
manusia sejati hidup dengan tiga prinsip dasar kemurnian kreatifitas untuk menciptakan kehidupannya dalam keabadian kebijaksanaannya untuk melihat baik buruk dari penciptaan ketenangan untuk menganalisa semuanya dengan ketelitian
tiga yang mewujud namun tunggal keberadaannya…

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh Slamet...
Ttd: Wong Edan Bagu

Penghayat Hidup dan Kehidupan

Tujuh Tingkatan Jiwa:

Tujuh Tingkatan Jiwa:
Oleh : Wong Edan Bagu
Djaka Tolos yang lebih di kenal dengan julukannya Wong Edan Bagu, adalah seorang Pengembara asal dari tanah Pasundan, yang sering melakukan komunikasi dengan roh pembimbingnya. Pada suatu hari roh pembimbingnya mengajaknya untuk pergi mengenal alam alam lain. Dalam perjalanannya dia diajak melihat tingkatan tingkatan yang ada di alam tersebut, dia diberitahukan bahwa ia diberikan kesempatan ini untuk bisa membagi pengetahuan ini dengan sebanyak mungkin orang dan membantu mengobati ketakutan mereka akan kematian.Malaikat menjelaskan bahwa ada beberapa tingkatan ke surga dan tingkatan tertinggi adalah dimana kita semua memiliki realitas yang sama, dimana kita mengetahui bahwa kita menyatu dengan Tuhan. Setelah perjalanannya ke alam spiritual pada tahun 1999 kemampuan Djaka Tolos untuk pergi ke alam spiritual menjadi semakin kuat. Dari pengalaman pengalamannya, ia menggolongkan dimensi spiritual menjadi tujuh tingkatan, dengan tingkatan tertinggi menjadi satu dengan Tuhan. Makhluk-makhluk cenderung mengarah ke tingkatan yang sesuai dengan perkembangan dan kesadaran mereka. Tujuh tingkatan jiwa spiritual menurut Djaka Tolos digambarkan dibawah ini:

Tingkat 1 :
Jiwa jiwa di dimensi ini semuanya begitu terserap dan tidak sadar akan adanya hubungan antara semua hal.
Kesadaran terfokus pada keberlangsungan dan mereka mengambil apa yang mereka inginkan. Jiwa-jiwa pada tingkat pengalaman ini mengalami ketakutan. Meskipun jiwa jiwa ini memiliki nurani, suara batin yang
memberitahukan yang benar atau yang salah, mereka mengindahkan suara ini karena mereka percaya bahwa
karma tidak berlaku bagi mereka. Dalam kenyataan yang sebenarnya justru inilah tempat seluruh siklus karma bermula.

Tingkat 2 :
Dalam dimensi ini, jiwa jiwa perlahan mulai membuka hati mereka kepada orang-orang lain dan makhluk hidup, tetapi tingkat kepercayaan mereka masih cukup rendah. Mereka mulai melihat kemungkinan bahwa tidak semua orang diluar sana hendak merugikan mereka dan ada kemungkinan adanya kebaikan di dunia maupun semua keburukan yang begitu mereka sadari sewaktu mereka masih jiwa tingkat pertama. Mereka bolak-balik antara ingin percaya dan tidak percaya dan, malangnya, bisa terus menciptakan karma yang cukup buruk bagi mereka sendiri. Mereka sering terlibat dalam agama-agama yang mengajarkan soal neraka dan pengutukkan, yang didasarkan pada rasa malu dan rasa bersalah. Jiwa jiwa sering terperangkap dalam pola ini selama beberapa masa kehidupan.

Tingkat 3 :
Jiwa jiwa pada tingkatan ini telah mempelajari (melalui beberapa pelajaran karma yang berat) akan perbedaan antara yang benar dan salah. Mereka merasakan sebuah keinginan untuk mengubah cara berpikir, cara merasa, dan cara mereka berhubungan dengan dunia. Mereka melihat lebih banyak peluang positif ketimbang negatif. Jiwa jiwa tingkat ketiga mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih pada diri mereka ketimbang yang agama telah ajarkan pada mereka. Mereka mencari dalam batas batasan aman. Jiwa-jiwa mulai memahami hukum karma dan mulai menyadari bahwa mereka bertanggung jawab atas perbuatan perbuatan mereka. Jiwa-jiwa dimensi ini masih memiliki ketakutan mengenai kelangsungan hidup mereka dan terhadap jiwa jiwa lain, tetapi mereka semakin banyak melihat kesamaan antara orang orang ketimbang perbedaan.

Tingkat 4 :
Jiwa jiwa pada tingkatan ini berjuang untuk memahami kesatuan semua makhluk hidup dan Tuhan, bergerak dari orientasi religius menuju ke filosofi yang lebih universal dan spiritual. Dalam eksistensi fisik, jiwa jiwa pada tingkatan ini mulai lebih banyak mempertanyakan, membaca buku, atau mengejar sebuah perjalanan spiritual. Keterikatan material dan keinginan fisik dikurangi dan kebijaksanaan dicari dalam pelajaran pelajaran kehidupan. Jiwa jiwa pada tingkat 4 masih memiliki karma, masih bisa berduka dan masih melalui proses reinkarnasi.

Tingkat 5 :
Ini adalah permulaan Nirwana, dimana jiwa jiwa memahami kelimpahan, mengetahui hubungan mereka dengan Tuhan dan memiliki sebuah perasaan tanggung jawab untuk seluruh umat manusia. Jiwa jiwa tidaklagi menyalahkan Tuhan atau yang lainnya, ketidakdewasaan yang ditunjukkan melalui kompetisi atau pemberontakan telah dituntaskan, sehingga tidak ada perasaan kekurangan atau pembatasan. Jiwa jiwa tingkat kelima tahu bagaimana menyerap kehidupan Bumi bisa berguna bagi jiwa, dan mereka mengajarkan jiwa jiwa pada tingkat 4 bagaimana agar tidak harus berreinkarnasi. Jiwa jiwa tingkat kelima ternyata seperti malaikat malaikat yang telah meninggalkan keterikatan keterikatan pada alam fisik dan mengharapkan masa pensiun di alam alam yang lebih tinggi, lebih dekat dengan kesadaran Tuhan.

Tingkat 6 : 
Pada tingkat ini jiwa jiwa telah beranjak semakin dalam ke jantung hati Tuhan, semakin penuh mengetahui Tuhan. Jiwa-jiwa di tingkat 6 hidup dalam keadaan yang bahagia, dan ia menyatakan keadaaan demikian tidak ada yang menyamainya di Bumi.

Tingkat 7 :
Pada tingkatan ini, jiwa jiwa sebagai seperti Tuhan, karena mereka menyatu dengan Tuhan dan jiwa jiwa lainnya. Jiwa-jiwa pada tingkatan ini telah mencapai tahapan akhir dalam makna yang paling sejati.

Konsep tujuh tingkatan ini memang banyak ditulis dalam buku-buku spiritual, bahkan agama-agama juga menyiratkan adanya 7 langit dimana banyak dikatakan di langit ketujuhlah tempat Tuhan bersemayam.

Dalam buku Many Lives Many Masters hal ini juga dikatakan oleh spirit Guide dari Catherine pada saat jeda dari kematian ke kehidupan selanjutnya (between lives) dikatakan ”Seluruhnya ada tujuh alam, masing-masing terdiri dari banyak tingkatan salah satunya alam rekoleksi (pengingatan). Pada alam itu kau diperkenankan untuk mengumpulkan pikiran pikiranmu. Kau diperbolehkan melihat kehidupanmu yang baru saja berlalu. Mereka yang tingkatannya lebih tinggi dapat melihat sejarah. Mereka dapat kembali dan mengajar kita dengan mempelajari sejarah. Tetapi kita dari tingkat kehidupan yang lebih rendah hanya diperkenankan melihat kehidupan sendiri yang baru saja berlalu.” Malaikat yang telah memandu Echo memberitahukan bahwa terdapat banyak pintu masuk ke surga dan terdapat banyak komunitas di setiap tingkatan dunia spiritual.

Jadi ini juga sesuai dengan tingkatan jiwa yang dicapai dalam bentuk fisik. Ini konsisten. Terdapat tujuh tingkatan perkembangan di alam fisik maupun di alam lain, tetapi tidak ada suatu tingkatan pencapaian yang “benar” atau “salah” ketika kita kembali ke tempat darimana kita datang sebelumnya. Dalam kehidupan fisik kita, kita masing-masing berjuang untuk mencapai hal-hal dari sudut pandang yang berbeda-beda. Perkembangan kita, baik secara fisik maupun batin, tampaknya merupakan contoh sempurna dari kehendak bebas yang telah kita miliki dari sananya. Tak perduli tingkatan pencapaian spiritual apapun yang kita raih, kita tetaplah setara dengan semua yang lainnya.

Kehidupan adalah sebuah kesempatan! Setiap pengalaman akan mengajarkan kita sesuatu, jika kita memilih untuk menerimanya. Kadang-kadang kita heran mengapa hal-hal terasa demikian sulit, tetapi kita menarik semua yang kita butuhkan supaya kita belajar dan berkembang. Kita memilih hidup yang kita jalani dan semuanya menjadi bagian dari itu. Dalam beberapa hal, kehidupan seperti mengambil sebuah ujian dan jika kita mengetahui jawaban jawabannya terlebih dahulu, mengapa kita harus mengerjakannya? inilah sebagian jawaban mengapa, pada tingkat kesadaran yang lebih rendah, kita melupakan semua pengetahuan yang kita punya.”Diri kita yang lebih tinggi” akan terus-terhubung dengan pengetahuan dan kebenaran tertinggi.

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh Slamet...

Ttd: Wong Edan Bagu