WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Kamis, 07 Agustus 2014

Tujuh Alam Spiritual:

Tujuh Alam Spiritual:
Oleh : Wong Edan Bagu
Terdapat tujuh tingkatan perkembangan di alam lain, tetapi tidak ada suatu tingkatan pencapaian yang “benar” atau “salah” ketika kita kembali ke tempat dari mana kita datang sebelumnya. Seperti halnya dalam kehidupan fisik kita, kita masing masing berjuang untuk mencapai hal hal dari sudut pandang yang berbeda beda. Saya percaya Anda akan setuju bahwa hanya karena seseorang telah menjadi orang yang penting dalam kehidupan bukan berarti ia “lebih baik” ketimbang manusia-manusia yang lain. Perkembangan kita, baik secara fisik maupun batin, tampaknya merupakan contoh sempurna dari kehendak bebas yang kita miliki dari sananya. Tak perduli tingkatan pencapaian apapun yang kita raih, kita tetaplah setara dengan semua yang lainnya.

Tingkat Satu: Alam Cahaya Putih Baru 
Alam ini mengandung jiwa-jiwa baru- mereka yang baru saja menyeberang. (ini tidak berarti jiwa jiwa yang baru tercipta, melainkan mereka mereka yang baru saja menyeberang kembali menjadi roh.) Anda akan menemukan mereka yang sedang menunggu untuk berangkat atau datang, entah ke cahaya atau ke getaran kegelapan. Kegelapan tidak akan memiliki kekuasaan lagi pada Anda ketimbang apa yang Anda inginkan dan ini juga akan berdasarkan pada sistem kepercayaan dan perilaku spiritual Anda. Ruang ini juga berfungsi sebagai tempat pencucian bagi mereka yang meyakini hal tersebut dalam agama mereka. Tidak ada hukuman yang dilakukan disini, tetapi kadang kadang sifat terombang ambing itu mungkin akan terasa seperti itu.

Bagi mereka yang belum benar benar pernah menyeberang sepenuhnya ke alam roh, jiwa jiwa yang terikat di Bumi, juga akan berada di tingkat ini. Bagi mereka yang telah memutuskan untuk berinkarnasi dan sedang dipersiapkan untuk perjalanan mereka, persiapan itu berlangsung disini. Bagi mereka yang sedang bereinkarnasi dalam waktu dekat jarang akan pergi ke tempat yang lebih tinggi dari tempat ini. Sebagian besar jiwa-jiwa yang kembali akan melupakan bahwa mereka pernah ada di sini, semua yang pernah mereka ketahui. Kadang-kadang ada beberapa yang kembali dengan semua pengetahuan mereka; ini adalah Guru-guru. Ini adalah alam yang paling sibuk diantara semua alam.

Bagi mereka yang mengawasi daerah ini, membuat
keputusan keputusan secara cepat akan dibutuhkan. Malaikat-malaikat berkeliaran di tempat ini dan pergi bolak-balik ke Bumi. Di tempat ini sebuah jiwa tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mandiri. Dalam banyak hal Anda harus ikut dengan aliran karena Anda tidak cukup kuat melakukan yang sebaliknya. Pada
tingkatan ini Anda tidak merasa, membau atau mengecap. Disini kita tidak mengalami perilaku yang berhubungan dengan sebuah tubuh fisik, tetapi mungkin masih melekat rasa sakit emosional atau batin dari kehidupan lampau. Jiwa sebagian besar tampak transparan dan kadang-kadang tidak bisa dikenali; kita adalah rohnya bukannya fisik.

Jika kita telah menjalani sebuah kehidupan yang menyebabkan rasa sakit dan luka pada orang lain, jika kita belum membereskan hal-hal ini sebelum kematian kita, maka rasa sakit pada saat kilas balik kehidupan kita akan terasa tujuh kali lipatnya. Ketika Anda masih hidup dan memiliki sebuah tubuh fisik, kesakitan Anda akan tersebar ke seluruh tubuh, bisa menjadi bagian sebuah penyakit atau mungkin menjadi penyebab kematian Anda. Ketika anda tidak lagi memiliki tubuh fisik untuk menanggung rasa sakit, perasaan perasaan dan emosi adalah apa yang tersisa dari Anda. Kendatipun demikian, setiap saat kita menerima bimbingan dan nasihat untuk berubah dan membuat hal hal menjadi lebih baik bagi diri kita. Di “alam lain” waktu tidak eksis, sebuah jiwa tidak harus memiliki sebuah kesadaran akan waktu yang
dibutuhkan untuk melakukan perubahan-perubahan.

Tingkat Dua: Alam Malaikat dan Pelindung 
Ketika para malaikat memilih untuk beristirahat, maka tempatnya akan ada disini. Adalah hal yang umum bagi mereka untuk bepergian ke semua tingkatan perkembangan; tetapi mereka lebih sering bergerak antara tingkat dua dan Bumi. Bukan hal yang aneh bagi mereka untuk mengorbankan ‘eksistensi’ mereka demi menolong sebuah jiwa. Hal ini terutama berlaku dalam kasus kasus channeling/medium.

Tempat ini adalah tempat yang damai dan tiada bahaya yang akan datang pada siapapun disini, tetapi jarang ditemui adanya kepuasan. Dalam sebagian besar kasus, jiwa-jiwa selalu bekerja berusaha untuk menolong makhluk lain. Dari tempat inilah ada upaya besar yang dilakukan untuk membantu mereka mereka yang berada di tingkat satu, maupun makhluk makhluk fisik di Bumi; juga terdapat pekerjaan yang luar biasa bagi mereka yang mungkin ada di tingkat satu yang mengalami apa yang menurut kepercayaan-kepercayaan agama gambarkan sebagai “neraka”. Anda mungkin terkejut mempelajari bahwa pengalaman ini, jika Anda memerlukannya, memiliki berbagai tingkatan pula. Para pelindung disini adalah mereka yang memiliki kekuatan dan pengetahuan menengah. Merekapun masih memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan berkembang. Hanya karena kita menyeberang kembali menjadi roh tidak berarti bahwa kita bisa menggunakan pengetahuan tertinggi kita. Dalam banyak kasus, mereka mereka yang mendapatkan ijin untuk berjalan bersama kita di alam fisik, melakukannya sebagai cara untuk belajar dan berkembang.

Tingkat Tiga: Alam Dewan atau Pembuat Keputusan 
Ketika sesosok jiwa mencapai tahapan ini dan memutuskan untuk “istirahat” biasanya hal ini tidak berlangsung lama. Anda hanya bisa menjalani kehidupan yang sesaat sebelum Anda memutuskan untuk menjadi sibuk kembali. Ini adalah rumah-rumah luar biasa, fasilitas-fasilitas pengetahuan yang besar, taman taman menakjubkan, serta kekuasaan-kekuasaan yang besar. Kadang kita menemukan jiwa-jiwa yang belum bereinkarnasi selama periode yang sangat panjang dan mungkin telah kehilangan hubungan dengan apa yang menjadi kebutuhan manusia. Biasanya ini adalah anggota-anggota sebuah “Dewan” . Kadang ada jiwa jiwa dari tingkat Dua yang datang bekerja pada Dewan-Dewan. Sementara hal ini membuat mereka terlihat seakan mereka dalam pengabdian, ini adalah cara mereka untuk berkembang dan menjadi semakin kuat.

Ini adalah tanda dari sebuah jiwa besar yang sedang dalam proses pengembangan. Ketika sebuah “Dewan” terdiri dari anggota-anggota yang belum bereinkarnasi untuk kurun waktu yang sangat lama, mereka mungkin memerlukan bantuan untuk melihat potensi bagi perkembangan lebih lanjut diri mereka sendiri. Dalam kejadian ini, sebuah peristiwa akan terjadi dengan cara yang membuat mereka bisa melihat betapa sudah menjadi sempitnya pandangan dan kemampuan mereka untuk menolong yang lain. Jika keperluan ini muncul, mereka sering ditemukan sedang mendengarkan ceramah, pelatihan, dan proses pengembangan lainnya di seluruh dunia. Sayangnya masih mungkin bagi kita utnuk menjadi puas diri dan sedikit kehilangan kesan akan apa yang diperlukan.

Proses ini bisa membantu pengembangan akhir bagi jiwa-jiwa yang sudah sangat tua (“tua” dalam konteks ini berarti bahwa mereka telah bereinkarnasi banyak kali dan memiliki banyak perkembangan dalam diri mereka).

Tingkat Empat: Alam Kedamaian
Alam kedamaian memiliki sekolah sekolah untuk mengajari para “guru tingkat master,” “pelindung” dan “roh pembimbing”. Di sini kita akan menemukan sekolah sekolah khusus untuk mendidik kembali “jiwa jiwa tua” dan “para bijak” . Kadang-kadang kita merasa bahwa tidak ada hal yang baru yang bisa dipelajari dan pada
saat itu kita baru menemukan betapa banyaknya hal yang masih bisa dipertimbangkan dan dipelajari kembali.

Ketika kita merujuk pada sebuah jiwa sebagai makhluk “tua” hal ini tidak berarti bahwa mereka diciptakan pada saat yang berbeda sehingga membuat mereka lebih tua. Kata “tua” digunakan sebagai sebuah istilah penggolongan bagi mereka yang terus bereinkarnasi dan terus bertumbuh. Beberapa seringkali adalah jiwa yang paling lemah lembut, paling pengasih dan penyayang dari semua jiwa. Ketika salah satu jiwa istimewa ini bertemu di jalan Anda, seringkali Anda akan terbekahi dengan kehadiran mereka. Anda akan merasakan energi yang mereka bawa dan tidak paham mengapa Anda merasa jauh lebih baik setelah mengunjungi merka
barang sejenak. Mereka tidak mencari atau menginginkan perhatian untuk berkah-berkah khusus dan kemampuan yang mereka miliki.

Dalam beberapa kelas pada tingkat ini, situasi diciptakan untuk menirukan eksistensi di tingkat fisik yang sebenarnya. Mereka yang berada di tingkat pelatihan ini akan merasakan semua sensasi dari sebuah tubuh fisik sejati. Mereka akan merasakan kesakitan, kelaparan, nafsu dan semua perasaan yang Anda dan saya rasakan hari ini. Jika mereka lulus ujian, dan ujian itu sangat sulit, mereka diijinkan menjadi “Guru” dan “Penasihat Agung” . Hal ini kadang kala malah merepotkan dan memerlukan integritas dan kehormatan tingkat-tertinggi dalam pekerjaan yang mereka pilih. Tak ada kebingungan di Tingkat Empat, hanya ada rasa kedamaian , sukacita, dan keindahan paling luar biasa yang bisa dibayangkan.

Terdapat begitu banyak jiwa yang sangat baik di tingkat ini. Beberapa menikmati kehidupan yang damai dan tenang dan tidak memilih untuk bereinkarnasi. Mereka diijinkan melakukan pilihan ini karena pekerjaan yang telah mereka lakukan di masa lalu. Meskipun pilihan ini telah dijalani, banyak yang terus melakukan
pekerjaan yang luar biasa melalui tingkat tingkat lainnya, dimensi-dimensi lainnya, dan di Bumi. Terdapat juga begitu banyak jiwa yang bekerja dari berbagai tingkatan, mencari rasa pemenuhan diri, dan pilihan untuk tidak bereinkarnasi tidak menciptakan kebutuhan atau ketidakseimbangan bagi pihak lain yang mencari bantuan dalam perjalanan mereka.

Tingkat Lima : Alam Tidur
Wilayah ini sering dirujuk dengan banyak nama. Jiwa-jiwa yang berdiam disini semuanya briliandan sensitif.

Mereka adalah jiwa-jiwa yang bepergian di bumi dan dimensi-dimensi lainnya melakukan mukjijat-mukjijat. Mereka ini adalah para “penyembuh” dan mereka sadar akan segala hal- masa lalu, masa kini dan masa depan. Banyak dari jiwa jiwa di sini tidur dan menyediakan energi mereka bagi mereka yang bekerja di alam alam yang lebih rendah. Jiwa-jiwa disini melakukan pengorbanan besar untuk hal hal yang mereka percayai. Ketika saya mengatakan “hal-hal yangmereka percayai”, ini tidak bekaitan dengan sebuah agama atau sistem kepercayaan yang berhubungan dengan Bumi sendiri. Ini adalah kepercayaan terhadap kemanusiaan dan pelestarian teragung dari jiwa. Dalam “roh” tidak ada perbedaan kecuali bahwa sebuah jiwa sengaja memaparkan diri mereka sendiri sebagai bagian proses perkembangan mereka. Jiwa, dalam bentuk paling sejatinya tidak memiliki perbedaan-perbedaan yang bisa dibandingkan yang ada di Bumi.

Sebenarnya kita semua adalah sama, kita semua adalah setara. Cinta kasih dan kedamaian yang dirasakan di alam inilah yangkita rindukan selama ini tanpa menyadari apa yang menarik kita. Kadang-kadang kita mengalami sebuah
rasa jenuh, sebuah kerinduan akan sebuah tempat dan perasaan yang tidak bisa kita uraikan dan tidak bisa kita ingat. Hanya karena sebuah jiwa berada di tingkat ini, tidak berarti bahwa mereka tidak akan memilih untuk melalui tantangan di tingkat-tingkat yang lebih rendah lagi. Kadang-kadang semakin berkembang sebuah
jiwa , semakin sering mereka bergerak melalui semua tantangan ini lagi dan lagi. Sebenarnya terdapat kebijaksanaan yang besar dalam membuat pilihan demikian. Tingkat lima adalah yang terluas dari semua alam.

Tingkat Enam : Alam Penciptaan
Kasih dan kedamaian yang dirasakan di tingkat tingkat lainnya jauh jika dibandingkan dengna apa yang ada disini. Lebih dari sekedar perasaan atau sesuatu yang dialami, ia menjadi eksistensi yang menyatu dengan
jiwa dan segala hal. Ketika Anda melihat energi tempat ini, Aurora Borealis hanya sedikit bisa dibandingkan dengannya. Terdapat begitu banyak campuran nada nada dan getaran warna sehingga hampir seperti melihat sebuah fatamorgana. Ketika anda melihat sekuntum bunga, sebagai contoh, jika anda mencoba
menyentuh kelopak-kelopaknya Anda akanmenjadi bagian dari bunga. Bunga itu terasa bagaikan cair hingga tangan Anda terasa menembusnya. Dalam wujud “roh” kita tidak memiliki tubuh fisik, tetapi dari tingkat ini, Anda memiliki kemampuan untuk mempertahankan suatu wujud yang serupa dengan tubuh yang anda miliki
sebelumnya. Anda bisa memproyeksikan sebuah gambaran penampilan fisik atau bisa juga berada dalam bentuk energi murni Anda.

Semua kebesaran, keagungan pada tingkat ini , hanya berjarak satu pemikiran saja. Pemikiran kita selalu menjadi realita kita, tetapi di tempat ini pemikiran diekpresikan dan diciptakan dalam wujudnya yang paling murni. Sementara rumah-rumah besar, bangunan-bangunan, serta biara biara bisa ditemukan disini, mereka adalah perwakilan sebuah keinginan ketimbang sebuah kebutuhan. Dari tempat ini anda tidak memerlukan banyak hal, tetapi pengalaman dari semua hal tersedia bagi anda.

Dari tempat ini terdapat pekerjaan yang dilakukan di lebih dari satu dimensi dan lebih dari satu tingkatan pada saat yang sama. Mungkin Anda akan mengerti istilah ”Parallel Universe dan waktu simultan”. Hal ini tampaknya seperti
sebuah tempat yang menarik untuk dicapai dan Anda mungkin berharap akan tiba segera, tetapi pertimbangkan ini juga… ketika Anda melakukan pekerjaan antar-dimensi dan di lebih dari satu tingkatan, hal ini menciptakan tantangan yang lebih besar bahwasanya Anda harus meningkatkan integritas Anda berkali-kali lipat. Anda akan menciptakan parameter-parameter yang berbeda untuk setiap situasi. Mengapa ada orang yang mau memasang berbagai kemungkinan yang berbeda untuk berhasil atau gagal.

Memang benar bahwa dalam bergulirnya setiap kehidupan ada kemungkinan untuk gagal, tetapi itu juga berarti ada jumlah kesempatan yang sama untuk melakukan hal hal yang luar biasa. Dari tingkat perkembangan ini, sesosok jiwa cenderung bisa mengalami pencapaian pencapaian besar dalam segala hal yang mereka lakukan.

Tingkat Tujuh: Alam Keesaan
Ini adalah tempat “penyatuan” dengan Sang Pencipta — Ini istilah yang kita pahami. Dari tingkat ini, kita memiliki kemampuan untuk melihat segala hal, mendengar segala hal, dan mengalami apapun yang kita pilih. Dari tempat ini Anda akan melihat galaksi galaksi luas; Anda akan menyadari garis-garis waktu yang berbeda dan banyak karya lintas dimensi. Anda akan menemukan sedikit sekali rumah-rumah atau bangunan besar; sedikit sekali gambaran khayal yang tak bermanfaat. Jiwa-jiwa dari tempat ini menyumbangkan sebagian besar waktu dan energi mereka ke semua ciptaan- bahkan diluar cakupan bumi. Beberapa akan tertidur selama berabad-abad, memberikan semua yang ada dari mereka untuk manfaat yang lainnya.

Sebagian besar ajaran yang bersejarah dan agama besar datang dari tingkat ini. Perbedaan pandangan bukan dimaksudkan untuk membingungkan , melainkan hanya untuk menawarkan kesempatan untuk perkembangan serta
pemahaman dari sudut pandang yang sangat luas. Kebingungan yang terkait dengan ajaran-ajaran ini berasal dari penafsiran dan penjelasan umat manusia. Kebijaksanaan disini dimaksudkan untuk memiliki cakupan yang universal. Tidak jadi masalah bahwa kita tidak selalu harus setuju; cara kita tidak menyetujuilah yang
menyebabkan masalah masalah kita.

Sejarah menunjukkan kita bahwa berbagai ajaran spiritual telah diubah dan ditafsirkan dengan berbeda sepanjang masa. Energi yang dipeluk sebagai “Kristus”, “Buddha” , “Muhammad” , “Allah” , dan yang lainnya muncul dari sini. Sebuah jiwa di sini akan memiliki sedikit sekali keterbatasan dan tingkat keandalan yang luar biasa. Adalah memungkinkan untuk mencapai tingkatan perkembangan spiritual apapun atau jatuh dari tempat tempat ini. Karena segala sesuatu mengenai kita adalah “pilihan”, kita membuat pilihan pilihan, kadang bagus, kadang buruk, dan karena itu bergerak melaui berbagai tahap. Hal ini tidak lantas membuat jadi “benar” atau “salah”, melainkan hanya sebuah kenyataan dimanakah kita berada pada saat tertentu dalam perjalanan kita.

Dengan KUNCI saya bisa tau sendiri dan bisa memjelaskan Ke 7 Dimensi Alam  Spiritual diatas. Tanpa katanya Judy Goodman
 Judiy Doodman adalah seorang cenayang dan guru spiritual yang bisa
bepergian melalui berbagai dimensi spiritual. Yang katakanya bisa hidup di dunia fisik maupun di dunia spiritual sekaligus.

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh Slamet...

Ttd: Wong Edan Bagu

Tahapan Perkembangan Spiritual: Apakah anda menjauh dari Allah atau menuju Allah:

Tahapan Perkembangan Spiritual: Apakah anda menjauh dari Allah atau menuju Allah:
Oleh: Wong Edan Bagu
Ketika Anda survei perilaku,,, sikap dan keyakinan manusia di planet ini, seharusnya tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa orang-orang di negara-negara yang berbeda dari kesadaran, mereka berada pada tahap perkembangan yang berbeda spiritual. Tahapan-tahapan sesuai dengan derajat yang berbeda pemahaman dari sisi spiritual dari kehidupan. Untuk memberi orang beberapa rasa pengukuran, saya ingin memberi Anda sebuah survei dari berbagai tahap perkembangan spiritual yang ditemukan di planet ini.

Tahapan berikut ini tidak dapat diletakkan pada baris dan peringkat dari terendah ke tertinggi. Jiwa Anda  tidak perlu harus turun ke tingkat terendah sebelum berbalik dan mulai mendaki jalan kembali kepada Allah. Ada banyak jiwa di bumi yang tidak pernah turun ke tahap terendah kesadaran spiritual. Penomoran tahap Oleh karena itu masalah praktis sehingga lebih mudah untuk referensi tahap.

Tahap 1.
Jiwa yang melawan Allah
Jiwa tertentu dalam keadaan kesadaran yang menyebabkan mereka sengaja, dan dalam kebanyakan kasus sadar, memberontak terhadap hukum dan kehendak Allah. Dalam beberapa jiwa, pemberontakan jelas. Beberapa mempromosikan ateisme atau agnostisisme. Beberapa materialisme ilmiah advokat dan keras menyangkal kebutuhan makhluk kreatif. Beberapa secara terbuka berlatih satanisme, dan meskipun mereka tidak menyangkal keberadaan Tuhan, mereka mencemarkan nama baik, meremehkan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ejekan Tuhan, agama atau spiritualitas.

Dalam beberapa jiwa, pemberontakan terhadap Allah yang tersembunyi jauh di dalam jiwa, dan sering dikenal oleh pikiran sadar seseorang. Oleh karena itu, pemberontakan ini sering dapat disamarkan belakang topeng berbagai keyakinan, termasuk keyakinan agama. Mungkin mengejutkan bagi banyak orang, tetapi beberapa dari jiwa-jiwa pemberontak telah berhasil mencapai posisi tinggi dalam berbagai gerakan-gerakan keagamaan dan gereja Serta wihara dll. Mereka mengklaim untuk menjadi sangat religius dan bekerja untuk tujuan Allah, namun mereka memiliki kemarahan mendalam terhadap Tuhan dan percaya bahwa mereka tahu lebih baik daripada Tuhan bagaimana alam semesta harus dijalankan atau bagaimana orang harus diselamatkan.

Untuk semua orang-orang itu adalah umum bahwa mereka secara aktif berusaha untuk lari dari Tuhan, untuk memperkuat kesan bahwa Tuhan tidak ada atau bahwa dia tidak ada di sini di planet bumi. Beberapa jiwa terlibat dalam suatu pencarian yang tak ada habisnya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada atau untuk membuktikan bahwa Allah adalah salah dan bahwa mereka benar. Mereka benar-benar berusaha untuk membuktikan bahwa mereka dapat menciptakan sebuah dunia di mana Allah tidak ada dan di mana mereka tidak perlu untuk Tuhan.

Anda mungkin bertanya bagaimana orang-orang yang bekerja di gerakan-gerakan keagamaan dapat dikatakan bekerja untuk alasan ini atau melarikan diri dari Allah. Jawabannya adalah bahwa mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk memperkuat keyakinan bahwa Allah adalah suatu tempat, nan jauh “di sana” di Surga. Ini juga merupakan orang-orang yang semen kepercayaan berhala bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Anak Allah dan bahwa tidak ada yang dapat mengikuti contoh saya. Hal ini juga sering orang pertama menangis penghujatan, seperti yang mereka lakukan ketika saya membuat pernyataan tertentu yang membuatnya terdengar seperti aku menyamakan diri dengan Tuhan atau menyebut diriku Anak Allah.

Tahap 2.
Jiwa yang mencoba untuk menyembunyikan diri dari Allah
Banyak orang secara terbuka marah pada Tuhan. Banyak jiwa di bumi telah terluka, dan mereka percaya bahwa Tuhan telah menyakiti mereka atau memperlakukan mereka secara tidak adil, tidak adil atau dengan cara yang menentang penjelasan logis. Banyak jiwa yang takut akan Tuhan dan melihat dia sebagai makhluk marah dan menghakimi yang selalu siap untuk menghukum mereka karena pelanggaran sekecil hukum-Nya. Umum untuk jiwa adalah bahwa mereka melarikan diri dari Tuhan, tapi bukan karena mereka memberontak terhadap Allah. Mereka hanya ingin mendapatkan sejauh mungkin dari apa yang mereka lihat sebagai dewa, marah dan tidak adil menghukum. Mereka mencoba untuk menyembunyikan diri dari Allah.

Melarikan diri dari Allah adalah tindakan membela diri. Inilah orang-orang yang saya dimaksud dalam pepatah bahwa saya berharap orang yang panas atau dingin. Orang-orang pada tahap ini memang dingin. Mereka dingin dalam arti bahwa mereka telah datang untuk menerima citra negatif Allah, dan karena itu mereka melarikan diri dari gambar itu. Namun, mereka memiliki potensi untuk berbalik jika mereka bisa datang untuk menerima bahwa perasaan mereka bagi Allah yang disebabkan oleh gambar palsu, tidak sempurna atau tidak lengkap dari Tuhan.

Tahap 3.
Jiwa yang acuh tak acuh terhadap Allah
Sejumlah besar jiwa di planet bumi telah menjadi begitu acuh tak acuh terhadap Allah, agama dan sisi spiritual dari kehidupan bahwa mereka telah menjadi suam-suam kuku. Beberapa dari jiwa-jiwa yang memang dalam kondisi koma spiritual yang membuatnya hampir tidak mungkin untuk menjangkau mereka dengan segala jenis kebenaran rohani. Banyak dari jiwa-jiwa telah begitu terluka atau kecewa oleh agama terorganisir yang mereka telah menolak agama, atau menyerah pada gagasan bahwa mereka pernah bisa mengambil bagian dari arti sebenarnya dari spiritualitas.

Banyak dari jiwa-jiwa telah mengadopsi gambar palsu, tidak sempurna atau tidak lengkap dari Tuhan. Namun mencoba untuk membantu mereka melihat ini dan mencoba untuk membantu mereka menerima gambar yang benar dari Allah adalah sangat sulit karena mereka sering tidak akan menanggapi apapun pesan spiritual. Banyak dari jiwa menggunakan ketidaksempurnaan, nyata atau dirasakan, agama ortodoks atau terorganisir sebagai alasan untuk menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan sisi spiritual dari kehidupan. Jika salah satu pendekatan jiwa tersebut dengan pesan spiritual, mereka sering akan menjadi sangat curiga dan merasa bahwa seseorang keluar untuk mengkonversi mereka, untuk memanipulasi mereka, untuk mengambil keuntungan dari mereka atau untuk mendapatkan uang mereka.

Jiwa-jiwa sering menolak segala jenis spiritualitas dan dengan demikian menempatkan diri mereka dalam menangkap-22 di mana mereka menolak alat yang sangat yang dapat membantu mereka menyembuhkan luka mereka dan mendapatkan pada jalur ke atas. Mereka sering tidak terjangkau bagi seorang guru spiritual.

Tahap 4.
Jiwa yang berkonflik tentang Tuhan
Beberapa jiwa telah datang ke realisasi bahwa memang kenyataannya beberapa sisi spiritual kehidupan dan bahwa ada jalan yang mereka dapat mengikuti arah pemahaman yang lebih tinggi dari Allah dan hubungan mereka dengan Tuhan. Ini adalah jiwa-jiwa yang telah berbalik dan mulai jalan yang membawa mereka kembali kepada Allah. Namun, banyak jiwa-jiwa telah begitu sangat terluka bahwa mereka membutuhkan penyembuhan spiritual dan jiwa sebelum mereka sungguh-sungguh dapat terlibat dalam jalan spiritual.

Beberapa jiwa telah disakiti oleh trauma fisik. Lainnya telah terluka secara emosional melalui interaksi mereka dengan orang lain atau lembaga-lembaga masyarakat. Masih lain telah terluka oleh ketidaksempurnaan dari organisasi keagamaan atau telah terluka oleh apa yang disebut doktrin sempurna yang tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang kehidupan. Ini sering menyebabkan luka jiwa tersebut merasa konflik dalam konsepsi mereka atau hubungan dengan Allah. Mereka mungkin merasa bahwa agama tidak masuk akal dan menyajikan gambar bertentangan atau tidak konsisten dari Allah (yang benar). Atau mereka mungkin merasa bahwa Allah yang adil dan penuh kasih seharusnya tidak memungkinkan mereka telah terluka. Mereka seringkali merasa sebagai korban dari kekuatan di luar kendali mereka dan melihat ada cara untuk mengubah situasi pribadi mereka.

Jiwa-jiwa ini telah datang ke realisasi bahwa mereka ingin lebih dari kehidupan dari apa yang dapat dicapai dengan sarana material. Mereka merasakan harus ada tempat untuk pergi untuk mencari pemahaman spiritual dan penyembuhan. Namun mereka telah begitu sangat terluka dan sakit hati bahwa mereka belum dapat mulai berjalan menuju pemahaman itu. Mereka seperti orang-orang yang telah patah kaki dan karena itu perlu untuk menyembuhkan patah tulang sebelum mereka dapat mulai berjalan menuju tujuan mereka. Oleh karena itu, jiwa tersebut akan melakukannya dengan baik untuk mengenali luka mereka dan untuk memfokuskan semua energi dan perhatian pada penyembuhan psikologi (seperti yang dipahami oleh dunia) dan jiwa.

Tahap 5.
Jiwa-jiwa yang ingin mengalami ciptaan Allah
Sebuah kelompok tertentu jiwa adalah jiwa muda yang belum menghabiskan waktu yang lama (yang berarti perwujudan banyak) di dunia material. Beberapa jiwa masih memiliki keinginan yang besar untuk mengalami segala sesuatu di dunia materi, dan ini bisa membuat mereka acuh tak acuh terhadap agama. Mereka hanya begitu sibuk dengan hal-hal dari dunia ini bahwa mereka tidak memiliki perhatian yang tersisa untuk pencarian spiritual.

Jiwa muda lainnya sangat terbuka untuk agama, namun sering mendekatinya dengan cara yang agak tidak seimbang. Hal ini dapat menyebabkan mereka untuk mengambil pengejaran agama mereka ke ekstrem. Mereka sering menggunakan agama bukan sebagai suatu cara untuk mengatasi dunia tetapi sebagai cara untuk memperkaya pengalaman mereka di dunia ini. Misalnya, mereka mungkin berusaha untuk mendapatkan posisi dalam gerakan keagamaan karena meningkatkan status mereka di antara manusia. Jiwa-jiwa belum memiliki pengalaman yang cukup untuk mencapai keseimbangan yang cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Sayangnya, mengingat kondisi saat ini di planet ini, itu adalah umum bahwa jiwa muda, mereka tidak bersalah, akan terluka atau dimanfaatkan oleh baik material maupun non-material pasukan. Hal ini sering dapat menyebabkan jiwa seperti kehilangan kepolosan mereka dan geser ke arah kekecewaan atau kemarahan. Jika jiwa tersebut dimanfaatkan oleh agama terorganisir, mereka mungkin merasa tidak mungkin untuk membedakan antara Tuhan dan agama luar dan dengan demikian menjadi marah pada Tuhan.

Tahap 6.
Jiwa yang berusaha untuk memahami Tuhan
Jiwa-jiwa ini telah sadar menyadari bahwa ada lebih hidup dari dunia materi. Mereka tahu ada yang lebih memahami tentang kehidupan daripada apa yang mereka diajarkan di sekolah dan Sekolah Minggu, dan mereka telah membuat keputusan untuk mulai mencarinya. Jiwa-jiwa ini juga telah sembuh setidaknya beberapa luka terdalam mereka sehingga mereka memiliki perhatian yang tersisa untuk fokus pada mempelajari sisi spiritual dari kehidupan.

Untuk mencapai pertumbuhan maksimal, jiwa-jiwa perlu memfokuskan sebagian besar perhatian mereka pada mempelajari ajaran spiritual, berlatih teknik spiritual dan mencari berbagai untuk menginternalisasi kebenaran rohani dan prinsip-prinsip.
Jiwa-jiwa ini adalah “alasan untuk menjadi” dari setiap gerakan spiritual yang sejati. Ini adalah pencarian mereka untuk pemahaman yang memberikan HIDUP harapan besar untuk masa depan planet bumi.

Tahap 7.
Jiwa yang berusaha untuk membantu orang lain memahami Tuhan
Setelah jiwa telah menghabiskan waktu yang cukup mempelajari ajaran spiritual dan berlatih teknik untuk pertumbuhan spiritual, jiwa yang telah diinternalisasi sejumlah kritis pengetahuan spiritual. Langkah logis berikutnya adalah bahwa jiwa mulai memberikan pengetahuan yang oleh orang lain mengajar.

Seseorang dapat menjadi seorang mahasiswa hanya begitu lama. Ketika seseorang telah mencapai tingkat tertentu, jiwa tidak bisa belajar lagi sampai jiwa mulai mengajarkan apa yang telah terinternalisasi. Hanya dengan mengajar orang lain dapat jiwa naik ke tingkat berikutnya belajar karena melalui pemberian bahwa Anda benar-benar menerima dan itu adalah melalui mengajarkan bahwa Anda benar-benar belajar.

Jiwa-jiwa ini merupakan tulang punggung dari setiap gerakan spiritual yang sejati. Tanpa jiwa bertindak sebagai Kadhang saya di Bumi, HIDUP akan memiliki sedikit harapan untuk mencapai jiwa-jiwa lain dengan pesan spiritual.

Tahap 8.
Jiwa yang mencari penyatuan dengan Tuhan
Sebagai jiwa memanjat jalan spiritual, secara bertahap menjadi kurang melekat pada manifestasi luar, seperti agama tertentu atau pengajaran spiritual. Ini mulai melihat bahwa ada sebuah realitas transenden di balik ekspresi berbagai ajaran spiritual. Ini mulai melihat jalan yang universal di balik semua agama luar, organisasi, ajaran dan guru.

Selama dua tahap sebelumnya, jiwa mungkin mengikuti satu agama atau filsafat tertentu dan menggunakannya sebagai batu loncatan untuk pertumbuhan. Hal ini cukup dapat diterima, asalkan jiwa tidak menjadi terjebak dalam berpikir bahwa agama tertentu adalah satu-satunya agama yang benar atau jalan hanya berlaku kepada Allah pemahaman. Jika jiwa tidak menjadi terikat, ia akan tetap terjebak pada tahap tertentu pertumbuhan rohani sampai mulai mengakui jalan universal.

Ketika jiwa tidak mulai melihat jalan universal, naik ke tingkat menjadi mistik. Sekarang menyadari bahwa tujuan akhir dari jalan spiritual tidak mengerti Tuhan tetapi untuk mengenal Tuhan, untuk mengalami Allah dan untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan. Ini adalah apa yang saya contohkan dalam hidup saya, dan itu tercermin paling jelas dalam pernyataan saya, “AKU dan ROMO adalah satu.”

Beberapa mistikus mungkin memang menarik diri dari kegiatan duniawi dan memfokuskan seluruh perhatian mereka pada mencapai penyatuan mistis dengan Tuhan. Namun, di zaman sekarang ini, banyak orang memiliki kesempatan untuk memilih untuk tetap aktif di dunia, dan ini memang sangat diperlukan. Jiwa tersebut kemudian dapat menunjukkan jalan yang universal dengan contoh, dan beberapa dari mereka dapat mengajarkan jalan ini terbuka.

Tahap 9.
Jiwa yang telah mencapai penyatuan dengan Tuhan
Sebagai jiwa meningkat di jalan dan mulai mengajarkan kebenaran rohani, mereka secara bertahap akan mulai menginternalisasi kebenaran lebih dan lebih dan lebih banyak cahaya dan lebih. Mereka kemudian akan berangsur-angsur menjadi apa yang sebut Masters dalam perwujudan.

Ini adalah jiwa-jiwa yang telah memahami beberapa misteri yang lebih dalam, khususnya perbedaan antara “melakukan” dan A. akan ingat pernyataan saya bahwa, “Saya diri sendiri dapat melakukan apa-apa” menjadi. “, Itu adalah ROMO di dalam diri saya yang melakukan pekerjaan. “Ketika jiwa mencapai penguasaan, tidak lagi berusaha untuk berbuat apapun di dunia ini. Ini hanya MENJADI siapa dan karena itu memungkinkan diri spiritual, dan kemungkinan makhluk spiritual, untuk bertindak melalui itu.

Jiwa telah menjadi pintu terbuka bahwa manusia tidak dapat ditutup. Jiwa bisa berfungsi untuk membawa kebenaran rohani keempat langsung dari alam yang lebih tinggi, sehingga memberikan Firman Hidup dalam bentuk yang tertinggi. Atau jiwa seperti itu mungkin berfungsi dalam kapasitas lain untuk lebih dan menunjukkan penyebab HIDUP. Jiwa-jiwa benar-benar dapat menjadi tangan dan kaki di Bumi.

Namun, tidak ada standar yang tepat untuk bagaimana jiwa dengan spiritual penguasaan harus bertindak, atau lebih tepatnya B. Beberapa jiwa mungkin menjadi guru dunia. Beberapa mungkin hidup yang tampaknya biasa dan hampir tidak dapat dibedakan dari rata-rata orang. Beberapa mungkin memiliki cacat parah atau penyakit. Beberapa mungkin duduk di sebuah gua di pegunungan Himalaya, atau di tempat lain, dan bermeditasi siang dan malam untuk menahan keseimbangan spiritual bagi Bumi. Lainnya bahkan mungkin menunjukkan perilaku yang tidak terkait dengan penguasaan spiritual.

Jangan menyalahgunakan ajaran ini;
Mari saya mengeluarkan kata peringatan. Ada bahaya yang melekat dalam memberikan segala jenis pengajaran yang memungkinkan orang untuk membandingkan diri dengan orang lain. Banyak orang masih terjebak dalam semangat persaingan yang sia-sia, dan mereka akan menggunakan tahapan perkembangan spiritual saya menilai diri sendiri dan kemajuan mereka dibandingkan dengan orang lain. Mereka kemudian akan berusaha untuk mengatur diri atas alas dan menilai diri mereka sebagai baik atau lebih penting daripada yang lain karena mereka telah mencapai tingkat tertentu pembangunan.

Biarkan saya membuatnya jelas bahwa selama orang yang tertangkap dalam keadaan kesadaran, mereka belum mencapai tingkat tinggi pembangunan spiritual karena ketika Anda mencapai tingkat tersebut tidak ada pertimbangan nilai dan tidak ada rasa persaingan.

Aku memberikan ajaran ini karena sangat berharga dan penting bagi jiwa untuk mewujudkan tingkat saat ini perkembangan spiritual dan dengan demikian mengambil tindakan yang tepat untuk segera naik ke tingkat yang lebih tinggi. Hal ini terutama penting bagi jiwa-jiwa pada tahap yang lebih rendah dari perkembangan spiritual untuk menyadari bahwa ada jalan yang mengarah mereka pulang kepada Allah. Hal ini penting bagi jiwa-jiwa tersebut untuk menemukan jalan itu dan untuk mengunci diri mereka tegas pada jalan itu.

Demikian juga, adalah penting bagi jiwa-jiwa pada tahap yang lebih tinggi untuk menemukan jalan, universal batin kepada Allah. Jiwa tersebut perlu melampaui lampiran mereka ke luar agama tertentu dan dengan demikian mewujudkan tujuan mewujudkan potensi penuh mereka sebagai putra dan putri Allah.

Saya juga katakan bahwa tahap I telah diuraikan di sini tidak dimaksudkan untuk dilihat sebagai satu-satunya cara yang mungkin untuk mengkategorikan perkembangan spiritual. Satu dapat mengambil kriteria yang berbeda dan datang dengan tahap lainnya. Satu juga dapat membagi tahap I telah diuraikan dan mendapatkan gambaran yang lebih rinci. Memang beberapa tahap tumpang tindih, dan jiwa mungkin bekerja pada dua atau tiga tahap secara bersamaan. Dalam ajaran mendatang, saya akan memperluas tahap I telah diuraikan di sini. Namun saya ingin memberikan gambaran yang tidak terlalu rumit dan dengan demikian menyebabkan orang untuk fokus pada detail dan kehilangan pandangan keseluruhan.

Ketika Anda melakukan langkah mundur dan melihat gambaran besar, Anda akan melihat bahwa common denominator untuk setiap tahap saya jelaskan di atas adalah bahwa mereka semua mewakili cara yang berbeda untuk jiwa untuk berhubungan dengan Tuhan. Pentingnya kesadaran ini adalah bahwa tidak peduli di mana jiwa adalah pengembangan spiritual, jiwa yang selalu menghadapi tantangan bekerja di luar hubungannya dengan Allah.

Seperti yang saya jelaskan di seluruh situs Postingan2 saya, setiap jiwa benar-benar adalah putra atau putri ROMO, suatu individualisasi Allah. Jiwa dimaksudkan untuk datang ke kesadaran penuh dan penerimaan potensi ilahi dan dengan demikian bertindak sebagai co-creator dengan Tuhan di alam semesta material. Oleh karena itu, tugas yang paling penting bagi setiap jiwa adalah untuk menyelesaikan segala ketidaksempurnaan dalam konsepsi nya atau hubungan dengan Allah. Itu benar-benar apa kehidupan di alam semesta material adalah semua tentang.

Oleh karena itu, tujuan hidup adalah untuk mengatasi dan menyembuhkan segala ketidaksempurnaan dalam sikap jiwa terhadap Allah. Ketidaksempurnaan tersebut berdiri di jalan serikat jiwa dengan Tuhan dan penerimaan dari potensinya untuk menjadi co-creator dengan Tuhan.

Mengapa jiwa turun ke Bumi;
Saya akan menggunakan tahap-tahap perkembangan spiritual untuk ajaran mendatang. Namun, saya ingin untuk saat ini untuk memberikan pengajaran singkat tentang berbagai kategori jiwa yang telah turun ke planet Bumi. Ketika Bumi pertama kali diciptakan, itu menyatakan kemurnian dan kesempurnaan dari tujuh Elohim, tujuh makhluk spiritual, yang menciptakan planet ini. Pada awalnya, sebagian besar dari jiwa-jiwa yang turun ke planet bumi masuk ke dalam kategori jiwa muda.

Jiwa-jiwa yang memang bersalah dan tidak memiliki negatif terhadap Allah. Namun beberapa dari mereka memang memiliki keinginan yang besar untuk hal-hal yang dapat dialami di alam semesta materi, dan karena itu mereka memusatkan sebagian besar perhatian mereka pada menikmati dunia ini. Mereka sedikit pemikiran tersisa untuk sisi spiritual dari kehidupan. Jiwa-jiwa lain yang lebih cenderung rohani namun belum tegas berlabuh diri pada jalan spiritual dan tidak mencapai kesadaran permanen identitas rohani mereka dan potensi.

Seiring dengan jiwa muda adalah sekelompok jiwa-jiwa yang telah mencapai tingkat penguasaan. Jiwa-jiwa menjabat sebagai guru spiritual bagi jiwa muda.

Untuk waktu yang sangat lama, jiwa-jiwa muda terus turun ke Bumi planet tanpa menjadi terjebak dalam kesadaran alam semesta material. Banyak dari jiwa memang naik kembali kepada Allah setelah hanya satu seumur hidup, walaupun seumur hidup yang jauh lebih lama dari rentang saat ini hidup normal.

Di beberapa titik pergeseran mulai terjadi di planet ini. Sejumlah jiwa mulai menjadi melekat atau terperangkap dalam kesadaran alam semesta materi, dan mereka mulai turun semakin jauh ke dalam keadaan kesadaran. Orang mungkin mengatakan bahwa jiwa-jiwa mulai berjalan jalan/melayang-layang  yang membawa mereka jauh dari Allah, menyebabkan mereka kehilangan kesadaran bahwa mereka adalah makhluk spiritual.

Sebagai kesadaran manusia secara bertahap diturunkan, akhirnya mencapai tingkat kritis. Pada tingkat kritis sekarang menjadi mungkin bagi jiwa pemberontak tertentu untuk memulai mewujudkan di Bumi. Ini adalah jiwa-jiwa yang telah memberontak terhadap Allah dalam dunia spiritual atau pada sistem lain dari dunia. Jiwa-jiwa ini memang jiwa-jiwa pemberontak, dan selama ribuan tahun sejumlah dari mereka telah terus mewujudkan di planet ini. Mereka telah berusaha untuk menarik jiwa sebanyak mungkin ke tingkat kesadaran dan menerima, membenarkan, pemberontakan mereka melawan Allah.

Jiwa-jiwa ini sangat agresif dan sangat ambisius dalam mencoba untuk membuktikan bahwa mereka dapat menciptakan sebuah dunia di mana Tuhan tidak ada. Mereka telah benar-benar mempengaruhi setiap aspek kehidupan di planet ini, termasuk bidang agama.

Pengaruh jiwa-jiwa pemberontak telah menciptakan suatu kondisi berbahaya di planet ini. Masih ada jiwa-jiwa muda yang turun ke bumi ini untuk pertama kalinya, namun ada risiko besar bahwa jiwa tersebut akan terluka oleh kondisi yang ditemukan di planet ini. Hal ini dapat menyebabkan jiwa untuk secara bertahap geser ke tahap menjadi jiwa yang terluka. Hal ini kemudian dapat meluncur lebih jauh ke bawah dan berusaha untuk menyembunyikan diri dari Allah, baik dari kemarahan atau ketakutan. Hal ini bahkan mungkin bahwa jiwa dapat turun ke tahap sengaja memberontak terhadap kehendak Tuhan dan hukum Allah.

Setelah musim gugur, sejumlah jiwa telah diwujudkan di planet ini yang berada pada tahap yang lebih tinggi dari perkembangan spiritual, dari menjadi guru untuk menjadi Master. Jiwa-jiwa ini telah turun pada misi penyelamatan dalam upaya untuk membantu jiwa-jiwa yang telah jatuh menemukan jalan spiritual yang benar, jangkar diri pada jalan itu dan berjalan jalan sampai mereka telah kembali identitas rohani mereka dan dapat memulai tingkat yang lebih tinggi dari jalan yang mengarah pada penyatuan mistis dengan Tuhan.

Beberapa jiwa memang menjadi terluka oleh kondisi di planet ini dan telah turun ke tahap yang lebih rendah kesadaran. Beberapa dari mereka bahkan telah menjadi memberontak melawan Allah karena mereka tidak bisa mempertahankan koneksi ke diri mereka lebih tinggi.

Tujuan saya memberikan ajaran ini adalah untuk menunjukkan bahwa bumi saat ini menyajikan gambaran yang sangat kompleks dan tantangan yang sangat kompleks bagi seorang guru spiritual. Ini hanya tidak mungkin untuk memberikan satu ajaran spiritual atau satu agama yang akan menarik bagi orang pada setiap tahap perkembangan spiritual. Itulah sebabnya perlu ada lebih dari satu agama, memang lebih dari satu agama yang benar, agar HIDUP untuk menjangkau orang sebanyak mungkin.

Di mana kau menuju?
Saya juga ingin menyebutkan bahwa ada pembagian yang jelas dalam tahap. Bagian tengah skala adalah jiwa-jiwa yang muda dan yang hanya bereksperimen dengan kehidupan di planet ini. Jiwa A tidak dimaksudkan untuk mempertahankan tahap ini netral untuk waktu yang lama. Mengingat kondisi saat ini di planet ini, jiwa paling cepat akan dipaksa untuk pergi di salah satu dari dua arah.

Satu arah tersebut adalah jiwa-jiwa yang telah terperangkap oleh keraguan atau telah terluka dalam berbagai cara. Jiwa-jiwa sekarang mulai bergerak menjauh dari Allah. Arah lain diwakili oleh jiwa-jiwa yang telah menyadari bahwa ada lebih hidup dari dunia material. Jiwa-jiwa ini telah menemukan jalan dan bergerak menuju penyatuan dengan Tuhan.

Jadi dua divisi dasar yang Anda miliki di planet bumi adalah jiwa-jiwa yang bergerak menjauh dari Tuhan dan jiwa-jiwa yang bergerak menuju penyatuan dengan Tuhan. Saya sadar bahwa beberapa jiwa sudah bergerak menjauh dari Allah sebelum mereka turun dan beberapa sudah bergerak menuju Allah sebelum mereka datang ke perwujudan. Namun demikian, pertimbangan penting di sini adalah apakah jiwa bergerak menjauh dari Allah bergerak menuju Allah.

Jiwa yang bergerak menjauh dari Tuhan menghadapi situasi berbahaya. Meskipun ada batas akhir untuk seberapa jauh jiwa dapat menjauh dari Tuhan, memang ada jarak yang sangat besar bahwa jiwa dapat turun. Masalahnya adalah bahwa segala sesuatu di alam semesta materi ditandai dengan keterbatasan. Ini berarti bahwa jiwa tidak memiliki jumlah tak terbatas waktu untuk membuatnya kembali kepada Tuhan. Jika jiwa terus bergerak menjauh dari Allah sampai waktunya habis, itu akan menghadapi penghakiman terakhir, Jika tidak menanggapi secara positif, maka dapat dihapus dalam ritual kematian yang kedua. Jadi memang mungkin bahwa jiwa bisa hilang.

Untuk menghindari skenario ini, jiwa harus datang ke sebuah titik balik. Jiwa harfiah harus memutuskan bahwa ia akan berhenti berjalan menjauh dari Tuhan dan mulai jalan yang mengarah kembali kepada Tuhan. Itu harus datang ke realisasi bahwa, “Aku tidak bisa melakukan ini lagi!” Apa yang harus dilakukan bagi jiwa untuk berbalik? Itu tergantung pada panggung jiwa pembangunan.

Hal ini sangat sulit bagi jiwa yang memberontak untuk berbalik. Jiwa tersebut sering terjebak dalam kesombongan rohani, dan beberapa dari mereka lebih suka mati daripada mengakui bahwa mereka salah. Namun, beberapa jiwa akhirnya bisa datang ke realisasi bahwa upaya mereka untuk menciptakan dunia tanpa Allah adalah sia-sia. Hal ini terutama dapat terjadi ketika mereka dihadapkan dengan seseorang yang telah mencapai Kesejatian Suci, dan karenanya menolak untuk diubah oleh apa pun di dunia ini. Hal ini memang terjadi pada beberapa jiwa yang melihat saya saat saya perwujudan 11 tahun yang lalu. Mereka menyadari bahwa meskipun mereka bisa membunuh tubuh fisik saya, mereka tidak bisa mengubah roh saya, dan ini menyebabkan mereka untuk menyadari bahwa Allah pada akhirnya akan menang terlepas dari penampilan dari dunia ini.

Sebuah jiwa yang berusaha untuk menyembunyikan diri dari Allah karena takut atau marah menemukan itu sedikit lebih mudah untuk berbalik karena tidak harus membuktikan bahwa hal itu benar. Hal ini dimungkinkan bagi jiwa tersebut untuk datang ke realisasi bahwa mereka memiliki gambar yang tidak benar atau tidak lengkap dari Tuhan. Oleh karena itu, gambar ini yang menyebabkan mereka terluka, menjadi marah atau takut akan Tuhan.

Jiwa yang acuh tak acuh terhadap Allah bisa sangat sulit untuk meraih seorang guru spiritual. Namun, jiwa-jiwa ini telah mendaftarkan diri di sekolah mengetuk keras dan dalam banyak kasus mereka dapat berbalik dengan krisis luar yang parah. Orang-orang akan menunda pengakuan dari sisi spiritual kehidupan sampai beberapa krisis luar memaksa mereka untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari hidup mereka.

Jiwa yang berkonflik tentang Tuhan atau telah sangat terluka dapat berbalik ketika mereka menyadari, bahwa Tuhan tidak menyakiti mereka dan Tuhan tidak menciptakan doktrin yang memberi mereka konflik tentang Allah. Ketika jiwa-jiwa yang benar-benar menyadari apa yang terjadi di planet ini sebagai akibat dari penyalahgunaan kehendak bebas, mereka sering dapat pergi melalui perubahan seketika di mana mereka menyadari bahwa Tuhan tidak pernah menyakiti mereka. Sebaliknya, mereka telah disakiti oleh pasukan dan orang-orang yang melawan Allah atau yang marah pada Tuhan. Oleh karena itu, jiwa seperti itu sering akan menyadari bahwa mereka tidak memiliki keinginan untuk melarikan diri dari Allah, dan hal ini akan memungkinkan mereka untuk terlibat dalam jalur yang mengarah ke penyembuhan mereka.

Setelah jiwa telah menemukan jalan spiritual dan berlabuh dirinya di jalan, jiwa telah berbalik. Namun, ini tidak berarti bahwa jiwa adalah rumah gratis. Titik penting bagi jiwa yang bergerak menuju Tuhan adalah bahwa ia menyadari kebutuhan mutlak untuk tetap bergerak, untuk terus melampaui pemahamannya tentang Allah. Hal ini mutlak penting bahwa jiwa tidak menjadi melekat pada ekspresi luar tertentu kebenaran rohani karena seperti lampiran akan menyebabkan pertumbuhan jiwa untuk datang ke berhenti.

Jika jiwa tidak melihat kebutuhan untuk konstan transendensi-diri, hal itu dapat menjadi terjebak pada tingkat tertentu jalan. Jika tetap terjebak untuk waktu yang lama, itu pasti akan mulai meluncur mundur. Memang ada banyak jiwa di planet bumi saat ini yang telah menemukan jalan spiritual dan yang berjalan jalan. Namun mereka belum datang ke realisasi penuh bahwa jalan sedang berlangsung. Jiwa-jiwa ini belum menemukan jalan, batin universal, dan karena itu mereka belum menjadi mistikus. Hal ini sangat penting bagi jiwa-jiwa untuk mengenali sifat berkelanjutan jalan dan tujuan akhir dari persatuan dengan Allah.

Semoga Bermanfa’at dan Berkah...
Salam Rahayu kanti Teguh Slamet...

Ttd: Wong Edan Bagu

Rabu, 30 Juli 2014

Setiap Diri Manusia adalah Tuhan bagi Dirinya Sendiri:

Oleh: Wong Edan Bagu

Syehk Lemah Bang namaku, Rasulullah ya aku sendiri, Muhammad ya aku sendiri, Asma Allah itu sesungguhya diriku, ya akulah yang menjadi Allah ta’ala.

Setiap diri manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri, sekilas kata itu mirip Firaun yang mengatakan ” Aku tidak percaya Tuhan Musa, Aku lebih percaya pada Tuhan saya sendiri “. Nah, adakah kesalahan harfiah dalam statement saya dan Firaun tersebut ?

Tentu, statement itu bukanlah kajian secara harfiah/ kulit belaka, statement itu lebih mengacu kepada kajian diri. Kajian diri adalah kita selalu mengkaji/ membaca ke diri kita sendiri sebelum menengok ke luar. Masalah ketuhanan adalah masalah ‘personal’ masalah yang very very personality.

Sekarang kita balik bertanya kepada diri kita, “Apakah Allah SWT nya Nabi Muhammad sama dengan Allah SWT nya kita ? kalau mengacu kepada kajian harfiah, maka akan tampak sama, letak kesamaannya di nama Allah SWT itu sendiri. Tetapi kalau kita kaji ke dalam diri, akan tampak beda bagai jarak bumi dan langit. Allah nya Muhammad itu NYATA, berkata-kata, membimbing, melindungi secara langsung tanpa batas sehelai benang sekalipun, Nah, bagaimana dengan kita, apakah Allah SWT itu berkata-kata/ membimbing secara langsung ?

Sehingga secara tak sadar tapi sadar kita menyembah Allah yang bisu/tuli, apakah tidak sama dengan kita menyembah patung ?
Apakah kita harus pasrah begitu saja menerima doktrin/ dogma bahwa hanya Rasul yang bisa menerima bimbingan secara langsung ?
Apakah kita harus menyerahkan nasib jiwa kita setelah mati nanti kepada dalil/ dogma/ doktrin yang cenderung melemahkan/ merendahkan kemampuan diri kita ?
Apakah kita harus menelan mentah-mentah ajaran-ajaran agama yang keras dan cenderung membungkam akal sehat kita ?
Apakah kita dengan sikap pasrah. menyerah, berkeyakinan terhadap suatu ajaran agama, maka jiwa kita akan yakin 100 % terselamatkan ?

Dengan kata lain manusia sekarang kebanyakan BERJUDI dengan iman, amal dan ilmu nya yang diyakininya sendiri. Berjudi dengan menggantungkan keyakinan kepada orang lain... Wow... He he he . . . Edan Tenan.

Setiap diri manusia itu punya modal dasar sama yaitu yang disebut akal dan hati nurani, bila akal atau otak tidak dimerdekakan maka hatinuraninya akan ‘ mati’. Otak itu ibarat mesin katrol untuk mengerek hati nurani supaya hidup, setelah hidup maka sang hati nurani akan menghidupkan diri kita yang selama ini mati. Hati nurani yang hidup menghidupkan itu adalah cikal bakal Dzat Tuhan untuk tumbuh menguatkan diri kita. Hati nurani akan berevolusi tergantung motor penggerak nya yaitu otak, semakin berpikir cerdas maka hati nuraninya semakin kuat dan berkualitas. Hati nurani dalam kondisi puncak sering disebut sebagai Tuhan, Allah dll. Jadi Tuhan itu tak lain adalah DIRI KITA YANG TINGGI yang sering disimbolkan/ disebut dengan AKU. Sehingga tidak salah ada orang yang mengatakan, spiritual yang modern dan canggih itu adalah memakai  OTAK. Yang di praktekan dengan Rasa, bukan perasa’an.

Kembali ke judul ” Setiap diri manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri ” maka adalah suatu pendakian spiritual ke dalam dirinya sendiri sampai dirinya ada dalam kesadaran penuh yang tinggi, sampai secara real dan nyata dirinya adalah RASULULAH (Rasa Nya Allah) atau gambaran Allah atau perwujudan Allah. Allah itu adalah AKU, diri pribadi ku yang tinggi. Kalau sudah ke maqam/ tingkatan ini maka tak akan ada lagi penolakan terhadap perbedaan, tak kan ada lagi pengkotak-kotakan iman yang diberi label agama, tak kan ada lagi perjudian ilmu, iman dan amal setelah kematian, tak ada lagi kegelisahan/ ketakutan terhadap permasalahan duniawi, tak kan ada lagi simbol-simbol agama yang akan menjeratnya, tak kan ada lagi fatwa-fatwa luar yang mampu menembus dirinya, yang ada dirinya adalah KEBEBASAN. Bebas, lepas dan merdeka menyelami kehidupan di dunia ini karena keyakinan yang sudah terbangun kokoh dalam dirinya, dengan kata lain dirinya sudah hidup manunggal dengan Tuhan. Kalau sudah manunggal/ bersatu apakah mungkin harus menengok ke luar dirinya lagi ?
( Wong Edan Bagu. Kudus Rabu tgl 30/07/2014)

Tuhan adalah Pribadi ku, Pribadi yang nyata
Nyata dalam tubuh ku
Bebaskan otak dan hati mu !
Agar diri mu mempunyai Pribadi yang Kuat
sebagai bekal untuk berjalan di rel Kebenaran Hidup.
Sesuai FirmanTuhanmu Dan Sabda Rasulmu

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu. Semoga Bermanfa’at.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

SHALAT DAIM:

Memahami Shalat Daim;
Oleh: Wong Edan Bagu

APA ITU SHALAT DAIM??
Sebelum kita mempelajari Shalat Daim, ada baiknya kita memahami dulu, apa sebenarnya arti dari kata Shalat itu. Arti daripada shalat adalah mengingat-ingat GUSTI ALLAH (Dzikrullah) di waktu duduk, berdiri dan melakukan aktivitas dalam kehidupan ini. Sedangkan kata Daim itu memiliki arti terus-menerus ataupun tak pernah putus.

Jadi, jika kedua kata itu digabungkan maka Shalat Daim itu berarti mengingat-ingat GUSTI ALLAH tanpa pernah putus. Atau Dzikrullah secara terus menerus. Salah satu contoh dari Shalat Daim dapat kita tauladani dari sejarah saat Sunan Bonang menggembleng Raden Mas Syahid sebelum bergelar Sunan Kalijaga.

Saat itu Sunan Bonang sudah mengajarkan apa yang dinamakan Shalat Daim pada Raden Mas Syahid. Bagaimana Shalat Daim itu?
Pertama kali Sunan Bonang menyuruh Raden Mas Syahid untuk duduk, diam dan berusaha untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri.

Menurut ajaran dari Sunan Bonang, Shalat Daim itu hanya duduk, diam, hening, pasrah pada kehendak GUSTI ALLAH. Raden Mas Syahid tidak disuruh untuk dzikir ataupun melakukan ritual apapun. Apa rahasia dibalik duduk diam tersebut?
Cobalah Anda duduk dan berdiam diri. Maka hawa nafsu Anda akan berbicara sendiri. Ia akan melaporkan hal-hal yang bersifat duniawi pada diri Anda. Hal itu semata-mata terjadi karena hawa nafsu kita mengajak kita untuk terus terikat dengan segala hal yang berbau dunia.

Awalnya, orang diam pikirannya kemana-mana. Namun setelah sekian waktu diam di tempat, akal dan keinginannya akhirnya melemas dan benar-benar tidak memiliki daya untuk berpikir, energi keinginan duniawinya lepas dan lenyap. Dalam kondisi demikian, manusia akan berada dalam kondisi nol atau suwung total. Karena ego dan hawa nafsu sudah terkalahkan.

Demikian juga dengan kondisi Raden Mas Syahid ketika bertapa di pinggir kali. Ia hanya pasrah dan tidak melakukan ritual apapun. Hanya diam dan hening. Hingga akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan GURU SEJATINYA.

“BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA, KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH, LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH….”

Lewat Suluk Wujil, Sunan Bonang sudah menjelaskan perihal Shalat Daim yaitu ;
UTAMANING SARIRA PUNIKI,
ANGRAWUHANA JATINING SALAT,
SEMBAH LAWAN PUJINE,
JATINING SALAT IKU,
DUDU NGISA TUWIN MAGERIB,
SEMBAH ARANEKA,
WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT,
PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAT DAIM, INGARAN TATA KRAMA.

(Keutamaan diri ini adalah mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).

Shalat sejati tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan sholat lima waktu. Shalat sejati adalah SHALAT DAIM, yaitu bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA ALLAH. Hu saat menarik nafas dan Allah saat mengeluarkan nafas.

Lebih lanjut Sunan Bonang juga menjelaskan tentang cara melakukan Shalat Daim lewat Suluk Wujil, yaitu;

PANGABEKTINE INGKANG UTAMI,
NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA,
PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU,
SASOLAHE RAGANIREKI,
TAN SIMPANG DADI SEMBAH,
TEKENG WULUNIPUN,
TINJA TURAS DADI SEMBAH,
IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN.

(Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir).

Orang yang telah mengenal Tuhannya akan mampu sholat terus menerus dalam keadaan berdiri, duduk, bahkan tidur nyenyak. Intinya adalah segala perbuatannya adalah sholat. Inilah yang disebut “sholat daim”. Aladzina hum ‘ala sholaatihim daa’imuun. Yaitu mereka yang terus menerus melakukan sholat (Q.S Al-Ma’aarij : 70:23)

Mereka yang mampu sholat daim adalah mereka yang tidak akan berkeluh kesah dalam hidupnya dan senantiasa mendapat kebaikan sebagaimana disampaikan Q.S 70 : 19-22. Nah, sholat daim ini modelnya seperti apa?
Ah.. tentu saja tidak bisa dibeberkan disini karena sholat daim adalah “oleh-oleh” dari hasil pencarian spiritual manusia. Tidak bisa diceritakan ke semua orang kecuali mereka yang telah memiliki kematangan spiritual.

Sholat daim adalah sholatnya orang ‘arif yang telah mengenal Allah. Ini adalah sholatnya para Nabi, Rasul, dan orang-orang ‘arif. Ilmu ini memang tidak banyak diketahui orang awam. Lantas bagaimana dengan sholat lima waktu?
Nah sholat lima waktu sebenarnya adalah jumlah minimal saja yang harus dikerjakan manusia untuk mengingat Allah. Pada hakekatnya kita malah harus terus menerus untuk mengingat Allah sebagaimana firman-Nya :

Dan ingatlah kepada Allah diwaktu petang dan pagi (Q.S Ar-Ruum (30) : 17)
Dan sebutlah nama Tuhanmu pada pagi dan petang. (Q.S Al-Insaan (76) : 25)

Ayat diatas bukan berarti mengingat Allah hanya dua kali saja yaitu waktu pagi dan petang sebab makna ayat diatas justru sehari-semalam! Yakni pagi dimulai dari jam 12 AM-12 PM, sampai dengan petang jam 12 PM-12 AM, begitu seterusnya. Nah, karena tidak semua orang sanggup untuk mengingat Allah dalam sehari-semalam maka sholat lima waktu itu adalah merupakan event khusus untuk mengingat-Nya. Jika orang awam tidak ada perintah sholat lima waktu maka tentu saja Allah akan mudah terlupakan. Kalau Allah terlupakan maka bumi ini bisa rusak oleh berbagai kejahatan yang dilakukan manusia. Orang awam perlu dilatih disiplin melalui sholat lima waktu ini untuk mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, kontrol diri akan lebih kuat.

Namun demikian, janganlah merasa cukup puas hanya dengan sholat lima waktu. Tingkatkanlah agar kita mampu melakukan sholat daim. Mari kita simak kembali ungkapan Sunan Bonang yang tertulis dalam Suluk Wujil :

Utaming sarira puniki
Angawruhana jatining salat
Sembah lawan pujine
Jatining salat iku
Dudu ngisa tuwin magerib
Sembahyang araneka
Wenange puniku
Lamun aranana salat
Pan minangka kekembaning salat daim
Ingaran tata karma

Artinya : “Unggulnya diri itu mengetahui hakekat sholat, sembah dan pujian. Sholat yang sebenarnya bukan mengerjakan isya atau magrib. Itu namanya sembahyang, apabila disebut sholat maka itu hanya hiasan dari sholat daim. Hanyalah tata krama”

Dari ajaran Sunan Bonang diatas, maka kita bisa memahami bahwa sholat lima waktu adalah sholat hiasan dari sholat daim. Sholat lima waktu ganjarannya adalah masuk surga dan terhindar neraka. Tentu yang mendapat surga pun adalah mereka yang mampu menegakan sholat yaitu dengan sholat tersebut, ia mampu mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar.

Sayangnya, saat ini banyak orang yang hanya meributkan sholat fisiknya saja dan melupakan hakekat sholat itu sendiri. Seringkali jika terdapat perbedaan pada gerakan ataupun bacaan sholat, mereka saling ribut mengatakan sholatnya paling benar dengan menyebut sejumlah Hadist yang diyakininya benar.

PAWELING;
PIYANDEL lan PAMAIBEN punika angalang-ngalangi pangertos tumrap dhateng ingkang nyata,
PIYANDEL lan PANGGAYUH punika akibating raos kuwatos; dene KUWATOS punika ngerem BABLASING PIKIRAN, lajeng trimah ngajeng-ajeng lan ngganta-ngganta.
(ANA APA-APA KUNCI. LANGKA APA-APA KUNCI. KUWI HAKIKAT SEJATINING SHALAT DAIM)
( Wong Edan Bagu. Kudus minggu tgl 27/07/2014)

Untuk bisa merasakan makna Hu...Allah, syariat harus baik dan tertib, dan dijalankan sesuai dengan apa yang tertuang dalam wahyu Illahi..melalui rasul-rasulNYA...

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh selamat Selalu.
Ttd: Wong Edan Bagu

Putra Rama Tanah Pasundan

DASAR DAN INTI PIWULANG JAWA:

7. Sifat Kang Murbeng Dumadi;
4. Piwulang dasar penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya;
5. Piwulang inti penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya;
Oleh: Wong Edan Bagu
 
Gusti Kang Murbeng Dumadi Masyarkat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama masuk ke tanah Jawa dan sampai ke tradisi saat ini yang dikenal dengan Kejawen yang merupakan “Tatanan Paugeraning Urip” atauTatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur. Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatuyang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari-hari dan aturan positip agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab. Tiga hal yang mendasari Masyarakat Jawa mengenai Konsep Ketuhanan yaitu :

1. Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.

2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Teposeliro” artinya bila kita merasa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.

3. Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain “Ojo Seneng Mekso” seperti apa bila kita memiliki suatu pakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain. Mengenai Sang Murbeng Dumadi, Kaki Semar mengatakan “Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan, jaman,bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi” atau dengan katalain “ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali. oelh semua agama dan kepercayaan. Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain.

Yang membedakanya hanya cara menyembaah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman Kaki Semar memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada Khaliknya yaitu Manusia harus mengehathui Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi.

Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi;
1. Tuhan Itu Satu , Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi”

2. Tuhan itu bisa mewujud apa saja , tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan.”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.

3. Tuhan Itu ada dimana-mana.”Dadi Ojo Salah Panopo, Mulo nang ngendi papan ugaono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga “Nang awakmugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa danraga. Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.”Ananging ojo sepisan pisan awakmu ngaku-aku Gusti”maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku DIA.

4. Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi.dari masal dahulu, sekarang, esok dan sampaiseterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.

5. Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhanitu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satupun kata hilaf dan lalai.

6. Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang. maksudnya Tuhan itu mahaadil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.

7. Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya, Dengan menyadari hal tersebut manusia di harapkan :

Empat Piwulang dasar penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya;
1. “Manungso urip ngunduh wohe pakertine dhewe dhewe” maksudnya manusia akan menerima apa yang dia tanam, bila baik yang di tanam, maka yang baiklah akan diaterima.

2. Manusia hidup pada saat ini adalah hasil / proses dari hidup sebelumnya.atau”manungso urip tumimbal soko biyen,nek percoyo marang tumimbal”ada petuah yang mengatakan “ Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihatlah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang”

3. “Manungso urip nggowo apese dhewe dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri,dengki,tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan mengntungkan kita.

4. Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal iso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi:” maka Manusia hiduplah“sak madyo” dan tak perlu “nggege mongso”.ada petuha mengatakan “ Hiduplah dengan usaha, tapi janganlah dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan diri kita juga”Maka dalam hal ini Kaki semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan”Eling lan Percoyo,Sumarah lan seumeleh lan mituhu”kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lima Piwulang inti penghayatan orang jawa Kepada Khaliknya;
1. Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bhawa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan makaAllah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

2. Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya .

3. Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin.I. Tatanan Paugeraning Urip.Petuah Kaki semar menenai Tatanan Paugeraning Urip bagi manusia dalam mengisi Kehidupanya di alam fana ini :

4. Eling Lan Bekti marang Gusti Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yangsadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa.dimanaAllah yang Esa telah membrikan kesepantan bagi manusia untuk hidup dan berkarya dialam yang Indah ini.

5. “Percoyo lan Bekti Marang Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing-masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan.
( Wong Edan Bagu. Kudus Rabu tgl 30/07/2014)

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh selamat Selalu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan