WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Rabu, 30 Juli 2014

Membuka Pintu/Mata Hati (Padmajaya)

Oleh: Wong Edan Bagu

Hati adalah :
- Kunci hubungan kepada Tuhan YME
- Pusat ketenangan
- Pusat kedamaian
- Pusat kebahagiaan sejati
- Pusat kesehatan fisik, mental dan emosional
- Pusat kemajuan spiritual
Pendekatan diri kepada Tuhan YME dengan membuka hati dan pasrah kepadaNya dalam hidup sehari-hari, spirit = diri sejati yang berada di dalam hati, spiritual = mengandalkan hati & berkah Tuhan YME. Dengan Hati yang terbuka kepada Tuhan YME maka :
- kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan YME
- Berdoa kepada Tuhan dari hati
- Melakukan perbuatan baik kepada sesama dengan kasih
- Mensyukuri berkah Tuhan lebih baik
- Lebih pasrah
- Jauh dari stress
- Ringan, tenang, damai dan bahagia
- Sehat secara mental, fisik dan emosional
- Mengenali kebenaran sejati

Hati itu apa ?
Hati adalah Pusat Rasa karena diri sejati kita yang ada, adalah dzat dari Sang Pencipta berada di dalam hati. Hati adalah Pusat hubungan kepada Tuhan YME, karena keberadaan diri sejati yang ada, adalah dzat Sang Pencipta didalam hati. Otak dan tubuh fisik hanyalah sesuatu yang bersifat sementara. Hati adalah Pusat penerimaan berkat Tuhan YME. Hati adalah Pusat ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan sejati yang berasal dari berkah Tuhan YME yang diterima oleh hati. Hati terletak pada rongga dada... di dalam rongga dada terdapat cakra jantung didalam cakra jantung terdapat hati didalam hati terdapat sir... di dalam sir terdapat Rasa.

Mengapa hati yang sedemikian penting tidak dipergunakan secara maksimal ??
Pendidikan yang kita dapati selama ini lebih mengarahkan kita kepada pendidikan untuk otak (seperti pelajaran matematika, fisika, ilmu bumi dll) Dalam hidup sehari-hari, hampir setiap saat kita mempergunakan otak dan jarang sekali mempergunakan hati (itupun kalau ada) Setiap kali kita mempunyai emosi negatif seperti marah, sedih, takut, kecewa dan sebagainya kita mengotori hati kita. Dengan semakin banyaknya kotoran yang menumpuk didalam hati, maka hati akan semakin tertutup. Setiap kali kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati, maka hati akan menjadi semakin lemah.

Mengapa Hati selalu mengenali kebenaran ??
Karena hati sangat Khusus. Hanya Tuhan YME dan kita sendiri yang dapat mengAKSES hati kita oleh karena itu :
a. hanya kita yang dapat mengotori hati kita
b. hanya Tuhan YME yang dapat membersihkan dan membuka hati kita.

Tidak ada mahluk lain yang manapun yang dapat mengakses hati kita, termasuk malaikat, maupun mahluk suci/agung lainnya. Oleh karena tidak ada mahluk lain yang dapat mengakses hati kita, maka tidak ada yang dapat mempengaruhi hati kita sehingga hati selalu mengenali kebenaran, oleh karena itu janganlah kita takut untuk membuka hati.

Catatan :
Hati mengetahui kebenaran, tetapi bukan kebenaran sejati. Hanya Rasalah yang mengenali KEBENARAN SEJATI.

Hati & Rasa VS Otak & Perasa’an;
Hati & Rasa :
1. Merasakan dengan hati
2. Menyadari dengan hati
3. Mengetahui dengan hati
4. Santai, senyum dan mengandalkan Berkah Tuhan
5. Semakin digunakan semakin indah dan nikmat

Otak & Perasa’an :
1. Mempergunakan salah 1 dari kelima indra
2. Berpikir
3. Mencari
4. Berusaha
5. Apabila terlalu banyak dipergunakan otak akan menjadi lebih kuat dan lebih berat

EMOSI :
Marah, benci kesedihan ..... semakin diikuti semakin menjadi-jadi, semakin merusak Rasa dan suasana Hati (hidup). Dengan semakin kuat dan terbukanya hati, emosi-emosi negatif akan berkurang dan tidak mudah dipengaruhi oleh emosi negatif perasa’an.

Catatan :
Berlatih Olah Rasa Membuka hati, tidak membutuhkan bakat dan setiap orang mempunyai Hati dan Rasa, jadi, artinya setiap orang akan bisa. Tetapi, sebagian orang terkadang jarang sekali mengandalkan Hati & Rasa dalam hidup sehari-hari ( mengandalkan Perasa’an  tidak sama dengan Rasa), maka terkadang akan butuh sedikit waktu untuk dapat merasakan Rasannya Hati. Adalah sangat umum apabila dalam beberapa latihan pertama kita tidak merasakan apapun, kecuali capek dan jenuh. Apabila ini terjadi:
1. Janganlah membuka mata atau menghentikan latihan
2. Janganlah berusaha memperhatikan atau mendengarkan keadaan sekeliling
3. Tetap santai dan mengikuti latihan yang sedang dilakukan, maka secepat otak perasa’an santai Rasa Hati akan dapat merasakan apa yang sedang dilatih.
Butuh waktu :)
Rasa  yang saya sebutkan disini adalah Rasa dari dalam hati, jadi bukanlah Rasa dari kelima indra, jadi, tidak sama dengan merasa : terjepit, pedas, asin, terhimpit, terinjak, panas ata galat di gigit serangga/nyamuk. Rasa  disini paling mirip dengan apa yang kita Rasakan Sa’at mencapa Klimat sa’at Senggama/berhubungan badan/Seks.

Latihan banyak kemiripan namun memiliki fungsi yang berbeda2 karena setiap latihan berfungsi untuk mengaktifkan dan menguatkan bagian tertentu dari hati agar hati dapat terbuka dengan sebaik-baiknya, karena hati adalah sesuatu yang dalam, jadi, harap tetap mengikuti dan melakukan dengan sebaik-baiknya walaupun merasa telah dapat melakukan latihan sebelumnya. Setiap kali melatih hati dengan sebaik-baiknya pastilah hati akan semakin terbuka dan lebih baik lagi.

KUNCI. PAWELING. ASMA’ MIJIL DAN SINGKIR ADALAH:
Metoda alami untuk mengstimulasi hati dan mengandalkan berkah Tuhan YME. Bukan teknik yang diandalkan, melainkan kepasrahan Rasa dari Hati kepada Tuhan YME.
( Wong Edan Bagu. Kudus Senin tgl 28/07/2014)

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh selamat Selalu.
Ttd: Wong Edan Bagu

Putra Rama Tanah Pasundan

HAKIKAT DARI AKSARA JAWA Ha Na Ca Ra Ka Dan PIWULANG BAB HA NA CA RA KA:

HAKIKAT DARI AKSARA JAWA Ha Na Ca Ra Ka Dan
PIWULANG BAB HA NA CA RA KA
Oleh: Wong Edan Bagu

HA = Hana hurip wening suci
         (Adanya hidup adalah kehendak yang Maha Suci)

NA = Nur candra,gaib candra,warsitaning candara
         (harapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi)

CA = Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi
         (satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)

RA = Rasaingsun handulusih
         (rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)

KA = Karsaningsun memayuhayuning bawana
         (hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)

DA = Dumadining dzat kang tanpa winangenan
         (menerima hidup apa adanya)

TA = Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa
         (mendasar ,totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang  hidup)

SA = Sifat ingsun handulu sifatullah 
         (membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan)

WA = Wujud hana tan kena kinira
          (ilmu manusia hanya terbatas namun bisa juga tanpa batas)

LA  = Lir handaya paseban jati 
         (mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi)

PA  = Papan kang tanpa kiblat 
          (Hakekat Allah yang ada di segala arah)

DhA = Dhuwur wekasane endek wiwitane 
           (Untuk bisa di atas tentu dimulai dari dasar)

JA  = Jumbuhing kawula lan Gusti
         (selalu berusaha menyatu -memahami kehendakNya)

YA  = Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi
          (yakin atas titah /kodrat Ilahi)

NYA = Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki 
           (memahami kodrat kehidupan)

MA  = Madep mantep manembah mring Ilahi 
          (yakin - mantap dalam menyembah Ilahi)

GA  = Guru sejati sing muruki 
         (belajar pada guru sejati)

BA  = Bayu sejati kang andalani 
         (menyelaraskan diri pada gerak alam)

THA = Tukul saka niat 
         (sesuatu harus tumbuh dari niat)

NGA = Ngracut busananing manungso 
         (melepaskan egoisme pribadi-manusia)


PIWULANG BAB HANACARAKA
Oleh: Wong Edan Bagu

Ha.
Hananing wong sing ENENG duk dihin,
Hawarana anasir samoha,
Hagni angin bantala her,
Hiya Hyang Maha Luhur,
Hingkang wujud Eneng menuhi,
Hisining rat winahya,
Hobah osik tuhu,
Hamung saking ananing Hyang,
Hanartani jroning alam kabir sahir,
Hananing titahing Hyang.

1.  Asale manungsa kuwi saka “Eneng” ngrasuk awak-awakan anasir geni,angin, bumi, banyu.
2. Ana dene sing kita jejuluki asma Allah kuwi ENENG ngebaki alam semesta.
3. Kabeh isining jagad iki lan kabeh mobah mosik iki, sanyata saka anane Allah
4. Panjenengane anglimputi sadjroning jagad gede lan jagad cilik.
5. ……. kalebu ing aksara NA.

Na.
Nora akeh ingkang arsa uning,
Nalaring reh yen Sang Hyang Suksmana,
Nartani ing saanane,
Nadyan aran dumunung,
Neng isining jagad tan keni,
Netepken winastanan,
Neng kono dumunung,
Nanging mungguh Hyang Suksmana,
Namung namar namur more anartani,
Nora manggon mring ana.

Ha (10) ananing titahing Pangeran kuwi …
1. Ora akeh kang kepengin mangerti bab Allah, sing sipate nglimputi alam semesta iki.
2. Sanadyan katembungake “dumunung” ana ing isining jagad iki, ora kena diarani “manggon” ana ing kono
3. Allah kuwi, dumununge, momore, lan panglimpute, tembunge mung namar lan namur (tegese: ora katon tetela), mulane ya ora kena diarani manggon ana ing kahanan sing katon gumelar iki.

Ca.
Cekakane Hyang Kang Maha Suci,
Cetha nanging tan kena wineca,
Cag-ceg lamun nora ceceg,
Curna temah katrucut,
Cupet cacad yen nora lancip,
Ciptane tan trawaca,
Cutel nora cancut,
Caritane kang wus lancar,
Careming Hyang cihnane neng ati suci,
Cewet lamun den ucap.
1. Cekakane bab anane Allah kuwi ceta, nanging angel anggone nerangake
2. Cag-ceg pada duwe pangira, sing kita tengeri jejuluk asma Allah kuwi ‘iki utawa iku’, nanging pangira mau ora bener
3. Katrucute panganggep sing ora bener mau ateges cacat, awit pancen ora dong, mung awur-awuran wae, katarik saka buntune lan ketule akal pikirane.
4. Ana dene ngandikane sang wicaksana manunggale Pangeran kuwi kacihna ana ing ati suci, nanging yen dikandakake mengkono, iya kliru.

Ra.
Rasakena jroning sanubari,
Rumakete lawan angganira,
Raket lan rasa pamore,
Rorone lwir sajuru,
Rina wengi awor lestari,
Rata jroning sarira,
Rumasuk anurut,
Rosing urat daging darah,
Rambut-rambut kabeh kasrambah tan kari,
Rinoban uripira.

1. Rasakena ing ndalem atimu, sang Eneng sing nganggo awak- awakan anasir mau, anggone anjumenengi wadagmu, awor manunggal karo rasamu.
2. Anasir lan rasa kuwi bleger loro nanging kaya mung siji, sakarone rina wengi tansah awor.
3. Nyrambahi sajroning badan sakojur, rumasuk ing urat, daging, getih, dalah rambut pisan, ora ana sing kliwatan ora kesrambah. Ngerobi uripe manungsa iki.

Ka.
Kakekate kawruhana kaki,
Kaya priye yakine ingkang khak,
Kahanane Pangran mangke,
Kalamun sira ngaku,
Kahanane Hyang Suksma kaki,
Kumpul lan sira mangkya,
Kompra kumalungkung,
Kena ingaranan mokal,
Kudu ngaku kumpul lan kang mengku kaki,
Kuwur kurang weweka.
1. Kawruhana kanti yakin kepriye sanyatane kahanane Allah kuwi
2. Yen kowe ngrumangsani kahanane Allah kuwi kumpul karo kowe, kuwi panganggep kliru lan kumalungkung
3. Mokal banget ingatase kowe kuwi kawula sing kawengku, teka kumpul karo Allah sing mengku. Panganggep sing mangkono mau kuwur (kupur?) lan lacut (kurang weweka).

Da.
Dene lamun sira angingkedi,
Dumadinta datan awor ing dat,
Durung weruh ing kadaden,
Dadi mungkir ing pandum,
Dinalih yen dadi pribadi,
Duraka dora arda,
Datan wruh ing udur,
Dunungena kang waspada,
Darunaning jatining dat dennya dadi,
Dandananing dumadya.

1. Dene yen kowe anekadake dumadimu kuwi ora kasamadan Dattullah, sanyata kowe durung dong bab asaling dumadi.
2. Panganggep mengkono mau (ora ngrumangsani) ateges nyelaki kuwasaning Pangeran, pangiramu dumadimu kuwi “dengan sendirinya”. Panganggep mangkono mau duraka lan goroh banget, terang yen kowe ora ngerti marang kawruh bab dumadi.
3. Genahna sing gamblang, kepriye sabab musababe (darunane), dattullah (jatining dat) ngeja wantah awujud titah iki.

Ta.
Takokena mring kang wus patitis,
Teraping dat dennya moring titah,
Terangena wit tumetes,
Tekeng tlanakan tuntum,
Tata-tata amurweng gati,
Triloka amirantya,
Tigang candra tamtu,
Tamat rampung wujud kita,
Tinengeran kakung atanapi estri,
Tetela daya titah.

1. Takokna marang gurumu kepriye jelase pangeja wantahe dating Pangeran, awujud titah manungsa iki.
2.  Terangna wiwit banyuning Bapa tumestes ana ing guwa garbaning biyung, perkembangane dadi getih, banjur dadi daging, sabanjure kasinungan triloka (betalmakmur, betalmucharam, betalmukadas).
3. Sawise ganep telung sasi, sempurna wujud bayi, katamtokake dadi manungsa lanang utawa wadon.

Sa.
Sang Hyang Esa sangang wulan keksi,
Saking jroning guwa garba mesat,
Sumeleng suwung wiyose,
Sampun sarira rasul,
Sulihing Hyang minangka saksi,
Sing kwaseng Hyang Wisesa,
Sinung sih rinasuk,
Sinedhahan amisesa,
Sesining kang sarira Sang Hyang Sa maksih,
Sipat siki tan pisah.

1. Jatining dat sing ngejawantah mau, sawise sangang sasi, banjur metu saka guwa garba, awujud jirim mawa papan, jirim.
2. Bayi sing lahir saka guwa garba mau apengawak “utusan” minangka pratanda bab kuwasaning Pangeran.
3. Saka kuwasaning Pangeran, deweke kaparingan sih sarta ditugasake mranata dirine sakojur. Dene jatining Dat kuwi isih lestari sipat siji karo dirine, ora tau pisah.

Wa.
Wasitane pra parameng kawi,
Wali-wali neng srat kawi jarwa,
Wong urip jwa salah weweng,
Wruha wosing tumuwuh,
Wit sing purwa myang madya tuwin,
Wusana ajwa kewran,
Waskitaning kawruh,
Wruh woring kawula lawan,
Wujuding Hyang Winastan waluyeng uwit,
Wawasen den kawang-wang.

1. Para pujangga rambah-rambah paring wejangan kamot ing layang-layang tembang lan banjaran ngelingake wong urip mono aja salah weng-weng.
2. Kudu ngerti wose anggone dititahake kuwi kepriye. Kudu damang purwa, madyo, lan wusanane.
3. Waskitaning kawruh kuwi ngerti sagunging titah karo sing nitahake. Persudinen sing gamblang bab bisane mulih marang asal (asal saka pangeran, mulih marang pangeran).

La.
Laksitane lena den kalingling,
Lalangene nalikarsa ilang,
Luwih angel yen tan oleh,
Laraping kang pitulung,
Lenging wulang ingkang dumeling,
Luluh aneng dadalan,
Lingak-linguk linglung,
Liyepe kyeh kang kawulat,
Lalu lali kalunglun kang ngatingali,
Lebur keneng begalan.

1. Mangertio pangalaman nalikane sakaratul maut (ngancik plawanganing pati). Goda rencanane, nalika arep pecating nyawa kuwi Gawat, tumrap wong sing durung oleh wejangan sing ceta gamblang.
2. Sajroning ngalami krisis (gawat) kuwi, rumongso ora biso nerusake lakune, tingak tinguk bingung atine.
3. Ing waktu kuwi katon sesawangan werna-werna, samongso deweke lali kerem marang sawangan mau, ateges kebegal, ora patitis patine.

Pa.
Pati papa kalempiting kapir,
Pakolehe duk uripe tanpa,
Puruita panganggepe,
Patrape prapteng lampus,
Pantog tanpa kawruh nyukupi,
Prandene bareng wapat,
Paksa kempas-kempus,
Pan nora pasrah amapan,
Polahane palintiran nora apik,
Pratanda yen kalepyan.

1. Mati sing kasebut ing aksara LA baris angka sepuluh mau: mati sasar, jalarane suwung tanpa kawruh (kapir). Yakuwi akibate nalika isih urip ora gelem golek kawruh. Pamikire patrape mati kuwi gampang cukup tanpa kawruh.
2. Bareng ngancik plawangane pati kempas kempus, ora pasrah, ora mapan polahe palintiran, mracihnani yen deweke lali.

Dha.
Dhasar beda lan kang wus amundhi,
Dhawuhing sang Pandhita kang medhar,
Dhanurdara mung sumendhe,
Dhatenging kang riridhu,
Dhadhag dhokoh tyas tan kalindhih,
Dhineseg gora godha,
Dhangan nora kidhung,
Dhangah-dhangah mandi pedhang,
Dhatenging kang ripu wirodha tinandhing,
Dhinendha tadhah dhadha.

1. Wong sing wis tampa wejanganing guru bab kawruh kasampurnan, sayekti beda karo sing kasebuting aksara PA mau. Wong sing wis tampa wejangan kuwi, nalika ngancik sakratul-maut, mung sumendhe
2.  Ana reridu teka, ana goda rencana teka, deweke tatag wae, ora kaget lan ora mrebawani atine.
3.  Kaya wong anggawa pedang ligan, ana mungsuh teka nrajang yo ditandingi. Mungsuhe menthung nganggo ‘DHENDHA” dadhane diungalake.

Ja.
Jatining kang wus weruh ing janji,
Janji-janji janjining sang Dwidja,
Jenak jenjem karem ijen,
Jangkane mung angejum,
Jumenenging jiwangga mbenjing,
Jinungkung jro pamujan,
Jejeg terus tuwajuh,
Jejering driya prasaja,
Joging seja ing mbenjing praptaning janji,
Jatmika srah jiwarja.

1. Sing kacaritake ana ing aksara DHA kuwi wong sing wis insyaf yen wong urip kuwi pacangane pati. Lan wis oleh kaweruh saka gurune (utawa saka maca buku-buku) banjur tawakal lungguh ijen ‘olah cipta’.
2. Tujuane ora liya, supaya sakwise ninggal donya iku jiwane nemu lelakon opo benere. Mulane deweke ngulinake ngolah cipta ana papan mirunggang. Kanti temen-temen, sabar lan telaten.
3. Adege uripe prasaja, dene yen wis teka wektune kudu mati, iya bakal dilakoni kanti anteng lan pasrah.

Ya.
Ya marmane kulup kang kariyin,
Yaktekena waluyaring laya,
Yakina jrone urip kiye,
Yakti tan wurung layu,
Yen sira tan weruh kariyin,
Yuda-brataning laya,
Yatna liyep luyut,
Yitmanta wastu ngalaya,
Ywa pepeka myang mamrih mulyaning mayit,
Yogya den parsudiya.

1. Kulup, mulane wong kuwi perlu ngudi kawruh, supaya patine ora sasar. Soal pati kudu diyakinake sajrone isih urip iki.
2. Sabab wong urip mono mesti bakal mati. Yen kowe ora ngerti kawruh bab pati, iyo kuwi “yatno liyep luyut”, oncate jiwamu saka raga bakal klambrangan.
3. Aja gumampang Lho !. Lan maneh, kawruh supaya jinasahmu mulya, uga perlu kok parsudi.

Nya.
Nyataning neng nyatakna ing sunyi,
Nyenyeting rat lawan kahanannya,
Nyirnakna nyet ajwa grenyeh,
Nyaring ilining banyu,
Nyuda rasa kang monyar-manyir,
Nyirnakake kedunyan,
Nyarong sirna kanyut (kang nyut),
Nyeneni naya kumenyar,
Nyamleng tentrem ayem tyase mari nyang-nying,
Nyata wus tekeng sunya.

1. Enenge atimu terusna nganti tekan ora rasa rumongsa (suwung).Kahananing jagad aja kok rasakake, aja mikir kae-kae.
2. Napasmu sarehna kaya nyaring ilining banyu, rasamu sing monjar-manjir temahan lerem. Bakune aja mikir bab kadonyan, amesthi rasa kang monjar-manjir mau ilang.
3.  Wusana kaya kataman cahya, polatanmu dadi sumringah, atimu ayem tentrem, ora karoneyan. Pranyata wis tekan ing kahanan suwung.

Ma.
Mulane ta pra taruna sami,
Marsudiya ngelmu kang utama,
Mrih marem karem tumameng,
Madyeng ngalam ngalimun,
Meneng mrih wruh mring kang ngayomi,
Manawa wus tan samar,
More mring anggamu,
Muksane luwih utama,
Marga uwus tan samar denira mamrih,
Mulih alame lama.

1. Mulane para anom, prayoga pada marsudio ngelmu CHAK (utama).
2. Temahan kowe rumongso marem, lan duwe sedya ngambah alam gaib-gaib sarana meneng, supaya ngerti kanthi yakin bab anane Allah (kang ngayomi).
3. Yen kowe wis yakin temenan: Allah kuwi ora tau pisah karo kowe,patimu ora bakal sasar.
4. Amarga kowe wis ora samar anggonmu nedya mulih marang asalmu.

Ga.
Gagarane kang luwih prayogi,
Gagayuhan arsa munggah swarga,
Gunung Tursena jujuge,
Grane kang luwih munggul,
Gondhelana den amaligi,
Gulunganing jiwangga,
Gumeleng saglugut,
Gigiten jwa ringga-ringga,
Gagar lamun sira tan nurut ing margi,
Graning Tursena arga.

1. Sarate sing prayoga banget tumrap setya munggah swarga kuwi:ngliwatane gunung TURSINA sing puncake duwur banget.
2. Puncake kuwi anggonen sipatan aja mangro mertelu. Anggonmu nyawijekake jiwa rogomu, sing nganti gumolong temenan, bebasan dadi sak glugut. Pangestimu aja samar-samar.
3. Yen kowe ora ngliwati puncake gunung tursina mau, sedyamu munggah swarga ora bakal kaleksanan.

Ba.
Babarane prapteng alam kabir,
Bali murba angebaki keblat,
Busana kauban kabeh,
Bumi baruna klebu,
Badaning Hyang tetep ngelebi,
Babaran njero njaba,
Bola bali jumbuh,
Balik yen tan bangkit murba,
Bakal bali kapurba ing alam kabir,
Bubrah tan bisa mbabar.

1. (Yen kaleksanan tekan ing kahanan suwung) temahan babar apengawak jagad gede (alam semesta), ateges bali kaya asale angebaki keblat. Jagad iki: bumine, segarane, kauban kabeh.
2. Pranyata njero (jagad cilik, mikro kosmos) lan njaba (jagad gede,makro kosmos) kuwi kaebekan datullah, kalimputan sipatullah, tetep salawas-lawase.
3. Yen ora biso tekan ing kahanan suwung, kapeksa bakal kapurba maneh dening angger-anggering kodrat: nandang penderitaan bungah susah.

Ta.
Thenging dwista tan ana kang kaesthi,
Thileg-thileg tan lalu palastha,
Thenger-thenger tanpa canthel,
Thok-thele mung ngalunthung,
Thering sedya tan bangkit mesthi,
Thukule pasti nistha,
Thinotol blegthuthur,
Thong-thongsot prapta pepathan,
Thek-ethekan nuthuki si kuthung nisthip,
Thinethel mring kanisthan.

1. (Sing ora biso bali marang asale mau): bingung ora karuwan sedyane.Temah tilek-tilek lan tenger-tenger wae. Pepuntone mung ngeluntung kanthisedya sing ora gumatok.
2. Bareng tukul sedyane, mesthi sedya sing remeh-remeh, dituntun blekutur. Para tong-tongsot teka, pada milara wong sing bingung kuwi,digeret marang kanisthan.

Nga.
Nging kang paksa ngemba pra wirangi,
Nganggit ngelmu ngawag tan uninga,
Ngawur muhung andedongeng,
Ngluluri reh ing dangu,
Ngandikane pra mrih lulungit,
Ngudiya wadining rat,
Nging ywa rangu-rangu,
Ngungseda nganti uninga,
Ngracut ngukut wosing angga kang piningit,
Ngayuh wor kang wurweng rat.

1. Pengarange buku iki agahan tiru-tiru para pandhito: medharane ngelmu, satemene ora weruh. Mung ngawur kaya adongeng wae.
2. Mung ngestoake ngendikane para leluhur, ahli kebatinan, supaya kita ngudi kaweruh wadhine buwana kanthi temen- temen.
3. Supaya telaten mangsah semadi, nganti kasil ngalami kahanan suwung,yakuwi manunggale titah karo sing nitahake.
( Wong Edan Bagu. Kudus Selasa tgl 29/07/2014)


Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh selamat Selalu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan



HAKIKAT DARI Wejangan NENG, NING, NUNG, NANG:
Oleh: Wong Edan Bagu

TINGKAT. 1 (Neng; sembah raga)
Jumeneng; menjalankan “syariat”.

Namun makna syariat di sini mempunyai dimensi luas. Yakni dimensi “vertikal” individual kepada Tuhan, maupun dimensi sosial “horisontal” kepada sesama makhluk. Neng, pada hakekatnya sebatas melatih dan membiasakan diri melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, dan lebih utama untuk sesama tanpa pilih kasih. Misalnya seseorang melaksanakan sembahyang dan manembah kepada Tuhan dengan cara sebanyak nafasnya, guna membangun sikap eling danwaspadha. Neng adalah tingkat dasar, barulah setara “sembah raga” misalnya menyucikan diri dengan air, mencuci badan dengan cara mandi, wudlu, gosok gigi, upacara jamasan, tradisi siraman dsb.

Termasuk mencuci pakaian dan tempat tinggal. Orang dalam tingkat “neng”, menyebut dan “menyaksikan” Tuhan barulah melalui pernyataan dan ucapan mulut saja. Kebaikan masih dalam rangka MELATIH diri mengendalikan hawa nafsu negatif, dengan bermacam cara misalnya puasa, semadi, bertapa, mengulang-ulang menyebut nama Tuhan dll. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu agar bersifat positif dengan cara misalnya sedekah, amal jariah, zakat, gotong royong, peduli kasih, kepedulian sosial dll. Melatih diri untuk menghargai dan mengormati leluhur, dengan cara ziarah kubur, pergi haji, mengunjungi situs-situs sejarah, belajar dan memahami sejarah, dst. Melatih diri menghargai dan menjaga alam semesta sebagai anugrah Tuhan, dengan cara upacara-upacara ritual, ruwatan bumi, larung sesaji, dst. Tahapan ini dilakukan oleh raga kita, namun BELUM TENTU melibatkan HATI dan BATIN kita secara benar dan tepat.

Kehidupan sehari-harinya dalam rangka latihan menggapai tataran lebih tinggi, artinya harus berbuat apa saja yg bukan perbuatan melawan rumus Tuhan. Tidak hanya berteori, kata kitab, kata buku, menurut pasal, menurut ayat dst. Namun berusaha dimanifestasikan dalam perilaku dan perbuatan kehidupan sehari-hari. Perbuatannya mencerminkan perilakusipat zat (makhluk) yang selaras dengan sifat hakekat (Tuhan). Tanda pencapaiannya tampak pada SOLAH. Solah artinya perilaku atau perbuatan jasadiah yang tampak oleh mata misalnya; tidak mencelakai orang lain, perilaku dan tutur kata menentramkan, sopan dan santun, wajah ramah, ngadi busanaatau cara berpakaian yang pantas dan luwes menghargai badan. Akan tetapi perilaku tersebut belum tentu dilakukan secara sinkron dengan BAWA-nya. BAWA yakni “perilaku” batiniah yang tidak tampak oleh mata secara visual.

Titik Lemah;
Pada tataran awal ini meskipun seseorang seolah-olah terkesan baik namun belum menjamin pencapaian tataran spiritual yang memadai, dan belum tentu diberkahi Tuhan. Sebab seseorang melakukan kebaikan terkadang masih diselimuti rahsaning karep atau nafsu negatif; rasa ingin diakui, mendapat nama baik atau pujian. Bahkan seseorang melakukan suatu kebaikan agar kepentingan pribadinya dapat terwujud. Maka akibat yang sering timbul biasanya muncul rasa kecewa, tersinggung, marah, bila tidak diakui dan tidak mendapat pujian. Kebaikan seperti ini boleh jadi bermanfaat dan mungkin baik di mata orang lain. Akan tetapi dapat diumpamakan belum mendapat tempat di “hati” Tuhan. Kredit point nya masih nihil. Banyak orang merasa sudah berbuat baik, beramal, sodaqah, suka menolong, membantu sesama, rajin doa, sembahyang. Tetapi sering dirundung kesialan, kesulitan, tertimpa kesedihan, segala urusannya mengalami kebuntuan dan kegagalan. Lantas dengan segera menyimpulkan bahwa musibah atau bencana ini sebagai cobaan (bagi orang-orang beriman).

Pada tataran ini, seseorang masih rentan dikuasai nafsu ke-aku-an (api/nar/iblis). Diri sendiri dianggap tahu segala, merasa suci dan harus dihormati. Siapa yang berbeda pendapat dianggap sesat dan kafir. Konsekuensinya; bila memperdebatkan (kulit luarnya) ia menganggap diri paling benar dan suci, lantas muncul sikap golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Ini sebagai ciri seseorang yang belum sampai pada intisari ajaran yang dicarinya. Durung becus keselak besus ! KARENANYA DI HARUSKAN. (ANA APA-APA KUNCI LANGKA APA-APA KUNCI. SEBAB KUNCI KENA KANGGO APA BAE. WATON ORA TUMINDAK LUPUT)


TINGKAT. 2 (Ning; sembah kalbu)
Wening atau hening; ibarat mati sajroning urip; kematian di dalam hidup. Tataran ini sepadan dengan tarekat. Menggambarkan keadaan hati yang selalu bersih dan batinnya selalu eling lan waspadha. Eling adalah sadar dan memahami akan sangkan paraning dumadi (asal usul dan tujuan manusia) yang digambarkan sebagai “kakangne mbarep adine wuragil”. Waspadha terhadap apa saja yang dapat menjadi penghalang dalam upaya “menemukan” Tuhan (wushul). Yakni penghalang proses penyelarasan kehidupan sehari-hari (sifat zat) dengan sifat hakekat (Tuhan).Ning dicapai setelah hati dapat dilibatkan dalam menjalankan ibadah tingkat awal atau Neng; yakni hati yg ikhlas dan tulus, hati yang sudah tunduk dan patuh kepada sukma sejati yang suci dari semua nafsu negatif. Hati semacam ini tersambung dengan kesadaran batin maupun akal budi bahwa amal perbuatan bukan semata-mata mengaharap-harap upah (pahala) dan takut ancaman (neraka). Melainkan kesadaran memenuhi kodrat Tuhan, serta menjaga keharmonisan serta sinergi aura magis antara jagad kecil (diri pribadi) dan jagad besar (alam semesta). Tataran ini dicapai melalui empat macam bertapa; tapa ngeli, tapa geniara, tapa banyuara, tapa mendhem atau ngluwat.

1. Tapa ngeli; harmonisasi vertikal dan horisontal. Yakni berserah diri dan menselaraskan dengan kehendak Tuhan. Lalu mensinergikan jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).
2. Tapa geniara; tidak terbakar oleh api (nar) atau nafsu negatif yakni ke-aku-an. Karena ke-aku-an itu tidak lain hakekat iblis dalam hati.
3. Tapa banyuara; mampu menyaring tutur kata orang lain, mampu mendiagnosis suatu masalah, dan tidak mudah terprovokasi orang lain. Tidak bersikap reaksioner (ora kagetan), tidak berwatak mudah terheran-heran (ora gumunan).

4. Tapa mendhem; tidak membangga-banggakan kebaikan, jasa dan amalnya sendiri. Terhadap sesama selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur. Sadar bahwa manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan tidak tergantung suku, ras, golongan, ajaran, bangsa maupun negaranya. Tapa mendhem juga berarti selalu mengubur semua amal kebaikannya dari ingatannya sendiri. Dengan demikian seseorang tidak suka membangkit-bangkit jasa baiknya. Kalimat pepatah Jawa sbb: tulislah kebaikan orang lain kepada Anda di atas batu, dan tulislah kebaikan Anda pada orang lain di atas tanah agar mudah terhapus dari ingatan.


Titik Lemah;
Jangan lekas puas dulu bila merasa sudah sukses menjalankan tataran ini. Sebab pencapaian tataran kedua ini semakin banyak ranjau dan lobang kelemahan yang kapan saja siap memakan korban apabila kita lengah. Penekanan di sini adalah pentingnya sikap eling dan waspadha. Sebab kelemahan manusia adalah lengah, lalai, terlena, terbuai, merasa lekas puas diri. Tataran kedua ini melibatkan hati dalam melaksanakan segala kebaikan dalam perbuatan baik sehari-hari. Yakni hati harus tulus dan ikhlas. Namun..ketulusan dan keikhlasan ini seringkali masih menjadi jargon, karena mudah diucapkan oleh siapapun, sementara pelaksanaannya justru keteteran. Dalam falsafah hidup Kejawen, setiap saat orang harus selalu belajar ikhlas dan tulus setiap saat sepanjang usia. Belajar ketulusan merupakan mata pelajaran yang tak pernah usai sepanjang masa. Karena keberhasilan Anda untuk tulus ikhlas dalam tiap-tiap kasus belum tentu berhasil sama kadarnya. Keikhlasan dipengaruhi oleh pihak yang terlibat, situasi dan kondisi obyektifnya, atau situasi dan kondisi subyek mental kita saat itu. KARENANYA DI HARUSKAN. (YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WED AJA WANI-WANI)


TINGKAT. 3 (Nung; sembah cipta)
Kesinungan ; yakni dipercaya Tuhan untuk mendapatkan anugrah tertentu. Orang yang telah mencapai tataran Kesinungandialah yang mendapatkan “hadiah” atas amal kebaikan yang ia lakukan. Ini mensyaratkan amal kebaikan yang memenuhi syarat, yakni kekompakan serta sinkronisasi lahir dan batin dalam mewujudkan segala niat baik menjadi tindakan konkrit. Yakni tindakan konkrit dalam segala hal yang baik misalnya membantu & menolong sesama. Syarat utamanya; harus dilakukan terus-menerus hingga menyatu dalam prinsip hidup, dan tanpa terasa lagi menjadi kebiasaan sehari-hari.

Pencapaian tataran ini sama halnya laku hakekat. Laku hakekat adalah meliputi keadaan hati dan batin; sabar, tawakal, tulus, ikhlas, pembicaraannya menjadi kesejatian (kebenaran), yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada. Tataran ini ditandai oleh pencapaian kemuliaan yang sejati, seseorang mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan kelak setelah ajal. Pada tahap ini manusia sudah mengenal akan jati dirinya dan mengenal lebih jauh sejatinya Tuhan. Manusia yang telah lebih jauh memahami Tuhan tidak akan berfikir sempit, kerdil, sombong, picik dan fanatik. Tidak munafik dan menyekutukan Tuhan. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat menghormati keyakinan orang lain. Sikap ini tumbuh karena kesadaran spiritual bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersumber pada Yang Maha Tunggal, hakekatnya adalah sama. Cara atau jalan mana yang ditempuh adalah persoalan teknis. Banyaknya jalan atau cara menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan itu Mahaluas tiada batasnya. Ibarat sungai yang ada di dunia ini jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya; ada yang dangkal, ada yang dalam, berkelok, pendek dan singkat, bahkan ada yang lebar dan berputar-putar. Toh semuanya akan bermuara kepada Yang Tunggal yakni “samudra luas”.

NAH, orang seperti ini akan “menuai” amal kebaikannya. Berkat rumus Tuhan di mana kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kebaikan yg anda berikan, “buahnya” akan anda terima pula. Namun demikian kebaikan yang anda terima belum tentu datang dari orang yang sama, malah biasanya dari pihak lainnya. Kebaikan yang anda peroleh itu merupakan “buah” dari “pohon kebaikan” yang pernah anda tanam sebelumnya. Selebihnya,kebaikan yang anda lakukan akan menjadi pagar gaib yang selalu menyelimuti diri anda. Singkat kata, pencapaian Nung, ditandai dengan diperolehnya kemudahan dan hikmah yang baik dalam segala urusan. Pagar gaib itu akan membuat kita tidak dapat dicelakai orang lain. Sebaliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Dalam terminologi Jawa inilah yang disebut sebagai “ngelmu beja”.

Untuk meraih tataran ini, terlebih dahulu kita harus mengenal jati diri secara benar. Dalam diri manusia setidaknya terdapat 7 lapis bumi yang harus diketahui manusia. Jika tidak diketahui maka menjadi manusia cacad dan akan gagal mencapai tataran ini. Bumi 7 lapis tersebut adalah ; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat.

1. Bumi Retna; jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia.
2. Bumi Kalbu; artinya istana iman sejati.
3. Bumi Jantung; merupakan istana semua ilmu.
4. Bumi budi; artinya istana puji dan zikir.
5. Bumi Jinem; istananya kasih sayang sejati.
6. Bumi suksma; yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan; sukma sejati.
7. Bumi Rahmat; istana rasa mulia; rahsa sejati.

Titik Lemah;
Nung, setara dengan Hakekat, di sini ibarat puncak kemuliaan. Semakin tinggi tataran spiritual, maka sedikit saja godaan sudah dapat menggugurkan pencapaiannya. Maka, semakin tinggi puncak dan kemuliaan seseorang ; maka semakin besar resiko tertiup angin dan jatuh. Seseorang yang merasa sudah PUAS dan BANGGA dengan pencapaian hakekat ini bersiko terlena. Lantas menganggap orang lain remeh dan rendah. Yang paling berbahaya adalah menganggap tataran ini merupakan tataran tertinggi sehingga orang tidak perlu lagi berusaha menggapai tataran yang lebih tinggi. KARENANYA DI HARUSKAN. (SAMUBARANG TUMINDAK KINANTENAN SARWA MIJIL)


Tingkat. 4 (Nang; sembah rahsa)
Nang merupakan kemenangan. Kemenangan adalah anugrah yang anda terima. Yakni kemenangan anda dari medan perang. Perang antara nafsu negatif dengan positif. Kemenangan NUR (cahya sejati nan suci) mengalahkan NAR (api; ke-aku-an/”iblis”). Manusia NAR adalah seteru Tuhan (iblis laknat). SEBALIKNYA; manusia NUR adalah memenuhi janji atas kesaksian yg pernah ia ucapkan di mulut dan hati. Manusia NUR memenuhi kodratnya ke dalam kodrat Ilahi, sipat zat yg mengikuti sifat hakekat, menselaraskan gelombang batin manusia dengan gelombang energi Tuhan. Sifat zat (manusia) menyatu dengan sifat hakekat (Tuhan) menjadi “loroning atunggil“. Yang menjadi jumbuh(campur tak bisa dipilah) antara kawula dengan Gusti. Inilahpertanda akan kemenangan manusia dalam “berjihad” yang sesungguhnya. Yakni kemenangan terindah dalam kemanunggalan; “manunggaling kawula-Gusti“. Bila Anda muslim, di situlah tatar makrifat dapat ditemukan. KARENANYA DI HARUSKAN. (GALILAH RASA YANG MELPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU ADA FIRMAN TUHAN. YANG BISA MENJAMIN JIWA RAGA DAN HIDUP MATI SERTA DUNIA AKHERATMU)

1.       NENG: KUNCI
2.       NING: PAWELING
3.       NUNG: MIJIL
4.       NANG: PALUNGGUH
( Wong Edan Bagu. Kudus Senin tgl 28/07/2014)

Semoga Bermanfa’at dan Berkah... Salam Rahayu kanti Teguh selamat Selalu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

Jumat, 18 Juli 2014

SYI’IRAN WAHYU PANCA GA’IB:

Oleh: Wong Edan Bagu;
Purworejo Jateng. Selasa kliwon Tgl: 16-09-2003

HIDUP ADALAH KITABMU:
1.KUNCI yang Merupakan Ayat-Mu adalah kebenaran yang sejati,
2.PAWELING yang Merupakan Firman-Mu adalah keabadian yang hakiki,
3.AS’MA yang Merupakan Sabda-Mu adalah ke’elokan yang meliputi,
4.MIJIL yang Merupakan Kalam-Mu adaah kesempurnaan yang melengkapi,
5.SINGKIR yang Merupakan Surat-surat-Mu adalah kenyataan dari kerahasiaan yang meliputi.

Lembut .……, lebih lembut daripada benang sutera jiwa,
Keras …………., lebih keras dari besi baja mahluk dicipta,
Tajam …………….., lebih tajam dari senjata pedang pusaka,
Benar di antara yang benar ….. dan nyata di antara yang nyata,
Merupakan …..kesempurnaan ..…dari yang menyempurnakan.
Wahai …… Paduka Mahamulia … Sang Penguasa jagat raya . !

Berilah aku kekuatan-Mu …..……, agar dapat memantulkan,
Berilah aku kemampuan-Mu .. …, agar dapat menyampaikan,
Berilah aku kehendak-Mu ………., agar dapat memberikan,
Berilah aku izin-Mu …..……., agar dapat menitipkan,
Berilah aku kemauan-Mu …., agar dapat mewasiatkan,
Berilah aku kemurahan-Mu, agar dapat mewariskan.

Kepada …….., diri yang sejati,
Kepada …….., ahli warisku yang sejati,
Kepada …….., saudara – saudaraku yang sejati,
Kepada …….., rekan dan handai taulanku yang sejati,
Kepada …….., para wali dan ahli pengembalaku yang sejati,
Agar dapat duduk bersimpuh -sebagai jiwa mulia kekasih dicinta-Mu,
Bersama saudara para jiwa mulia dalam singgasana dan tahta cahaya mulia.

Wahai Cahaya ….. sumber dari segala cahaya ……….! Wahai Cahaya di atas segala cahaya, pencipta segala cahaya & penabur cahaya! Wahai Cahaya  penguasa segala cahaya, penguasa mustika permata cahaya  ! Wahai Guru dari segala mahaguru, Ratu dari segala maharatu, Raja dari segala maharaja ….!

Engkau yang hidup dan yang menghidupkan, Engkau yang berkehendak dan yang menunjukkan, Engkau yang berkuasa dan yang menggerakkan, Engkau yang berkuasa dan yang memperjalankan, Engkau yang berkehendak dan yang menceritakan.

Kutundukan hatiku dan kusujudkan jiwa ragaku, Kuantarkan jiwa dan ragaku keharibaan-Mu, Dan aku bersujud memohon ampun atas kelancanganku, Dan aku tetapkan untuk senantiasa memohon petunjuk kepada-Mu.

Sungguh aku tak kuasa, tak mampu bercerita dan tak sanggup menyampaikan, Sungguh aku tak patut dan tak berkehendak, jikalau tidak atas kehendak-Mu.

Aku tuliskan perjalananku dan aku ceritakan petualanganku, Aku lakukan perbuatanku dan aku sampaikan kehendakku, Aku panggilkan para saudaraku dan taburkan pemahamanku, Bukannya karena kesombongan dan bukan pula karena kecongkakkan, Bukannya untuk cari muka dan bukan pula karena mengherani diri, Sungguh … aku mohon ampun dan bertobat untuk itu, Sungguh…. aku berlindung untuk itu dan memohon atas ridha-Mu.

Aku sampaikan :
Hanya karena-Mu semata, bukan nafsuku. Dan hanya untuk-Mu semata, bukan ambisiku, Hanya dari-Mu semata, bukan milikku. Dan hanya karena-Mu semata, bukan hakku. Hanya dari-Mu aku datang ……. dan karena-Mu aku hidup, Hanya kepada-Mu aku kembali… dan kepada-Mulah aku mengembalikan, Semoga Engkau tetap meridhai…. dan menuntun perjalanku... Amiin.

Ttd: Wong Edan Bagu

Putra Rama Tanah Pasundan

SYI’IRAN PANCA GA’IB:

Oleh: Wong Edan Bgu;
Cirebon Jabar. Kamis Pahing Tgl: 05-05-2005

Wahai … Sang kebeningan, rahasia dari segala rahasia
Wahai … Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta dan mahluk tercipta
Wahai … Sang Pencipta dan Penguasa jiwa, raga, akma, sukma dan nyawa
Wahai … Sang Penguasa cahaya dan penabur sinar kehidupan jagat raya,
Wahai … Sang Hyang Mahatunggal Dzat Maha Segalanya.

Engkaulah ….. Dzat, Sifat dan Af’al,
Engkaulah ….. Jatidiri, Wangunan dan perbuatan,
Engkaulah ….. Alloh, Muhammad dan Insan,
Engkaulah …. bayang kebeningan, bul putih dan keanekaragaman,
Engkaulah …. kosong padat berisi, hitam pekat kerahasiaan,
Engkaulah …. yang menciptakan dan merajai semua simbol sebagai bahasa penjangkauan,
Engkaulah …. yang menaungi darma kehidupan alam jagat raya dan makhluk dicipta,
Engkaulah …. yang merajai darma kehidupan syaré’at, hakekat dan ma’rifat,
Engkaulah .… yang Maha Sempurna dan yang Maha Menyempurnakan.

Kusujudkan jiwa ragaku sebagai penyembahan, dan kubuka lebar pintu hatiku sebagai penyerahan, Kutengadahkan mukaku sebagai pengharapan, dan kuangkat tanganku sebagai permohonan, Kulangkahkan kakiku sebagai pengabdian, dan kuserahkan semua urusanku sebagai pertobatan.

Engkaulah : Yang telah mengambil sesuatu yang ada dan mengembalikan sesuatu yang hilang, Yang telah mengadakan sesuatu yang belum tercipta, dan menciptakan sesuatu yang tidak ada, Yang telah menggerakkan sesuatu yang diam dan memperjalankan sesuatu yang dikehendaki, Yang telah menghadirkan sesuatu yang belum sampai, dan mendatangkan sesuatu yang belum lahir, Yang telah menghilangkan sesuatu yang jaya dan mengembalikan kejayaan dalam kesempurnaan jaya.

Terimakasih ….ya …Tuhanku … aku haturkan,
Engkau telah buka lebar pintu mata hati, dan teja lembayung tabir yang menutupi rahasia kalbuku, Engkau telah buka lebar mata akal dan pikir, dan angkat batu lingga rahasia pembatas sukma ragaku, Engkau telah buka lebar pintu gerbang kerajaan jiwaku, dan pintu gapura kerajaan-Mu, Engkau telah pancarkan mentari cahaya sejati, menerangi lorong berliku alam rahasia dan nyata, menerangi lorong hati celah nurani, menerangi bahtera kehidupan sejati, menerangi lapisan kegelapan yang kalbu

Dan kau percikan … cahaya-Mu …………
Menusuk sendi-sendi dan tulang belulang tiang kehidupan alam semestaku, Memasuki celah akal dan pikiran, menara ilmu dan pengetahuanku, Menembus detak jantung kehidupanku, merasuki getaran jiwa keabadianku, Membelah gelombang putih bahtera kejuhudanku, membangkitkan lautan mérah tauhidku, Mengokohkan hati dan fikiran benteng kekuatan dan bendera yakinku, menguatkan akal benteng, dan bendera ainal yakinku, dan memperteguh kalbu benteng kekuatan dan bendera hakkul yakinku.

Engkau berikan aku kitab-Mu, kitab kebenaran sejati dan hakiki, Engkau ajarkan aku AS’MA kalam-Mu, kalam yang tak mampu hamba-Mu meragukannya, Engkau bisikan aku MIJIL sabda-Mu, sabda yang tak mampu hamba-Mu menampiknya, Engkau berikan aku KUNCI ayat-Mu, ayat yang tak mampu hamba-Mu mengingkarinya, Engkau berikan aku SINGKIR surat-Mu, surat yang tak mampu hamba menolaknya, Engkau jadikan aku kitab-Mu, kitab berhias cahaya-Mu, berisi mutiara-Mu yang ditulis dengan intan permata kebesaran-Mu, yang melahirkan mustika permata cahaya-Mu.

Ttd: Wong Edan Bagu

Putra Rama Tanah Pasundan

SYI’IRAN LAKU HAKIKAT HIDUP:

Oleh: Wong Edan Bagu;
Surabaya Jatim. Rabu Kliwon tgl: 09-09-2009

Wahai … para mustika cahaya,
Yang berjiwa juhud dan mursyid, beraroma wewangi sejati,
Yang berjiwa lembut, cinta kasih dan kasih sayang,
Yang berjiwa perkasa, arif dan bijaksana,
Yang berjiwa pengembala, pengembara dan petualang cahaya,
Yang berjiwa darma membangun dan mendirikan cahaya membangun dan menabur wewangi sejati.

Sembah sungkem aku sampaikan, sebagai tanda hormat dan baktiku,
Aku hadapkan diriku, mohon kemurahan, ampunan dan restumu,
Atas kelancangan, kesombongan dan kecongkakanku.

Mengakui engkau sebagai guruku ………. dan aku sebagai muridmu,
Mengakui engkau sebagai pembimbingku…. dan aku sebagai asuhamu,
Mengakui engkau sebagai pewarisku …….. dan aku sebagai ahli warismu.
Sungguh aku tahu diri dan tidaklah berani, aku tak rela dan tidaklah layak.

Sungguh jiwaku bergetar. … dan malu tersipu, Tatkala kukatakan dan tuliskan engkau guruku aku muridmu, dan kau pewarisku aku ahli warismu, Tatkala ku sebutkan dan akui engkau waliku dan aku ahlimu, dan kau pembimbingku aku asuhanmu, Karena aku tahu, siapakah diriku dan siapakah dirimu. Sungguh tak ada maksud lain, hanya karena aku miskin dengan kata dan bahasa,

Tak ada yang layak dikata untuk para nyawa yang telah menerangi gelap gulitanya hati, rendah dan bodohnya aku, kecuali itu, Dengan sinar cahaya luhur, mulia dan keagunganmu, Telah antarkan dan perjalankan aku kepada Aku, para Aku dan AKU.

Dan hanya karena jalanmulah, aku dapat mengenal diri, dan para diri, dan bangunan jati diri, Mengetahui mutiara cahaya dan sajatining Mustika Permata Cahaya, Memiliki nilai arti, makna, misil, siloka dan kerahasiaan-Nya.

Engkau yang senantiasa hadir mengantar perjalanan, mendampingi petualangan dan menyertai pengembaraanku di setiap sudut pencarian dan tempat persinggahan adab kerahasiaan, Kauterangi aku, dikala gelap gulita, dan kautunjuki aku dikala aku tidak tahu, Kautuntun aku, dikala salah yang dituju, dan kausirami aku dikala haus dan dahaga, Kautemani aku, dikala sepi menyendiri, kauhibur aku dikala hati pilu, sunyi dan sepi, Kausuruh aku, dikala jiwaku diam kaku membeku, dan kauhardik aku dikala aku mati dan kaku, Kautangisi aku, dikala tersandung malu, dan kau bimbing aku dikala bimbang dan ragu, Kautolong aku, dikala terjerat tipudaya, kautawai aku dikala tersandung nafsu terhempas angkara.

Engkaulah yang telah menyiram kasih dan mencurahkan sayang, Engkaulah yang telah mewariskan cahaya dan mewasiatkan wewangian, Kauberikan segumpal kalbu setumpuk rasa, kausampaikan salam dan do’a restumu, Kaucurahkan cinta dan kasih sayangmu, dan kautitipkan amanat wasiat bekal perjalananku, Kauserahkan tongkat pusaka perjalanan tauhidmu, dan kauwariskan keris pusaka darma juhudmu, Kauserahkan pakaian pusaka kebesaranmu, dan kauwariskan kendaraan pusaka petualanganku, Kauserahkan pelita cahaya penerang hidupmu, dan kauwariskan ilmu perbekalan perjalananku.

Mohon ampun …., atas kebodohan dan kelancanganku,
Sungguh …,
Ku tak sanggup merendahkan harkat, derajat dan martabatmu, dan tak kuasa merendahkan keluhuran, kemualiaan dan keagunganmu, Ku tak rela menodai kesucian, tak berani mengganggu kebesaran jatidiri dan bangunan kesejatianmu Sungguh …, bukannya karena itu ….…, bukan karena itu, Tapi hanya karena ragaku miskin dengan kata, bahasa dan pengetahuanku.

Aku hormat atas harkat, derajat dan martabatmu, bangga atas kebesaran nama dan jatidirimu, Aku junjung darma kaluhuran, kemuliaan, keagunganmu, dan pelihara atas amanat dan wasiatmu, Aku lanjutkan perjalanan dzikir dan langkah do’amu dan aku teruskan petualangan sholatmu.

Aku senantiasa berharap……
Semoga diberi-Nya kuasa untuk itu …………., agar engkau tak kecewa karena aku, Semoga diberi-Nya izin dan restu untuk itu ., agar engkau bangga karena aku, Semoga diberi-Nya kehendak untuk itu ….…, agar engkau tenang tentram karena aku, Semoga diberi-Nya ridha untuk itu …….……, agar engkau senang dan bahagia karena aku.

Aku senantiasa berharap …, atas kebesaran dan keagungan-Nya,
Aku senantiasa berdo’a ….., atas kemurahan, kebesaran dan kemuliaan-Nya,
Aku senantiasa memohon …, atas kemurahan dan kasih sayang-Nya.
Semoga kiranya engkau tetap abadi bertahta dalam singgasana agung dan mulia, Singgasana kerajaan cahaya nyawa …di dalam kerajaan cahaya Kekasih Yang Mahamulia. Wahai mustika cahaya pemegang tahta pewaris cahaya …. Sang Penghulu Cahaya …… !

Kubuka ketulusanku .…..…, tuk jalan dan perjalanan cahayamu,
Kubuka kelapanganku …….., tuk dilalui cahayamu,
Ku bersimpuh tulus …………, tuk meraih percikan cahayamu,
Kusujudkan khusyuk………, tuk menyerap percikanmu,
Kutegakkan niat dan tekad …, tuk menyelami cahayamu,
Kulangkahkan kehendak ……, tuk menaburkan benih cahayamu.

Cahayamu kubuka lebar …, karena kebutuhan untuk jalan pembuka kegelapan,
Cahayamu kutaburkan ……, karena kewajiban untuk penerang kegelapan,
Cahayamu kusampaikan …, karena keharusan untuk penebus kebodohan,
Cahayamu kuwasiatkan …, karena amanat untuk harta peninggalan,
Cahayamu kusampaikan …, karena wasiat untuk perbuatan,
Cahayamu kuberikan … …, karena keyakinan untuk pegangan.

Semua aku lakukan ;
Karena kemurahan, sebagaimana yang telah engkau buktikan,
Karena keharusan, sebagaimana yang engkau ajarkan dan pengakuan yang engkau yakinkan,
Karena kewajiban, sebagaimana yang engkau tugaskan, dan kasih sayang yang engkau contohkan,
Karena bagian, sebagaimana yang engkau lakukan, dan keinginan yang engkau wasiatkan. Aku merupakan bagian yang meneruskan perjalanan, menerangi kegelapan, memerangi kebodohan, Aku hanya merupakan warisan…., yang melanjutkan tahta kebesaran tauhid darma kejuhudan, Aku hanya merupakan titipan.…., yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan dari keyakinan.
Wahai para mustika cahaya pemegang tahta pewaris cahaya …. Sang Bangunan Cahaya …… !

Kumohon kelapangan tuk kusampaikan cahayamu .., sebagai kewajiban,
Kumohon ketulusan tuk kuberikaan cahayamu ……, sebagai amalan,
Kumohon pengertian, tuk ku titipkan cahayamu …, sebagai perbekalan,
Kumohon keridhaan, tuk ku wariskan cahayamu …, sebagai kekayaan,
Ku mohon kepahaman, tuk ku teruskan cahayamu …, sebagai keharusan.

Semua aku lakukan, … :
Karena kasih sayang yang engkau contohkan,
Karena kemurahan yang engkau buktikan, dan keharusan yang engkau ajarkan, Karena pengakuan yang engkau yakinkan, dan kewajiban yang engkau tugaskan, Karena bagian yang engkau akukan, dan keinginan yang engkau ingatkan.

Aku merupakan bagian … yang meneruskan perjalanan,
Aku merupakan bagian … yang menerangi alam kegelapan, yang memerangi kebodohan,
Aku merupakan warisan … yang melanjutkan tahta kebesaran,
Aku merupakan titipan … yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan.
Wahai para mustika cahaya pemegang tahta ahli waris cahaya …. Sang Penabur Cahaya….!

Kumohon ketulusan tuk dapat menyertaiku, sebagai kemanunggalan,
Kumohon kepahaman tuk dapat mendampingiku, sebagai perikatan,
Kumohon kebijakanmu tuk dapat melakukan, sebagai kebersamaan,
Kumohon kearifanmu tuk dapat mengingatkanku, sebagai persaudaraan.

Semua aku lakukan, … :
Karena kasih sayang yang juga engkau lakukan, dan kemauan yang engkau inginkan, Karena kejuhudan yang juga engkau buktikan, dan keharusan yang juga engkau pahamkan, Karena pengakuan yang engkau yakinkan, dan kewajiban yang juga engkau laksanakan, Karena bagian ketaatan yang engkau akukan, dan keharusan yang juga engkau ingatkan, Aku juga merupakan bagian … yang meneruskan perjalanan, melakukan petualangan, Aku juga merupakan bagian … yang menerangi alam kegelapan, memerangi kebodohan, Aku juga merupakan warisan … yang melanjutkan tahta kebesaran, memelihara kehormatan, Aku juga merupakan titipan … yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan.

Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan