WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Sabtu, 05 Juli 2014

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI:

Di Olah oleh: Wong Edan Bagu
Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah ungkapan bahasa Jawa yang paling saya sukai. Maknanya kurang lebih: Keberanian, kedigdayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan dengan panembah. Segala sifat angkara, lebur dengan kesabaran dan kelembutan. Kata-kata bijak ini bisa kita baca dimana-mana, bahkan ditempel dimana saja, mungkin juga yang menulis atau menempel tidak terlalu paham artinya.

"Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah bagian dari salah satu bait "Pupuh Kinanthi" dalam "Serat Witaradya" buah karya R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan R Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya.

PEMAHAMAN MAKNA TEMBANG;
Selengkapnya "Pupuh Kinanthi" tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Jagra angkara winangun;
(2) Sudira marjayeng westhi;
(3) Puwara kasub kawasa;
(4) Sastraning jro Wedha muni*);
(5) Sura dira jayaningrat;
(6) Lebur dening pangastuti*)

Ada yang menulis (4) “Wasita jro wedha muni”
Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

(1) Jagra: Bangun (dalam pengertian “melek”); Angkara: Angkara; Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);
(2) Sudira: Amat berani; Marjayeng: Jaya ing, menang dalam ... ; Westhi: Marabahaya;
(3) Puwara: Akhirnya; Kasub: terkenal, kondang; Kawasa: Kuasa; 
(4) Sastra: Tulisan, surat-surat, buku-buku; Jro: Jero, Di dalam; Wedha: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu; Muni: berbicara; 
(5) Sura: Berani; Dira: Berani, kokoh; Jaya: menang; Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di; Rat: Jagad
(6) Lebur: Hancur; Dening: Oleh; Pangastuti: pamuji, pangalem, pangabekti, panembah.

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:Baris ke 1 sd 3 menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara. Sedangkan baris ke 4 sd 6 menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.Di bawah adalah kisah pendukung “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang dapat dibaca pada Serat Witaradya, tentang kesetiaan seorang istri yangt dapat mencegah niat buruk laki-laki dengan “pangastuti”

KISAH NYAI PAMEKAS;
Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang.

Dengan tutur kata lembut dan "ulat sumeh" Nyai Pamekas berupaya menyadarkan R Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di"sirep" (dibuat tidur dengan ilmu sirep)

Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti R Citrasoma, tentu saja me"nyirep" orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan R Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan R Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

R Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

YUDISTIRA DAN CANDRABIRAWA;
Menjelang akhir perang Bharayuda, Yudistira dipasang untuk melawan Prabu Salya yang sakti mandraguna dan memiliki aji-aji Candrabirawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bima dan Harjuna sudah kewalahan. Dipukul gada atau dipanah, tidak mati malah bertambah banyak. Akhirnya Candrabirawa berhadapan dengan Yudistira, raja yang dikenal berdarah putih, tidak pernah marah apalagi perang. Raksasa raksasa Candrabirawa tidak dilawan.Bahkan didiamkan saja. Raksasa-raksasa Candrabirawa pun kembali ke tuannya

KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD;
Orang lemah lembut sering dianggap lemah. Ini masalahnya. Sehingga lebih banyak orang yang berupaya menunjukkan kekuasaan dengan pamer kekuatan yang bermanifestasi sebagai tindak angkara. Ia lupa bahwa sikap memberikan “pangastuti” mampu melebur tingkah yang “sura dira jaya ning rat”  Masih dalam Serat Witaradya, pupuh Kinanti R Ng Ranggawarsita menjelaskan seperti apa manusia yang sudah mampu mengendalikan menata hawa nafsunya sebagai berikut:

(1) Ring janma di kang winangun;
(2) Kumenyar wimbaning rawi;
(3) Prabangkara dumipeng rat;
(4) Menang kang sarwa dumadi;
(5) Ambek santa paramarta;
(6) Puwara anyakrawati

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:
(1) Ring (Maring: Kepada); Janma: Manusia; Di (Adi: baik); Kang: Yang; Winangun: Ditata;
(2) Kumenyar: Bercahaya; Wimba:Seperti; Rawi: matahari
(3) Prabangkara: Matahari; Dumipeng: Sampai ke; Rat: Jagad
(4) Menang: Mengalahkan; Kang: Yang; sarwa: serba; Dumadi: Semua makhluk
(5) Ambek: Sifat; Santa: sabar; Paramarta: Adil bijaksana
(6): Puwara: Akhirnya; Anyakrawati: Memerintah

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:Pada  orang utama yang sudah mampu menata hawa nafsunya (tidak bersifat angkara murka); Bercahaya seperti sinar matahari; Sinarnya menerangi jagad; menguasa seluruh isi jagad; wataknya sabar, adil dan bijaksana; Akhirnya bisa menguasai jagad (maksudnya pemerintahan).

Pangastuti (panembah) disini dapat diartikan dengan penerapan laku-linggih dan solah muna-muni (perilaku dan ucapan) dalam penerapan Basa Basuki.Itulah "Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti", yang mampu mengalahkan sifat yang mengarah ke “Adigang Adigung Adiguna”. Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad ke 21 ini.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan

PITUTUR JAWA: No. 01

Soal MENCELA Atau NGRASANI.
Oleh: Sri Sunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh
Di terjemahkan oleh: Wong Edan Bagu

MENCELA (memaoni, nacad) termasuk salah satu perilaku bicara tidak terpuji yang sering kita lakukan. Sri Sunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh memasukkan “memaoni ini dalam “Sesiku telung prakara”  Membicarakan orang lain (ngrasani) pada umumnya yang dibicarakan juga hal-hal buruk (celaan). Ngrasani baik itu amat jarang. Dalam Serat Wulangreh, pupuh Durma bait ke 8 disebutkan ...... sira menenga; aja sok angrasani. Lengkapnya sebagai berikut:

8. ingkang eling angelingêna ya marang sanak kônca kang lali dèn nêdya raharja mangkana tindakira yèn datan kaduga uwis sira mênênga aja sok angrasani.

Kembali ke peribahasa Indonesia yang mengatakan “Mulutmu harimau kamu” demikian pula “Berbicara peliharalah lidah, berjalan peliharalah kaki”, maka perilaku suka mencela, baik di balik punggung (ngrasani) maupun berhadapan muka, sebaiknya kita kurangi sebanyak-banyaknya, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan rugi.

Pitutur Jawa di bawah ini. Bersumber dari Sabda Pangandikaning Sri Sunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh. Beliau adalah Tokoh Spiritual jawa yang banyak menginspirasi saya dalam Proses Laku  Hidup dan Kehidupan ini. Kemudian saya Renungi lalu saya Terjemahan dalam bahasa Indonesia bebas/umum. Selamat membaca, semoga ada manfaat yang dapat dipetik.


1. MENGAPA MENCELA?

a.  Geneya akeh wong kang dhemen nyatur alaning liyan lan ngalembana awake dhewe? Sebabe ora liya marga wong-wong sing kaya ngono mau ora ngerti yen penggawe mau klebu pakarti kang ora prayoga, mula perlu dingertekake. Awit yen ora enggal-enggal nyingkiri pakarti kang ora becik mau, wusanane dheweke kang bakal diemohi dening pasrawungan.

TERJEMAHAN:
Mengapa banyak orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain dan memuji dirinya sendiri? Tidak lain karena orang tersebut belum tahu kalau perilaku tersebut termasuk perbuatan yang tidak benar, oleh sebab itu perlu diberi pengertian. Karena apabila tidak segera menyingkiri perbuatan tercela tersebut pada akhirnya orang itu akan dijauhkan dari pergaulan.

b.  Karepe wong nyatur alaning liyan iku beteke mung arep nuduhake becike awake dhewe. Yen sing diajak nyatur wong kemplu, pamrih sing kaya mangkono mesti katekane. Nanging tumraping wong mursid: “Wong kang ngumbah rereged ing awake sarana migunakake banyu peceren malah saya nuduhake blentonge pambegane”

TERJEMAHAN:
Maksud menjelekkan orang lain sebenarnya untuk menunjukkan kebaikan diri sendiri. Kalau yang diajak bicara orang tolol, maksud tersebut akan kesampaian. Tetapi untuk orang mursyid: “Mencuci kotoran dengan air comberan hanya akan menunjukkan kotornya kelakuan sendiri”.

c. Wong kang nduweni watak tansah njaluk benere dhewe iku adate banjur kathukulan bendhana seneng nenacad lan ngluputake marang panemu sarta tindak tanduke wong liya. Mendah becike yen wong sing kaya mangkono mau kala-kala gelem nggraita ing njero batine: “mbokmenawa aku sing kleru, mula coba dak tlitine klawan adil sapa sing sejatine nyata-nyata bener”

TERJEMAHAN:
Orang yang mempunyai watak selalu merasa benar sendiri umumnya juga mempunyai tambahan watak suka mencela dan menyalahkan pendapat dan perilaku orang lain. Alangkah baiknya kalau orang seperti itu kadang-kadang mau berpikir dalam hatinya: “Jangan-jangan saya yang salah. Coba saya teliti lebih adil siapa yang sejatinya benar”.


2. MENCELA ITU NIKMAT;

Ora ana sêgêring awak kaya wong nyatur alaning wong, ambêcikake awake dhewe, upama ora nyatur bae kêpriye: êmoh awake, mundhak ora sumyah.

TERJEMAHAN:
Tidak ada yang terasa lebih nyaman di badan selain mencela kejelekan orang dan memuji diri sendiri. Misalnya tidak usah mencela bagaimana? Tidak mau! Nanti badan tidak terasa segar


3. MENCELA ITU MUDAH;

a. Nacad alaning wong iku gampang bangêt. Siji mangkene, loro mangkono, nanging anggunggung cacade dhewe adate ora kobêr.

TERJEMAHAN:
mencela itu amat mudah. Satu begini, dua begitu. Tetapi menjumlah cacad sendiri biasanya tidak sempat

b. Maoni iku panggawe kang gampang dhewe, nanging waonane mau apa bênêr têmênan, durung karuwan.

TERJEMAHAN:
Menasihati (plus mencela) itu pekerjaan yang paling mudah. Masalahnya apa yang kau nasihatkan belum tentu benar

c. Nyatur alaning wong iku gampang. Dening apa ? mung dening paitan kacunggah sarta atine bungah, wah ora dirungu ing wonge kang dirasani, upama anaa wonge kang dirasani: ora mêngkono, banjur malik ilat liru ngalêm, iku wis dadi oyoding atine manungsa, mulane aja gèt-gètên ngrungu panyaturing wong, awit wong kang nyatur iku iya isih dicatur ing wong liyane manèh. Liding gunêm, sok anaa wong dhêmên nyatur: atine èlèk: aja kopêraki.

Mencela keburukan orang lain itu mudah. Modalnya hanya tega dan suka serta tidak didengar oleh yang bersangkutan. Andaikan yang dibicarakan ada, lidah dibalik menjadi memuji. Hal itu sudah mengakar di hati manusia. Oleh sebab itu tidak usah terlalu kaget kalau ada orang suka “ngrasani”. Di tempat lain ia jugta dibicarakan orang. Kesimpulannya: Orang yang suka membicarakan orang lain bukanlah orang baik, jangan didekati


4. JANGAN GAMPANG MENCELA, MEMUJI MAUPUN MENASIHATI;

Yen micara aja gumampang nelakake penacad utawa pangalembana, luwih-luwih nganti memaoni. Awit wicaramu durung karuan bener. Sing mesti panacad mau gawe serik, pangaleme nuwuhake wisa dene waonane ora digugu, kabeh swara ala. Mulane kang prayoga iku mung meneng, jalaran meneng iku yektine pancen mustikaning ngaurip.

TERJEMAHAN:
Bila berbicara jangan terlalu mudah mencela atau memuji apalagi menasihati, karena bicaramu belum tentu benar. Yang pasti celaan akan menyakiti hati, pujian mengeluarkan bisa dan nasihat tidak dituruti. Semua suara berarti jelek. Maka lebih baik diam karena diam itu mustikanya kehidupan.


5. JANGAN CEPAT MENYALAHKAN, CARI DALAM DIRI KITA DULU;

Aja sok ngluputake, gedhene ngundhat-undhat wong liya, samangsa kita ora katekan apa kang dadi kekarepan kita. Becike kita tliti lan kita goleki sebab-sebab ing badan kita dhewe, amrih kita bisa uwal saka dayaning pangira-ira kang ora prayoga. Kawruhana, yen usadane watak apes sing njalari nganti ora katekan sedya kita, ora ana liya, ya dumunung ana ing awak kita dhewe.

TERJEMAHAN:
Jangan suka menyalahkan atau memaki-maki orang lain apabila maksud kita tidak kesampaian. Lebih baik kita teliti dan cari sebab-sebab di dalam diri kita sendiri supaya kita bisa terlepas dari prasangka yang tidak semestinya. Ketahuilah bawa obat sial yang mengakibatkan keinginan kita tidak tercapai tidak ada selain dalam diri kita sendiri.


6. JANGAN SEKEDAR MENYALAHKAN TAPI TUNJUKKAN KESALAHANNYA;

a. Aja sok nyenyamah luputing liyan, luwih becik tuduhna kaluputane kang malah bisa ngrumaketake rasa paseduluran. Ewasemono aja nganti kowe kesusu mbecikake kalakuwane liyan, yen awakmu dhewe rumangsa durung bisa ngenggoni rasa sabar lan tepaslira. Sapa kang wis ngerti lan ngrumangsani marang sakehing dosane, iku sawijining wong kang wis ngerti marang jejering kamanungsane, manungsa kang utama.

TERJEMAHAN:
Jangan suka mencela kesalahan orang lain. Lebih baik tunjukkan kesalahannya. Hal ini malah bisa mempererat rasa persaudaraan. Walaupun demikian, jangan buru-buru mengoreksi perilaku orang lain sebelum kamu sendiri memiliki rasa sabar dan “tepaslira”. Orang yang sudah tahu dan mengakui semua kesalahannya adalah orang yang mengerti tentang hakekat kemanusiaan, dialah orang yang utama

b. Nutuh wong kaluputan iku wis cumepak ana ing lambe, yagene ora kotuturi sadurunge kaluputan.

TERJEMAHAN: 
Mencela kesalahan orang itu sudah tersedia di bibir. Tetapi (sama-sama dari bibir) mengapa tidak diberi arahan dulu sebelum terjadi kesalahan?


7. JANGAN CEPAT MENCELA, SIAPA TAHU NANTI JUSTRU KAMU SUKA;

Menawa kowe durung mangerteni marang bab kang kok anggep ora becik, aja kesusu ngatonake rasa sengitmu, gedhene maoni lan nglahirake panacad. Awit kawruhana yen pikirane manungsa iku tansah mobah-mosik lan molak-malik. Apa kang kok kira ala lan kok gethingi iku ing tembe buri bisa malih kok senengi, kepara malah bisa dadi gantungane uripmu.

TERJEMAHAN:
Apabila kamu belum tahu tentang hal-hal yang kau anggap tidak baik, janganlah tergesa-gesa menunjukkan rasa bencimu atau mengucapkan celaan. Ingatlah bahwa pikiran manusia itu tidak tetap dan berbolak-balik. Apa yang kau benci dan kau anggap jelek saat ini, di belakang hari bisa menjadi yang kau sukai malah bisa menjadi tempat hidupmu bergantung.


8. MENCELA TUMBUHKAN PERMUSUHAN;

Ngalembana lan panacad iku padha bae panindake. Lire, tarikane napas padha, kedaling ilat padha lan obahing lambe ya padha. Sok ngonoa nadyan rekasane utawa gampange padha, nanging oleh-olehane utawa wohe sing ora padha. Ing ngadat kejaba sok adoh sungsate uga malah sering kosokbalen. Sing siji bisa ngraketake paseduluran sijine padha bae karo golek dadakan nandur rasa memungsuhan.

TERJEMAHAN:
Pujian dan celaan itu sama tindakannya. Artinya, sama tarikan napasnya; Sama juga gerakan lidah dan bibir. Bagaimanapun juga, walau susah dan gampangnya sama, tetapi buah yang dipetik tidak sama. Tidak hanya jauh berbeda bahkan bertolak-belakang. Yang satu bisa mempererat tali persaudaraan, satunya lagi justru cari gara-gara untuk menanam benih-benih permusuhan.


9. “NGRASANI” ITU MERUGIKAN DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN”

Ngrasani alaning wong, iku ora mung gawe pitunaning wong kang dèn rasani bae, iya uga gawe pitunane dhewe.

TERJEMAHAN:
Membicarakan kejelekan orang lain itu tidak hanya merugikan bagi yang “dirasani” tetapi juga merugikan diri sendiri.


10. BILA ADA ORANG “NGRASANI” ALIHKAN ARAH PEMBICARAAN;

Lêlabuhan bêcik iku suwargi R. ms H. Jayadiningrat, bupati kaparak kiwa, iku ora tau nyatur alaning wong, luwih manèh angrasani alaning nagara, wis ora pisan-pisan, yèn ana wong nyatur alaning wong utawa ngrasani alaning nagara, disêlani pangandika: bêcik seje gunêm kuwi bae: jagomu si genjong apa wis waras awake ... kang nganggit layang iki wêruh dhewe.

TERJEMAHAN:
Teladan yang diberikan RMH Jayadiningrat, bupati keparak kiwa, beliau tidak pernah membicarakan kejelekan orang lain maupun kejelekan pemerintah. Kalau ada orang yang berperilaku demikian, beliau mengalihkan arah pembicaraan: Bagaimana ayam jagomu, si genjong, apa sudah sehat kembali badannya? Yang menulis buku ini (maksudnya Ki Padmasusastra) mengetahui sendiri.


11. BILA DICELA TETAPLAH SABAR;

Samangsa kowe diclatu wong kanthi sengak aja kok wales sanalika kanthi tembung (rembug) kang sengak lan atos. Prayoga tanggapana mawa pakarti kang alus lan sareh. Jer, yen klawan laku kaya mangkono iku, kowe bisa ngendhakake watak kang panasbaran, lan bisa ngasorake sipat kang lagi kasinungan iblis.

TERJEMAHAN:
Sewaktu orang berbicara kepadamu dengan omongan yang tidak enak jangan seketika kau balas dengan ucapan serupa dan keras. Tanggapilah dengan halus dan sabar. Hanya dengan cara itu kamu dapat mengendalikan watak kasar dan keras serta mengalahkan manusia yang sedang kemasukan iblis


KESIMPULANYA;
Sebaiknya kesenangan yang satu ini: Mencela, mencela sekaligus memberi pitutur, dan membicarakan kejelekan orang lain, kita buang jauh-jauh. Melakukannya mudah, senangnya hanya sesaat dan selebihnya diri sendiri yang akan merugi. Bila ada orang berperilaku demikian, kita tidak usah ikut-ikutan, dan bila kita yang dicela, bersikaplah “Sabar Narima Ing pandum/Legawa”

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan

PITUTUR JAWA: No.02

Soal BAIK DAN BURUK, BENAR DAN SALAH.
Oleh: Ki Padmasusastra dalam Layang Serat Madubasa.
Di terjemahkan oleh: Wong Edan Bagu


Baik dan buruk, benar dan salah adalah bagian kehidupan kita yang sehari-hari kita jumpai. Umumnya kita selalu berpendapat kalau baik dan benar adalah saya sebaliknya yang buruk dan salah pasti orang lain. Manusia kebanyakan masih menggunakan ukuran seperti itu. Lalu kapan kita mau mengakui bahwa di sana ada orang yang lebih baik dan lebih benar daripada kita?

Pitutur Jawa di bawah ini. Bersumber dari “Layang Serat Madubasa” yang ditulis oleh Ki Padmasusastra Ngabehi Wirapustaka di Surakarta, 1912. Tokoh Spiritual jawa yang banyak menginspirasi saya dalam Proses Laku  Hidup dan Kehidupan ini. Kemudian saya Renungi lalu saya Terjemahan dalam bahasa Indonesia bebas/umum. Selamat membaca, semoga ada manfaat yang dapat dipetik.

1. TANAMLAH PIKIRAN DAN PERBUATAN BAIK;

Hukum alam wis netepake, sapa kang nandur bakal ngundhuh. Dene apa kang diundhuh iya manut wijine kang ditandur. Yen sing ditandur winih alang-alang, ya aja ngarep-arep bisa panen pari, iku genah nyalahi kodrat. Mula mumpung isih esuk, nandura wiji cipta lan panggawe kang becik-becik. Awit elingana, yen akeh sethithik anak putu kita uga bakal katut melu ngrasakake pahit getire wong kang bibite ditandur dening wong tuwane.

TERJEMAHAN:
Hukum alam sudah menetapkan, siapa yang menanam akan memetik hasilnya. Apa yang akan dipetik tentusaja sesuai dengan apa yang ditanam. Kalau yang ditanam biji alang-alang ya tidak mungkin memanen padi, karena jelas menyalahi kodrat. Oleh sebab itu mumpung masih pagi, tanamlah biji pikiran dan perbuatan baik. Ingatlah sedikit banyak anak cucu kita juga akan ikut merasakan pahit getirnya orang yang bijinya ditanam oleh orang tuanya.


2. MANUSIA LEBIH SUKA BERBUAT BURUK DARIPADA BAIK;

a. Ala karo becik pilih endi, aja koarani mokal, tlusuren igamu dhisik, satemene manungsa dhemen ala tinimbang karo becik, dadi yen diarani ala: ginjal-ginjal.

TERJEMAHAN:
Baik dan buruk pilih mana? Jangan katakan tidak mungkin. Cobalah telusuri igamu. Sebenarnya manusia lebih suka buruk daripada baik. Jadi kalau dikatakan buruk: Menjingkat.

Keterangan: Iga kalau ditelusuri terasa geli sehingga kita menjingkat (ginjal-ginjal)

b. Ora ana piwulang sing akon anglakoni panggawe ala, kajaba layang Jiljalaha. Yagene pijer gawe piwulang becik bae, malah: ma: papat, (madat, madon, main, minum) isih kurang diwuwuhi têlu, dadi pitu, wong wis ora digugu gawene apa. Sok mangkonoa wong iku wis sumurup marang ala becik, mung sing didhemeni nglakoni panggawe ala, atine bungah, gelis ketutugan karepe, sanadyan kaduwung ing buri ditemah, nekad arane, piwulange iya aran nekad.

TERJEMAHAN:
Tidak ada pitutur yang menyuruh berbuat buruk (kecuali dalam buku Jiljalaha. Mengapa banyak membuat pitutur baik saja, malah ma empat (madat, madon, main, minum) masih kurang. Ditambah tiga menjadi tujuh. Ya tidak dituruti, mau apa?Walau begitu sebenarnya orang sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya yang disukai melakukan yang buruk. Hatinya senang, maksudnya cepat kesampaian, walaupun menyesal di kemudian hari. Itu namanya nekad, dan pituturnya juga nekad

Keterangan: Dalam buku Jiljalaha: isinya pitutur kebaikan tetapi cara menyampaikan dengan kebalikannya, yaitu menyuruh berbuat salah

c. Becik iku ora tedhas ing ala, suprandene arang sing dhemen anglakoni panggawe bêcik.

TERJEMAHAN:
Kebaikan tidak bisa dikalahkan keburukan. Walau demikian jarang orang yang mau melakukan perbuatan baik


3. TIDAK BISA MENGATAKAN BURUK KALAU BELUM TAHU BAIK;

Ora bisa ngarani: ala, yen durung sumurup ing becik, mangkono uga kosokbaline.

TERJEMAHAN:
Kita tidak bisa mengatakan buruk kalau belum tahu baik seperti apa; demikian pula sebaliknya


4. KALAU BARANG KITA PILIH YANG BAIK, KALAU KELAKUAN PILIH YANG BURUK;

Pilih endi ala karo becik. Aneh pitakonanmu. Ora aneh, yen barang kowe mesthi milih kang becik, nanging yen kalakuan, kowe milih sing ala, aja selak.

TERJEMAHAN:
Pilih mana buruk dan baik? Aneh pertanyaanmu. Tidak aneh. Kalau barang, kamu pasti pilih yang baik. Tetapi kalau kelakuan kamu pilih yang buruk. Jangan ingkar.


5. PERBUATAN BAIK DAN BURUK: DUA-DUANYA AKAN KETAHUAN;

Becik ketitik ala ketara, sarèhning ala becik mesthi bakal kawanguran, perlune apa nglakoni panggawe ala.

TERJEMAHAN:
“Becik ketitik ala ketara”. Mengingat perbuatan baik dan buruk pasti akan ketahuan, apa perlunya melakukan perbuatan buruk?


6. BERBUAT BAIK: LANGGENG;

a. Ora ana barang langgeng, mung kabecikan kang ora bisa sirna, sanadyan kang gawe becik wis ana ing jaman kailangan, kabecikane iya ora bisa ilang, isih ditinggal ana ing ngalam dunya, wong kang duwe lelabetan mangkono, iku unusaning manungsa, patut dadi sudarsananing ngaurip.

TERJEMAHAN:
Tidak ada barang yang langgeng. Hanya kebaikan tidak bisa sirna, walaupun yang berbuat baik telah meninggal. Kebaikannya juga tidak hilang, masih ditinggal di dunia. Orang yang punya pengabdian seperti itu adalah orang baik, patut diteladani dalam kehidupan.

b. Kabecikan langgeng: iku mitulungi marang wong kajantaka, ora oleh tetempuh pitunane.

TERJEMAHAN:
Kebaikan langgeng: Adalah menolong orang celaka. Kerugian yang dikeluarkan tidak mendapat ganti.


7. BERBUAT BAIK: TANPA PAMRIH DAN TAK PERLU DIPAMERKAN;

a. Nglakoni kabecikan genti winales ing kabecikan, mung oleh tembung tanggap tarung: becik binecikan dadi lagi jamak bae, utamane nglakoni kabecikan kang tanpa pamrih, gandane ngambar nganti tutug ing suwarga.

TERJEMAHAN:
Melakukan kebaikan dan dibalas kebaikan, hanya timbal balik: baik, dibaiki. Jadi wajar-wajar saja. Yang utama adalah melakukan kebaikan yang tanpa pamrih. Baunya semerbak sampai ke sorga

b. Yen kowe gawe kabecikan, simpenen ana ing pethi, soroge titipna ing liyan, supaya kowe ora bisa ambukak isining pethi kabecikan, awit yen kowe kang bukak, gandane: mambu, yen wong liya: arum.

TERJEMAHAN:
Kalau kamu berbuat kebaikan, simpanlah dalam peti, kuncinya titipkan orang lain, supaya kamu tidak bisa membuka isinya peti kebaikan tersebut. Sebab kalau kamu yang membuka, baunya busuk, sedangkan kalau orang lain yang membuka, baunya harum


8. KEBAIKAN ORANG TULIS DI HATI DAN KEBAIKAN SENDIRI TULIS DI TANAH;

Kabecikaning liyan tinulisa ing ati supaya nabet ora bisa ilang ing salawas-lawase, nanging kabecikane dhewe tinulisa ing lemah supaya gelis ilang tabete sirna tanpa tilas.

TERJEMAHAN:
Kebaikan orang lain tulislah di hati supaya bekasnya tidak hilang selama-lamanya. Tetapi kebaikan kita sendiri tulislah di tanah supaya bekasnya cepat hilang, sirna tanpa jejak.


9. PERBUATAN BAIK: RAJA TIDAK TAHU TETAPI ALLAH TAHU;

Aja sumelang anglakoni panggawe becik, sanadyan ora kauningan ing panjenengan nata dening kawaranan, ananging Gusti Allah anguningani saparipolahmu, bonggan sira ora pandhak mari anglakoni panggawe becik, dhemen anglakoni panggawe ala, ora ngandel marang pitulungan Allah kang durung tumiba.

TERJEMAHAN:
Jangan ragu melakukan perbuatan baik, walaupun tidak diketahui raja, tetapi Allah mengetahui apa saja yang kau lakukan. Salahmu sendiri kalau kamu tidak mau melakukan perbuatan baik dan suka melakukan perbuatan buruk, tidak percaya kepada pertolongan Allah yang belum datang saat ini


10. MERASA BENAR BELUM TENTU BENAR;

Sanadyan pangrasane wis nindakake panggawe bener, nanging wong akeh ora ngrujuki, iku pratandha yen luput, aja puguh pikiren dhisik dinganti ketemu.

TERJEMAHAN:
Walaupun kita merasa sudah melakukan perbuatan benar, tetapi kalau banyak orang yang tidak setuju, berarti perbuatan kita salah. Jangan mempertahankan diri, pikirkanlah lagi sampai ketemu


11. TIDAK ADA GUNANYA MENYALAHKAN ORANG SALAH;

Ora ana wong ngaku luput, sanadyan ing batin wis sumurup dhewe ing lair iya isih ngaku bener, awit saka iku ora ana perlune pisan-pisan nutuh wong keluputan, luput-luput salin babah dadi padu salin mungsuh.

TERJEMAHAN:
Tidak ada orang mengaku salah, walaupun dalam hatinya tahu kalau salah, ya tetap mengaku benar. Oleh sebab itu apa manfaatnya menyalahkan orang yang salah; salah-salah menimbulkan pertengkaran dan tambah musuh


12. DI DUNIA INI SEMUA SALAH, KECUALI SAYA;

Ora ana wong ora rebut bener, apa sing kolakoni ing salawase iku luput, nyatane yen mangkono, bocah dolanan tansah arebut bener, saupama ora ana sing nakal, amesthi tanpa gumeder, awit bener lupute ora bisa awor ngalela dhewe-dhewe, dadi ing dunya iki kaeping manungsa mung diiseni luput, benere disingidake primpen arep dianggo dhewe.

TERJEMAHAN:
Tidak ada orang tidak berebut benar. Apa yang kau lakukan akan selalu salah. Nyatanya, anak bermain selalu berebut benar. Seandainya tidak ada yang nakal, permainan tidak ramai karena benar dan salah tidak bisa campur, berdiri sendiri-sendiri. Maunya manusia, dunia ini hanya diisi kesalahan. Kebenaran disembunyikan rapi, mau dipakai sendiri.


13. HAL BENAR HARUS DIPEROLEH MELALUI PERBUATAN BENAR;

Bener iku dadi rebutaning ngakeh, nanging panggayuhe akeh kang disangkani saka panggawe luput, rumasane gelis kecandhak, saupama panggayuhe mau disangkani saka panggawe becik, kira-kira mesthi dadi becik temenan, murni ing salawas-lawase, sanadyan lawas kecandhake.

TERJEMAHAN:
Benar itu jadi rebutan orang banyak, tetapi cara memperolehnya ada yang melalui perbuatan salah, karena lebih cepat tercapai. Seandainya cara memperolehnya melalui jalan yang benar, kira-kira akan jadi betul-betul baik, bersih selamanya, walaupun untuk mencapainya perlu waktu lama


14. KESALAHAN TEMAN: DIKOREKSI ATAU TIDAK?

Ambenerake kaluputaning kancane: ora mesthi katarima, nanging yen ora ambenerake: cacad, duwe kandhutan ala supaya awake katon becik, ora sumurup yen becike bisa malicat saka duwe kandhutan ala mau. Kapenake kudu mawang langit lan nganggo empan papan.

TERJEMAHAN:
Mengoreksi kesalahan teman belum tentu diterima. Tetapi kalau tidak dikoreksi, kita juga salah, karena berarti kita punya maksud jelek supaya kita kelihatan baik, padahal baik kita itu bisa menyesatkan. Jadi perlu dipertimbangkan secara bijaksana melihat waktu dan tempatnya


15. ORANG BERUNTUNG SELALU BENAR;

Wong iku yen lagi tinunggu ing begja saparipolahe kudu kabenean, carta malah tinulad ing akeh, beda karo wong kang lagi tininggal ing begja, sanadyan anglakoni panggawe bener iya linuputake ing akeh, ananging wong yen wis anglakoni bener, arep golek apa maneh, apa bakal mundur golek kabeneran: aneh, apa sungsang buwana balik: tangeh. Ujaring sujana angere isih ana pati, ora ana barang langgeng.

TERJEMAHAN:
Manusia kalau sedang beruntung, apapun selalu benar, malah diikuti orang banyak. Lain dengan orang yang sedang dijauhi keberuntungan. Walaupun ia melakukan perbuatan yang benar, tetap saja disalahkan orang banyak. Tetapi orang yang melakukan perbuatan benar, mau cari apa lagi? Kalau mengundurkan diri dari melakukan kebenaran, kan aneh. Kalau mau melakukan sebaliknya, tidak mungkin. Tetapi kata para bijaksana, selama masih ada kematian, barang yang langgeng itu tidak ada.


16. MENGAKUI KESALAHAN: ADALAH PLAN B;

Ngakoni kaluputan iku metu saka ing pakewuh kang kaping pindho, dening pakewuh kang kapisan wis linakonan rampung, nanging arang sing gelem, dipilampu angrakit tembung kang bisa ngaling-alingi utawa ngilangake kaluputane golek bener, ora sumurup yen wetuning uni utawa pratingkah luput, padha lan tibaning balang ing kalen, ora bisa bali.

TERJEMAHAN:
Orang mengakui kesalahan adalah melaksanakan rencana kedua. Rencana pertama sudah dilaksanakan dan sudah selesai, merakit kalimat untuk menutupi atau menghilangkan kesalahannya, mencari benarnya sendiri. Tidak tahu kalau ucapan yang dikeluarkan sama dengan membuang batu di selokan. Tidak bisa kembali.


KESIMPULANYA:
Orang lain lah yang menilai bahwa kita ini baik dan benar, bukan diri kita sendiri. Berbuat baik kalau sudah terbiasa sebenarnya menyenangkan. Hanya mengawalinya yang berat. Mengakui kesalahan seharusnya Plan A bukan Plan B. Berbuat benar juga tidak mudah. Kalau kita sudah membiasakan diri dengan berbuat benar, ada satu kendala yang kita hadapi yaitu situasi Bener ning ora pener. Inilah romantika kehidupan karena kita juga harus empan papan dalam melakukan sesuatu.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan

PITUTUR JAWA: No.01


Soal MENJALANI KEHIDUPAN .
Dari kitab kuno.
Di terjemahkan oleh: Wong Edan Bagu

Selain dari Ki Padmasusastra dalam Serat Madubasa nya dan Sri Sunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh nya. Saya juga menemukan butir-butir pitutur luhur jawa Dari beberapa Kitab Primbon Kuno. Yang Penulisnya saya sendiri tidak tau, siapa. Karena Sampul dan lembaran bukunya sudah Rusak termakan usia. Karena Rasanya pas untuk kita hayati guna menangkal perilaku manusia sesuai warning yang disampaikan oleh R Ng Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha dan Serat Sabdatama: Jaman Kalabendu. Kemudian saya Pilih yang masih nampak jelas Tulisannya dan saya Renungi, lalu saya Terjemahkan dalam bahasa Indonesia bebas/umum. Selamat membaca, semoga ada manfaat yang dapat dipetik.


1. MANUSIA DINILAI DARI PERBUATANNYA;
Ajining manungsa iku kapurba ing pakartine dhewe, ora kagawa saka keturunan, kepinteran lan kasugihane. Nanging gumantung saka enggone nanjakake kapinteran lan kasugihane, sarta matrapake wewatekane kanggo keperluan bebrayan. Kabeh mau yen mung katanjakake kanggo keperluwane dhewe, tanpa paedah.

TERJEMAHAN:
Nilai seorang manusia ditentukan oleh perbuatannya sendiri, tidak dibawa melalui keturunan, kepandaian dan kekayaannya. Tetapi bergantung bagaimana dia menerapkan kepandaian, kekayaan dan wataknya dalam bermasyarakat. Semua kalau diarahkan untuk kepentingan sendiri tidak akan bermanfaat.


2. ORANG MENARIK: BUKAN DARI PAKAIAN;
Reseping sarira ora marga saka pacakan kang edi-peni, nanging gumantung ing sandhang penganggo kang sarwa prasaja, trapsilaning solah bawa lan padhanging polatan.

TERJEMAHAN:
Seseorang menarik bukan karena pakaian yang indah melainkan terletak pada kesederhanannya, sopan santunnya dan cerahnya wajah.


3. DALAM MELANGKAH DAN BEKERJA: TELADANI AIR;
Saben tumindak sejangkah ngiloa marang kinclong-kinclonge banyu samudra sing suthik kanggonan sangkrah, jalaran sakehe uwuh mesti disingkirake minggir. Saben makarya sapecak, tuladhanen pakartine banyu tritisan, nadyan tumetes mbaka satetes, ditindakake kanti ajeg kaconggah mbolongake watu sing atose ngluwihi waja.

TERJEMAHAN:
Setiap berjalan satu langkah, bercerminlah pada gemerlapnya air samodera yang tidak mau ketempatan sampah, karena semua kotoran senantiasa disingkirkan kepinggir. Setiap langkah dalam pekerjaan, teladanilah perilaku air dari talang. Walaupun menetes satu tetes demi satu tetes mampu melobangi batu yang lebih keras dari baja.


4. MAU MENURUTI PERINTAH DAN NASIHAT;
Aboting abot iku ora kaya yen kudu nuruti prentah lan pitutur. Pahit lan ngrekasa dikaya ngapa prentah lan pitutur iku prayoga dilakoni. Kowe mesti bakal nemu barang legi sing ora klebu ing petunganmu, ing suwalike barang pahit mau, Pancen luwih prayoga pahite dhisik tinimbang legine. Awit bisane kowe ngrasakake legi iku rak marga kowe wis ngrasakake pahit. Bisa ngrasakake kabungahan marga kowe wis ngalami nandang kasusahan.

TERJEMAHAN:
Hal yang paling berat diantara yang berat adalah keharusan mengikuti perintah dan nasihat. Bagaimanapun pahit dan beratnya, sebaiknya perintah dan nasihat itu diikuti saja. Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang manis di luar perhitunganmu dibalik barang yang pahit itu. Bukankah lebih baik merasakan pahit dahulu sebelum manisnya? Kamu bisa merasakan manis itu kan setelah tahu rasanya pahit. Demikian pula kamu bisa merasakan kesenangan karena kamu pernah mengalami kesusahan.


5. MAU MINTA PENDAPAT ORANG;
Wong pinter kang isih gelem njaluk rembuging liyan iku dianggep manungsa wutuh. Sapa sing rumangsa pinter banjur suthik njaluk rembuging liyan kuwi manungsa setengah wutuh. Lan sing sapa ora gelem njaluk rembuging liyan, iku bisa kinaran babar pisan durung manungsa.

TERJEMAHAN:
Orang pandai yang mau meminta pendapat orang lain bisa dikatakan manusia utuh. Yang merasa pandai kemudian enggan meminta pendapat orang lain adalah manusia setengah utuh. Kemudian siapapun yang tidak mau minta pendapat orang lain bisa dikatakan samasekali belum menjadi manusia.


6. JANGAN TERLALU MUDAH MOHON PETUNJUK;
Wong kang kerep dipituturi wong liya iku adate bisa dadi wong kang ngati-ati, nanging menawa kapengkok ing perlu sok ora bisa tumindak lan ngrampungi dhewe. Kepeksa isih kudu noleh marang wong liya sing diwawas bisa aweh pituduh. Mula kuwi prayoga ngawulaa marang ati lan kekuwatanmu dhewe, jalaran sejatine yen ana apa-apane, wong liya iku mung saderma nyawang, ora melu ngrasakake.

TERJEMAHAN:
Orang yang sering diberi nasihat oleh orang lain biasanya menjadi orang yang hati-hati, tetapi kalau dihadapkan pada sesuatu sering tidak bisa memutusi sendiri. Terpaksa masih harus berpaling kepada orang lain yang dipandang mampu memberi petunjuk. Oleh sebab itu, sebaiknya berpeganganlah pada hati dan kekuatanmu sendiri, karena sebenarnya kalau terjadi sesuatu maka orang lain hanya sekedar melihat tanpa ikut merasakan.


7. JANGAN GAMPANGAN DAN MENGANGGAP ENTENG APA SAJA;
Sapa kang nganggep apa bae gampang, mesti bakal nemu akeh rubeda. Sapa kang gampang janji ya dheweke kang arang netepi.

TERJEMAHAN:
Siapa yang menganggap apa saja mudah, pasti akan banyak menemukan masalah. Siapa yang gampang janji, dialah yang jarang menepati janji.


8. JANGAN MENUNDA PEKERJAAN;
Sarupane pakaryan kang wis kok yakini beciking asile tumuli enggal katindakna, aja ngenteni liya wektu. Jer kekencengan sarta kekarepan iku yen diendhe-endhe ora mundhak kuwate. Nanging malah mundhak ringkih lan bisa uga ilang dayane. Sipat seneng ngendhe-endhe iku mujudake dalan kang anjog marang watak ora antepan lan kesed, sungkan ing gawe sing tundhone dadi tanpa aji urip ing bebrayan.

TERJEMAHAN:
Semua pekerjaan yang sudah kau yakini manfaat dari hasilnya, hendaknya segera dilaksanakan, jangan ditunda. Niat dan tekad kalau ditunda-tunda tidak akan bertambah kuat. Justru menjadi semakin lemah bahkan hilang kekuatannya. Sifat suka menunda-nunda merupakan jalan menuju watak tidak tetap dan malas. Malas bekerja membuat kita tidak berharga dalam kehidupan bermasyarakat.


9. MAMPU MENYIMPAN RAHASIA DAN TIDAK INGIN TAHU RAHASIA ORANG LAIN;
Sarupaning wewadi sing ala lan becik yen isih mbok keket kanti remiting ati salawase tetep dadi batur. Nanging yen mbok ketokake sathithik bae bakal dadi bendaramu.Nyimpen wewadine dhewe bae abot, apa maneh yen nganti pinitaya nggegem wewadining liyan. Mula saka iku aja sok dhemen meruhi wewadining liyan. Mung bakal nambahi sanggan sing sejatine dudu wajibmu melu ngopeni.

TERJEMAHAN:
Semua rahasia yang baik maupun buruk kalau tetap kau simpan dalam hati selamanya akan tetap menjadi budakmu. Sebaliknya kalau kau buka sedikit saja maka akan menjadi tuanmu. Menyimpan rahasia pribadi saja berat apalagi kalau dipercaya menyimpan rahasia orang lain. Oleh sebab itu jangan suka mengetahui rahasia orang lain. Hanya akan menambah beban yang sebetulnya bukan kewajibanmu untuk memeliharanya.


10. SUKSES: JANGAN HILANG KEWASPADAAN;
Wong kang kinaran “sukses” yaiku: Wong kang wis ngetog kadibyane, ngudidaya nganti kecandhak gegayuhan lan idham-idhamane kang laras karo pepenginane. Tekane “sukses” durung ateges tamating crita, nanging malah kudu tansah luwih waspada, prayitna lan ngati-ati. Jalaran adhakane wong sing wis “sukses” banjur kurang kaprayitnane, sembrana lan gumampang ing sabarang tumindake, kang luput sembire bisa klenggak.Mula “sukses” iku anggepen kayadene sawijining pandadaran kanggo lestarining panggayuh becik.

TERJEMAHAN:
Orang sukses yaitu: Orang yang sudah mengeluarkan semua kemampuannya dan berupaya sampai tercapai harapan dan keinginannya sesuai yang dicita-citakan. Tercapainya sukses bukan berati akhir ceritera, justru harus lebih awas, waspada dan hati-hati. Mengingat sering kejadian setelah sukses orang menjadi kehilangan kewaspadaan, sembrono dan menganggap enteng segala sesuatunya sehingga berakibat fatal. Oleh sebab itu anggaplah sukses sebagai pelatihan demi kelestarian cita-cita yang baik.


11.  WASPADA DENGAN IMING-IMING;
Wong kang ringkih iman lan batine bakal gampang dadi jujugane durjana apus-apus kang pating sliwer golek mangsan. Pirang-pirang wong kang kaselak percaya rembug pangiming-iming ora pinikir bakal kedadeyane ing tembe. Wusanane nandhang kapitunan lan kena ing apus. Mula ditansah waspada, aja lirwa ing kaprayitnan.

TERJEMAHAN:
Orang yang ringkih iman dan batinnya akan mudah jadi target penipu yang berkeliaran mencari mangsa. Banyak orang yang terlalu cepat percaya iming-iming tanpa dipikir apa yang akan terjadi di belakang hari. Akhirnya mengalami kerugian dan tertipu. Oleh sebab itu selalulah waspada. Jangan kehilangan kewaspadaan.


12.  PUJIAN: TIDAK SEMUDAH ITU DIDAPAT;
Sapa wonge sing ora seneng yen entuk pangalembana. Nanging thukuling pangalembana iku ora gampang. Kudu disranani pakarti kang becik lan murakabi tumraping wong akeh. Yen mung disranani bandha, pangalembanane mung kandheg ing lambe bae, ora tumus ing ati. Dene yen disranani panggawe kang lelamisan, ing pamburine bakal kasingkang-singkang, disingkirake saka jagading pesrawungan.

TERJEMAHAN:
Siapa orang yang tidak senang menerima pujian. Tetapi untuk memperolehnya tidaklah mudah. Harus dibekali perilaku baik yang bermanfaat untuk orang banyak. Kalau hanya berbekal harta, pujian hanya berhenti di bibir, tidak sampai ke dalam hati. Demikian pula kalau bekalnya perilaku yang “lamis” di belakang hari akan dimaki-maki dan disingkirkan dari dunia pergaulan.


13. KEHORMATAN: AKAN DATANG SENDIRI, TAK USAH DIBURU;
Yen kepengin diajeni liyan, aja sok dhemen marta-martakake, apa maneh nganti mamerake kabisan lan kaluwihanmu. Pangaji-ajining liyan iku sejatine bakal teka dhewe, ora perlu mbok buru. Nuduhake kawasisan pancen kudu bisa milih papan lan empan. Mula kang prayoga kepara purihen aja kongsi wong liya bisa njajagi. Nanging mangsa kalane ngadhepi gawe-parigawe keconggah mrantasi.

TERJEMAHAN:
Bila ingin dihormati orang lain jangan suka memberitahukan kesana kemari apalagi kemampuan dan kelebihanmu. Penghormatan dari orang lain sebetulnya tidak perlu dikejar karena akan datang sendiri. Menunjukkan kelebihan harus empan papan, tahu kapan dan bagaimana caranya. Sebenarnya lebih baik jangan sampai orang bisa meraba kemampuanmu, tetapi kalau diperlukan kamu bisa mengatasi. (Bersambung Ke Bagian No. 02 - Soal KELUH KESAH, KERAGUAN DAN KESENGSARAAN)


KESIMPULANYA:
Tidak kita ingkari bahwa manusia hidup mencari kalau tidak mengejar “drajat, semat dan kramat”. Hanya perlu diingat bahwa manusia dinilai dari perbuatannya, bukan dari pakaian atau yang serba lahiriyah lainnya. Dalam bekerja manusia hendaknya meneladani ketekunan air yang pelan-pelan mampu melobangi batu. Harus mau mengikuti petunjuk dan perintah atasan, mau mendengar saran orang lain, tetapi tidak terlalu sering memohon petunjuk maupun menganggap enteng suatu masalah. Dengan demikian pekerjaan tidak akan sering tertunda atau terhambat.

Dalam melaksanakan tugas, kita harus mampu menyimpan rahasia termasuk tidak ingin tahu rahasia orang lain. Setelah sukses jangan kehilangan kewaspadaan. Hati-hati dengan iming-iming. Bekerjalah dengan baik karena pujian tidak segampang itu kita peroleh sehingga tidak perlu kita kejar. Kehormatan justru akan datang sendiri tanpa diburu.

He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan

PITUTUR JAWA: No.02

Soal KELUH KESAH, KERAGUAN DAN KESENGSARAAN
Dari Kitab Kuno.
Di terjemahkan oleh: Wong Edan Bagu

Keluh-kesah dan keraguan merupakan sikap negatif yang membawa energi negatif dan pada gilirannya orang yang sebenarnya tidak terlalu sengsara menjadi sengsara betul. Ungkapan-ungkapan keluh-kesah pernah saya tulis dalam “orang-orang sengsara dan apes dalam paribasan Jawa”. Apa manfaat keluh kesah? Rasanya kok tidak ada. Kita dididik untuk tidak berkeluh-kesah bahkan sejak masih Pramuka Siaga. Kita selalu nyanyi: Apa guna keluh kesah; apa guna keluh kesah ...... Demikian pula keraguan; mengapa orang harus ragu yang buntutnya merasa tidak mampu. Sapa temen nemu temen aja nganggep mokal ganthamu. Kalau orang menjadi tidak mampu melakukan apa-apa ya sengsara lah tahap terminalnya. Selamat membaca, semoga ada manfaat yang dapat dipetik.


1. KELUH KESAH: KARENA MENGEJAR AMBISI;
Wong kang kebak dening pepenginan iku adate banjur ngangsa-angsa, mula lakune uga banjur miyar-miyur. Kepengkok gawe sethithik bae sing digedhekake pangresulane, tundhone atine gampang pepes lan nglokro. Beda karo wong kang wicaksana uripe mesti mawa tekad lan tujuwan. Bebasan tiba kaping pitu gemregah tangi kaping wolu ngrungkebi tekad lan tujuwane.

TERJEMAHAN:
Orang yang terlalu banyak keinginan hidupnya menjadi “ngaya”, jiwanya menjadi labil. Kena hambatan sedikit saja yang dibesarkan adalah keluh-kesah, akibatnya menjadi patah semangat. Beda dengan orang bijaksana yang hidup dengan tekad dan tujuan. Ibarat jatuh tujuh kali dia bangkit delapan kali demi tekad dan tujuannya.


2. KELUH KESAH: MENGHILANGKAN KEKUATAN FISIK DAN ROHANI;
Sok sapaa bakal nduweni rasa kurmat marang wong kang tansah katon bingar lan padhang polatane, nadyan ta wong mau nembe bae nandhang susah utawa nemoni pepalang ing panguripane. Kosokbaline wong kang tansah katon suntrut kerep nggrundel lan grenengan merga ora katekan sedyane iku cetha bakal koncatan kekuwataning batin lan tenagane., tangeh lamun entuka pitulungan, kepara malah dadi sesirikane mitra karuhe.

TERJEMAHAN:
Siapapun akan menaruh rasa hormat kepada orang yang selalu kelihatan cerah walaupun orang tersebut sedang dalam kesusahan atau mengalami hambatan dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang selalu kelihatan muram, sering menggerutu dan berkeluh-kesah karena apa yang diinginkan tidak tercapai, jelas bakal kehilangan kekuatan batin dan energinya. Tidak mungkin memperoleh pertolongan, malah dijauhi teman-temannya


3. KELUH KESAH: MERINGKIHKAN TEKAD, MENJADIKAN MISKIN;
Kerep nggresah lan ngresula iku nuduhake karingkihane tekad. Senadyan dingresulanana sedina ping pitulikur, ora bisa owah nasibe. Nggresah lan ngresula iku padha karo sambat. Wong sambat iku kena bae, nanging yen isih keduga aja dhemen sambat. Ngresula bisa dadi mala, panggresah bisa dadi bubrah, dene pisambat iku dalane wong kang seneng mlarat, jalaran sakehing gegayuhan kang disangkani sarana sambat mono adate mung gayuk-gayuk tuna, apa kang digayuh tanpa ana kabul wusanane.

TERJEMAHAN:
Sering berkeluh-kesah menunjukkan ringkihnya tekad. Walaupun kita berkeluh-kesah sehari 27 kali, nasib tidak akan berubah. Manusia boleh saja berkeluh-kesah, tetapi lebih baik jangan suka berkeluh-kesah, karena hanya akan menimbulkan malapetaka. Keluh kesah adalah jalan menuju kemiskinan, karena semua cita-cita yang dilandasi keluh kesah tidak akan ada hasilnya.


4. KELUH-KESAH: MENUTUP SUMBER PENGHIDUPAN;
Aja sok ngresula. Wruhna yen pangresula iku sawijining mala, dene panggresah mono agawe bubrah. Yen wis nggresah padatane banjur lali marang kewajibane sing kudu diayahi sarta kemba marang sadhengah pakaryan. Sing sapa esuk-esuk wis sambat ngaru-ara ing bab ngrekasane urip, wong mau prasasat mbuntoni sumbering pangupa-jiwane dhewe. Ora trima marang pandum peparinge Pangeran Kang Murbeng Dumadi.

TERJEMAHAN:
Jangan sering berkeluh-kesah karena keluh-kesah itu bahaya yang mengundang malapetaka. Keluh kesah akan membuat kita lupa dan tidak bersemangat mengerjakan tugas-tugas yang harus dilakukan.Siapa yang pagi-pagi sudah berkeluh-kesah menangisi beratnya kehidupan sebenarnya orang itu telah menutup sumber penghasilannya sendiri, tidak menerima terhadap “pandum” pemberian Allah SWT.


5. KERAGUAN: BERASAL DARI PIKIRAN KITA SENDIRI;
Sebab-sebab kang gawe ciliking ati lan cekleking semangat iku adhakalane dumunung ing gegambarane pikiran kang sarwa nguwatirake marang lelakon kang durung kelakon, temahane pikiran dadi peteng, lumuh ihtiyar lan koncadan gregeting makarya. Katimbang nyumelangake barang kang durung bisa ginrayang rak luwih becik aja pegat ing ihtiyar kanthi nenuwun marang sihing Kang Murbeng Kuwasa, jer iya mung Panjenengane kang murbawasesa urip kita. Klawan mengkono insyaallah kowe ora bakal ngedhap ngadhepi sakehing lelakon.

TERJEMAHAN:
Penyebab kecil hati dan patah semangat sering berada dalam gambaran pikiran kita sendiri yang khawatir dengan hal-hal yang belum terjadi. Hasilnya pikiran menjadi gelap, malas berikhtiar dan kehilangan semangat kerja. Daripada mengkhawatirkan hal-hal yang belum bisa diraba, lebih baik kita tidak berhenti ikhtiar disertai doa memohon belas kasihan Yang Maha Kuasa. Karena hanya Dialah yang menguasai hidup kita. Dengan demikian insyaallah kamu akan tabah menghadapi semua hal.


6. KERAGUAN: DIOBATI DENGAN TEKAD TETAPI BUKAN NEKAD;
Rasa was sumelang iku nerakake wong sing arep nggayuh kemajuan. Sapa kang wis ketaman rasa iki salawase ora bakal bisa maju. Ing sabarang tandang-tanduke sarwa tidha-tidha lan tansah awang-awangen ngadhepi kangelan kang bakal memalangi laku. Kosokbaline tekad iku rasa ciptaning karsa kang wis gembleng. Dadi yen ana kepenak lan orane bakal didhadhagi lan diterjang wani. Kang pinandeng mung bakal tekaning sedya. Nanging tekad mono beda banget karo nekad, yen nekad kuwi uwohing pakarti kang tuwuh saka kajudheganing nalar sing tundhone keconggah tumindak nistha, merga koncadan pepadhang.

TERJEMAHAN:
Rasa was-was itu penghambat orang yang ingin mencapai kemajuan. Siapa yang dihinggapi perasaan ini selamanya tidak akan maju. Semua tingkah-lakunya serba ragu-ragu dan gamang menghadapi hambatan dan kesulitan. Sebaliknya tekad adalah karsa yang sudah bulat. Senang tidak senang akan dihadapi dan diterjang dengan berani. Yang diinginkan hanyalah tercapainya tujuan. Tekad tidak sama dengan nekad. Nekad adalah buah pekerjaan yang tumbuh dari kemelutnya pikir yang bisa berakibat mau melakukan tindakan nista, karena sudah kehilangan akal sehat.


7. JANGAN MENSUGESTI DIRI SENDIRI DENGAN: SAYA TIDAK MAMPU;
Akeh wong kang sadurunge nyoba ngayahi pagaweyan wis dipathok dhisik sarana tembung “Ah, aku ora bisa”. Dayaning tembung “ora bisa” satemah numusi ora bisa temenan. Awit entek-entekane pocap mangkono iku ateges ngapesake awake dhewe. Luwih maneh banjur lumuh ing pambudi. Samubarang kang diudi ora bakal dadi. Barang kang ora diluru tangeh bisane ketemu. Mulane percayaa marang dhiri pribadi. Ciptanen kanthi mantheng ing ati lan enggal makartiya. Kekuwataning manungsa iku dumunung sajroning cipta, sauger sinartan pamarsudi klawan temen-temen. Dayaning cipta cetha bakal nekakake sedya

TERJEMAHAN:
Banyak orang yang sebelum mencoba melaksanakan pekerjaan sudah dipathok dengan perkataan “Ah, saya tidak mampu”. Kekuatan dari perkataan “tidak mampu” akan berakibat tidak mampu betul-betul. Ucapan itu hanya akan membuat sial diri sendiri. Lebih-lebih apabila disertai malas berupaya. Semua yang diupayakan tidak akan jadi. Semua hal yang tanpa upaya tidak mungkin bisa dicapai. Oleh sebab itu percayalah pada diri sendiri. Matangkan tekad dalam hati dan segeralah berkarya. Kekuatan manusia terletak dalam “cipta” sepanjang disertai upaya yang sungguh-sungguh. Daya dari “cipta” akan memberikan hasil.


8. SENGSARA: BISA KARENA HAL YANG KELIHATAN SEPELE;
Ora ana critane wong kejungkel amarga kesandhung watu gedhe. Sing mesti merga kesandhung watu cilik. Umpama tatu ya saka krikil sing lancip-lancip. Bab mau aweh pituduh supaya kita ora nyepelekake marang barang sing katone sepele amarga sing katone ora mingsra mau bisa dadi jalarane wong kejungkel tiba ing papa.

TERJEMAHAN:
Tidak ada veriteranya orang terjatuh gara-gara tersandung batu besar, pasti karena batu kecil. Andaikan luka pun akibat kerikil yang tajam. Hal tersebut memberi perunjuk supaya kita tidak menyepelekan barang yang kelihatannya sepele karena yang kelihatan tidak seberapa itu bisa mengakibatkan kita sengsara.


9. ORANG SENGSARA: AKIBAT KESALAHAN DAN ULAH SENDIRI;
Wong kang sengsara uripe jalaran ana rong warna: kapisan saka kaluputane dhewe, paribasan tanem tuwuh kang tansah kodanan lan pepanasen ora tau diopeni, dene kang kapindho araga saka pokale dhewe. Paribasan tanem tuwuh kang tansah dipek asile nganti ora kober thukul godhonge.

TERJEMAHAN:
Orang yang sengsara hidupnya disebabkan dua hal: pertama karena kesalahannya sendiri, ibarat tanaman yang selalu kehujanan dan kepanasan tetapi tidak pernah dirawat. Sedangkan yang kedua karena ulahnya sendiri. Ibarat tanaman yang selalu dipetik hasilnya sampai tidak pernah tumbuh daunnya.


10. MAMPU MENGHADAPI COBAAN: SABAR;
Sabar iku ingaran mustikaning laku, jumbuh karo unine bebasan: “Sabar iku kuncining swarga”, ateges marganing kamulyan. Sabar, lire momot kuwat nandhang sakehing coba lan pandadaraning ngaurip., nanging ora ateges gampang pepes kentekan pangarep-arep. Suwalike malah kebak pangarep-arep lan kuwawa nampani apa bae kang gumelar ing salumahe jagad iki.

TERJEMAHAN:
Sabar adalah mustika kehidupan, sejalan dengan peribahasa “Sabar itu kunci sorga”, yang berarti jalan menuju kemuliaan. Sabar berati mampu menghadapi semua cobaan hidup, tetapi bukan berarti mudah putus asa kehilangan harapan. Sebaliknya sabar adalah penuh harapan dan mampu menghadapi apa saja yang terjadi di muka bumi ini.


11. MASALAH: HADAPI DENGAN SENYUM;
Samangsa lagi ngadhepi urip rekasa prayogane adhepana klawan esem gumuyu. Awit iku senjata kang bisa gawe enthenging sanggan lan bakal numusi muluring pikir. Nanging yen penandhangmu mau tansah kok adhepi kanti ulat kang suntrut adhakane kowe bakal kentekan pikir kang wening, wusanane dadi nekad nuruti pokal kang nerak bebener.

TERJEMAHAN:
Saat menghadapi kesusahan hidup, tataplah dengan senyum. Karena hal itu merupakan senjata yang bisa meringankan beban yang membawa kepada kejernihan otak. Tetapi kalau kamu menghadapinya dengan muka masam, kamu akan kehilangan jernihnya pikiran, akhirnya nekad dan melakukan tindakan yang melanggar aturan


PENUTUP dan KESIMPULANYAL:
Jangan mensugesti diri sendiri dengan kata “tidak mampu”. Keluh kesah berasal dari diri sendiri. Kalau kita apes biasanya karena ulah kita sendiri dan terkadang karena hal-hal sepele saja. Keluh kesah dan keraguan akan menutup sumber kehidupan. Hadapi dengan tekad tetapi bukan nekad. Tetap dilandasi dengan deduga, prayoga, watara dan reringa. Cobaan hadapi dengan sabar dan masalah dijawab dengan senyum. Untung dan sial tidak ada yang langgeng. Ki Padmasusastra dalam Layang Madubasa mengatakan:

Ora ana kabêgjan lan kacilakan langgêng, amêsthi ana watêse, karsaning Allah: sarupaning makluk isining dunya lakune nyakra manggilingan, mulane wong kabêgjan aja pêpeka, wong kacilakan aja kêmba ambudi sarana, karo pisan dadia widada.

TERJEMAHAN:
Tidak ada keberuntungan dan kesialan yang abadi. Nesti ada batasnya. Sudah merupakan kehendak Allah bahwa jalannya isi dunia ini “nyakra manggilingan” (berputar, suatu saat di atas dan suatu saat di bawah). Oleh sebab itu orang yang sedang senang jangan sembrana dan yang sedang sial jangan menyerah sehingga keduanya tetap selamat.
He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan