WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Rabu, 26 Maret 2014

Segalanya Untukmu:

Hari ini angin rindu datang berhembus, menggugurkan daun-daun yang sudah menguning. Titik air di ujung daunnya pun akhirnya terjatuh setelah sekuat tenaga ia bertahan untuk tidak pecah. Tapi ternyata semua ada batasnya. Tak ada yang abadi. Begitu juga dengan rindu ini. Tak akan lama bertahan sembunyi dalam gua hati.

Dunia seperti berputar kembali, menayangkan rekaman saat-saat aku bersamanya. Masa dimana sangat aku rasakan sayang dan perhatiannya, yang terus menerus mengalir seolah tak kenal muara. Pelukannya saat aku butuh kehangatan, suara lembutnya saat hati ini dilanda kegundahan. Dengan sepenuh hati dia merelakan dadanya untuk tempatku bersandar kala sakit menyerang tubuhku, atau saat aku menahan perihnya hati ini saat terluka.

Langit hari ini masih cerah. Tapi siapa sangka kalau hujan akan datang. Meski tidak begitu deras, tapi bisa melepas dahaga sang tanah yang memang haus akan air, cukup untuk membuat suasana terasa lebih segar. Mencerahkan kembali fikiran-fikiran yang kalut terhadap berbagai persoalan dunia. Dan bagiku, membawa kembali pada keindahan dan kehangatan saat-saat bersamanya, hingga rindu yang terbendung pecah seketika.

Teringat pada suatu senja, ketika aku akan memulai hidup tanpa ada seseorang yang dekat di sisiku. Hari itu, adalah hari terakhir aku bersama dengannya sebelum kami berpisah. Pesan dan nasehat pun mengalir dengan suaranya yang tetap lembut. Sampai akhirnya detik itu datang juga, saat ku rengkuh tangan kekarnya, kemudian mengecup tangannya dengan penuh rasa hormat, dia membalasnya dengan kecupan di keningku, tanda bahwa rasa sayangnya melebihi kekhawatirannya meninggalkanku sendiri. Dalam ku rasakan deburan cintanya yang kuat dan tulus. Membuat air mata ini ingin segera menumpahkan segala yang dipunya. Tapi itu tak kulakukan di depannya. Aku harus tunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpa ada dia di sisiku. Cukup pada Allah sajalah dia menitipkan aku. Tak ingin mengganggu konsentrasinya karena aku.

Tuhan, ternyata cinta begitu dekat denganku. Kasih dan pengorbanannya untukku takkan pernah bisa kubalas meski dengan tetesan darah dan airmata. Segala yang aku miliki dalam hidup ini, materi yang aku punya atau kehidupan yang aku miliki, pun tak kan bisa membalas apa yang pernah dia lakukan untukku. Usapan tangannya, pelukan hangatnya, suara lembutnya, sikapnya yang bijak, tak akan pernah tergantikan dengan seluruh yang ada di langit dan bumi ini.

Maka nikmat-Mu yang manakah yang aku dustakan, Ya Rabb?

Karenanya aku ada. Karenanya aku bisa menikmati indah dunia-Mu. Karenanya aku menemukan diriku. Karenanya aku merasa punya arti dalam hidup ini. Karenanya aku mengenal-Mu. Karenanya aku terbiasa membaca surat cinta-Mu. Karenanya pula aku menjadi muslimah.

Saat ini, ku rela bersusah payah mengejar cita-cita yang menjadi impiannya. Tak ingin sedikit pun ku torehkan segurat kecewa di hatinya. Karena yang ku tahu, aku adalah harapannya. Aku ingin dia bangga. Bukan melihat diriku melainkan melihat ikhtiarnya sepanjang hidup yang telah dia jalani sejak aku ada.

”Tuhan tolonglah
Sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku trus berjanji
Tak kan khianati pintanya”

Aku ingin melengkapi lukisan hidupnya, menjadi lukisan yang sempurna. Meski dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan yang dia miliki, aku tetap bangga padamu, Anak dan istriKU.
Ttd: Wong Edan BaGu

TI - JI - TI - BEH :

TIJI TIBEH:

Senin kemaren 24-03-2014, kebetulan saya mendapat tiket gratis menonton pagelaran MATAH ATI di taman ismail marzuki. dan untuk pertama kalinya saya merinding melihat sebuah tarian.
saya bukan penari, dan mungkin terlalu kaku untuk jadi penari. dulu pernah sih, tari teater waktu kecil, menang kejuaraan tapi saya selalu pake topeng, jadi muka ga kelihatan. hahaha

intinya bukan di tari, tata lampu, musik dan apapun di pagelaran itu kagum saya. tapi lebih ke bagaimana mereka berhasil menjelaskan KAYA nya makna budaya asli kita.
Disaat spiderman, batman, captain america dan semua superhero instan itu merajalela, belum ditambah superhero permakan dari jepang dan korea pahlawan asli nusantara sepertinya memilih pulang kampung. ironisnya dikampung aja mungkin ga diterima.

ajaran bijak, kisah heroik mereka hanya seupil semut yang mau mengenalnya. saya merasa ini bangsa sudah di ambang. di ambang hilang.. hilang apa? ya tafsirkan sendiri lah.

TI JI TI BEH saya mengenal istilah ini sedari kecil meskipun lahir di malang, jawa timur, ayah saya kebetulan dari solo. saya tercatat di keraton mangkunegaran sebagai grad ke 7 keturunan Raden mas SAID atau lebih dikenal Pangeran Sambernyowo mangkunegara I. ada sedikit kebanggaan karena masih keturunan seorang Raja & Ksatria Tulen, tapi sejak adanya kecamuk politik dan pergeseran budaya disana, saya lebih memilih diam. saya malu atas gelar di depan nama saya.

TI JI TI BEH anggap saja saya goblok karena memang saya seorang goblok yang tak kunjung pinter. ada kerinduan yang sangat bila saya membaca buku tentang pahlawan dari NUSANTARA ini. dan lalu saya sedih bila menonton TV. beritanya selalu saja tak mengenakkan. tapi yasudahlah semoga orang orang itu mati cepat.

TI JI TI BEH =MATI SIJI MATI KABEH = MATI SATU MATI SEMUA mungkin kita akan tertawa membacanya dan menganggap semboyan ini konyol. ya karena sekarang kalo ada yang mati satu, yang lain minggir, mangkir lalu membela diri kalo korupsi gantung saya di monas, ya nanti lah diakherat yo le digantungnya. atau yang paling jelas udah matiin perut masyarakat di timur jawa sana sampe jadi bencana. tapi ya akhirnya masih bebas melenggang di jagad ini. nyalonin presiden lagi bener bener luar angkasa!

TI JI TI BEH =MUKTI SIJI MUKTI KABEH =MULIA SATU MULIA SEMUA ya sampeyan sampeyan semua lihat sendiri lah sekarang saya juga males nulisnya.

ada rindu yang luar biasa, akan nusantara yang luar biasa. suatu ketika dulu NUSANTARA ini begitu RAYA. tapi sekarang semua berangsur hancur RAYAnya dimakan RAYA P

tak ada rencana di tulisan ini namanya juga rindu, selalu datang tiba tiba dan tak terencana

jadi bila tak ada ujungnya ya jangan salahkan saya karena kita mulai sadar aja belum, kok bicara ujunghwehhe

TI JI TI BEH =MATI SIJI MATI KABEH = MATI SATU MATI SEMUA

TI JI TI BEH =MUKTI SIJI MUKTI KABEH =MULIA SATU MULIA SEMUA

He he he . . . Edan Tenan.... Salam Rahayu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu


Filosofi Menthog (Bebek)

Menthok menthok:

Menthok menthok tak kandhani
Saksolahmu angisi-isini
Mbok ya aja ngetok
Ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthok-menthok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

lagu ini dulu sering saya nyanyikan dan saya dengar di saat masih duduk di bangku SD. mungkin kawan kawan yang sewaktu kecil tinggal di jawa timur dan tengah ingat dengan lagu ini.

20 tahun berlalu dan tiba tiba saja teringat lagi. dulu saya tak pernah tahu filosofi dibalik lagu ini. yang saya tahu lagu ini tentang bebek dan konco konconya.

entah angin apa yang membawa saya tiba tiba ke romantisme masa lalu ini. lagu dolanan itu terasa sangat sarat makna sekali.

mungkin sebelum melebar, saya mau coba mengalih bahasakan menjadi bahasa indonesia. biar ngerti semua, ben adil. mungkin kira kira seperti ini:

Menthok menthok tak kandhani : (menthog adalah panggilan halus untuk bebek) menthog menthog kuberitahu ya?
Saksolahmu angisi-isini : perilakumu itu kok bikin malu
Mbok ya aja ngetok : mbok ya jangan keliatan
Ana kandhang wae : di kandang saja
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe : enak enak tidur tidak bekerja
Menthok-menthok mung lakumu : menthog menthog gayamu itu
Megal-megol gawe guyu : megal megol bikin ketawa

kurang lebih sih begitu.

nah, sekarang masalah filosofi menurut saya dibalik lagu ini.
semua sepakat, bahwaJawa adalah bagian dari Indonesia serta bagian dari Nusantara. dan bangsa besai punya budaya dan kekhasannya sendiri.

1.SANTUN yang MENUNTUN
sebagai bangsa timur kita memiliki kekhasan yang mungkin tak dimiliki bangsa lain. tutur kata yang tak menyakiti dalam berkomunikasi, adalah salah satunya
menthog dipakai untuk mengganti kata bebek, yang mungkin terdengar kurang sopan. sebenernya ini pembelajaran bagus agar dalam mengkritik memakai bahasa yang sopan dan tak menyakiti. terkadang yang terjadi sekarang adalah pokoknya protes dulu, mikirnya belakangan. lah itu kan ngisin isini (memalukan). memalukan diri sendiri dan juga mempermalukan orang lain. trus gunanya buat apa? wong yang rugi malah semuanya.

2. Jago Kandang

banyaknya protes yang terjadi kebanyakan ada tanpa tahu benar masalah masalah di seputar hal yang diprotes tersebut. semua hanya dilihat dari satu sisi. sisi ego dan sisi “kandangnya” sendiri.

si “jago kandang” tak akan pernah besar.
ya kan besarnya di kandang, segitu gitu aja dunianya.
dan segitu gitu aja pemahamannya.

dibalik internet yang bisa memudahkan semua, dan teknologi serta jaman yang serba modern. sosial dalam arti yang sebenarnya terasa lebih mewah dibandingkan dunia semu dan terbatas yang ibarat kandang untuk kita. “menyenangkan tetapi membodohkan”

3. Bangun tidur

saya sendiri sebenernya hobi tidur, tidur menjadi tempat paling damai supaya otak ga gitu gitu amat bekerjanya. istirahat dulu.
poin yang saya tangkap dari “jangan tidur melulu, mulailah bekerja” entah kenapa lebih luas.
“tidur” saya ibaratkan sebagai kesadaran kita yang tertidur, yang mungkin selama ini kita hanya menjadi mesin atau robot, yang mungkin hanya mengejar hasil thok, atau yang pulas ditimang ke”wah”an budaya lain dan konco konconya, yang pada akhirnya mempercepat kehancuran identitas kita sebagai suatu bangsa.
kan ada ungkapan tuh

“cara cepat menguasai dan menghancurkan suatu bangsa, bunuh sejarah dan budayanya”

“kerja” pun seakan tak hanya sesempit arti kerja itu sendiri. yang hanya melakukan sesuatu untuk mencari uang, lalu membeli makan, kenyang dan begitu seterusnya. ada ungkapan dalam bahasa jawa

kerjo iku kanggo ndholek jenang lan jeneng. ( kerja itu untuk mencari jenang yang manis dan nama )

jenang pastilah harta tapi jenang yang terlalu manis dan banyak dimakan berlebihan pun juga akan membuat muntah. wong eneg kemanisan.

jeneng artinya nama. nama kalau boleh saya lebarkan maknanya adalah “kita ingin dinilai sebagai orang yang bagaimana”, yang hanya mengejar “jenang”, “jeneng” atau “jeneng karena memberikan jenang yang enak untuk orang lain dan bangsa ini”.

4. gayamu agawe guyu

gaya ya perlu, setiap identitas pasti perlu gaya, tapi kalo kebanyakan pastilah eneg orang ngeliatnya. saya akhirnya tersadar sekarang dengan kalimat “seperlunya saja”. yang mungkin agak jarang saya temui di megapolitan ini. dimana kamu diliat dari gayamu, dari sepatumu, dari duitmu, dari merk pakaianmu. dari pekerjaanmu dan konco konconya again. yang pada akhirnya membuat kamu menjadi budaknya gaya. pada akhirnya kita lupa, bahwa manusia itu sendiri lebih berharga dari pada sekedar gaya yang artificial juga. ada pepatah bagus seperti ini bunyinya:

“emas dalam tumpukan tai tetaplah emas, dan tai di tumpukan emas, tetaplah tai”

perenungan ini sebenernya pribadi, buat bekal anak cucu saya lah. kalau ada yang merasa terganngu dan tercolek ya saya minta maaf.

dan belajar dari lagu dolanan ini, ada kalanya kita tak sadar bahwa kebijaksaan bangsa kita terdahulu ternyata dalam dan berguna. rumput tetangga mungkin jauh lebih indah, tapi tetap itu bukan punya kita :)

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah selalu...
Ttd: Wong Edan Bagu

Karekteristik Seorang Ayah/Bapak:

Seorang Muslim sudah semestinya memikirkan masa depan dengan melakukan invesment -bukan dengan stock portofolio, 401K, rumah ataupun saving account, tetapi dengan shodaqoh jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan membina anak yang sholeh/-ah.  Ketiga aktivitas ini ternyata tercakup dalam proses pendidikan anak dan apalagi Alhamdulillah banyak diantara kita yang telah dikaruniai anak, sehingga saya tergerak untuk merangkum 6 karakteristik kepribadian seorang ayah idaman.

1. Keteladanan

Suatu pagi, saya terperanjat ketika melihat cara putriku memakai sepatunya. Ia langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa melepas talinya. Rupanya selama ini ia memperhatikan bagaimana cara saya memakai sepatu. Karena malas membuka simpul tali sepatu, sering kali saya langsung memakainya tanpa membuka dan mengikat simpul tali sepatu.  Saya berusaha melarangnya dengan memberikan penjelasan bhw cara memakai sepatu seperti itu bisa mengakibatkan sepatu cepat rusak.  Namun hasilnya nihil. Ini merupakan satu contoh nyata bhw anak, terutama pada usia dini, mudah sekali mencontoh orangtuanya.  Tidak perduli apakah itu benar atau salah. Nasehat kita tidak ada manfaatnya, jika kita tetap melakukan apa yang kita larang.

Apakah kita sudah memberikan teladan yang terbaik kepada anak-anak kita? Apakah kita lebih sering nonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau buku lain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan dan berdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kita sholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu? Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?

Allah SWT berfirman dalam surat ash-shaff 61:2-3:

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. "

Allah SWT juga mengingatkan untuk tidak bertingkah laku seperti Bani Israil dalam firmanNya dalam surat Al-Baqoroh 2:44

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?"

2. Kasih Sayang dan Cinta

Kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus merupakan dasar penting bagi pendidikan anak.  Anak-anak usia dini tidak tahu apa namanya, tapi dengan fitrahnya mereka bisa merasakannya.  Lihatnya bagaimana riangnya sorot mata dan gerakan tangan serta kaki seorang bayi ketika ibunya akan mendekap dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang.  Bayi kecilpun sudah mampu menangkap raut wajah yang selalu memberikan kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang dengan tulus, apalagi mereka yang sudah lebih besar.

Rasulullah SAW pada banyak ahadith digambarkan sebagai sosok ayah, paman, atau kakek yang menyayangi dan mengungkapkan kasih sayangnya yang tulus ikhlas kepada anak-anak.  Sebuah kisah yang menarik yang diceritakan oleh al-Haitsami dalam Majma'uz  Zawa'id dari Abu Laila.

Dia berkata: "Aku sedang berada di dekat Rasulullah SAW.  Pada saat itu aku melihat al-Hasan dan al-Husein sedang digendong beliau.  Salah seorang diantara keduanya kencing di dada dan perut beliau.  Air kencingnya mengucur, lalu aku mendekati beliau.  Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkan kedua anakku, jangan kau ganggu mereka sampai ia selesai melepaskan hajatnya.'  Kemudian Rasulullah SAW membawakan air." Dalam riwayat lain dikatakan, 'Jangan membuatnya tergesa-gesa melepaskan hajatnya.'

Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita ungkapkan kecintaan kita yang tulus kepada anak-anak kita hari ini?

3. Adil

Siapa yang belum pernah dengar kata sibling rivalry dan favoritism? Jika belum dengar, maka ketahuilah! Siapa tahu kita termasuk orang yang telah melakukannya.  Seringkali kita terjebak oleh perasaan kita sehingga kita tidak berlaku adil, misalnya karena anak kita yang satu lebih penurut dibandingkan anak yang lain atau karena kita lebih suka anak perempuan daripada anak laki-laki dll.

Rasulullah SAW bersabda: "Berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu dalam pemberian." (HR Bukhari)

Masalah keadilan ini dikedepankan untuk mencegah timbulnya kedengkian diantara saudara.  Para ahli peneliti pendidikan anak berkesimpulan bahwa faktor paling dominan yang menimbulkan rasa hasad/ dengki dalam diri anak adalah adanya pengutamaan saudara yang satu di antara saudara yang lainnya.

Anak sangat peka terhadap perubahan perilaku terhadap dirinya.  Jika kita lepas kontrol, sesegera mungkin untuk memperbaiki, karena anak yang diperlakukan tidak adil bisa menempuh jalan permusuhan dengan saudaranya atau mengasingkan diri (menutup diri dan rendah diri).

4. Pergaulan dan Komunikasi

Seringkali kita berada dalam satu ruangan dengan anak-anak, tapi kita tidak bergaul dan berkomunikasi dengan mereka.  Kita asyiik membaca koran, mereka asyiik main video game, atau nonton TV.

Banyak ahadith yang menggambarkan bagaimana kedekatan pergaulan Rasulullah SAW dengan anak-anak dan remaja.  Beliau bercanda dan bermain dengan mereka.

Bagaimana dengan kita yang sudah sibuk kuliah sambil bekerja plus 'ngurusin' IMSA (**smile**)? Mana ada waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak? Sebenarnya ada waktu, jika kita mengetahui strateginya. Misalnya, sewaktu menemani anak bermain CD pendidikan di komputer, kita bisa menjelaskan cara mengerjakan/bermainnya, lalu memberi contoh sebentar, lantas bisa kita tinggalkan. Begitu pula dengan buku bacaan dan permainan lainnya.  Repotnya ada sebagian ayah yang tidak mau berkumpul dengan anak-anak, terutama yang menjelang dewasa karena takut  kehilangan wibawa atau kharismanya.  Ini pandangan yang keliru.  Yang lebih tepat adalah kita jaga keseimbangan, artinya kita tidak boleh terlalu kaku  dalam memegang kekuasaan dan kharisma, tetapi juga tidak boleh terlalu longgar.

5. Bijaksana Dalam Membimbing

Rasulullah SAW bersabda: "... Binasalah orang-orang yang berlebihan ..."   (HR Muslim).

Jadi metoda yang paling bijaksana dalam mendidik dan mengarahkan anak adalah yang konsisten dan  pertengahan - seimbang, yakni tidak membebaskan anak sebebas-bebasnya dan tidak mengekangnya; jangan terlalu sering menyanjung, namun juga jangan terlalu sering mencelanya. Bila ayah memerintahkan sesuatu kepada anaknya, hendaknya ayah melakukannya dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak lupa membumbuinya dengan canda seperlunya.  Jelaskan hikmah dan manfaatnya, sehingga anak termotivasi untuk melakukannya.  Jangan lupa juga untuk memperhatikan kondisi anak dalam melaksanakan perintah atau aturan tersebut.

Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa melatih pribadi perlu kelembutan, tahapan dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain, tidak menerapkan kekerasan, dan berpegang pada prinsip pencampuran antara rayuan dan ancaman.

6. Berdoa

Para nabi selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah untuk kebaikan keturunannya.

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." (Ibrahim:35) "Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari  tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (Ibrahim:39-40)

Salam Rahayu Kanti Teguh Slamet Berkah selalu...
Ttd: Wong Edan Bagu

Antara Ridha dan Pasrah:

Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu'ah Al-Islamiyyah Al-'Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, ''Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.'' (QS 98: 8).

Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).

Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.

Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ''Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?'' Umar menjawab, ''Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.''


Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat- ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis... 

Salam Rahayu...
Ttd: Wong Edan Bagu