Hari ini angin rindu datang berhembus, menggugurkan daun-daun yang sudah menguning. Titik air di ujung daunnya pun akhirnya terjatuh setelah sekuat tenaga ia bertahan untuk tidak pecah. Tapi ternyata semua ada batasnya. Tak ada yang abadi. Begitu juga dengan rindu ini. Tak akan lama bertahan sembunyi dalam gua hati.
Dunia seperti berputar kembali, menayangkan rekaman saat-saat aku bersamanya. Masa dimana sangat aku rasakan sayang dan perhatiannya, yang terus menerus mengalir seolah tak kenal muara. Pelukannya saat aku butuh kehangatan, suara lembutnya saat hati ini dilanda kegundahan. Dengan sepenuh hati dia merelakan dadanya untuk tempatku bersandar kala sakit menyerang tubuhku, atau saat aku menahan perihnya hati ini saat terluka.
Langit hari ini masih cerah. Tapi siapa sangka kalau hujan akan datang. Meski tidak begitu deras, tapi bisa melepas dahaga sang tanah yang memang haus akan air, cukup untuk membuat suasana terasa lebih segar. Mencerahkan kembali fikiran-fikiran yang kalut terhadap berbagai persoalan dunia. Dan bagiku, membawa kembali pada keindahan dan kehangatan saat-saat bersamanya, hingga rindu yang terbendung pecah seketika.
Teringat pada suatu senja, ketika aku akan memulai hidup tanpa ada seseorang yang dekat di sisiku. Hari itu, adalah hari terakhir aku bersama dengannya sebelum kami berpisah. Pesan dan nasehat pun mengalir dengan suaranya yang tetap lembut. Sampai akhirnya detik itu datang juga, saat ku rengkuh tangan kekarnya, kemudian mengecup tangannya dengan penuh rasa hormat, dia membalasnya dengan kecupan di keningku, tanda bahwa rasa sayangnya melebihi kekhawatirannya meninggalkanku sendiri. Dalam ku rasakan deburan cintanya yang kuat dan tulus. Membuat air mata ini ingin segera menumpahkan segala yang dipunya. Tapi itu tak kulakukan di depannya. Aku harus tunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpa ada dia di sisiku. Cukup pada Allah sajalah dia menitipkan aku. Tak ingin mengganggu konsentrasinya karena aku.
Tuhan, ternyata cinta begitu dekat denganku. Kasih dan pengorbanannya untukku takkan pernah bisa kubalas meski dengan tetesan darah dan airmata. Segala yang aku miliki dalam hidup ini, materi yang aku punya atau kehidupan yang aku miliki, pun tak kan bisa membalas apa yang pernah dia lakukan untukku. Usapan tangannya, pelukan hangatnya, suara lembutnya, sikapnya yang bijak, tak akan pernah tergantikan dengan seluruh yang ada di langit dan bumi ini.
Maka nikmat-Mu yang manakah yang aku dustakan, Ya Rabb?
Karenanya aku ada. Karenanya aku bisa menikmati indah dunia-Mu. Karenanya aku menemukan diriku. Karenanya aku merasa punya arti dalam hidup ini. Karenanya aku mengenal-Mu. Karenanya aku terbiasa membaca surat cinta-Mu. Karenanya pula aku menjadi muslimah.
Saat ini, ku rela bersusah payah mengejar cita-cita yang menjadi impiannya. Tak ingin sedikit pun ku torehkan segurat kecewa di hatinya. Karena yang ku tahu, aku adalah harapannya. Aku ingin dia bangga. Bukan melihat diriku melainkan melihat ikhtiarnya sepanjang hidup yang telah dia jalani sejak aku ada.
”Tuhan tolonglah
Sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku trus berjanji
Tak kan khianati pintanya”
Aku ingin melengkapi lukisan hidupnya, menjadi lukisan yang sempurna. Meski dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan yang dia miliki, aku tetap bangga padamu, Anak dan istriKU.
Ttd: Wong Edan BaGu
"Saudara-Saudariku Terkasih dan Tercinta. Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. karena di dalam tubuhmu" 'Ada firman tuhan. yang dapat menjamin dunia akherat dan hidup matimu. untuk itu... Ketahuilah' Ttd: Wong Edan Bagu
Rabu, 26 Maret 2014
TI - JI - TI - BEH :
TIJI TIBEH:
Senin kemaren 24-03-2014, kebetulan saya mendapat tiket gratis
menonton pagelaran MATAH ATI di taman ismail marzuki. dan untuk pertama kalinya
saya merinding melihat sebuah tarian.
saya bukan penari, dan mungkin terlalu kaku untuk jadi
penari. dulu pernah sih, tari teater waktu kecil, menang kejuaraan tapi saya
selalu pake topeng, jadi muka ga kelihatan. hahaha
intinya bukan di tari, tata lampu, musik dan apapun di
pagelaran itu kagum saya. tapi lebih ke bagaimana mereka berhasil menjelaskan
KAYA nya makna budaya asli kita.
Disaat spiderman, batman, captain america dan semua
superhero instan itu merajalela, belum ditambah superhero permakan dari jepang
dan korea pahlawan asli nusantara sepertinya memilih pulang kampung. ironisnya
dikampung aja mungkin ga diterima.
ajaran bijak, kisah heroik mereka hanya seupil semut yang
mau mengenalnya. saya merasa ini bangsa sudah di ambang. di ambang hilang..
hilang apa? ya tafsirkan sendiri lah.
TI JI TI BEH saya mengenal istilah ini sedari kecil meskipun
lahir di malang, jawa timur, ayah saya kebetulan dari solo. saya tercatat di
keraton mangkunegaran sebagai grad ke 7 keturunan Raden mas SAID atau lebih
dikenal Pangeran Sambernyowo mangkunegara I. ada sedikit kebanggaan karena masih
keturunan seorang Raja & Ksatria Tulen, tapi sejak adanya kecamuk politik
dan pergeseran budaya disana, saya lebih memilih diam. saya malu atas gelar di
depan nama saya.
TI JI TI BEH anggap saja saya goblok karena memang saya
seorang goblok yang tak kunjung pinter. ada kerinduan yang sangat bila saya
membaca buku tentang pahlawan dari NUSANTARA ini. dan lalu saya sedih bila
menonton TV. beritanya selalu saja tak mengenakkan. tapi yasudahlah semoga
orang orang itu mati cepat.
TI JI TI BEH =MATI SIJI MATI KABEH = MATI SATU MATI SEMUA
mungkin kita akan tertawa membacanya dan menganggap semboyan ini konyol. ya
karena sekarang kalo ada yang mati satu, yang lain minggir, mangkir lalu
membela diri kalo korupsi gantung saya di monas, ya nanti lah diakherat yo le digantungnya.
atau yang paling jelas udah matiin perut masyarakat di timur jawa sana sampe
jadi bencana. tapi ya akhirnya masih bebas melenggang di jagad ini. nyalonin
presiden lagi bener bener luar angkasa!
TI JI TI BEH =MUKTI SIJI MUKTI KABEH =MULIA SATU MULIA SEMUA
ya sampeyan sampeyan semua lihat sendiri lah sekarang saya juga males nulisnya.
ada rindu yang luar biasa, akan nusantara yang luar biasa.
suatu ketika dulu NUSANTARA ini begitu RAYA. tapi sekarang semua berangsur
hancur RAYAnya dimakan RAYA P
tak ada rencana di tulisan ini namanya juga rindu, selalu
datang tiba tiba dan tak terencana
jadi bila tak ada ujungnya ya jangan salahkan saya karena
kita mulai sadar aja belum, kok bicara ujunghwehhe
TI JI TI BEH =MATI SIJI MATI KABEH = MATI SATU MATI SEMUA
TI JI TI BEH =MUKTI SIJI MUKTI KABEH =MULIA SATU MULIA SEMUA
He he he . . . Edan Tenan.... Salam Rahayu Lurr.
Ttd: Wong Edan Bagu
Filosofi Menthog (Bebek)
Menthok menthok:
Menthok menthok tak kandhani
Saksolahmu angisi-isini
Mbok ya aja ngetok
Ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthok-menthok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu
lagu ini dulu sering saya nyanyikan dan saya dengar di saat
masih duduk di bangku SD. mungkin kawan kawan yang sewaktu kecil tinggal di
jawa timur dan tengah ingat dengan lagu ini.
20 tahun berlalu dan tiba tiba saja teringat lagi. dulu saya
tak pernah tahu filosofi dibalik lagu ini. yang saya tahu lagu ini tentang
bebek dan konco konconya.
entah angin apa yang membawa saya tiba tiba ke romantisme
masa lalu ini. lagu dolanan itu terasa sangat sarat makna sekali.
mungkin sebelum melebar, saya mau coba mengalih bahasakan
menjadi bahasa indonesia. biar ngerti semua, ben adil. mungkin kira kira
seperti ini:
Menthok menthok tak kandhani : (menthog adalah panggilan
halus untuk bebek) menthog menthog kuberitahu ya?
Saksolahmu angisi-isini : perilakumu itu kok bikin malu
Mbok ya aja ngetok : mbok ya jangan keliatan
Ana kandhang wae : di kandang saja
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe : enak enak tidur tidak
bekerja
Menthok-menthok mung lakumu : menthog menthog gayamu itu
Megal-megol gawe guyu : megal megol bikin ketawa
kurang lebih sih begitu.
nah, sekarang masalah filosofi menurut saya dibalik lagu
ini.
semua sepakat, bahwaJawa adalah bagian dari Indonesia serta
bagian dari Nusantara. dan bangsa besai punya budaya dan kekhasannya sendiri.
1.SANTUN yang MENUNTUN
sebagai bangsa timur kita memiliki kekhasan yang mungkin tak
dimiliki bangsa lain. tutur kata yang tak menyakiti dalam berkomunikasi, adalah
salah satunya
menthog dipakai untuk mengganti kata bebek, yang mungkin
terdengar kurang sopan. sebenernya ini pembelajaran bagus agar dalam mengkritik
memakai bahasa yang sopan dan tak menyakiti. terkadang yang terjadi sekarang
adalah pokoknya protes dulu, mikirnya belakangan. lah itu kan ngisin isini
(memalukan). memalukan diri sendiri dan juga mempermalukan orang lain. trus
gunanya buat apa? wong yang rugi malah semuanya.
2. Jago Kandang
banyaknya protes yang terjadi kebanyakan ada tanpa tahu
benar masalah masalah di seputar hal yang diprotes tersebut. semua hanya
dilihat dari satu sisi. sisi ego dan sisi “kandangnya” sendiri.
si “jago kandang” tak akan pernah besar.
ya kan besarnya di kandang, segitu gitu aja dunianya.
dan segitu gitu aja pemahamannya.
dibalik internet yang bisa memudahkan semua, dan teknologi
serta jaman yang serba modern. sosial dalam arti yang sebenarnya terasa lebih
mewah dibandingkan dunia semu dan terbatas yang ibarat kandang untuk kita.
“menyenangkan tetapi membodohkan”
3. Bangun tidur
saya sendiri sebenernya hobi tidur, tidur menjadi tempat
paling damai supaya otak ga gitu gitu amat bekerjanya. istirahat dulu.
poin yang saya tangkap dari “jangan tidur melulu, mulailah
bekerja” entah kenapa lebih luas.
“tidur” saya ibaratkan sebagai kesadaran kita yang tertidur,
yang mungkin selama ini kita hanya menjadi mesin atau robot, yang mungkin hanya
mengejar hasil thok, atau yang pulas ditimang ke”wah”an budaya lain dan konco
konconya, yang pada akhirnya mempercepat kehancuran identitas kita sebagai
suatu bangsa.
kan ada ungkapan tuh
“cara cepat menguasai dan menghancurkan suatu bangsa, bunuh
sejarah dan budayanya”
“kerja” pun seakan tak hanya sesempit arti kerja itu
sendiri. yang hanya melakukan sesuatu untuk mencari uang, lalu membeli makan,
kenyang dan begitu seterusnya. ada ungkapan dalam bahasa jawa
kerjo iku kanggo ndholek jenang lan jeneng. ( kerja itu
untuk mencari jenang yang manis dan nama )
jenang pastilah harta tapi jenang yang terlalu manis dan
banyak dimakan berlebihan pun juga akan membuat muntah. wong eneg kemanisan.
jeneng artinya nama. nama kalau boleh saya lebarkan maknanya
adalah “kita ingin dinilai sebagai orang yang bagaimana”, yang hanya mengejar
“jenang”, “jeneng” atau “jeneng karena memberikan jenang yang enak untuk orang
lain dan bangsa ini”.
4. gayamu agawe guyu
gaya ya perlu, setiap identitas pasti perlu gaya, tapi kalo
kebanyakan pastilah eneg orang ngeliatnya. saya akhirnya tersadar sekarang
dengan kalimat “seperlunya saja”. yang mungkin agak jarang saya temui di
megapolitan ini. dimana kamu diliat dari gayamu, dari sepatumu, dari duitmu,
dari merk pakaianmu. dari pekerjaanmu dan konco konconya again. yang pada
akhirnya membuat kamu menjadi budaknya gaya. pada akhirnya kita lupa, bahwa
manusia itu sendiri lebih berharga dari pada sekedar gaya yang artificial juga.
ada pepatah bagus seperti ini bunyinya:
“emas dalam tumpukan tai tetaplah emas, dan tai di tumpukan
emas, tetaplah tai”
perenungan ini sebenernya pribadi, buat bekal anak cucu saya
lah. kalau ada yang merasa terganngu dan tercolek ya saya minta maaf.
dan belajar dari lagu dolanan ini, ada kalanya kita tak
sadar bahwa kebijaksaan bangsa kita terdahulu ternyata dalam dan berguna.
rumput tetangga mungkin jauh lebih indah, tapi tetap itu bukan punya kita :)
Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah selalu...
Ttd: Wong Edan Bagu
Karekteristik Seorang Ayah/Bapak:
Seorang Muslim sudah semestinya memikirkan masa depan dengan
melakukan invesment -bukan dengan stock portofolio, 401K, rumah ataupun saving
account, tetapi dengan shodaqoh jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan
membina anak yang sholeh/-ah. Ketiga
aktivitas ini ternyata tercakup dalam proses pendidikan anak dan apalagi
Alhamdulillah banyak diantara kita yang telah dikaruniai anak, sehingga saya
tergerak untuk merangkum 6 karakteristik kepribadian seorang ayah idaman.
1. Keteladanan
Suatu pagi, saya terperanjat ketika melihat cara putriku
memakai sepatunya. Ia langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa melepas
talinya. Rupanya selama ini ia memperhatikan bagaimana cara saya memakai
sepatu. Karena malas membuka simpul tali sepatu, sering kali saya langsung
memakainya tanpa membuka dan mengikat simpul tali sepatu. Saya berusaha melarangnya dengan memberikan
penjelasan bhw cara memakai sepatu seperti itu bisa mengakibatkan sepatu cepat
rusak. Namun hasilnya nihil. Ini
merupakan satu contoh nyata bhw anak, terutama pada usia dini, mudah sekali
mencontoh orangtuanya. Tidak perduli
apakah itu benar atau salah. Nasehat kita tidak ada manfaatnya, jika kita tetap
melakukan apa yang kita larang.
Apakah kita sudah memberikan teladan yang terbaik kepada
anak-anak kita? Apakah kita lebih sering nonton TV dibandingkan membaca
Al-Quran atau buku lain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil
jalan dan berdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah
kita sholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu?
Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?
Allah SWT berfirman dalam surat ash-shaff 61:2-3:
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan
apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
"
Allah SWT juga mengingatkan untuk tidak bertingkah laku
seperti Bani Israil dalam firmanNya dalam surat Al-Baqoroh 2:44
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan,
sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al
Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?"
2. Kasih Sayang dan Cinta
Kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus
merupakan dasar penting bagi pendidikan anak.
Anak-anak usia dini tidak tahu apa namanya, tapi dengan fitrahnya mereka
bisa merasakannya. Lihatnya bagaimana
riangnya sorot mata dan gerakan tangan serta kaki seorang bayi ketika ibunya
akan mendekap dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang. Bayi kecilpun sudah mampu menangkap raut
wajah yang selalu memberikan kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang dengan
tulus, apalagi mereka yang sudah lebih besar.
Rasulullah SAW pada banyak ahadith digambarkan sebagai sosok
ayah, paman, atau kakek yang menyayangi dan mengungkapkan kasih sayangnya yang
tulus ikhlas kepada anak-anak. Sebuah
kisah yang menarik yang diceritakan oleh al-Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id dari Abu Laila.
Dia berkata: "Aku sedang berada di dekat Rasulullah
SAW. Pada saat itu aku melihat al-Hasan
dan al-Husein sedang digendong beliau.
Salah seorang diantara keduanya kencing di dada dan perut beliau. Air kencingnya mengucur, lalu aku mendekati
beliau. Rasulullah SAW bersabda,
'Biarkan kedua anakku, jangan kau ganggu mereka sampai ia selesai melepaskan
hajatnya.' Kemudian Rasulullah SAW
membawakan air." Dalam riwayat lain dikatakan, 'Jangan membuatnya
tergesa-gesa melepaskan hajatnya.'
Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita ungkapkan kecintaan
kita yang tulus kepada anak-anak kita hari ini?
3. Adil
Siapa yang belum pernah dengar kata sibling rivalry dan
favoritism? Jika belum dengar, maka ketahuilah! Siapa tahu kita termasuk orang
yang telah melakukannya. Seringkali kita
terjebak oleh perasaan kita sehingga kita tidak berlaku adil, misalnya karena
anak kita yang satu lebih penurut dibandingkan anak yang lain atau karena kita
lebih suka anak perempuan daripada anak laki-laki dll.
Rasulullah SAW bersabda: "Berlaku adillah kamu di
antara anak-anakmu dalam pemberian." (HR Bukhari)
Masalah keadilan ini dikedepankan untuk mencegah timbulnya
kedengkian diantara saudara. Para ahli
peneliti pendidikan anak berkesimpulan bahwa faktor paling dominan yang
menimbulkan rasa hasad/ dengki dalam diri anak adalah adanya pengutamaan
saudara yang satu di antara saudara yang lainnya.
Anak sangat peka terhadap perubahan perilaku terhadap
dirinya. Jika kita lepas kontrol,
sesegera mungkin untuk memperbaiki, karena anak yang diperlakukan tidak adil
bisa menempuh jalan permusuhan dengan saudaranya atau mengasingkan diri (menutup
diri dan rendah diri).
4. Pergaulan dan Komunikasi
Seringkali kita berada dalam satu ruangan dengan anak-anak,
tapi kita tidak bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Kita asyiik membaca koran, mereka asyiik main
video game, atau nonton TV.
Banyak ahadith yang menggambarkan bagaimana kedekatan
pergaulan Rasulullah SAW dengan anak-anak dan remaja. Beliau bercanda dan bermain dengan mereka.
Bagaimana dengan kita yang sudah sibuk kuliah sambil bekerja
plus 'ngurusin' IMSA (**smile**)? Mana ada waktu untuk bercengkrama dengan
anak-anak? Sebenarnya ada waktu, jika kita mengetahui strateginya. Misalnya,
sewaktu menemani anak bermain CD pendidikan di komputer, kita bisa menjelaskan
cara mengerjakan/bermainnya, lalu memberi contoh sebentar, lantas bisa kita
tinggalkan. Begitu pula dengan buku bacaan dan permainan lainnya. Repotnya ada sebagian ayah yang tidak mau
berkumpul dengan anak-anak, terutama yang menjelang dewasa karena takut kehilangan wibawa atau kharismanya. Ini pandangan yang keliru. Yang lebih tepat adalah kita jaga
keseimbangan, artinya kita tidak boleh terlalu kaku dalam memegang kekuasaan dan kharisma, tetapi
juga tidak boleh terlalu longgar.
5. Bijaksana Dalam Membimbing
Rasulullah SAW bersabda: "... Binasalah orang-orang
yang berlebihan ..." (HR Muslim).
Jadi metoda yang paling bijaksana dalam mendidik dan
mengarahkan anak adalah yang konsisten dan
pertengahan - seimbang, yakni tidak membebaskan anak sebebas-bebasnya
dan tidak mengekangnya; jangan terlalu sering menyanjung, namun juga jangan
terlalu sering mencelanya. Bila ayah memerintahkan sesuatu kepada anaknya,
hendaknya ayah melakukannya dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak lupa
membumbuinya dengan canda seperlunya.
Jelaskan hikmah dan manfaatnya, sehingga anak termotivasi untuk
melakukannya. Jangan lupa juga untuk
memperhatikan kondisi anak dalam melaksanakan perintah atau aturan tersebut.
Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa melatih pribadi perlu
kelembutan, tahapan dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain, tidak
menerapkan kekerasan, dan berpegang pada prinsip pencampuran antara rayuan dan
ancaman.
6. Berdoa
Para nabi selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah untuk
kebaikan keturunannya.
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya
Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku
beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." (Ibrahim:35)
"Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya
Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku,
jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya
Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (Ibrahim:39-40)
Salam Rahayu Kanti Teguh Slamet Berkah selalu...
Ttd: Wong Edan Bagu
Antara Ridha dan Pasrah:
Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima
suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan.
Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi
menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada
Allah (Al-Mausu'ah Al-Islamiyyah Al-'Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan
Allah dalam firman-Nya, ''Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha
kepada-Nya.'' (QS 98: 8).
Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan
kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha
seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan
dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala
perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya
adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika
ditimpa musibah.
Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha
bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha
sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu
yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian
kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah
Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman,
''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).
Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda
dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk
mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan
pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut
adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi
yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah
seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu
adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.
Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti
sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat.
Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat
berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ''Mengapa engkau
lari dari takdir Allah, wahai Umar?'' Umar menjawab, ''Saya lari dari takdir
Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.''
Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan
pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan
salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat- ayat yang memerintahkan
untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain
pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang
untuk optimistis...
Salam Rahayu...
Ttd: Wong Edan Bagu
Langganan:
Postingan (Atom)