WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Selasa, 25 Maret 2014

CERMINAN DIRI:

Wanita paruh baya itu terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin, nafas yang terengah engah dan badan yang menggigil kuat bukan karena AC di kamarnya yang dingin tapi karena mimpi yang sama dengan tiga malam yang lalu. Diliriknya jam beker disamping kasur, jam 1 dini hari, disebelahnya sang suami masih pulas terlena dengan buaian malam. Wanita itu mencoba bangun meski sekujur tubuhnya lunglai seperti tak bertulang dan dengan sisa kemampuannya, ia berusaha untuk membuat otaknya menganalisa apa yang telah terjadi malam ini.

Ya...ini sudah malam ke empat, ia bermimpi sangat menyeramkan. Di dalam mimpinya, ia melihat sosok dirinya yang betul-betul aneh. Semua organ tubuhnya berubah menakutkan, bola matanya menjadi sebesar bola tennis, telinganya seperti telinga keledai tapi panjangnya sampai menyentuh lantai, mulutnya menganga dengan lidah terjulur keluar dan meneteskan cairan seperti nanah tapi lebih busuk baunya. Tangan-tangan halusnya mendadak berubah penuh kutil yang mengalirkan darah dan kaki-kaki jenjangnya menjadi bengkak dan semakin besar kalau ia berjalan. Astaghfirullahhaladziem..... istighfarnya dengan hati serta mulut yang tergagap. Berulang kali wanita paruh baya itu beristighfar sampai tak disadarinya, ia telah bercucuran air mata.

Ia mencoba mengingat kembali semua yang pernah dilakukannya dan seperti menonton sebuah film, semua diputar ulang, sampai kejadian kecil pun tak ada yang terlewatkan. Dia teringat bagaimana ia menggunakan matanya hanya untuk mengagumi perhiasan, koleksi mode terbaru, bahkan untuk membaca berita-berita yang seharusnya masuk ke tong sampah, Pernah juga untuk membaca ayat-ayat Al Quran tapi itu pun dilakukannya sepintas lalu saat dalam pengajian bulanan. Wanita itu tersadar ia hanya bisa menggunakan mulutnya untuk ghibah, ngerumpi, ngegosip, berbohong, menceritakan kejelekan teman-temannya, kadang untuk menghasut sampai memfitnah. Kalau pun untuk mengaji, menyebut keagungan asma Allah SWT, hanya dilakukan karena kebiasaan dan bukan karena kebutuhan yang didasari karena penghambaan serta keihklasan terhadap Allah Sang Maha Memiliki.

Bagaimana dengan telinga yang selama ini hanya dipakainya untuk mendengar gosip dan kabar yang tak terbukti benar. Begitu juga dengan tangannya yang selama ini dipakai untuk menggelapkan uang koperasi yang diamanahkan kepadanya, kedua tangannya sering dimanfaatkan untuk menolong temannya tapi niatnya riya' dan ingin disebut ringan tangan.

Ia tersadar untuk yang kesekian kalinya, bahwa ia tidak hanya memperkosa tangannya tapi juga memperkosa hatinya dengan riya' dan pamrih. Wanita paruh baya itu memegang kakinya dan dibenaknya teringat bagaimana ia memaksa kakinya untuk melangkah ke mall, ke rumah temannya sekedar untuk menanyakan apakah ada gosip terbaru, kadang juga ke pengajian tapi untuk pamer koleksi perhiasan atau busana muslimnya yang teranyar.

Astaghfirullahhaladziem..... lirih ia ucapkan dengan hati yang sedari tadi tidak berhenti istghifar, teringat ia dengan ceramah Ustadz Rahmad, seminggu yang lalu... arti dari syukur adalah menggunakan atau mengolah nikmat Allah SWT sesuai dengan tujuan dianugerahkannya. Lawan katanya adalah kufur yang berarti tidak mensyukuri nikmat Allah Sang Maha Pemurah, dan orangnya disebut kafir. Kita dianugerahi kesehatan, tapi apakah kita sudah menggunakannya untuk shalat tepat waktu begitu azan berkumandang, kita dianugerahi hati yang fitri oleh Allah SWT tapi kenapa kita mengotorinya dengan riya', iri, dengki, takabur, buruk sangka dan berbagai macam penyakit.

Begitu juga dengan dua mata normal pemberian Allah Sang Maha Kuasa, apakah kita sudah memanfaatkannya untuk membaca, mempelajari, memahami dan menerapkan ayat-ayat suci Allah SWT dalam hidup kita, sudahkah kita memanfaatkan mata ini untuk membaca buku-buku religi yang bisa meningkatkan kualitas keimanan, kecintaan serta ketakwaan kita kepada Sang Khalik ataupun yang bisa membuat kita memperbaiki akhlak kita. Bagaimana dengan telinga ibu-ibu bapak-bapak, apakah sudah dipakai untuk mendengar hal-hal yang baik dan benar, mendengar keagungan ayat-ayat Allah yang Maha Penyayang, sama halnya dengan mulut apakah sudah dimanfaatkan untuk berbicara yang benar yang tidak menyakiti dan mendzalimi orang lain, untuk menyampaikan kebenaran Illahi Robbi? Dua tangan kita apakah sudah digunakan untuk berdoa, berdziqir, bersedekah, bekerja dengan ikhlas Lillahi Ta'ala, dan juga untuk membantu sesama tanpa pamrih. Kedua kaki kita, apakah selama ini dilangkahkan ke tempat-tempat yang diridhoi Allah Sang Maha Tahu???

Seperti yang disebutkan dalam surah Ibrahim (14):7 Allah berfirman, " Sesungguhnya jika engkau bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmatmudan bila kamu mengingkari, maka siksaKu amatlah pedih." Jadi ibu-ibu bapak-bapak, kalau kita belum bisa memanfaatkan pemberian-pemberian Allah Yang Maha Kaya sesuai dengan tujuan pemberiannya dan yang diridhoiNya, maka kita termasuk *kafir, walaupun kita percaya kebenaran Al Quran, mendirikan shalat dan berpuasa sekalipun.

Lalu kita harus ingat firman Allah SWT dalam surah Al Israa' (17):36 Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.

surah Yaasin (36):65 Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah tangan mereka kepada Kami dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dulu mereka lakukan.

Tergetar hati wanita itu, Allahu Akbar serunya lirih.... nikmatMu tidak hanya materi, harta, anak, suami, jabatan tapi yang dianggap sepele pun sebenarnya adalah nikmatMu yang terbesar yaitu, kesehatan, qolbu/hati, mata, mulut, telinga, tangan dan kaki. Dan kenikmatan yang tampak kecil itulah yang sering ia kufuri dan jika tiba saatnya nanti, kenikmatan-kenikmatan yang terlupakan itulah yang menjadi saksi atas perbuatannya.

Dalam isak tangisnya seperti ada "sosok" yang begitu kuat yang memaksanya bersujud, lalu lisan wanita paruh baya itu lirih berucap....
Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah hambaMu ini yang belum pandai mensyukuri nikmatMu...

Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah hambaMu ini yang sudah menggunakan limpahan nikmatMu untuk bermaksiat dan mendurhakaiMu...
Ya Allah yang Maha Penyayang, ampunilah hambaMu ini yang selalu menggunakan nikmatMu untuk mendzalimi dan menyakiti orang lain...
Ya Allah yang Maha Penyayang, ampunilah hambaMu ini yang telah mengotori nikmatMu dengan kesombongan, riya', iri, dan dengki....

Suara adzan shubuh berkumandang dari masjid seberang, tak terasa berjam-jam wanita paruh baya itu menangisi kekhilafannya, muhasabah dan beristighfar kepada Sang Maha Pengasih. Buru-buru ia mengusap air matanya sembari tersenyum ia berucap terima kasih Ya Allah Yang Maha Baik atas hidayahMu yang luar biasa ini, terima kasih Ya Allah Yang Maha Pemberi Nikmat atas cinta, kasih sayangMu yang tak pernah henti Engkau limpahkan walaupun hambaMu ini berulang kali mendurhakaiMu.

Ia pun segera beranjak wudhu dan shalat shubuh, dan doa yang keluar dari hati serta lisannya...

Ya Allah Yang Maha Pandai, ajarilah hamba untuk bisa mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan bapak ibuku, bimbinglah hamba untuk bisa berbuat kebaikan di jalanMu dan sertakanlah hamba ke dalam golongan hamba-hambaMu yang selalu berbuat baik.....

Ya Allah Yang Maha Mampu Melakukan Segalanya, berikanlah hamba kekuatan, kemampuan serta kemudahan untuk bisa menggunakan qolbu, mata, lisan, telinga, tangan dan kaki yang telah Engkau anugerahkan kepadaku untuk berbakti kepadaMu.....

Ya Allah Yang Maha Pelindung, hindarkanlah hamba dari golongan orang-orang yang Engkau murkai, golongan orang-orang yang kufur nikmat, golongan orang-orang munafik yang selalu mendzalimi menyakiti dirinya dan orang lain....

Ya Allah Yang Maha Kuasa, hamba mohon jangan Engkau palingkan diri ini dari hadapanMu dan jangan Engkau sesatkan hati ini dari hidayahMu....
Hanya Engkaulah sebaik-baik Penolong, Pelindung, Pemelihara kami dengan segala kecukupan, kasih sayang, kebaikan-kebaikan, ampunan serta berkah yang tak pernah lelah dan pamrih Engkau anugerahkan bagi hamba...

Amiin Ya Rabbal Alaamiin......
Salam Rahayu Lurr...By: Wong Edan BaGu


Sabtu, 22 Maret 2014

Sekolah Pawang Hujan ?... Oya...?!

Pawang  adalah kata yang mungkin sudah akrab kita dengar.  Kata ini biasanya digunakan pada seseorang yang mempunyai keahlian menjinakkan atau melatih binatang seperti gajah, ular dll. Menurut kamus KBBI, pawang adalah orang yang mempunyai keahlian istimewa yang berkaitan dengan ilmu gaib dan tidak melulu harus berhubungan dengan binatang. Nah, mumpung sedang musim hujan, maka bulan ini kita khusus membahas tentang topik unik yaitu pawang hujan.

Profesi yang unik dan langka;
Pawang hujan adalah merupakan profesi unik dan langka. Kenapa saya sebut langka? Jawabannya karena profesi hanya muncul dikala musim saja, iya tidak?……… hujan... Edan ! Pada even-even atau hajatan besar yang berlangsung di musim hujan, seperti misalnya perayaan tahun baru di Jakarta tahun lalu diberitakan  melibatkan sejumlah pawang hujan.

Di daerah Bali, pawang hujan dikenal dengan nama “Tukang Terang” dan proses menghentikan hujan disebut “Nerang”. Aktivitas ini umum ditemukan pada setiap prosesi upacaya budaya di tempat ibadah (pura) di kala musim hujan dan umumnya tanpa bayaran alias gratis. Belakangan beberapa even pariwisata seperti di hotel, pertunjukkan atau wedding secara rutin juga melibatkan para tukang terang (pawang hujan). Nah, kalau yang ini ada tarif-nya alias tidak gratis.  Kebetulan saya dulu kerja di hotel jadi tahu persis kalau payment khusus untuk pembayaran pawang hujan yang disebut dengan nama “rain stopper“.  Artikel berbahasa Inggris tentang Bali juga sering mengulas topik  unik ini.

Profesi pawang hujan juga tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di negara lain.  Di Kolombia contohnya, penutupan Piala Dunia FIFA U-20 di Kolombia 2011 melbatkan jasa pawang hujan yang akhirnya menuai kontrofersi dan penyelidikan karena dianggap sebagai pengeluaran tidak wajar, tidak masuk akal dan sia-sia.

Anda percaya ?
Apakah saya percaya bahwa pawang hujan bisa menghentikan atau memindahkan hujan? Hmmmm…..Entahlah. Di era modern sekarang, jasa pawang hujan masih digunakan oleh sebagian orang di masyarakat. Kenapa kita tidak mencoba berpikir bahwa mungkin saja keahlian unik tersebut benar ada?  

Nah, sekarang kita mencoba berandai-andai lebih jauh. Andai ilmu semacam ini benar ada, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Misalnya sebagai solusi alternatif penanggulangan banjir.  Uang miliaran rupiah  untuk study banding penanggulangan banjir ke keluar negeri bisa dialihkan untuk  pendirian sekolah pawang hujan atau Fakultas Pawang Hujan untuk tingkat universitas. Nantinya ilmu ini bukan hanya sekedar memindahkan hujan dari satu desa ke desa lain tapi juga memindahkannya ke negeri lain, daerah gurun Arab atau sekalian “ditumpahkan seluruhnya” ke negara Amerika atau  Israel. Nah, rasain lo! Ha ha ha . . . Edan Tenan

Nah, hebat bukan? Nanti dijamin negara kita akan menjadi terkenal, disegani dan juga sekaligus ditakuti oleh negara lain. Nanti ilmunya bisa dijual atau diekspor ke negara lain. Pakar dan mahasiswa asing juga berdatangan untuk belajar. Ini artinya devisa alias duit yang melimpah. Maklum, Mbah WEB,,,, ada bibit kapitalisnya……

Wakakakakaka… ini serius atau gimana Mbah?
ASEM KECUT GULO LEGI....!!!  Nulis jarinya sampai kriting. Ko,,,, masih di tanya tentang serius... Ini serius Nak. Sampean kira ini ini abal-abal alias ngacau?  

Ttd:
Wong Edan Bagu
Purbalingga Minggu: 23-03-2014

Orang Indonesia... Bermental Feodal ?

Kadang Saya bertanya sendiri kepada Aku,,, apakah teman-teman saya mengerti kalau saya bilang mereka bermental feodal? Kayaknya tidak,,, jawab aku... Mereka tidak mengerti. Untuk mengerti, mereka perlu perbandingan, perlu pengalaman, kataku,,, Aku... Teman saya ini orang berasal dari negara hidup yang sedang bertahun-tahun tinggal di negara wujud, yang lebih di kenal dengan sebutan indonesia. Perlu pengalaman apa,,, kongkritnya? Tanya saya....

Begini,,, kata aku, orang indonesia feodal, angkuh. Apa-apanya tinggal suruh pembantu. Tuan rumah gengsi membersihkan sampah, itu urusan pembantu. Kalau ada apa-apa, tinggal panggil pembantu. Untuk angkat barang belanjaan dari mobil saja panggil pembantu.

Emangnya di negara hidup gimana? Tanya saya. Di kami, jawabnya, semua kami kerjakan sendiri. Karena untuk menggaji pembantu seperti di indonesia hanya orang yang sangat kaya saja. Karena, di negri kami ada aturan minimal upah kerja per jam. Ada batasan jumlah jam kerja per minggu. Sabtu minggu libur. Lalu dalam setahun punya hak untuk sekian minggu ambil cuti liburan.... Wakakakakkakaka.... Edan Pora...?!

Di negri kami, lanjutnya,,, kami pisahkan dan angkat sampah sendiri, kerja bersihkan halaman sendiri. Untuk jarak dekat misalnya ke pasar naik sepeda atau jalan kaki. Di indonesia, mana ada yang mau naik sepeda atau jalan kaki. Gengsi... Di kami, boss ke kantor naik sepeda bukan hal aneh. Walikota bahkan mentripun naik sepeda. Di indonesia,,, baru bupati aja sudah naik mobil mewah, dikawal muka belakang dengan mobil pengawal. Di negri kami, anda bisa ketemu walikota bahkan waliyullah naik sepeda sendirian dan sapalah dengan “selamat siang pak bro” maka anda akan dijawab disapa balik dengan ramah... Di negri kami,,, anda bisa bertemu presiden bahkan Tuhan yang katanya Maha dan Ber-Ber itu, tanpa Ribet, di tempat ibadah, di rumah, di kontrakan, di pasar, di mall, di jalan, di ladang, di kamar, di dapur bahkan di Toilet/WC, sambil icik eyes juga bisa, kapanpun saja tanpa syarat .... O,,,O

Kami bekerja, pulang kerja belanja untuk keperluan dapur dsb. Kalau ada kerusakan dirumah betulkan sendiri kalau bisa. Karena, semuanya mahal. Betul gaji kami tinggi dibanding dengan di indonesia tetapi untuk barang-barang kebutuhan juga mahal. Upah tukang betulin ledeng per jamnya mahal.

Terus apa, kritikmu itu gunanya apa? Tanya saya...

Ya untuk itu,,, untuk yang barusan kamu tanyakan itu, buat orang indonesia sulit untuk menerima kritik. Untuk mengerti, mereka harus lihat sendiri bagaimana kehidupan di luar Hidup. Kalau mereka sudah melihat sendiri, barulah bisa mengerti. Barulah bisa tau bahwa di kami servis itu jauh lebih diutamakan. Mereka bisa lihat bagaimana seorang penjaga toko bersikap ramah pada pelanggan. Pelanggan toko yang tau akan semua seluk beluk barang dagangannya. Bukan bilang “kurang tau” “kurang ngerti” “kurang3x terus” bila ada pelanggan yang bertanya. Bisa lihat bagaimana penjual dengan sabar melayani pelanggan. Beda dengan di indonesia, pelayannya judes, tidak banyak tau tentang barang jualannya dan maunya cepat-cepat untuk meladeni pelanggan selanjutnya yang juga diladeni dengan cepat-cepat.

Loh, kok anda sepertinya negativ thinking? tanya saya.

Sebetulnya orang indonesia itu ramah, cepat senyum dan tidak complicated seperti orang di negri kami. Cuma ramahnya sering dangkal. Hal itu nampaknya tidak masalah bagi sesama orang indonesia. Tetapi bagi kami sering membuat kami bingung. Betul kami tidak banyak senyum, keliatannya kaku dan tidak ramah tetapi kami jujur dan serius. Kami tidak meremehkan orang lain dengan ketawa cengingisan mengejek orang lain. Tapi setelah lama tinggal di indonesia aku juga sedikti ketularan. Cengar cengir sendiri liat kawula muda pengangguran yang nongkrong atau keluyuran gak tentu arah... maen embat sana sini, Lawan jenis disamakan bak jaburan/jajan, yang bisa dibeli dan di nikmati disetiap warung manapun, jika tdk ada warung, masuk bilik tetangga nungpang nongkrongin bininya....wakakakakakakaka,,,, Edan Tenan

Ternyata benar dan tidak benar menjadi samar atau disamarkan ketika aturan kehidupan sudah diambil lagi oleh peraturan yang bukan lagi dari nurani. artinya hak nurani sudah diambil sebagian oleh peraturan lain itu…..ini yang bisa dinamakan hukum alam atau hukum nurani sudah dipelintir oleh ilmu baru……ilmu ego dan logika pikir demi kepentingan dan kekuatan kelompok/ golongan.

Membunuh berdasar ego faham bisa dibenarkan, membunuh versi ini berlipat salahnya karena sudah membunuh hukum nurani dan juga membunuh manusia… hanya dicap kafir tidak ber Tuhan atau dianggap musuh Tuhan …aneh kalau Tuhan itu punya musuh , tuhan yang mana dan tuhan fahamnya siapa ??…

Apakah agama mengajarkan etika cara makan dan minum atau apakah agama mengajarkan etika sesudah bangun tidur harus menjemur atau melipat selimut ??…he he he…atau apakah agama mengajarkan seorang gadis harus membantu ibu, belajar memasak dan lain lain…..waaah, mungkin pelajaran ini tidak ada dan dianggap tidak penting karena tidak ada untungnya bagi Tuhan atau kepentingan untuk mereka……tetapi nurani seorang ibu harus mengajarkan itu….ini berlaku dan terus ada dan hewan burungpun mengajarkan soal ini. mengajar anaknya untuk belajar terbang dan hidup mandiri , kucing , harimau dan lain lain juga demikian……lalu apa pentingnya bagi Tuhan dalam hal ini ??….sepertinya tidak ada, karena Tuhan yang menciptakan hukum itu dan semua itu kepentingan semua mahluk NYA…Tuhan yang maha kasih dan sayang dan maha memelihara dan mencukupi…. Jal pikiren

Iya sih,,,, saya kadang mikir juga , apakah agama menjiplak ilmu nurani atau sebaliknya ?? lalu aturan apa yang terus berlaku dan fleksibel atau langgeng dengan segala keadaan dan sepanjang waktu , agama.. nurani atau adat budaya.??….lalu apa yang sering merusak ilmu nurani sehingga hingar bingar terus selalu ada dan sering terkumandangkan , sesuatu yang menurut nurani tidak diperkenankan tetapi benjadi halal karena aturan lain diluar nurani….berdosa dan salah menjadi benar malah berpahala ….mbingungke….com

Saya menjadi ingat cerita bapak saya yang tentara jadul tanpa lencana, bercerita, ada anjing tanpa salah dikejar kejar kemudian dibunuh, karena di anggap binatang itu binatang haram dan jelek….lha piye iki menurut nurani….mu, lalu membunuh manusia tidak salah dalam hidup, menjadi salah karena dianggap kafir / tidak beragama ??… lha piye juga ini ??……Bapak saya sampai berumur tua tetap saja bingung dan tidak bisa menjawab soal perilaku manusia yang nuraninya sudah dipelintir hukum yang lain , Untung sekarang bapak saya sudah Aldut, coba kalau blm,,, apa tdk muter 7 keliling mikirnya, lawong bapak saya itu orangnya ahli NURANI,,, masih membekas dalam ingatan saya tentang cerita bapak almarhum saya itu, mungkin karena trauma dan tidak simpati dengan faham itu …..siapa dan apa yang salah dalam hal ini ??……..Salam NURANI…..Lurr

Semoga Ada manfa’at yang membawa Berkah ya... dalam mendewasakan Nurani kita masing-masing. Amiin
Ttd:
Wong Edan BaGu
Purbalingga Minggu: 23-03-2014
 

Belajar Toleransi Dari Ayam dan Anjing-ku:

Mengenal diri sendiri, adalah topik basi yang sudah di tulis oleh banyak orang. Pembacapun sepertinya sudah bosan untuk membacanya karena arah atau kesimpulannya nyaris bisa ditebak bukan? Namun kali ini Dongbud tetap ngotot untuk menampilkan tulisan dengan topik tidak kreatif ini. Kenapa? Enggak tahulah, mungkin karena gaya bahasa yang rada unik dan menggelitik, ringkas, sederhana dan mudah dipahami. Atau mungkin juga karena kesimpulannya yang Uedan tenan alias tidak nyambung,,, jadi klop dengan Nama penulisnya, yaitu Wong Edan Bagu ini yang memang uedan Tenan.... Selamat membaca.

Wahai manusia,,, Di dalam CINTA. Belajarlah ilmu kasih, ilmu toleransi, dan ilmu berbagi pada anjing2 dan ayam-ayamku ini..!!” Jangan Cuma Tumpakan. Icik2 eyes. Laqi. Ngewe thok yang kamu ketahui tentang CINTA... Wakakakkakakka.... Rasa saling pengertian, kerukunan, saling berbagi, saling asah-asih dan asuh yg seringkali di klaim sebagai buah dari kesadaran budi manusia itu ternyata bukan cuma milik manusia saja.

Kalau manusia pada umumnya hanya peduli pada sesama kelompoknya saja, baik itu kelompoknya yang disebut suku, kelompok bisnis, profesi maupun kelompok yang ngakunya paling berbudi karena seturut dengan perintah tuhannya (kelompok agama). Nah hewan-hewan peliharaanku ini yg jelas-jelas berlainan jenisnya yaitu mahluk yang disebut oleh manusia dgn sebutan anjing dan ayam ini malah bisa saling ASAH-ASIH dan ASUH tanpa saya ajari.


Anjing yang paling besar (si belang) merelakan jatah makannya dinikmati juga oleh 2 ekor anak anjing (si putih dan si coklat) yang bukan anak kandungnya. Bahkan anjing-anjing ini pun merelakan sebagian jatah makannya dinikmati juga oleh beberapa ekor ayam2ku. Mereka makan bersama, tanpa saling sikut apalagi saling sikat atau saling bantai.

Kita manusia perlu belajar ilmu kesadaran tingkat tinggi. Karena kita berasala dari tingkat tinggi, bukan tingkat rendahan. Kalau manusia-manusia di Mesir saling sikat, sikut dan saling bantai antar sesamanya karena berebut kue kekuasaan, maka mereka perlu belajar ilmu keikhlasan pada anjing dan ayam2ku ini. Kalau manusia beragama di negeri ini masih saling sikut, sikat dan saling bantai serta saling mengkafir2kan sesamanya seperti kasus ahmadiyah maupun syiah, maka mereka perlu merenungkan foto-foto ini sejenak. Renungkanlah dengan kejujuran hati dan kejernihan pikiran…….

Sungguh, hewan2 ini tidaklah pernah saya sekolahkan. Merekapun tidak beragama, tidak juga belajar etika .namun mereka sungguh punya kesadaran tingkat tuhan itu sendiri untuk berbagi dan makan bersama dgn damai. Walaupun yg mereka makan hanya nasi saja, tanpa lauk atau sayur apapun.

Smoga semua mahluk berbahagia... Dalam beragam budaya dan agamanya masing, namun 1 iman yaitu MAHA SUCI HIDUP... Salam Rahayu Lurr....
. . . . . . oo O oo . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Oke…. Dulu kukira mengenali diri sendiri itu yang gimana ya,,,duh…pasti susah. Apalagi kabar yang beredar bilang “Yg telah mengenali dirinya pasti mengenal Tuhannya”. Waauw…..pasti kelas berat.. nih,,,,hehe 

Rupanya sekarang baru paham saya, bahwa mengenali diri sendiri (salah satu, contoh yang paling gampang) adalah dengan mengerti ‘Apa yg dirasakan tdk enak buat diri jgn dikasi ke orang lain’ dan sebaliknya. Intinya toleransi.

Harapannya, dengan toleransi tinggi akan terjalin saling pengertian/saling jaga perasaan. Saling pengertian tersebut tentu membentuk keharmonisan. Keharmonisan akan memperkecil peluang perselisihan. Bila tak ada perselisihan tak akan ada perang. Tak ada perang berarti tak ada korban. Tak ada korban tak ada yg berduka, bersedih dan mendendam. Tujuan akhirnya, dunia tentrem adem guyub rukun langgeng seanak turun.

Oooo…gitu toh…wakakawakaka… “wong edan2x..” Edan Pancen Koe... WEB

Pantesan embah2 kita dulu meski terkenal abangan tapi jarang marah2 gara2 hal sepele. Enggak kaya sekarang,,, dimana2 kesenggol dikit marah, dikit2 tersinggung. Ga di kasih jatah Tumpakan semalam saja sama bojo... Marah, yang itulah yang inilah, padahal bisanya ngga di kasih itu karena lagi palang merah,,,, wakakakakakka.... Sensitivitas tinggi. Kalau parabola mending….lha ini, manusia jee...? wakawakaka……. Edan Tenan.

Kesimpulan :
Toleransi rendah,,, ego mencuat,,, adalah modal awal menghancurkan diri sendiri, keluarga, negara, bahkan dunia (WEB)

Ttd:
Wong Edan BaGu
Purbalingga Minggu: 23-03-2014

MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL (Makan tidak makan kumpul)

JARE WONG EDAN BAGU... (WEB)
Mangan Ora Mangan sing penting Ngumpul yo Lee...Ngger:
Mangan ora mangan ngumpul (Makan tidak makan berkumpul), adalah istilah yang tentu tidak asing lagi bagi orang2 Jawa bahkan sudah melegenda, hal ini kalau boleh saya usulkan ke pemerintah agar di jadikan Istilah yg me Nasional.

Kapan dan siapakah yg mencetuskan konsep yang begitu filosofikal ini, WEB tidak tahu persis, lalu apahkah prilaku ini masih relevan di zamanTablet ini?. Terlepas dari relevansi2nya, itu bukan yg menjadi atensi WEB. Bagi WEB yg menjadi daya tarik adalah kata Makan itu sendiri... Bukan Kumpulnya

“ MAKAN” siapa sih yang tidak mengerti apa itu Makan, namun tidak se naif yang kalian bayangkan. Kata / istilah “Makan” ternyata mempunyai arti, makna dan fungsi yg bermacam2 bagi bangsa Indonesia khususnya suku Jawa.

Dalam kamus Macquarie yg paman baca “makan” atau “Eat” di terjemahkan sebagai (To consume or to take into the mouth and swallow for nurishment) terjemahan “mengkonsumsi/ memasukan ke dalam mulut lalu menelanya sebagai gizi pertumbuhan “

Bagi Manusia Indonesia yg kaya akan tradisi dan budaya, kata “ Makan” berkembang menjadi lebih fariatif, ketika daya kreatifitas bekerja, maka terlahirlah kata 2 al: “ Makan hati, makan, angin, makan waktu, makan Zaman, makan tempat, makan temanya sendiri dll”. Waduh rakus sekali bangsa kita ya.. hampir semua aspek mau di makan, kecuali kepalanya sendiri.

Bulik-bulik luar negeri akan tertawa geli ketika kita bicara “Makan waktu” yg diterjemahkan ke dlam bahasa mereka “Eating time” atau “Makan tempat = eating places”, tentu saja tidak nyambung bagi mereka namun tetap menggelikan. Mereka akan bergumam ,wah pasti orang indonisia kurang kerjaan atau memang sudah betul2 krismon kali ya nggak puya apa2 lagi yg bisa di makan,

WEB.... Tuliskan ini sekedar sebagai opini menurut pemahaman dan pengalaman WEB pribadi tentang hal 2 makan memakan dan kumpul mengumpul agar terjadi saling pengertian antara satu dgn yg lainya khususnya yg berlainan adat budaya dan keyakinan.

Makan Sebagai Budaya;
“Makan” bagi bangsa Indonesia ternyata adalah sebuah budaya itu sendiri atau lebih pasnya Paman sebut saja “Budaya makan” atau “budaya Makanan” coba bayangkan betapa bervariasinya, jenis2 dan cara2 mengolah makanan, bahkan cara memakannya yg berbeda2 dari daerah ke daerah yg lain,

Ada yg memakai garpu, sendok/pisau, garpu ala orang bule meskipun yg di makan hanya sepotong Lemet ( jajan dari singkong ) ada yg cukup pakaui cakar sambil kakinya nangkring di kursi, ada yg di suapi meski sdh bisa makansendiri, ada yang kecap2 ngunyah berisik sekali sampai tetangganya terbangun dll.

Umat Muslim/kristiani di Indonesia akan ber do’a dg menyebut nama Tuhan Kristus atau Allah sebelum memulai makan, bahkan umat muslim pun tidak sembarngan makan makanan yg di haramkan oleh ajaranya, sementara saudara 2 kita yg Hindu di Bali lain lagi, mereka akan mengambil sedikit/ secuil makanan lalu di letakan di sampingnya/ di pojok untuk sekedar berbagi pada leluhur/ saudara saudarinya yg telah tiada dan mengajak makan bersama sama.

Untuk orang Jawa/Kejawen biasanya dg menyebut saudara sepiritualnya (Sedulur papat limo pancer) untuk ikut menjaga dan makan bersama sama.

Pada umumnya masyarakat Indonesia ketika orang hendak mulai makan , pasti menawari atau pamitan orang2 di sebelahnya “ mari makan Pak, bu, mbak mas dll” ini adalah sebagai unkapan solidaritas antar sesama dan hal ini tidak akan di jumpahi di negara2 lain

Dan masih banyak sekali, tradisi2 yg bersangkut paut dengan makan memakan ini. Coba kalian renungkan, dlm permainan catur saja pemainya bisa makan kuda, bahkan makan benteng dan ratu (Star)

(Pesan Master Wong Edan Bagu: Apapun makananya minumya air putih saja)

Makan Sebagai Sarana Komunikasi;
Bagi Bangsa Indonesia, makanan juga bisa mewakili sebagai expresi “Cinta” dlm arti yg luas atau kepedulian terhadap sesama.

Di kampung2/desa kalau kita bertamu pada umumnya si tuan rumah sealau mengajak tamunya makan walaupun hanya sedikit saja, meskipun si tuan rumah sendiri lagi bokek kekurangan, namun masih juga nekad untuk ngutang dulu di warung sebelah sekedar menghargai tamunya, biaripun kita sudah kenyang pun kita akan di paksa mencicipinya, ini artinya si tuan rumah ingin mengexpresikan kepedulian cinta kasihnya terhadap sesama yaitu tamunya, si tuan rumah pun akan tersinggung berat kalau si tamu menolaknya bahkan bisa stress nggak bisa tidur dan tidak jarang akan menjadi bahan Rasan rasan( gosip ).

Ironisnya hal2 ini sering di kesampingkan oleh kelompok2 Agama garis keras atau extrimis fondamentalis agama, jangan lagi mencicipi makanan tuan rumah, makan masakan ibunya sendiri saja sdh tidak mau atau najis karena ibunya tidak lagi se aliran atau sefaham dg dirinya…hhihhh ngeri dong deh..… WEB percaya dalam kasus ini mereka tidak memahami bahkan tidak mau menyadari bahwa makanan bisa juga menyatukan atau sebaliknya memecah belah umat.

Ada satu lagi Yang juga menarik sekali yaitu pasanagn suami istri, di mana ketika sang istri juga secara naluri bawah sadarnya ber interaksi melalui sajian makanan. Pernakah tiba2 Istri atau pacar anda menyajikan makanan yg terlalu asin atau terlalu pedas sekali, jangan di kira istri / pacar anda sdh tidak pecus lagi memasak , itu artinya si dia minta perhatian karena selama ini kurangnya kaci cayang atau jablai kali ya.

Makan sebagai fungsi ritual;
Bicara soal makanan bangsa Indonesia, tentu saja tidak bisa lepas dari “beras” Beras menempati pada jajaran yg sanagat penting baik pd lingkup jasmani maupun rohani. Orang2 Indonesia tidak akan menyebut dirinya sudah makan kalau belum makan nasi, meskipun sdh makn sekeranjang kacang goreng, ketika kita belum makan nasi tidak hanya lahirnya saja yang menderita bukan? btinpun akan terasatersiksa.

Untuk hall2 spiritual, contoh yg paling kongkrit adalah pada acara ritual/upacara2 ke Agamaan, misalnya di Jawa tradisi menaburkan beras kuning yg di sertai uang ke jalan guna mengiringi jenasah ke kuburan.

Di Bali, orang menempelkan beberapa butir beras di kedua pelipis atau di jidat mereka dgn berpakaian adat yg begitu menarik pada saat bahkan setelah sembahyang pun.. Mungkin saudara2 ada yg bertanya mengapa beras?

Wah.... coba bayangkan kalau beras tadi di ganti onde2, nanti dikira orang2 Bali pada kena tumor semua. Dan tentu kalian juga tidak rela kalau simbul kesejahteraan sosial yang semula Padi dan Kapas diganti “ Onde2 dan kapas” bukan?

Seperti halnya saudara2 kita yg dari Bali dg sesaji sesaji nya yg menggunakan bunga2 dan makanan, di Jawa pun makanan di pakai sebagai simbul2 ritual untuk berkomunikasi dg roh2 leluhur dan saudara2 yg telah tiada bahkan sebagai expresi do’a yg tervisualkan sebagai pengganti do’a2 yg verbal, ini sering kita jumpai dlam acara2 pernikahan, sunatan dan selamatan2 dan juga tradisi ini yg masih di jalani oleh saudara2 kita dari Batak, Sulawesi dan suku2 pedalaman Dayak, Irian Badui dll.

Di Jawa ritual yg sering kita jumpai dg memanfaatkan makanan adalah “Tumpengan” yg sekarang telah dijadikan budaya Nasional, thaks god…

Ritual2 yg menggunakan makanan ini pada dasarnya adalah sebagai simbolisasi, maka dari itu akan tidak masuk akal kalau kita terjemahkan secara vulgar atau apa adanya begitu saja,masak sih roh2 nenek moyang/ saudara2 kita masih di suguhin makanan2 seperti halnya kita2 yg masih hidup? .Untuk itulah bagi yg berbeda faham agar tidak semudah itu mengadili sebelum menghayati ke kedalaman suatu hakekat spiritualitas.

WEB.... Begitu prihatin sekali ketika ritual2 selamatan di kecam dan disyirikan oleh golongan2 yg berbeda faham namun tidak syirik kalau mereka mengadakan Aqiqoh dengan menyembelih kambing dan di makan juga.

Makan sebagai Benteng Pertahanan;
Bagi bangsa Indonesia “Makan” adalah benteng pertahanan yg sangat perlu di perhatikan khususnya oleh pemerintah kalau kita masaihmenghendaki kokohnya NKRI ini, Para Tentara dan Polri tidak akan mampu menjaga stabilitas Negara RI ini sercara maksimal kalau kekurangan makan dan gizi , dan sang istri bisa mencak mencak kalau benteng pertahanan dapur tidak lagi ngebul dan yang jelas akan beruntun ke tragedi robohnya benteng pertahanan negeri ini. untuk itulah Paman mohonkan kepada Pemerintah agar jatah2 mereka jangan sampai di kentit.

Demikian juga agar generasi penerus bangsa pun perlu di perhatikan akan kecukupan dan kelayakan gizi makanan agar mereka kuat dan mampu menjalankan tugas belajar agar cerdas tidak gampang di bodohi terus menerus.

Kasus yg sangat tragis sering kita jumpai ketika manusia rela mengorbankan martabat bangsa bahkan rela Negerinya di injak2 bangsa lain dg imbalan sesuap nasi.

Satu hal lagi yg tidak kalah menyedihkanya di negeri yg tanahnya voulkanik begitu suburnya namun ketika para petani sebagai lini paling depan dari benteng negeri ini di bodahkan dg pengguna’an pupuk2 kimia yg memang akan mempercepat hasil produksi namun akan berakibat yg fatal terhadap linkungan hidup dan tanah garapanya, sehingga di jangka panjang tanah tidak lagi produktif , persediaan pangan dg sendirinya akan semakin berkurang dan terus kekurangan yang berbuntut pada proyek2 impor beras dimana ujung2nya ternyata proyek2 komisi dan korup juga.

Lalu ketika harga beras yang di impor pemerintah ternyata lebih murah dari beras Pak tani negeri sendiri, kemudian apa yg akan di lakukan Pak Tani berikutnya, bekerja di pabrik? sawah ladang di jual di gantikan ruko2 dan real eastate?, dan seterusnya dan seterusnya?cf…wah pokoknya panjang deh buntut nya anda boleh menafsirkan sendiri... he he he . . . Edan Tanan

WEB... Akhiri dulu sampai disini tulisannya sebelum di lanjutkan pada seri berikutnya yg membahas tentang budaya “Ngumpul2”, “KUMPUL KEBO”

WEB... Berharap tulisan yg asal2an ini, yg nulisnya sambil ngrokok gudang garam djaja, sambung lagi dengan gudang garam surya 16 serta makan camilan chocolate selamat wafer, yang wadah dan isinya tdk sama, karena tulisan diwadahnya begtu, tapi isi didalamnya ada;ah biskuit roma rasa kelapa, pless wedang teh tubruk, suguhan pak guru Caca Rudi di rumahnya Karanggambas Purbalingga Jateng ini, dapat memberikan manfaat walaupun sedikit buat para pembaca . “ Mudah2an Allah setuju…”

AMIIN.... Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah selal Lurr....
Ttd: Wong Edan BaGu
Purbalingga Minggu: 23-03-2014