WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Selasa, 19 November 2013

Nilai Diri Anda:


http://wongedanbagu.blogspot.com
Seberapa BESAR (kecil) kah NILAI DIRI Anda…?

Beberapa waktu yang lalu, sewaktu memberikan pelatihan di sebuah bank swasta terkemuka di Indonesia, saya bertemu dengan Office Boy (OB) mantan bawahan saya. Saya masih mengingatnya karena ‘performance’-nya termasuk yang di bawah rata-rata. Datang seringkali terlambat, jam 3 sore dicari seringkali sudah tidak di tempat, ketika ada tamu seringkali orangnya menghilang.

Jadi mudah bukan untuk membuat atasan mengingat anda: jadilah yang terbaik (di atas rata-rata) atau jadilah yang terburuk (di bawah rata-rata)!   Karena sudah banyak orang rata-rata, makanya atasan sulit untuk mengingat.  

Saya menyapanya dan bertanya tentang dirinya, pekerjaannya, keluarganya, dan kehidupannya sekarang. Mungkin sudah banyak perubahan karena sudah hampir 10 tahun kami berpisah (ketika itu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah Pasca Sarjana di Inggris).

Ternyata, I was very suprised, saat inipun dia masih bekerja sebagai seorang OB dengan penghasilan tidak beda jauh dari penghasilannya 10 tahun yang lalu.

Dia mulai berkeluh kesah: hidup ini susah, cari pekerjaan sulit, kebutuhan pokok selalu melambung padahal gaji naik hanya sedikit, atasan tidak fair (tidak pernah memberikan kesempatan), rekan kerja tidak pernah mendukung, dlsbnya.

Sebelum dia curhat lebih lama, saya menyelanya: Semua itu adalah PILIHAN anda, anda yang membuat hal-hal yang disebutkan di atas terjadi! Dia KAGET?!

Saya (S): Coba pikirkan ketika anda masih bekerja bersama saya dulu, sudahkah anda memberikan yang terbaik yang bisa anda berikan? Apakah anda berusaha untuk selalu memberikan lebih atau ketika OB lain memberikan lebih, anda mencibir dan menyebut mereka sebagai ‘penjilat’ atau orang yang tidak ‘realistis’?
Dia (OB): Tapi kan kami dibayar hanya UMR, kami berada di posisi paling bawah dalam hierarki organisasi, ngapain kami memberikan lebih dari job desc yang ada?

S: Nah itulah, ketika anda bilang ngapain memberikan lebih berarti saat itulah anda telah dinilai atau dicap tidak akan mampu untuk mengerjakan lebih dari job desc yang diberikan. Anda tidak akan pernah diberi kepercayaan lebih karena anda tidak pernah menunjukkan bahwa anda sebenarnya mampu.

OB: Tapi kami kan hanya OB, mana mungkin untuk naik jabatan. Sekali OB pensiunnya juga OB bukan?
S: Kata sapa? Apakah anda pernah bertemu dengan Tuhan dan Dia mengatakan bahwa nasib anda adalah sebagai seorang OB hingga anda pensiun? Kalau anda mau tahu, ada seorang OB seperti anda, yang pendidikannya hanya SMA, tapi dalam waktu 19 tahun bisa menjadi seorang Vice President bank asing terkemuka di Indonesia. Anda kaget?

OB: Tapi kalau saya melakukan dan memberikan lebih nanti saya disebut ‘penjilat’ atau ‘carmuk’ (cari muka) oleh rekan-rekan saya? Gimana dong?

S: Itulah yang membedakan orang rata-rata dengan orang di atas rata-rata. Orang rata-rata akan mencari alasan dan pembenaran diri untuk menyesuaikan GOAL yang ingin dicapai dengan kemampuan dirinya, sama seperti anda saat ini. Anda mencari 1001 alasan untuk membenarkan dan men-justifikasi perilaku, tindakan, dan kebiasaan anda, bahwa sebagai seorang OB ngapain bekerja dan memberikan lebih. Kan nasib anda hanya OB dan pensiun juga sebagai OB, betul bukan?

Beda dengan orang di atas rata-rata, mereka akan menyesuaikan KEMAMPUAN dengan goal yang sudah mereka tetapkan sebelumnya. Mereka akan terus meng-upgrade kemampuan untuk mencapai target dengan lebih cepat dan lebih baik. Mengapa anda tidak menggunakan 1001 alasan tadi untuk membantu anda untuk mencapai target atau tujuan hidup anda?

Buat 1001 alasan mengapa dan bagaimana anda harus mencapai target anda dibanding membenarkan dan men-justifikasi kenapa saya tidak berhasil!

OB: Termasuk memberikan dan mengerjakan lebih dari job desc yang diberikan?
S: Yesss! Ketika anda memberikan dan mengerjakan lebih dari nominal gaji anda yang dibayarkan berarti anda meningkatkan NILAI DIRI anda. Terus tingkatkan NILAI DIRI anda sehingga rekan kerja, atasan, bawahan, bahkan orang di luar organisasi tahu nilai diri anda! Ketika nilai diri anda luar biasa, orang lain yang akan ‘hunting’ dan memburu anda, bahkan berlomba-lomba untuk merekrut anda.

Sebaliknya ketika anda mau resign karena tidak ada kecocokan dan atasan sama sekali tidak berusaha menahan anda berarti nilai diri anda lebih rendah dibanding nomimal gaji yang dibayarkan. Ngapain atasan harus menahan anda yang di bawah rata-rata? Di luar sana ada jutaan pengangguran yang siap dan mau memberikan lebih dibanding anda.  

Seorang rekan yang sewaktu bekerja di bawah pimpinan saya, terus menerus mengeluh, komplain, dan tidak puas dengan gaji yang dibayarkan serta fasilitas yang diberikan. Ketika dia resign, saya tidak menahannya. Sekarang dia sudah menganggur hampir 1 tahun. Dia mencoba untuk berusaha tetapi ternyata hasil yang diperoleh tidak mencukupi biaya hidup keluarganya. Menunjukkan apa? Bahwa ternyata gaji yang saya bayarkan saat itu melebihi nilai dirinya (over paid), bukan?!  

Jadi di sini, saya hanya memprovokasi anda: kerjakanlah dan lakukanlah melebihi nominal gaji yang dibayarkan sehingga otomatis anda meningkatkan nilai diri anda! atau sebaliknya, mengambil sikap sebagai penonton, menjadi ‘komentator’ yang setia, mencibir orang lain sebagai ‘penjilat’ atau ‘tidak realistis’, dan membenarkan serta men-justifikasi perilaku, tindakan, kebiasaan, dan belief anda yang kurang bermanfaat sehingga otomatis anda menurunkan nilai diri anda!

Menulis Itu Sehat:


http://wongedanbagu.blogspot.com
Dalam hidup kita pasti punya masalah. Nah, ketika kita punya masalah, salah satu cara yang seirng dilakukan untuk meredakan emosi adalah bicara dengan orang lain atau curhat. Tapi tahukan Anda bahwa curhat mengandung resiko. Apalagi jika Anda curhat dengan orang yang salah. Bukannya selesai, malah timbul masalah.

Ada cara lain yang lebih efektif untuk mencurahkan emosi ketika ada masalah, yaitumenulis. Ya, menulis merupakan sebuah sarana untuk meluapkan emosi. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa menulis bisa meningkatkan kebahagiaan, berpengaruh pada kesehatan dan menjernihkan pikiran.

Memang ada 2 cara dalam mengungkapkan emosi, yaitu:
1. Verbal (menulis).
2. Nonverbal (berteriak, menangis, menggambar)

Menulis lebih efektif karena akan membuat pikiran menjadi terstruktur dan memperlambat berpikir. Dari segi kesehatan, menulis baik bagi jantung, peredaran darah, dan kekebalan tubuh.

Manfaat menulis dirasakan oleh mantan presiden BJ. Habibie. Saat istri tercinta meninggal dunia, Habibie sangat sedih dan terpukul. Hampir setiap hari ia datang ke makam istrinya. Suatu hari dokter pribadinya berkata bahwa jika kalau hal ini terjadi terus menerus, maka tidak lama lagi Habibie akan ‘menyusul’ Ibu. Habibie menjawab bahwa ini ia lakukan karena terdorong perasaan sedih. Istrinya adalah separuh jiwanya. Dokter itu lalu menyarankan Habibie untuk menulis. Ya, ia disarankan untuk menuangkan perasaannya kedalam tulisan. Maka Habibie pun mulai mengambil laptopnya, dan mencurahkan isi hatinya kedalam tulisan. Setelah tulisan itu selesai, Habibie merasa lega. Perasaan duka perlahan-lahan hilang. Habibie pun kini sudah menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Curahan hati Habibie itu bahkan akhirnya menjadi sebuah buku.

Yang perlu diketahui:
- Tidak semua kegiatan menulis itu positif. Menulis menjadi positif kalau digunakan untuk sesuatu yang tidak bisa kita kontrol atau ada diluar kendali kita. Tapi kalau untuk sesuatu yang bisa kita kontrol (ada dalam kendali kita), maka menulis menjadi tidak positif. Contohnya ketika suami istri ada masalah. Dalam masalah ini, menggunakan tulisan menjadi tidak efektif, karena masing-masing bisa bertemu. Lebih meluangkan wkatu untuk berkomunikasi.

- Tidak selalu menulis merupakan solusi. Menulis menjadi solusi kalau orang yang ingin kita sampaikan tidak terjangkau oleh kita, atau malah akan menimbulkan akibat buruk kalau kita berbicara langsung.

Cobalah untuk menulis, curahkan isi hati Anda. Nikmati kata demi kata yang Anda tulis. Jangan ada beban tentang gramar dan ejaan. Lakukan seperti Anda menulis dalam buku diary. Jangan merasa Anda tidak bisa menulis dengan baik. Selamat menulis!

Membuka Pintu Hati:


http://wongedanbagu.blogspot.com
Membuka Pintu Hati ~ Sekelompok orang yang baru meninggal dunia, sedang antri didepan gerbnag akhirat. Sambil menunggu pengadilan Ilahi, mereka mulai bertanya tentang prilaku mereka di dunia. Apakah mereka orangtua yang baik, apakah mereka berhasil mencapai sesuatu yang berharga, apakah mereka rajin beribadah, dan apakah mereka cukup berderma kepada fakir miskin.

Tapi ketika sampai di gerbang, semua jiwa dihadapkan pada satu pertanyaan, “seberapa besar kamu dulu mengasihi sesama?”

Mengasihi orang lain adalah langkah pertama dari perjalanan panjang masuk ke dalam diri. Perjalanan dalam diri memang tidak mudah, banyak yang menyerah ketika akan memulainya. Kesibukan, sering menjadi alasan. Tapi penyebab utamanya adalah pintu hati yang tertutup dan terkunci. Ini membuat telinga dan  mata terutup. Kita tak akan bisa  memulainya tanpa menemukan kuncinya,  yaitu cinta dan kasih sayang. Tanpa cinta sesama, pintu-pintu gerbang menuju kesadaran terdalam tidak akan terbuka.

Agama-agama  besar punya pesan tunggal yaitu kasih sayang. Tuhan juga dilukiskan sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semua agama dalam bahasa yang berbeda mengatakan: sayangilah orang lain. Anda belum beriman, kalau belum menyayangi orang lain, seperti anda menyayangi diri anda sendiri. Pernyataan ini menjelaskan, ukuran kemajuah spiritual anda bukan hanya ditentukan oleh seberapa rajin anda beribadah, rukuk dan sujud, tapi juga pada  seberapa besar anda mengasihi orang lain. Belajar mengasihi adalah sasaran kehidupan spiritual

Kita bisa memulainya dengan mencintai diri kita sendiri, lalu orang-orang terdekat dan sekitar anda. Lihatlah mereka dengan hati anda. Bukankah orangtua anda rela mengorbankan hidupnya untuk anda, bukankan pasangna anda telah memilih untuk menyerahkan hidup untuk bersama anda, bukankah anak-anak anda mengidolakan anda dan merindukan waktu bersama anda, bukankah pembantu anda mengabdikan hidupnya untuk melayani anda.

Orang bijak berkata: 
“Ketika seseorang melihat dirinya tidak berbeda dengan orang lain, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, maka siapa yang bisa dia sakiti?”

Merasakan baru permulaan dari cinta. Cinta yang sebenarnya diwujdukan dengan memberi sesuatu, sekecil apapun itu. Ibu Theresa mengatakan,
“Yang penting bukan berapa besar yang kita perbuat, tapi sebeapa besar cinta kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita”. 

Membuka pintu hati sama halnya dengan mencintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Itulah hakikat membuka pintu hati.

Apakah Hidup Ini Adil ?


http://wongedanbagu.blogspot.com
Apakah Hidup Ini Adil ? ~ Banyak orang beranggapan bahwa hidup ini tidak adil. Dalam fakta-fakta yang terjadi disekitar kita, kita memang banyak melihat ketidakadilan,  orang jujur malah hancur, orang yang baik malah susah, sebaliknya orang yang berbuat tidak baik malah sehajtera, dan orang yang berbuta curang malah menang.

Beranggapan bahwa hidup tidak adil akan mengakibatkan ketidakbahagiaan. Hal itu bisa membuat kita cenderung keluar dari lingkaran kebaikan. Kita tidak akan menemukan apa yang kita cari dalam hidup ini , yaitu kebahagiaan sejati.

Hidup ini adil, karena  diciptakan oleh Tuhan yang maha adil. Sedangkan dunia  bisa tidak adil, karena di dalam dunia bukan cuma Tuhan yang berperan tapi juga manusia.

Manusia sering tidak memahami hukum alam. Hukum alam adalah sesuatu yang pasti. Orang yang melakukan kebaikan akan mendapat kebaikan, begitu juga orang yang melakukan keburukan akan mendapat keburukan. Tapi kapan terjadinya, ada time of respon, ada tenggat waktu, ada jarak.

Ada 4 faktor yang membuat munculnya anggapan bahwa hidup ini tidak adil:
1. Karena hanya melihat akhirnya saja.
Misalnya, kita mempertanyakan mengapa seorang penyanyi dibayar mahal hanya untuk menyanyikan beberapa buah lagu?. Kita tidak melihat proses yang ia lalui untuk menjadi/mencapai seperti itu. Kita hanya melihat hasil akhirnya saja.

2. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya melihat luarnya saja.
Misalnya, kita melihat rumah tangga seseorang sangat harmonis, padahal pasangan tersebut sedang mencari cara agar tidak bercerai. Kita melihat keluarga kerajaan hidup enak dan bahagia. Padahal belum tentu. Ingat Lady Diana, ia menderita bulimia kaerna stres, hidupnya pun berakhir dengan tragis.

3. Karena hanya melihat apa yang terjadi di jangka pendek. Cerita belum selesai tapi kita sudah menyimpulkan.
Misalnya, kita menganggap orang yang korupsi jadi kaya, kalaupun dihukum ringan.  Cerita belum selesai. Jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa koruptor itu sudah menjadi pememang. Walau selamat dari hukum manusia (formal konsekuensi), tapi sepanjang hidupnya dia akan melekat dipandang sebagai koruptor.

4. Karena tidak bisa membedakan apa yang disebut “formal konsekuensi” dengan “natural konsekuensi”.  
Formal konsukensi adalah hukum dari manusia, sedangkan natural konsekunesi adalah hukum dari alam.
Misalnya, karyawan yang berbuat curang tidak mendapat sanksi dari atasannya, atau pasangan suami istri ada yang selingkuh tapi didiamkan saja oleh pasangannya. Kita tidak melihat adanya formal konsekuensi dalam contoh tersebut, tapi percayalah natural konsekuensi akan terjadi karena ada ‘tangan’ Tuhan disana.

Percayalah bahwa hidup ini adil, karena diciptakan oleh Tuhan yang maha adil. Dan Tuhan melengkapinya dengan hukum alam. Bukalah hati dan pikiran untuk melihat hukum alam tersebut.

Hidup Adalah Waktu:


http://wongedanbagu.blogspot.com
Hidup Adalah Waktu ~ Percaya atau tidak waktu merupakan sesuatu yang berharga. Tidak peduli apakah kita sedih, sedang bahagia, sengsara atau bahkan kecewa sekalipun, waktu akan tetap berlalu. Hidup adalah waktu, mengapa demikian ? mungkin anda semua bertanya-tanya, waktu hanya ada didunia ini, waktu hanya di sini dan waktu tidak akan pernah ada setelah kita mati. Setelah kita mati maka tidak akan ada lagi yang namanya detik, bulan, jam atau tahun sekalipun. Karena sesudah mati itulah dimensi waktu, dimensi kehidupan yang sebenarnya. Lalu sudahkah kita bersama-sama menyadari bahwa hidup adalah waktu ????

Hidup kita tidak akan lepas dari waktu. Tidak bisa lari dari padanya. Sungguh memilukan memang ketika di hidup ini, kita begitu tergila-gila, mengejar berbagai keinginan dunia, namun lupa bahwa dimensi waktu itu ada batasnya....dan batas dari dimensi waktu yang telah diberikan kepada kita belum kita ketahui dan tidak ada yang mengetahui kecual Sang Pencipta Waktu. Oleh sebab itu, suasana diakhir pekan ini, mari bersama-sama merenungi hakikat waktu kita masing-masing, sehingga kita tidak menyesal di kemudian hari.

Inilah nasehat untuk kita bersama yang saya buat dalam sebuah ungkapan syair tentang "HIDUP ADALAH WAKTU"yang mudah-mudahan bisa menginspirasi anda semua untuk sama-sama merenung di akhir pekan.

Syair Hidup adalah waktu

Waktu itu ada batasnya 
Batas yang membuat kita mengira lama
Mengira lama padahal hanya sementara

Tak peduli apa, dimana dan bagaimana dirimu
Sang waktu itu akan berlalu, berlari meninggalkanmu

Tak ada lagi  ketika mati waktu ini
Tak guna lagi semua ini ketika mati
Tak ada guna semua yang dimiliki akan mendampingi
Semua pergi tak peduli ketika engkau mati
Kecuali secuil kiasan budi pekerti

Hidup adalah waktu
Waktu yang kian berlalu
Berlalu bak debu menderu
Menderu hilang musnah bagai sembilu

Tak kuasa dirimu menahan waktu itu
Tahanlah dengan amal mu
Amalan ria penuh tipu
Membuat malu di hari penuh pilu

Mari kembali ke sana
Dimana kita di cipta
Tak usah jauh-jauh menempuh asa
Berbenah diri saat ini, mari kembali ke jalanNya.