WONG EDAN BAGU

WONG EDAN BAGU
SALAM RAHAYU kanti TEGUH SLAMET BERKAH SELALU DARI WONG EDAN BAGU UNTUK SEMUA PARA PENGUNJUNG BLOGGER PESONA JAGAT ALIET . . . _/\_

Senin, 21 Oktober 2013

HAKIKAT AL - QUR'AN DAN AGAMA:



DIWAN IMAM SYAFI’I :

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
 
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. 
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan taqwa. 
Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik? 
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

 ISLAM ; " Aslama yuslimu Islaman fa huwa muslimun" 
" Ila Ibadaka min humul mukhlasin" 


*Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata: 
Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 

Sesungguhnya Allah tidak mengambil ILMU dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. 

*Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
 Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 

Sesungguhnya menjelang terjadinya hari kiamat terdapat beberapa hari di mana pada hari-hari itu ilmu akan diangkat, diturunkan kebodohan dan banyak terjadi peristiwa pembunuhan. 

*Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 

Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, banyak yang meminum arak, dan timbulnya perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan. 

*Hadis riwayat Abu Musa r.a.: Dari Nabi Muhammad
 Shalallahu 'alaihi wassalam, bahwa beliau bersabda: 

Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan PETUNJUK dan ILMU adalah seperti hujan yang membasahi bumi. 

Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. 

Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. 
Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. 
Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah, yang karenanya aku diutus. 


RUKUN AGAMA 

Agama artinya adalah HIDUP, sebab jika tidak ada hidup, tidak akan ada nama Agama, Islam juga tidak akan ada, begitu juga dengan rukun-rukunnya sudah pasti tidak ada. 

Jadi SIFAT HIDUP hidup adalah pasti, yaitu sejatinya Agama atau sifat ilmu yaitu ilmu hidup, berilmu harus sampai kepada terangnya, sifat Agama harus disusul, jangan hanya di kira-kira, Rukun Agama harus ketemu, tentu dengan syariatnya, hakikatnya, tharekatnya dan ma’rifatnya
 yang sejati karena di bagian BAB ILMU, RASA yang akan menerimanya, melalui NASAB/BIN ILMU ;

Tharekat Shalat [Ilmu > Bukti > Keyakinan] 
Naqsabandiyah, Naqodariyah dan Naqsatariyah. 
[TIDAK ADA KAITAN dengan Khidir & Siti Jenar]

ALIF - LAM - MIM
Allah - Malaikat - Muhammad
Tha'at - Taubat - Munajat

Fi'il Amar - Shalat Tha'at - "Ati'ullaha wa ati'ur rasula wa ulil amri minkum"
Fi'il Madhi - Shalat Taubat - " Taubatan nasuha "
Fi'il Mudhari - Shalat Munajat -
 "Ud'uni astajib lakum"

Shalat Tha’at, Shalat Taubat, Shalat Munajat, 
Mandi [Penghilang hijab] dan Wirid/Zikir, ini BUKAN bagian dari bab ibadah.
 BAB IBADAH adanya di shalat fardhu yaitu ma’rifat laku ibadah, hasil dari kitab di dapat dengan mencontoh, tetap masuk kepada yang empat, syariat, hakikat, tharekat dan ma’rifat.

Ibarat mau bikin kursi, niat yang pertama, sesudah niat tentu adanya hakikat, adanya hakikat adalah dari ma’rifat dan pengetahuan, Sebab tadi sudah menjadi ilmu, sudah TAHU danBISA membuat kursi, terus memakai tharekat sampai syariat, sifatnya menjadi kursi dan rupa kursi, perjalanan ilmu tegasnya adalah, untuk mencari ma’rifatnya kepada Yang Maha Agung, yaitu kepada Dzat dan Sifat-Nya Allah Ta’ala, yaitu wujud ilmu atau sejatinya Agama 

Jalannya rukun yang 4 perkara, syariat hakikat, tharekat dan ma’rifat, adanya di wujud dalam badan manusia, jadi namanya rukun agama adalah bagian ilmu untuk menyusul kepada wujud/fitrah agama, yaitu sifatnya hidup atau ilmu hidup yang meliputi semuanya.
 

SYARIAT pokoknya ada di mulut, jalan untuk bicara, itulahPERKATAAN manusia, sejatinya syariat, perkataan adalah pasti karena membuktikan segalanya, keramaian alam dunia bibitnya adalah dari perkataan, adanya mobil, gedung-gedung, bangunan dll semuanya untuk membuktikan maksud. 

Walaupun ada niat, bahan-bahan sudah tersedia, tetap saja tidak akan jadi, karena tidak adanya
 perkataan, batal dan tidak jadi [hakikat] niat adalah yang menentukan segala perkara, jika ngaji hakikat tidak dibarengi dengan syariat, batal menurut hadist, dan segala sesuatu tidak akan jadi maksud karena pokoknya syariat adalah yakin dengan ilmunya, yaitu sejatinya ucapan manusia. 

THAREKAT nyatanya adalah PENDENGARAN, selamanya bekerja tidak ada istirahat, ketika melek, semua suara kumpul, pendengaranlah yang menerima. 

HAKIKAT nyatanya PENCIUMAN yang ada di wujud manusia. Ibarat mau makan sate kambing, sebelum mulut merasakan, penciuman yang lebih dulu merasakan wanginya, hakikat pada hakikat, sebab hakikat itu ada, tapi tidak ada rupa, yang ada adalah wangi sate kambing, begitupun penciuman tidak ada rupa, buktinya adalah sifat sate kambing yaitu bagian penglihatan. 

MA’RIFAT nyatanya adalah PENGLIHATAN, sifatnya mata yang nyata, mata yang mensahkan sifat-sifat yang di dhohir, bergulung kepada penglihatan, disebut pengetahuan lahir dan baathin, tidak ada bedanya nama rukun Agama atau rukun Ilmu, adalah untuk memberi tahu Agama. Ibaratnya ;

Ilmu Syariat : Sabut kelapa
Ilmu Tharekat : Batok kelapa
Ilmu Hakikat : Daging kelapa
Ilmu Mari'fat : Air kelapa
Ilmu Ismu Dzat : Minyak kelapa murni 

Agama yang sejati, yaitu SIFAT HIDUP manusia, sesudah tahu kepada sejatinya Agama, barulah rukun Islam, dan sesudah Islam, haruslah bersungguh-sungguh dengan rukunnya, yaitu yang 5 perkara : 
1. Syahadat 

2. Shalat
3. Zakat 
4. Puasa
5. Haji 

Rukun Iman : Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat - Malaikat Allah, Iman kepada Kitab - Kitab Allah, Iman kepada Rasul - Rasul Allah, Iman kepada Hari Kiamat, Iman kepada Qadha dan Qadar.

Rukun artinya adalah, rukunnya ; 
1. Penglihatan
 
2. Pendengaran
 
3. Penciuman
 
4. Perkataan.
 
ke lima adalah Rasa Rasulullah [penguasa RASA]

"Fiqih tanpa Tasawuf adalah Fasik. Tasawuf tanpa Fiqih adalah Zindiq" 

"Tasawuf adalah segala hal yang menyangkut tentang kesucian jiwa"

"Tharekat adalah suatu perjalanan ruhani di dunia untuk menemukan hakikat jati diri, dan memahami seluk beluk jiwa… jalan terjal berbatu yang penuh onak dan duri untuk menemukan setetes Rahmat yang langgeng di Dunia dan Akhirat"

" Ngaji keluar dari poros diri, hanya akan menjauhkan diri dengan Allah "

" Ngaji Tauhid ibarat berdiri di depan sebuah perangkap, salah masuk akan terpenjara sepanjang usia "

" Ngaji Fiqih ibarat berjalan di atas mata gergaji, salah langkah, kaki berdarah "

" Ngaji Tasawuf ibarat berjongkok di atas bara api, harus sanggup mendinginkan/menahan panas api " 
" SANGGUP DINGIN DI HAWA PANAS "

Patokan kebenaran Islam adalah Al-Qur'an-Hadist, Imam Mahzab,Ijma, Qiyas, Dalil Aqli dan Naqli.


Dalil, Hadist, Ijma, Qiyas

DALIL artinya Agung, nama Maha Suci, yaitu Qur’an buktinya, harus wajib dan percaya kepada Qur’an, jika tidak percaya, menjadi kufur kafir, cadangan Naraka Jahanam. 
HADIST artinya perkataan Nabi, yaitu Rasul-Rasul, utusan Allah, wajib diturut. 
IJMA yaitu perkataan para Ulama Sejati, Wali Rasul juga para Muslim, wajib percaya. 
QIYAS artinya akal, untuk digunakan kepada Dalil, Hadist, Ijma, agar terasa, makna Dalil Hadist dan Ijma untuk dipikir lagi, agar nyata dengan barangnya. Hukum Akal : wajib, mustahil, wenang. 

Sebab jika segala hal tidak memakai akal, tidak akan bisa jadi, ibarat keramaian Alam Dunia, karya manusia, semakin tambah maju, dan menjadi bukti sekarang, dengan adanya pesawat terbang dan mobil dll, jadi ada, tentu saja memakai akal. 

Seharusnya jika berilmu, berilmu untuk baathin, ketenangan baathin untuk kelanggengan di Alam Baqa, jangan berdiam diri di Asma atau di perkataan, Asma adalah untuk petunjuk. 

Dalil, Hadist, Ijma, itu juga petunjuk, untuk menunjukkan jalan pulang, serta untuk menunjukkan kepada manusia bahwa manusia ada di Alam dunia wajib ibadah kepada Allah, agar sah ibadahnya, harus ma’rifat, kepada Dzat Sifatnya Allah, yaitu untuk tempat/wadah amal ibadah. Janganlah berdiam di Asma, tetap diam di papan petunjuk, jika begitu, tetap saja tidak akan sampai kepada yang dituju kepada asal tadi, karena tidak di cari jalannya, berdiam diri di papan petunjuk, yang di tunjuk tidak di susul atau di cari, tentu saja tidak akan ketemu. 

Ibaratnya jika ingin tahu kepada satu kota yaitu Jakarta, ketika di Cianjur melihat ada jalan simpang empat, dan ada salah satu papan nama dengan tanda panah menunjukkan arah ke Jakarta, kemudian berdiri dan diam di depan papan petunjuk, tentu saja tidak akan tahu kota Jakarta, karena jalannya tidak di cari seperti yang di tunjuk oleh tanda panah, bagaimana mau tahu Jakarta, karena sudah betah di papan petunjuk, hurufnya Asma Jakarta, petunjuk ibaratnya Dalil Al-Qur’an yang menuduhkan jalan, hukum Qiyas harus dikuasai, untuk akal melalui tharekat ilmu, agar supaya bisa datang masuk ke kota Jakarta sampai dengan ‘ainal yakin, pasti, tidak mengandalkan katanya…

Al-Qur’an Dalam Pandangan Hakikat ada 4 yaitu :

1. Al-Qur’anul MAJID
2. Al-Qur’anul KARIM
3. Al-Qur’anul HAKIM
4. Al-Qur’anul ADHIM


1. Al-Qur’anul MAJID ialah Al-Qur’an yang ada HURUF-nya, yaitu berupa KITAB yang kita baca dan dikaji umat sedunia, inilah manual (gambaran) dari Al-Qur’an yang HIDUP. 

2. Al-Qur’anul KARIM ialah Al-Qur’an yang MULIA, yaitu yang telah membuat hingga Al-Qur’an itu bisa ditulis ke dalam sebuah kitab, hasil karya dari tulisan tangan dan jari-jari yang MULIA.

3. Al-Qur’anul HAKIM ialah Al-Qur’an yang AGUNG. yaitu MATA, karena PENGLIHATAN-nya maka tangan dan jari-jarinya dapat menulis. Jadi yang AGUNG itu MATA dan PENGLIHATAN-nya.

4. Al-Qur’anul ADHIM ialah Al-Qur’an yang SUCI dan ABADI. Itulah yang HIDUP, karena walau ada tangan dan jarinya serta mata dan penglihatan, tetap tidak akan terwujud Al-Qur’an kalau tidak ada yang HIDUP (hidup mulia pertama yang mengadakan Qur’an itu)

Al-Qur’an = Hidup
Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi Wassalam adalah Al-Qur’an yang berjalan (Hidup)
Jadi Al-Qur’an yang hidup adalah INSAN.

mengaji Al-Qur’an harus sampai kepada SUCI-nya, maka itulah yang SEMPURNA (Melalui 4 tahapan pengkajian Al-Qur’an diatas).

Al-Qur’anul Majid (Al-Qur’an yang ada hurufnya) inilah SYARIAT-nya, setelah dibaca harus dikaji yaitu diartikan apa maksudnya, setelah mengerti maksud-maksudnya segera cari tahu dan amalkan agar terasa manfaatnya (Tangan yang bergerak) inilah THAREKAT-nya.


Semua berawal dari Al-Qur’anul Majid (Manual Book) yang telah menunjuki jalan mengenal Allah dan Rasul-Nya kemudian dilanjutkan dengan “membaca” Al-Qur’anul Karim artinya mengkaji pekerjaan tangan dan jari yang sekiranya bisa menghantarkan kepada Allah dan Rasulullah.

Allah memberi tangan dan jari kepada manusia, bukan hanya digunakan untuk membuat dan mengerjakan barang-barang yang berhubungan dengan sifat ke-dunia-an  saja tetapi haruslah dipakai dengan membuat jalan untuk mengenal Allah dan Rasulullah agar tangan
 manusia menjadi MULIA.

“Asa bi’ahum fi adanihim minassowaiki hadarotil mauti wallahi muhitun bil kafirin” 


Artinya : Jika tangan dan jari kamu tidak digunakan untuk mengenali jalan kematian, maka tangan dan jari kamu bermartabat tangan dan jari hewan saja…

Dari Al-Qur’anul Karim naik kepada Al-Qur’anul Hakim bagian HAKIKAT, yaitu harus mengkaji pekerjaan PENGLIHATAN yang sekiranya belum HAKIM.. “Sidik jari” atau bukti pada barang yang SUCI dan ABADI itu. Hakikatnya adalah ALLAH dan MUHAMMAD.

Karena ALLAH dan MUHAMMAD yang memberikan MATA dan PENGLIHATAN itu, penglihatan juga bukan untuk dipakai melihat barang yang hanya berhubungan dengan keduniaan saja, tetapi harus juga dipakai untuk melihat dengan mata Baathin HAKIKAT ALLAH dan RASULULLAH.

Inilah Al-Qur’an yang dimaksud dengan sebenar-benarnya Al-Qur’an yaitu Al-Qur’anul ADHIM yang SUCI lagi ABADI, yang sifatnya HIDUP, yang telah ditanamkan pada dada setiap INSAN dan menjadi IMAM dan juga sebagai IMAN untuk memisah yang HAQ
 dan yang BATHIL yang bertaraf MA’RIFAT.

Peralatan TANGAN, JARI, PENGLIHATAN, PENDENGARAN, PENCIUMAN DAN
 PERKATAAN, harus digunakan untuk mengetahui kepada asalnya yaitu Allah Ta’ala, supaya nanti manusiabisa sempurna membawanya pulang/kembali kepada Allah Ta’ala. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. 



IMAM ABU HANIFAH ( HANAFI ) (85 - 150 H)
(Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab Hanafi)
Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat Naqsyabandi yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun, aku telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.


IMAM MALIKI (93 - 179 H)
(Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :

“Man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq”.

Artinya : “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” 
(’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150 - 205 H)

Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang tasawuf dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
 
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)

IMAM AHMAD BIN HANBAL (164 - 241 H)

Ulama besar pendiri mazhab Hanbali berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama mereka, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, juz 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)
 

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:  

"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain"

Minggu, 06 Oktober 2013

AKKU


Aku ..
Siapakah aku ??
Tak satupun yang mampu mengerti aku .. kecuali dirinya
Tak satupun yang mampu menebak isi hatiku .. kecuali dirinya
Tak satupun yang mampu mengisi tulisan tulisan puisiku .. kecuali dirinya

Aku ..
Siapakah aku??
Seribu manusia menganggapku tak ada
Sejuta orang mengganggapku tak bisa
Semua mata memandangku tak pantas

Aku ..
Siapakah aku ??
Tak satupun yang mampu membuka tabir diriku .. kecuali dirinya
Tak satupun yang mampu melihat lurusnya mataku melihat .. kecuali dirinya
Tak satupun yang mampu memahami ucap kata kataku .. kecuali dirinya

Dan aku ..
Masih bertahan dengan diriku
Walau semua menantangku untuk berkata, berteriak .. mencaci .. dan membusungkan dada
Dan aku ..
Masih bertahan dengan biasaku
Walau semua memicingkan separuh pandangan dari sebuah keberuntungan yang kunikmati ..
Dan aku ..
Masih bertahan dengan doaku
Walau perih dan luka sepenuhnya ku bingkiskan di depan
Dan kubiarkan ia tumbuh liar .. agar tak membebani diriku.
Salam Rahayu Lurr...By: WEB


Aku .. bukanlah bocah kecil yang beriak riak kecil memekikkan kegirangan
aku .. bukanlah bocah sayu yang lemah menerpa ketika lelah menghampiri
aku .. bukanlah bocah lugu yang menunggu untuk dituntun dan ditemani ketika sepi..
Walau .. kebersamaan itu tetap kubutuhkan bila hati ingin berbagi
aku .. bukanlah sosok yang mendengar lagi pantang bersuara
aku .. bukanlah sosok yang menulis lagi pantang untuk bercerita
aku .. bukanlah sosok yang tertidur lagi pantang untuk bermimpi
Walau sesaat, aku butuh kesendirian dan menekuni diri ..

Wahai manusia manusia yang melihatku jauh dengan mata yang tertutup
Janganlah kau memandang wujud serupa dan sama untuk ketidak sempurnaan
Janganlah kau menyaksikan sisi sisi lemah lagi tanpa makna, untuk kau simpulkan sejenak
Dan janganlah kau memutuskan sepihak untuk sesuatu yang belum kau ketahui ..

Karena diantara ketidaksempurnaan, kau temukan keunikan
Diantara kelemahan kau temukan kebijaksanaan
Diantara kegelapan, kau temukan kesederhanaan
Dan diantara ketidaktahuan, kau temukan kekayaan ..
Salam Rahayu Lurr



Merangkak tak berarti gagal..
Merangkak tak berarti tak mampu..
Merangkak tak berarti Bodoh..
Merangkak adalah Awal,,
Hari ini aku jatuh dan aku berdiri dengan tegak...
... Mungkin esok aku masih jatuh dan terluka.

Tapi….
Aku masih berdiri dengan tegak..
Minggu depan mungkin aku akan jatuh lagi lebih dalam Sekali..
Namun aku tetap masih mencoba bangkit..
Meski tak lagi mampu berdiri setegak kemaren..
Tapi aku tetap berusaha..

Siapakah yang sanggup menolak KasihMu ya TUHAN...? Kasihmu bagai matahari yang menyinari, aku dapat menghindar dari sinar dengan berteduh, tetapi seperti matahari yang hanya tahu menyinari, begitupula Engkau hanya tahu mengasihi. aku tidak menginginkan harta tahta wanita dan, popularitas, bahkan aku tidak menginginkan dunia ini TUHAN, sebab aku hanya menginginkan diriMu. Berilah aku kerendahan hati, hingga aku sampai pada tahap tidak menginginkan apa2 dari dunia ini selain diriMU. Amin

KESAKSIAN GA”IB Wong Edan BaGu: Brebes jateng: Malam minggu pon tgl 06-10-2013


Bismiilahi walhamdulilahi la haula wala quwata ila billahi Nawaitul Lilahi Ta'ala...... Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh, ..
Bismillahi minal Awwali wal Akhiri..... Allaahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli 'alaihi wa sallim wa adzhib hazana qalbiy fin-dunya wal-aakhirah.............

Bismillahirrahmanirrahim......... Subhanallah... tak ada kata yang mampu saya ucap, selain rindu... saya rindu.. berkumpul, bermuajahah dengan hamba-hambaMu nan Sholeh. Semoga Engkau berkenan mengumpulkan saya, hamba yang fakir dan hina ini bersama hamba-hambaMU yang Engkau Cintai... Amiin...
Saudara/iku dimanapun berada... Alhamdulillaah... malam ini. Malam minggu pon. Tempatnya di Perumahan Cigedog Indah {PCI} Kec. Kersana Kab. Brebes Jateng. Tepat jam 01:11, saya bersamadi dalam keda’an tidak tenang, di karenakan di kejar target laku spiritual yang selama ini saya harapkan segera menemukan titik Hasilnya. Namun masih tertunda karena menunggu sa’at yang tepat sesuai aturan masing2 kodrat... Dengan meditasi komplain saya,,, entah di mulai dari mana. Tiba2... ada suara yang sangat berwibawa berkata tegas memarahi saya. Nadanya nada marah, namun, semakin saya amati. Ternyata itu bukan kemarahan, melainkan kasih sayang yang menyadarkan, disini ingin saya bagikan tentang suara ga’ib tersebut. Karena, menurut saya. Itu bukan hanya berlaku untuk saya. Tapi juga bermanfa’at untuk semua orang2 yang sangat saya kasihi dan sayangi dimanapun beradanya. Semoga kalian punya kesempatan untuk membuka catatan ini. Dan memahaminya intisaripatinya.... 

Gunakan Rasamu untuk membacanya:


{Ga’IB}; Wong Edan BaGu;

Kalau kau sibuk berteori saja. Kapan kau sempat mempraktekan teori? Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja. Kapan kau memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja. Kapan kau sempat menikmati hidup? Kalau kau sibuk menikmati kehidupan saja. Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja. Kapan kau sempat memikirkan pantatmu? Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja. Kapan kau menyadari joroknya?
Kalau kau sibuk membodohi orang saja. Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu? Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja. Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau pamer kepintaran saja. Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu? Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja. Kapan kau pintar?
Kalau kau sibuk mencela orang lain saja. Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya? Kalau kau sibuk membuktikan cela orang lain saja. Kapan kau menyadari celamu sendiri?

Kalau kau sibuk bertikai saja. Kapan kau sempat merenungi sebab pertikaian? Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja. Kapan Kau akan menyadari sia-sianya?
Kalau kau sibuk bermain cinta saja. Kapan kau sempat merenungi arti cinta? Kalau kau sibuk merenungi arti cinta saja. Kapan kau akan bercinta?

Kalau kau sibuk berkhutbah saja. Kapan kau menyadari kebijakan khutbah? Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja. Kapan kau akan mengamalkannya?
Kalau kau sibuk berdzikir saja. Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikir? Kalau kau sibuk dengan keagungan yang di dzikiri saja. Kapan kau mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja. Kapan kau sempat memikirkan bicaramu? Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja. Kapan kau mengerti arti bicara?
Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja. Kapan kau sempat berpuisi? Kalau kau sibuk berpuisi saja. Kapan kau memuisi?

Kalau kau sibuk dengan kulit saja. Kapan kau sempat menyentuh isinya? Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja. Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja. Kapan kau memakrifatiNya? Kalau sibuk memakrifatiNya saja. Kapan kau bersatu dengan Nya?
Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat. "Kalau kau sibuk bertanya saja. Lalu... Kapan kau mendengarkan jawaban"

KESIMPULAN:
Kita perlu harus, untuk tidak menjawab telepon yang masuk, menghentikan setiap kendaraan, dan setiap kegiatan walau hanya selama satu jam saja, memberikan waktu kepada diri pribadi kita untuk  benar-benar memikirkan untuk apa kita hidup, mau apa kita hidup, dan apa sebenarnya yang di maksud dalam hidup... Jika tidak, sampai kapanpun kita tidak akan pernah paham apa lagi mengerti... yang ada hanya protes di dalam kotak2 dan mengeluh yang tiada akhirnya... Sedangkan Tuhan sudah menyediakan ikanya di sebuah kolam, tinggal bagaimana kita akan mengail/memancingnya... Semoga bisa di mengerti makna dan maksud serta tujuanya.... jika bisa. Pasti Bermanfaat... Amin dan Salam Rahayu...

By: Wong Edan BaGu
Brebes jateng:

Minggu pon tgl 06-10-2013